HOME/RUMAH

Rabu, 06 Juni 2018

Kita Telah Bahagia dengan Kemasing-masingan





HALO, saya pernah juga jomlo kala muda dan lajang. Kala usia di atas 20-an. Catat, ya, jomlo tanpa huruf b karena yang tepat, kata Pak Uksu Suhardi dalam status pelajaran bahasa singkatnya yang numpang lewat di beranda saya; adalah jomlo sebagaimana comro (oncom di jero).
Sebentar, saya kerap mengucap-tulis jomlo dan paham apa artinya namun tak paham sejarah linguistiknya. Jadi, mengapa bisa ada kosakata jomlo?
Yah, mungkin kosakata itu untuk menggambarkan betapa jomplang-nya perasaan karena sendirian tiada pasangan. Jomplang lonely?
Sudahlah, saya baru bangun tidur siang dan separuh berpijak di kasur.
Saya hanya ingin bilang pernah jomlo di masa muda bukan karena tak laku melainkan karena selalu ragu. Iya, ragu dalam hal hubungan apakah akan bisa berjalan lancar atau malah melukai.
Siapa yang terluka? Saya, dong.
Hem, sebagai manusia biasa yang banyak kurangnya jelas saya tak percaya diri. Maka, kala teman-teman sebaya sudah pada menikah dan beranak-pinak lantas tubuh melar bekas melahirkan, saya masih single langsing kesepian.
Gak enaknya berasa gimana banget, seakan tiada jodoh meski berupaya bergaul dengan sekian teman lelaki. Lalu pada akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang membuat nyaman dan terbuka. Kami cuma berteman jarak jauh. Dia di Jogja, saya Bandung. Dia operator warnet yang suka sastra dan teater, saya karyawati toko kecil yang suka menulis apa saja dan keluyuran di setiap acara seni Bandung.
Kami berbeda banyak. Namun entah mengapa saya tertarik padanya. Seakan dia adalah kutub magnet saya. Kami kerap berkomunikasi dengan email, milis, YM (Yahoo messenger), setelah mIRC ditinggalkan. Terlalu repot di sana. YM sekali jalan. Dan zaman sekarang YM malah ditinggalkan. Digantikan FB dan WA.
Saya akan bahas apa, ya? Ah, sejarah kami yang 3 tahun itu berkat adanya warnet terasa singkat. Saya diam-diam lalu terang-terangan memiliki pengharapan padanya. Berharap dialah calon qowwam saya.


Namun jodoh punya kutub tersendiri. Tanpa saya tahu kala kami berpisah komunikasainya karena saya pulang kampung dan meninggalkan Bandung, dia punya rencana besar tentang siapa yang harus di-qowwami-nya.
Sampai sekarang dia tak pernah bilang pada saya bahkan pada pasangan seumur-hidupnya tentang alasan mengapa tidak memilih saya. Dia tak mau tambah melukai atau entah apa. Di antara kami sebelumnya ada semacam persahabatan.
Demi Tuhan, saya berupaya jatuh cinta lagi pada yang lain setelah pada subjek cinta platonis jilid 5 yang dia tahu juga siapa orangnya.
Namun dia bukanlah takdir saya.
Saya patah hati, tentu saja.
Saya menulis puisi tentangnya, sudah pasti.
Saya mencintainya atau masih mencintainya? Anehnya tidak.
Saya cuma berupaya belajar mencintai seseorang setelah sang subjek cinta platonis yang juga tahu bahwa saya diam-diam mencintainya-dan tahu bahwa saya dekat dengan seseorang yang saya harapkan sebagai pendamping-yang malah tahu juga bahwa saya mencintai siapa karena sebelumnya saya terbuka soal rasa.
Ah, maafkan bahasa saya.
Cinta itu rumit namun memberi spirit.
Sebelum saya tambah membosankan, saya akhiri saja dengan semacam puisi yang entah apakah merupakan terakhir. Maafkan jika saya gombal.
Saya hanya pernah muda dalam usia kepala empat ini. Pernah berupaya keras untuk bisa beroleh pasangan tanpa tahu pasti apakah mencintainya. Hanya menyukainya secara jarak-jauh. Hanya surat-surat poslah yang pernah kerap menghubungkan kami sehingga terasa dekat seakan dunia maya tidak lengkap. Hanya puisilah yang merupakan kesamaan kami.
Dan sekarang saya persembahkan puisi ini. Puisi hati yang telah tawar karena saya punya seseorang yang juga kini spesial.
Semoga berkenan.
Salam puisi. Saya bukan May Ziadah, dan jangan anggap dia Khalil Gibran.
Kami hanya sepasang bayang-bayang silam.
#Cipeujeuh, 22 Mei 2018

Kita Telah Bahagia dengan Kemasing-masingan

    
@MZF

Pada akhirnya kita serupa sosok asing
yang pernah bersua di perjumpaan
lantas saling melupakan.
Tahun-tahun akrab telah lewat
sebagai silam yang barangkali
tak layak dikenang.

Dan tiga tahun kebersamaan
di jagat maya berkat chatting
di mIRC #cybersastra hanyalah
intermezo hasrat muda, padam seiring
usia beranjak atau beranak-pinak.

Karena kau dan aku dipersatukan
lantas dipisahkan takdir.
Karena kau-aku hanyalah masing-masing.

Karena kau-aku pada akhirnya hilang pada pulang:
jalan pilihan atau perpisahan kekal!
Cipeujeuh, 5 Februari 2018

~Gambar hasil paint sendiri dan foto koleksi pribadi

~Foto hasil capture dari drakor "Go Back Couple" pakai GOM Player untuk yang tulisan KBS2














4 komentar:

  1. Paling suka kata-kata pas di gambar di awal, kita telah bahagia dengan kemasing-masingan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa karena terinmgat masa silam tentang kenangan lampau yang telah usang?
      Yah, kalau bukan jodoh, kita jalani hidup dengan cara masing-masing, dan bahagia dengan cara masing-masing. Setidaknya pernah ada suatu masa di tempat lain tentang seseorang yang pernah menemani hari-hari kta agar tak sepi sendiri.

      Hapus
  2. Wah Bunda suka berpuisi. Terakhir saya suka menulis puisi adalah waktu SMP 😃. Oh iya, suka nonton drama korea juga ya? Soalnya ada gambar go back couplenya juga 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, kok Bunda lama banget gak nulis puisinya? Ayo berpuisi agar bisa mendedahkan ekspresi. :)
      Bahasa puisi itu bikin kita lebih lancar menulis. :)
      Iya, suka banget. Malah ada ulasannya yang bahas soal drakor itu. Yang judul "Berdiri di Bawah Hujan".

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D