Sabtu, 09 Juni 2018

Tentang Cinta Platonis



PADA hakikatnya saya bukan seorang pemuja Khalil Gibran sehingga mempraktikkan platonis sebagai konsep cinta bawah sadar. Saya hanya merasa harus tahu diri dengan keadaan. Di kala remaja sampai dewasa tentu saya merasakan apa itu yang namanya rasa suka pada lawan jenis; dan suka itu saya artikan sebagai cinta karena ada rasa peduli, kasih, sayang, rindu, sekaligus cemburu.
Hal yang ironis dari cinta platonis saya semasa remaja adalah senantiasa
bertepuk sebelah tangan. Tentu karena kami masih sama belia, atau yang saya jadikan korban subjek cinta platonis bukanlah orang tepat -- hanya saja sayanya terlalu bebal menepatkan atas dasar cinta pada pandangan pertama.
Cinta pada pandangan pertama?
Ya, demikianlah saya, entah mengapa demikian, selalu seakan falling in love at first sight. Seakan merekalah, sang subjek cinta platonis yang berjilid-jilid itu sesuatu yang cemerlang sekaligus mengguncang sehingga membuat saya abai pada sekitar: pada stok lelaki lain yang bisa jadi diam-diam menyukai saya namun tak berani mengungkapkan.
Lalu mengapa saya selalu berpraktik cinta platonis, apakah tak ingin pacaran atau jadi pacar sang subjek?
Kondisi fisiklah yang mengalang saya untuk demikian. Saya tak bisa mendengar dari kecil sejak usia enam tahun namun berupaya keras menjalani dan memiliki kehidupan normal.
Karena itu saya tak percaya diri untuk sekadar dicintai, apalagi sang subjek cinta platonis jilid 1 terang-terangan tak tertarik pada saya karena sudah dari dulu mengincar yang lain, teman saya sendiri kala kami belum pernah bertemu.
Waktu saya langsung jatuh cinta at first sight pada subjek cinta platonis (CP) jilid 1, usia saya baru 14 tahun, masih ABG labil yang doyan baca apa saja. Terpengaruh romantisasi cerpen majalah remaja yang saya baca. Sang subjek kala berpapasan dengan saya di gang dekat rumah hanya tersenyum tanpa maksud apa-apa, sekadar sopan santun sebagai sesama orang kampung.
Namun saya yang sedang memegang mangkuk baso panas seakan merona dengan rasa asing yang ajaib; buncahan bahagia dan gede rasa campur aduk hanya karena senyum seorang remaja lelaki kelas 2 SMA.
Sejak itu saya mencanangkan rasa cinta padanya dengan ingin selalu melihatnya atau sekadar berpapasan lagi; hanya demi beroleh senyum itu. Senyum yang bodohnya tak dimaksudkan untuk apa-apa!
Pada akhirnya saya mengenal apa itu patah hati dan kecewa karena bertepuk sebelah tangan. Dan tidak hanya pada dia saja. pada subjek cinta platonis jilid 3 dan 4. Keduanya teman sekolah kala SMP dan SMU. Yang SMP sekelas, yang SMU beda kelas namun sama-sama ikut ekskul karate di sekolah.
Jilid 3 dan 4 tak tertarik pada saya dengan alasan keterbatasan fisik. Lah, ‘kan mereka berpendengaran normal karena saya sekolah di sekolah umum padahal pendengaran tak berfungsi.
It’s okay, tak mengapa, sawios; kami itu sama-sama remaja labil yang memiliki kriteria tentang lawan jenis idaman untuk dijadikan yang spesial sebagai pacar. Saya memang patah hati dengan sikap mereka yang berjarak, namun diam-diam sang jilid 4 kerap memerhatikan saya dari kejauhan meski menjadikan gadis lain sebagai pacar.
Saya tetap setia selama 2 tahun masa SMP dengan menyukai orang yang itu-itu saja tanpa keinginan untuk memiliki -- meski diselingi rasa cemburu kalau dia dekat dengan gadis lain yang jadi pacarnya.
Kala itu usia saya 16-18 tahun
Saya juga tetap setia selama 3 tahun masa SMU dengan menyukai orang yang itu-itu saja meski proyek CP saya malah terbongkar gegara analisis anak lain, teman sekelasnya, yang memergoki kekerapan dan cara menatap saya dengan dosis beda dibanding pada sang penganalisis, barangkali.
Kala itu usia saya 18-21 tahun
Hal ajaib dari itu adalah meski saya berproyek CP demikian, anehnya dekat dan nyaman dengan seorang teman lelaki yang itu-itu saja selama tiga tahun tanpa pacaran. Seseorang yang menjadi sumber inspirasi untuk saya cerpenkan.
Sampai saya bingung sendiri, pada siapa, sih, CP itu ditujukan?!
Jujur, saya merasa nyaman dengan sang teman dan tak ingin pacaran karena rasanya itu akan mengkhianati komitmen saya pada CP jilid 4 tersebut. Atau sayanya tak percaya diri dan takut kami renggang jika pacaran lantas kehilangan rasa dekat satu sama lain tanpa ganjalan?
Jujur, saya abai pada sekian banyak anak lelaki di sekolah, kakak kelas maupun adik kelas yang bisa jadi secret admirer. Saya pada dasarnya tak nyaman untuk terlibat dalam suatu hubungan. Beginilah rasanya krisis kepercayaan diri ini.
Bagaimana dengan CP jilid 2?
Oh, kami tak pernah dekat apalagi saling tukar senyum. Sayanya tak bisa namun merasa nyaman tiap melihatnya atau melihat senyum dan tawanya -- yang bukan ditujukan pada saya.
Rumah kami bersebelahan di Bandung, sekolah kami beda, pun kelasnya yang satu tingkat di atas saya. Bagaimana saya bisa tertarik padanya? Itulah cinta monyet yang naïf namun sama-sama tak mengenal luka apalagi melukai.

Segalanya Berubah karena Cinta Platonis Jilid 5

Boleh dikata cinta ini hadir kala usia saya dewasa, 24 tahun! Dan pada pandangan pertama karena senyumnya yang tidak ditujukan untuk menggoda atau apa. Mungkin inilah cinta pertama secara dewasa dalam hidup saya setelah fase remaja yang labil.
Dia adalah jawaban bagi doa saya agar bisa jatuh cinta pada orang yang tepat, meski pada hakikatnya dia jelas bukan orang yang tepat karena not single. Namun saya tak peduli karena tak menginginkannya dalam kepemilikan. Saya hanya ingin menjadikannya sebagai subjek CP lagi setelah tiga tahun tak tertarik pada lelaki mana pun.
Hati telah membawa saya padanya. Hati itu pula yang entah mengapa menjadikan saya bersemangat menjalani hidup karena ada yang cemerlang sinarnya. Seakan menerangi saya. Dan dia ternyata tidak sekadar menerangi tetapi membukakan sekian pintu untuk saya ketuk dan masuki.
Dia lebih dari sekadar cinta platonis, dia seakan malaikat dalam wujud manusia bagi saya.
Kami jauh dan dipisahkan jarak sekaligus kemasing-masingan, namun kami juga saling mendoakan. Perasaan saya yang dulu menggebu-gebu telah tawar dan berganti penghormatan.
Kala saya masih lajang dan di Bandung pun, tetap menghormatinya dengan jalan menjaga jarak. Saya seorang lajang yang tak berpikir untuk melakukan hal tercela dalam relasi antarinsan. Saya lajang yang jomlo karena keadaan dan belum saatnya beroleh pasangan.
Dia adalah sumber inspirasi saya untuk menulis cerpen dan puisi. Saya tak peduli jika dia pada akhirnya tahu dan cinta platonis seakan tak murni platonis lagi karena terungkap. Saya hanya ingin mendedah rasa yang membuncah agar tak gelisah.
Demikianlah cinta platonis saya hanya sampai jilid 5 pada lima orang lelaki berbeda sesuai dengan fase kehidupan remaja sampai dewasa;  demi pematangan diri.
#Cipeujeuh, 10 Mei 2018

~Gambar hasil paint sendiri~
#CintaPlatonis #Kenangan #KhalilGibran



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D