HOME/RUMAH

Sabtu, 09 Juni 2018

[ULAS FILM: ME BEFORE YOU] Pada Akhirnya, Aku dan Kamu




KECELAKAAN tidak hanya mengubah hidup seseorang, orang di sekitar korban pun merasakan dampaknya. Demikianlah hidup William Traynor (Sam Claflin), seorang lelaki muda tampan yang sangat dinamis berubah, hanya karena kecerobohannya kala menyeberang jalan sambil bicara di telefon genggam tanpa melihat kiri-kanan membuatnya ditabrak sepeda motor di pagi berhujan.
Lalu dua tahun kemudian, seorang perempuan muda datang dalam hidupnya, mengubah hari-harinya yang muram dan putus asa kembali mengenal tawa. Namun ia tetap kukuh dengan keputusannya semula.
Luoisa Clark (Emilia Clarke) hanyalah seorang gadis muda 26 tahun tanpa banyak pengalaman kerja namun dia optimis dan berhati hangat. Wajah yang murah senyum dan tertawa mengekspresikan perasaannya.
Pada mulanya Lou kerja di toko kue dan hanya punya pengalaman dalam memanggang kue namun dia pribadi yang sopan, ceria, ramah, dan menyenangkan. Ia dipecat dengan hormat dan hanya beroleh pesangon gaji sebulan saja padahal sudah 6 tahun kerja di sana karena toko itu bangkrut.
Camilla Traynor (Janet McTeer) melihat sesuatu yang lain dalam diri Lou kala wawancara pertama. Cara Lou bersikap dan meski canggung, mengungkapkan kepolosan sekaligus antusiasme diri untuk beroleh kerja sebagai perawat pendamping bagi anaknya yang lumpuh dari anggota badan atas ke bawah.

 
 
Lou sungguh tak tahu apa arti kuadriplegia (kehilangan kendali dari kaki dan terbatasnya gerakan lengan dan tangan), namun memiliki keyakinan bahwa ia bisa belajar. Bagi Camilla, ada sesuatu yang lain dalam diri Lou kala bersalaman dengan suaminya, Stephen Traynor (Charles Dance); jelas Lou jenis perempuan baik-baik dan bukan penggoda. Seseorang yang bisa fokus untuk mengurus Will anak semata wayangnya.
Yang lucu dari jawaban Lou adalah kala Camilla menjelaskan arti kuadriplegia dan tanya apakah hal itu akan mengganggu, dengan spontan Lou malah bilang, “Mungkin dia yang lebih terganggu.”
Sisi manusiawi Lou ditampilkan secara natural sebagai sifat bawaan, bukan sesuatu yang dibuat-buat demi memberi kesan baik agar beroleh pekerjaan.
Camilla memberi pertanyaan lain yang lebih sulit namun merupakan pertanyaan mendasar agar bisa menerima atau menolak seorang calon dalam wawancara kerja, “Mengapa aku harus mempekerjakanmu daripada kandidat sebelumnya?”
Nah, pertanyaan itu pasti akan membuat siapa pun yang tidak siap akan kelimpungan, termasuk Lou yang sempat terpana selama beberapa saat sehingga Camilla menegurnya, “Kau tak bisa memikirkan satu pun alasan?”
Dengan spontan namun gugup Lou bilang, “Ada Nyonya Traynor. Aku cepat belajar. Aku tak pernah sakit. Aku tinggal di sisi lain istana. Aku lebih tangguh dari kelihatannya. Dan aku…, aku bisa membuat teh yang enak. Kau tahu, semua bisa diselesaikan… dengan secangkir teh yang nikmat.” Hem, jawaban Lou tentang teh benar-benar khas orang Inggris. Budaya minum teh di Inggris pun terbawa dalam wawancara kerja.
Lucu, ya.
Seandainya saya yang orang Sunda ditanya demikian soal wawancara kerja, apakah akan bilang soal menyajikan teh tawar yang harum sedap khas tanah parahiyangan? He he, abaikan. Soalnya William Traynor yang diperankan Sam Claflin itu ganteng abis, bisa bikin kaum hawa klepek-klepek hatinya.
Wow, ngedadak mamah Palung nemu spesies ganteng yang bikin klepek-klepek sesudah berstatus mamah-mamah. Kala lajang mah yang bikin klepek-klepek banyak banget dan berderet: Clark Kent alias Superman, Ralph Macchio, Keanu Reeves, Joaquin Phoenix; lalu Jason Tedjasukmana (penyiar Indonesia’s Today di RCTI) dan Harun Chalid (penyiar TVRI News) soalnya mereka ngingatin pada sosok Clark Kent, sih. Ha ha.

Balik pada topik semula sebelum lanturannya kian parah dan mamah Palung tak fokus soalnya terpesona pada senyum Sam yang membuai. Lou yang langsung diterima kerja diajak menjumpai Will dulu di ruang paviliun untuk berkenalan sebelum besok pagi mulai kerja.
Sosok Will yang tampan meski lumpuh ternyata bisa usil juga kala memperkenalkan diri, berlaku seolah orang cacat menyedihkan dengan ekspresi wajah dibuat-buat sampai ibunya menegur.


Hem, meski sudah jadi lelaki dewasa, sang anak tetap bisa bertingkah layaknya bocah kala ia muak dengan kondisi dirinya. Dan tampang Lou jadi terlihat sangat konyol karena tak tahu harus bagaimana kala dikerjai dan sesudah sadar telah dikerjai.
Sebelumnya, Camilla berharap agar Lou dan Will bisa berteman. Ia sungguh putus asa dan kebingungan menghadapi putranya yang menarik diri dari lingkungan sekitar. Harapan Camilla terwujud, lambat laun namun pasti Will yang semula sinis dan sarkas bisa menerima Lou yang antusias dan senang mengoceh. Bagi Lou hidup ini penuh warna dan menyenangkan. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang hangat dan harmonis. Karena itulah, ia bisa menularkan antusiasme tersebut pada Will yang semula putus asa dan menolak kegiatan luar.


Cedera tulang belakang bukanlah perkara mudah karena tak seorang pun tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Apalagi kondisi Will mudah drop dan selalu merasa kesakitan pada saat-saat tertentu. Nathan, sang paramedis ahli yang sudah mendampingi Will sejak 2 tahun lalu menjelaskan kondisi Will pada Lou yang ingin tahu.
“Dia melakukan semua fisio di tahun pertama. Yang kami dapatkan hanya gerakan kecil dari jarinya. Lalu dia terkena pneumonia dan autonomic dysreflexia.” Nathan menjelaskan panjang lebar. Dan kala Lou tak paham, dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam, Nathan melanjutkan; bahwa tekanan darah Will naik-turun, dan selalu terbuka terhadap infeksi.
Pada akhirnya Lou tak sengaja mendengarkan percakapan, lebih tepatnya perdebatan, antara pasangan suami-istri Traynor mengenai keputusan Will untuk ikut program DIGNITAS (organisasi bunuh diri Swiss).
Jadi hanya 6 bulan kontrak kerjanya itu berkaitan dengan 6 bulan saja masa yang diberikan Will kepada kedua orang tuanya untuk menjalani hidup karena ia muak menjadi insan malfungsi.
Sebagai lelaki Will selalu terang-terangan bilang pada Lou bahwa ia menginginkan hidupnya yang lama sebelum kecelakaan itu terjadi.
Bisakah Lou menghentikan niat Will untuk mengakhiri hidupnya dengan ikut program tersebut? Lalu bagaimana upaya terakhir Lou agar Will yang membuatnya jatuh cinta mengurungkan niatnya dan tetap bersama (meski ia sudah punya Patrick pacarnya yang sangat antusias pada kegiatan alam dan kebugaran, sebagaimana Will pula dulunya).


Film itu bagus dan menguras emosi. Akting Emilia tampak karikatural dengan wajahnya yang selalu mudah menggambarkan perasaan. Will yang pelan namun pasti jatuh cinta pada Lou setelah dikhianati pacar yang memilih menikah dengan sahabatnya, masih memiliki sisa harga diri bahwa ia tak ingin menjalani kehidupan yang membuatnya tak berdaya. Karena itulah ia ingin memilih nasib sendiri.
Latar pemandangan suasana khas perdesaan Inggris yang tenang dengan kastilnya menjadi panorama menarik. Film itu berdasarkan novel Jojo Moves. Romantis sekaligus liris.


Saya rekomendasikan bagi yang suka baperan. Anda tak akan kecewa dengan film indah ini.

 
 
#Cipeujeuh, 14 Mei 2018
 ~Foto hasil capture GOM player pada filmnya~
#MeBeforeYou #FilmRomantis












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D