HOME/RUMAH

Selasa, 05 Juni 2018

Menu Buka Puasa Haruskah Mahal?



SEADANYA saja seperti hari biasa, ini prinsip saya tentang buka puasa. Belanja apa yang ada di warung dekat rumah. Dan warung Bi Ai hanya menyajikan hal sederhana sekaligus terjangkau bagi tetangga sekitar yang jadi pelanggannya. Para tetangga dengan penghasilan pas-pasan macam keluarga saya.
Maka tadi saya yang kesiangan belanja beli hal lazim saja. Tahu, tempe, taoge, jengkol, tomat, bawang putih, dan pais-paisan (tahu dan peujit [usus ayam]). Sedikit, ya? Iya, total belanjanya cuma 25 ribu sekaligus pembayar utang jengkol yang beberapa hari kemarin.  
Harga jengkol bulan puasa ini bertahan pada kisaran 6 ribu rupiah saja di warung Bi Ai. Mungkin kalau ramadan orang-orang terpaksa menghindari jengkol. Ha ha.
Lalu akan diapakan menunya? Tak ada tajil!
Berhubung lagi menghadap komputer bukan bahan, maka belum ada ide akan diapakan semuanya. Paling akan coba tumis taoge praktis ala Teh Rifqi Ulfah yang tahunya tak usah diangkat dari wajan, cemplungkan bumbu iris saja ke dalam wajan berminyak setelah tahu dirasa cukup matang. Soalnya habis masak untuk buka, mamah Palung ingin gogoleran sebentar.
Jengkol mah ditumis pakai bumbu inti saja kayak cara masak tumis taoge. Perkara bau, yah, bau masing-masinglah. Tempe cukup digoreng pakai bumbu bawang seadanya.
Baru sadar tadi lupa beli bawang daun.
Soal tajil?
Bi Ai nanti sore biasa jualan es sirop campur. Segelas cuma 2.500 rupiah. Itu gelas kemasan yang biasa dipakai untuk aneka minuman siap saji. Jadi kebayang bagaimana banyaknya dengan harga segitu. Di tempat lain bisa lebih mahal lagi.
Es  sirop campur terdiri dari potongan dadu agar-agar rumput laut aneka warna, irisan tipis kolang kaling agar lebih mudah dicerna, sagu mutiara, perasan santan dalam air es, kelapa muda atau kopyor yang dikerok, potongan roti bentuk dadu, blewah, dan gula cair. Plus susu kental manis atau krimer. Itu saja namun sudah terasa mewah dengan harga murah.
Bi Ai punya pohon kelapa di pekarangan rumahnya yang luas dan ditanami banyak pohon buah-buahan. Jadi tak perlu beli kelapa.
Saya memilih buka dulu dengan siropnya, insya Allah. Untuk makan besar mungkin nanti lepas isya. Sebagai teman pendamping sirop mendadak pengen ngemil cireng alias aci goreng.
Sebentar, ke warung lagi untuk beli cireng mentahnya, semoga tak kehabisan.

Alhamdulillah, sudah dapat bawang daun dan merica bubuk selain cireng. Masih mentah dan nanti tinggal digoreng saja sesuai keperluan yang ingin makan cireng panas-panas hangat.
Napa mamah Palung pengen cireng?
Cuma ingat suasana di Kampung Loji, Cigombong, Bogor. Orang sana buka puasanya dengan sirop dan gorengan dulu. Makan besar usai tarawih atau malah saat sahur. Merasa cukup kenyang dengan segelas sirop dan beberapa potong gorengan sebagai menu pembuka.
Tak rakus, ya?
Mungkin lain kali saya harus praktikin hal demikian di rumah ini. Buka cukup dengan tajil dulu dan sesuatu yang ringan-ringan agar kinerja pencernaan tak kaget diberondongi asupan makan besar secara banyak sekenyang-kenyangnya.
Kalau anak dan suami, mah, terserah mau bagaimana. Soalnya mereka akan tarawihan juga. Takutnya Palung yang 8 tahun malah merasa kurang tenaga atau pulangnya sudah dalam keadaan mengantuk lantas lebih memilih langsung tidur daripada makan.
Memasak untuk sahur cukup yang dimasak sore dihangatkan ulang. Atau masak tumis taogenya nanti sahur saja sekalian dihabiskan karena beli bahan dalam porsi kecil.
Kami bertiga jadi tak ribet harus makan apa. Yang pity eat cuma palung, kalau bapaknya pelahap. Sedang mamahnya suka kabita lihat resep dan foto masakan doang, jadi suka moody ingin ikut makan makanan tertentu yang lebih banyak tak adanya di sini.
Contoh? Es kepal Milo yang lagi kekinian.
Lucu, hal yang tidak ada di sini terasa luar biasa dan mengundang selera. Namun tenang, cuma sekadar ngidam karena saya tahu batas kemampuan -- isi dompet.
Saya minta maaf kali ini malah bahas makanan. Cuma ingin berbagi hal kecil, bahwa tak semua orang bisa atau biasa berbuka dengan cara lengkap. Ada kecenderungan bahwa buka puasa semacam ajang balas dendam karena seharian harus menahan haus dan lapar. Maka menu makanan berat pun tersaji dengan didampingi tajil aneka rupa.
Padahal, ada banyak yang berkekurangan di sekitar kita. Yang untuk makan saja sulit, apalagi makan besar dengan sajian superlengkap.
Pada hakikatnya ibadah puasa janganlah berakhir dengan acara makan-makan enak dan kenyang. Mari kita berbagi pada sesama. Karena apa yang kita lakoni dengan puasa juga untuk mengingatkan bagaimana rasanya berada dalam posisi yang kurang itu. Mengingatkan untuk bisa menahan diri. Mengingatkan untuk berbagi dan silaturahmi. Mengingatkan agar bisa melihat sekitar.
Sekitar yang saya maksud bukan penjaja makanan buka puasa di jalan. Ha ha.
Selamat menunaikan ibadah puasa hari pertama. Semoga kita tidak termasuk orang yang rakus dan merugi. Aamiin.

#Cipeujeuh, 17 Mei 2018
~Foto hasil jepretan kamera ponsel Andromax Prime~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D