HOME/RUMAH

Jumat, 01 Juni 2018

Mom War di Era Digital


 

  DALAM media Mojok (online), Maya Lestari menulis pengalaman tak mengenakkan berkaitan dengan pilihan hidup yang telah dialaminya secara sadar atau terpaksa. Bagaimana ia harus berurusan dengan “serangan” opini (langsung maupun tidak langsung) dari para ibu lain tentang konsep ideal karena ia berseberangan, melenceng dari citra ideal peribuan. Serangan kiri-kanan di media dan jejaring  sosial tempat berinteraksi dengan sesama warganet lainnya membuat ia tak nyaman.
Dan sebagai sesama warganet yang tak sehaluan dengan para “penyerang”, saya berempati pada apa yang dirasakan Maya dengan beberapa alasan masuk akal. Sesungguhnya para ibu yang mencanangkan perang (mom war) entah dengan sadar atau bebal melalui unjuk gigi ragam komentar atau opini tanpa memahami substansi, bisa dikategorikan insan yang ingin selalu mengada eksistensinya dengan merisak yang tak sepihak. Memaksakan kehendak.
Poin yang ingin saya sorot adalah pernyataan Maya tentang komentar para ibu terhadap persalinan. Apakah penting membanggakan status keibuan sebagai yang melahirkan dengan cara normal? Apakah penting seorang perempuan akan dianggap ibu sejati karena merasakan sakitnya persalinan tanpa bantuan operasi?
Sebagaimana Maya yang melahirkan cara caesar sampai tiga kali, saya yang sekali juga sama merasakan nyerinya karena jarum suntik yang disuntikkan berulang, berikut disayat-sayat perih di bekas luka jahitan. Saya sampai trauma dan memilih KB pil daripada suntik sampai sekarang.
Sebagaimana Maya, saya juga diserang komentar kiri kanan dari sekitar lingkungan rumah karena persalinan. Kebanggaan yang mereka uarkan dengan menyinisi hal yang dianggap tak membanggakan dari pihak lain mencerminkan perilaku kikisnya etika dan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada hakikatnya, komentar “mercon” dari para pencanang mom war di era digital bisa berbahaya. Opini sembarangan soal persalinan akan membentuk pencitraan semu sosok ibu. Tak mempertimbangkan situasi darurat yang berkaitan dengan nyawa ibu dan bayi (situasi yang saya dan Maya alami).
Memang ada yang memilih operasi caesar karena ingin saja, dan ingin sajanya berkaitan dengan aspek psikologis calon ibu sendiri. Namun jangan abaikan yang TERPAKSA melahirkan cara caesar karena tiada pilihan, semisal tak punya tenaga untuk bersalin atau alasan medis lain.
Kecenderungan para ibu zaman now yang tak berubah sepanjang zaman kala menyikapi sesuatu dengan cenderung menyinisi apa saja yang harus disinisinya, beroleh medium luas jangkauan berupa jejaring sosial. Dan ekspresi semacam itu justru membuat posisi ibu seakan mengalami pergeseran nilai. Bahwa mereka tak bijak memanfaatkan arus informasi demi pengembangan diri ke arah positif. Bahwa mereka mengalami semacam anomi.
Bayangkan, berubahnya cara bersyukur dengan cara membandingkan atau mengecilkan pihak lain yang diserang lewat komentar. Ibu macam demikian, maaf, tak lebih dari sotoy sompral.
Dan soal home schooling yang dipilih Maya. Bukankah setiap ibu berupaya melakukan hal yang terbaik demi anak-anaknya? Maya sebagai ibu lebih tahu persis potensi diri dan anak-anaknya. Memberdayagunakan dirinya demi tumbuh-kembang anak secara optimal sekaligus bahagia. Dan ia punya kemampuan demikian. Saya yang tak punya kemampuan secara akademis dan psikologis serta memilih menyekolahkan anak di sekolah biasa mengagumi jalan pilihannya. Lalu mengapa ia harus diserang para pencanang mom war yang ikut campur seakan mengetengahkan kebenaran atau kebaikan versi mereka dengan mengusik wilayah privasi orang lain?
Mungkin para ibu harus merenung sembari introspeksi, apakah berkomentar sembarangan tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang dikomentari akan membuatnya berbahagia luar-dalam? Membuat dunia lebih damai dan aman? Membuat media atau jejaring sosial bukan sebagai medan perang?(*)
3.827 CWS/533 Kata
Cipeujeuh, 5 Februari 2018
#MomWar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D