HOME/RUMAH

Minggu, 01 Juli 2018

Barudak Ngarujak, Permainan Orang Kampung yang Tak Digerus Kekinian




HARI Minggu kemarin teman-teman Palung, para anak tetangga, pada main ke rumah kami. Yah, rumah Palung dan mamah plus bapaknya, he he. Ngapain saja? Ngegim di komputer punya mamah yang lagi sibuk urus rumah sekalian bantu Ayu anak kelas 4 SD ngerjain PR-nya.
Urusan PR Ayu kelar, mamah lagi masak untuk makan siang, mendadak Palung bilang ingin ngerujak. Mamah yang lagi ngulek bumbu untuk masakan bilang cobeknya dipakai dulu, dan nyuruh ngerujak pepaya. Ada banyak buah pepaya yang gelendotan manja di empat batang pohon pekarangan.
Ayu yang semula berniat memanjat malah batal. Pohonnya terlalu jangkung. Jadi ambil pepaya separuh matang yang kemarin dipetik bapak dan ditaruh dekat pintu. Ayu mengupas. Mamah masak. Palung lanjutin ngegim bareng Izal, Deden, dan Abang. Adik Abang yang masih batita jadi cuma jadi penonton Ayu yang memainkan pisau.
Ternyata pepaya separuh matang yang berwarna kemerahan itu asyik dirujak. Keras namun berasa manisnya. Mamah yang sudah selesai gunain cobek, mencuci dan mengeringkannya; menyiapkan bahan bumbu: garam, asam, kencur, bawang putih, gula aren, dan terasi. Menyuruh Deden yang bertugas mengulek agar petik saja cabai rawit.
Lalu apa yang terjadi dengan anak-anak yang menjadikan permainan barudak ngarujak di bale-bale depan rumah? Mamah tidak mengawasinya. Yang jelas pada akhirnya mereka sukses membuat rujak, sampai Palung tiba-tiba menyerbu dapur mengambil gelas dan air minum.
Olala, Deden mengulek bumbunya kepedasan karena entah berapa banyak cabai rawit yang dipetik lalu digerus. Ada-ada saja.
Bermain bagi anak-anak adalah kegiatan yang menyenangkan. Barudak kampung tak pernah kehilangan hal asyik untuk jadi bahan permainan secara murah meriah dan sederhana. Merujak ramai-ramai adalah sarana untuk bersosialisasi sekaligus menjalin solidaritas satu sama lain.
Bahannya murah dan gampang didapat. Bumbu dari dapur dan buah pepaya dari pekarangan. Pohon yang empat tahun silam mamah tanam kala pertama kali menempati rumah di tanah milik desa ini.




Dunia bermain anak kekinian tak melulu berupa gawai, dan beruntunglah barudak kampung yang masih dekat dengan alam, mereka kurang mengenal sikap individualis. Palung yang tergila-gila pada gim tetap main bareng teman-teman sebayanya, para anak tetangga di tebing atas.
Main apa? Ikuti musim. Sekarang ini yang tak kenal musim-musiman alias ada sepanjang masa adalah adu kelereng. Palung kerap kalah main kelereng jika melawan ibu-ibu yang iseng pingin ikut main. Dan mamah jelas tak bisa bantu  Palung karena kala kecil kalah melulu juga.
Sampai pada akhirnya Palung mahir seiring waktu, meski masih kalah jika melawan para ibu. Duh, ibu-ibu.
Dan acara ngerujak bareng itu tetap menjadi favorit di kalangan para tetangga dekat rumah. Lebih asyik ramai-ramai daripada sendirian ngerujaknya. Mantap rasanya jika berpedas-pedas bareng. Dan tak banyak modal yang dibutuhkan untuk menjalin keakraban sekaligus rasa kesetiakawanan sosial secara positif. Hanya perangkat untuk merujak, bumbu, dan buahnya.
Saya bersyukur tinggal di kampung. Kala di Bandung juga kerap merujak dengan teman-teman sepermainan. Bahannya beli. Dan di kampung bahannya kadang dari apa yang disediakan alam pada hasil yang kita tanam.
Saya bersyukur Palung tumbuh di kampung, beroleh keahlian dalam bergaul secara sederhana. Bisa menikmati momen manis berupa merujak ramai-ramai dengan teman sepermainannya, di kala anak seusianya ada yang lebih tenggelam dalam gawai dan lupa hakikat bersosialisasi secara sehat dan menyenangkan.
Ketika saya kecil di kampung, ada hal manis dalam ngerujak, bisa merasakan bagaimana serunya ngerujak di tabung bambu apus kecil. Isinya cuma garam, cabai rawit, gula, terasi, mangga muda, jambu batu, atau bahkan cukup buah asam muda dengan daunnya yang juga muda.
Saya lupa apa namanya, namun rupanya Kang Gol A Gong dalam novel Pasukan Matahari, menyegarkan ingatan karena beliau pun punya kenangan hampir serupa. Namanya bambu locok. Tabung kecil itu ibarat tempat ngerujak portabel, dengan buah berikut bumbu yang ditumbuk dengan kayu kecil dari bambu pula, atau bahkan kayu pohon (di kampung saya). Lalu kayunya dijilati.
Cara mainnya seru, kumpul bareng teman-teman lalu ngelocok bareng. Bahan didapat dari hasil berbagi. Inilah cara ngerujak portabel yang unik. Sekarang hal itu tidak terdapat lagi. Saya pernah menyuruh bapak Palung untuk bikin jika ada waktu senggang, agar Palung bisa merasakan bagaimana sensasinya.
Siang panas gini bahas ngerujak bikin saya jadi kabita sendiri. Kabita? Itu bahasa Sunda untuk ngiler pada makanan atau sesuatu. Tapi tak seru jika ngerujak sendirian. Ha ha.
Hasil rujak yang kemarin dibikin anak-anak, semoga saja akan membekas dalam ingatan menjadi kenangan kala mereka telah meninggalkan masa kanaknya. Ada momen tertentu yang sangat sayang jika kita lewatkan: kebersamaan dengan teman sebaya.
Palung juga kerap diajak pesta rujak oleh tetangga bersama anak-anak lainnya, dan masing-masing udunan alias patungan bawa bahannya sendiri.
Jangan lupa ngerujak, ya, kapan saja jika kumpul bareng teman atau saudara. Kombinasi bumbu pedas dengan aneka rupa buah berikut pelahapnya adalah hal menakjubkan. Betapa pedas bisa menjaga perdamaian dan kesatuan.
Bagi orang tua yang anaknya terlalu asyik dengan gawai, mungkin sekali-kali perlu ajak anak tetangga atau teman-teman anak untuk ngerujak ramai-ramai. Ini bisa jadi sarana bermain sekaligus edukasi tanpa paksaan.
Selamat ngerujak. Selamat siang.
Panas-panas gini ngerujak, yuk.
Salam rujak.
#Cipeujeuh, 8 Mei 2018
~Foto hasil jepret asal-asalan pakai kamera ponsel Andromax Prime

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D