HOME/RUMAH

Senin, 04 Juni 2018

Lia Herliana dan Pakem Cerita untuk Anak



MENULIS cerita untuk anak, baik dalam bentuk dongeng atau kisahan nyata bukanlah hal yang mudah. Sekarang ini ternyata ada acuan tertentu yang harus dipatuhi penulis mana pun jika tertarik untuk menggelutinya.
Acuan tersebut mencakup terlarangnya kata (sifat) negatif dalam cerita. Kata negatif tersebut berupa malas, bodoh, bandel, pelit, jahat, iri, boros, dan lain sebagainya.
Tentu itu membingungkan! Bagaimana kita akan menulis cerita yang sarat hikmah dan nasihat bagi anak jika kata (sifat) negatif merupakan hal terlarang untuk diumbar? Apalagi kata negatif demikian kerap dialami sebagian besar pelakon kehidupan, anak-anak pun. Kata negatif cuma contoh untuk berdampingan dengan kata positif, sebagai semacam pembanding. Agar anak paham mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah, juga, mana yang boleh dan terlarang. Dengan demikian anak-anak beroleh panduan atau pedoman.
Membaca Nyanyian Sasa Angsa dan 14 Cerita Seru Lainnya (Penerbit Rainbow), karya Lia Herliana, kita justru akan diajak menelisik kata (sifat) negatif sebagai semacam perubahan ke arah kata sifat yang lebih baik lagi. Dan tidak melulu menggurui, justru nasihat yang tersirat dari ucapan tokoh cerita (atau hasil-akibat yang dialami tokoh cerita), merupakan kesatuan utuh bagi pembentukan karakter agar anak-anak beroleh pengalaman positif dari hasil pembacaan buku tersebut.
Tengoklah Raihan yang rajin membantu ibunya dengan menitipkan dagangan donat ke warung-warung hingga kerap terlambat masuk sekolah karena sepedanya rusak dan harus jalan kaki, ia bermimpi memiliki sepeda agar memudahkan mobilitasnya. Raihan dikompori sahabatnya agar ikut lomba menulis, siapa tahu bisa menang dan beroleh hadiah uang untuk pembeli sepeda idaman. (“Impian Raihan”)
Raihan yang rajin pada mulanya “malas” ikut lomba karena “tidak percaya diri”, namun bujukan positif dari sahabatnya menggugah minat untuk “berani mencoba dan berusaha keras meski tidak mudah”. Ada sosok “bukan guru” yang mengajari dan menyemangati. Sosok yang memahami cara menulis karena merupakan serang penulis. Dengan kata lain, profesi penulis pun punya arti.
Kita lihat bagaimana Lia Herliana berupaya menyandingkan kata (sifat) negatif sebagai tahap-tahap yang harus dialami seorang anak. Namun kemudian si anak berupaya agar bisa mengikis hal negatif tersebut, menggantinya dengan kata sifat baru berupa hal positif.


Pakem semacam ini saya rasa masih memungkinkan sebagai cerita untuk anak, karena cara bertutur Lia cenderung tidak nyinyir apalagi menggurui. Ia hanya memaparkan dan menyerahkan pemaparan tersebut pada pembacanya. Namun ia juga menggiring opini pembacanya untuk turut terlibat dalam cerita.
Dalam dongeng “Si Penghuni Baru”, Lia menggiring opini pembacanya agar bebas prasangka. Lewat dunia fabel, Lia mengisahkan kehidupan hewan yang dalam kenyataannya di habitat mereka berperan sebagi “pemangsa dan yang dimangsa”, sebagai sesuatu yang berkebalikan. Bahwa mereka hidup berdampingan tanpa mengisahkan bagaimana cara memangsa dan dimangsa, mereka cuma bertetangga biasa sebagaimana halnya kaum manusia. Dan mereka pun punya prasangka.
Alkisah, Kedi Kadal rajin menyapa tetangga barunya, Ola Ular, namun tak ditanggapi sebagaimana mestinya. Kedi dan kawan-kawan (dalam kehidupan nyata adalah santapan lezat bagi kaum ular) ramai-ramai menggunjingkan dan menghakimi Ola sebagai makhluk yang sombong. Di sini, pengetahuan biologi Lia layak diacungi jempol, ia memahami  bagaimana sifat-sifat bawaan kaum hewan. Dalam kerajaan binatang (animal kingdom) bangsa ular ternyata tidak punya pendengaran yang baik.
Itu bisa membantu anak untuk memahami perbedaan, bahwa kekurangan fisik bukan untuk diprasangkai (buruk) apalagi digunjingkan. Lia berupaya menyisipkan nasihat dengan contoh perilaku hewan yang memiliki empati dan mau bergaul dengan kaum  difabel. Juga, Lia mengajak anak untuk merasa malu jika telah berlaku buruk pada penyandang disabilitas, bahwa kelemahan atau kekurangan orang lain bukan untuk membuat kita merasa lebih superior daripadanya.
Masih soal prasangka, dalam “Kebiasaan Aneh Sofie”, Lia mengajak anak untuk mencintai lingkungan, dengan hal-hal sederhana berupa penghematan alat kebutuhan sehari-hari berbahan dasar dari pepohonan. Masih banyak dari kita yang tidak menyadari berapa banyak pohon yang harus dikorbankan untuk kertas, pensil, bahkan tisu.
Seorang anak pun bisa menjadi figur teladan atau pahlawan ala Kartini bagi anak lain. Akhirnya Ririn yang bingung mencari figur demi tugas mengarang dari guru bahasa Indonesia, menemukannya dalam “Mencari Kartini”. Ia belajar bahwa menjadi Kartini tak harus melakukan hal-hal hebat, hal sederhana ala teman sebaya pun bisa sangat mengesankan.
Mari kita beralih memahami apa arti pagi bagi seorang anak. Ia yang semula malas bangun pagi karena selalu tidur larut sehingga jam biologis membuatnya menjalani rutinitas kacau setiap pagi. Hanya karena mati lampulah yang mengubah Bobi untuk meresapi “Keajaiban Pagi”.
Berapa banyak dari anak Indonesia yang menganggap rutinitas pagi sebagai aktivitas menyebalkan karena mereka tidak menyadari sisi lain pagi? Lia seakan ingin mengingatkan anak akan makna pentingnya istirahat.
Sesungguhnya pakem cerita dalam Nyanyian Sasa Angsa merupakan harmoni dari positif-negatif yang berdampingan. Harmoni semacam ini adalah upaya Lia untuk mengajak anak ke arah kebaikan, menjauhkan anak dari perbuatan tercela yang bisa jadi tidak disadari oleh anak sendiri. Pakem Lia adalah cerita untuk anak yang menghibur sekaligus mendidik.
Anak akan diajak memahami hal-ihwal kehidupan dari dongeng sampai kisahan lain. Kita bisa belajar dari “Nyanyian Sasa Angsa” agar sadar diri dan tak narsis; “Kolak Istimewa” akan membuat kita bahagia karena bersedekah; menghargai buku sebagai petualangan menakjubkan dalam “Harta Karun Nenek”; sifat usil bukanlah hal baik namun berani jujur mengakui kesalahan adalah perbuatan terpuji (“Kacamata Pak Owl”); ada keajaiban siklus musim dalam “Kesedihan Pohon Kersen Kecil”; kesetaraan gender pun perlu diajarkan sejak dini (“Laki-laki atau Perempuan”); jujur dan sabar pun harus diterapkan (“Nina dan Sepotong Mendoan”); bagi “Bravo Si Kuda Penari” potensi diri bisa digali; jangan ikut-ikutan menghakimi “Mbah Marto” karena beliau ternyata punya alasan patriotik; doa pun bisa menjadi “Kado Paling Istimewa”.
Demikianlah, Lia Herliana berbagi dunia untuk anak dengan 15 ceritanya. Jadi, apakah pakem menghindari kata negatif harus dituruti secara membabi-buta tanpa paham substansinya? Bagaimanapun, masih ada cara lain untuk mengikuti kaidah penulisan cerita bagi anak, seperti yang dicontohkan Lia Herliana dengan Nyanyian Sasa Angsa dan 14 Cerita Seru Lainnya.
Anak-anak memang perlu dibangun karakternya dengan hal positif agar mampu berpikir positif, namun anak-anak pun harus memahami ada kenyataan pahit mendampingi hal positif berupa hal negatif. Dengan demikian, anak-anak mampu melihat realitas dunia agar tak mengalami gegar sosial-budaya. Tugas penulis cerita anaklah untuk mengenalkan realitas tersebut dengan cara yang menghibur sekaligus mendidik.***
Cipeujeuh, 16 Januari 2018
Rohyati Sofjan, ibu rumah tangga biasa dengan anak lelaki semata wayang berusia 8 tahun, menyambi sebagai penulis lepas cum blogger pribadi yang cenderung nyastra di https://rohyatisofjan.blogspot.co.id

#BukuAnak #LiaHerliana #RainbowChildrenBook

6 komentar:

  1. ini buku cerita untuk anak yach Mbak ? sewaktu saya masih kecil sangat suka sekali membaca buku cerita atau dongeng, maklum itulah hiburan satu2nya ketika sedang berada dikebun.:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, untuk anak kecil agar suka baca juga. Kang Nata kala kecil suka baca, dewasanya suka nulis. :)Yah, bacaan itu kawan kanak-kanak agar tak kesepian.

      Hapus
  2. Aku suka banget buku karya mbak Lia. Ceritanya mudah dipahami anak,pesannya jg nyampe banget. Buku yg ini belum punya euy,jd prngen beli nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mak Muna. Pak kabar? Kangen! Makasih sudah singgah. :)
      Bahasa dalam cerita anak memang mesti sederhana dan mudah dipahami. Agar anak meresapnya dengan baik.
      Selamat belanja buku untuk anak dan selamat mendongeng. :)

      Hapus
  3. baguus ceritanya.. mudah dipahami anak-anak nihh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga jadi daftar bacaan keluarga. :)
      Makasih sudah singgah. :)

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D