HOME/RUMAH

Jumat, 08 Juni 2018

Main Jepret Panorama Berkat Ponsel Andromax Prime



 BAGI saya memotret adalah hobi lama. Dulu memotret dengan jalan capture pakai webcam netbook Acer Aspire One. Hasilnya lebih jelas dan tajam. Cahaya jatuh ke dalam hasil capture sesuai apa adanya kala sedang memotret. Kalau tajam maka akan jelas, kalau buram maka tidak jelas.
Sayang, kala instal program dari Windows XP asli ke 7, aplikasi Acer Crystal Eye Webcam-nya malah ngilang. Saya kehilangan sensasi memotret secara lebih nyaman sesuai jatuhan cahaya. Dan perangkat kamera dalam ponsel saya (kala itu Cross) tidak memuaskan karena hasil jepretan yang kita pindahkan lewat bluetooth ke dalam komputer malah berukuran kecil.
Yah, maklum itu ponsel bukan android, belinya kala android belum ada, yang lagi hits justru Blackberry. Cross saya ukuran kecil dan pakai keypad sebagaimana ponsel lain. Sekarang benda itu sudah jadi sejarah karena rusak akibat kecerobohan saya dan suami. Palung yang baru berumur 2 tahun mencongkel bagian dalam karena casing-nya mudah dibuka. Itu juga gegara suami kelamaan mengisi ulang baterai sampai baterainya melendung sehingga merusak casing juga.

Dan sekarang, berkat ponsel Andromax Prime yang barusan dibeli, saya nyaman jepret sana-sini. Sasaran utama saya biasanya panorama alam selain makanan.
Cuma, kalau memotret makanan, saya gagal bikin objek fotoan jadi menggiurkan. Mungkin karena masih kagok dengan ponsel ukuran kecil jadi sudut bidik kita jadi kecil pula. Lagian ponsel saya masih keypad bukan layar sentuh.
Namun itu sudah mendingan karea kala transfer hasil jepretan ke komputer, bisa besar; tidak sekecil Cross lama.

Foto di atas adalah hasil jepretan saya pakai Andromax  Prime-nya. Panorama pagi asal dijepret. Tidak bagus namun bagi saya sudah lumayan. Ya, lumayan untuk belajar sebagai fotogtrafer amatiran.


Saya sadar, hasil foto yang bagus selain mengandalkan mutu ponsel dan kameranya, juga kejelian kita dalam menangkap jatuhan cahaya.


Sudut bidik saya adalah panorama di luar rumah. Gunung selalu menyajikan wajah yang berbeda-beda karena bergantung pada jatuhan cahaya matahari juga. Dengan memotret panorama luar, saya harap bisa mengabadikan wajah bentang pegunungan agar abadi dikenang.
Cipeujeuh, 28 Maret 2018

~Foto hasil koleksi pribadi~

2 komentar:

  1. tidak ada yang lebih menggembirakan apabila kita berhasi mengabadikan momentum tersebut sendiri.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas. Sebab wajah gunung selalu berubah-ubah berkat jatuhan cahaya. Waktu dan cuaca sangat berperan. :) Makasih sudah singgah. :)

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D