HOME/RUMAH

Selasa, 05 Juni 2018

Jalan-jalan ke Kecamatan ala Mamah dan Palung




JUMAT siang, sepulang sekolah Palung menagih janji untuk ke kecamatan hari ini juga, tidak Minggu esok. Anak itu selalu bersemangat dan tak sabaran jika menyangkut jalan-jalan. Pergi ke tempat jauh dari rumah adalah hal istimewa bagi budak kampung yang dibesarkan dengan cara sederhana dan penuh keterbatasan.
Mamah yang semula enggan karena baru rendam cucian di jolang besar dan sibuk ngadepin kerjaan di depan komputer yang rasanya tak kelar-kelar saking banyaknya rencana tulisan, terpaksa mengalah setelah Bapak bujuk mamah.
Alasan Bapak, jalan desa sedang diperbaiki dari atas ke bawah, dan Bapak khawatir nanti jalannya jika sudah di bawah akan ditutup karena proyek perbaikan, kendaraan roda dua dan empat tidak bisa lewat. Dan hari Minggu esok bisa repot.
Bapak kasih bekal 300 ribu rupiah. Uang itu hasil keringat Bapak dari kerja sebagai asisten tukang bangunan. Di kampung, asisten demikian disebut laden. Tugas utama laden adalah membantu tukang agar kerjaannya cepat beres. Jadi laden itu lebih berat daripada tukang, harus mondar-mandir angkut ini-itu berupa barang berat macam batu kali besar, bata, pasir, genteng, dan matrial lainnya; campur adonan pasir, semen, dan lainnya untuk menembok dinding; memastikan kebutuhan tukang terpenuhi dengan gesit bergerak ke sana kemari; pokoknya kerja kuli yang menguras energi namun Bapak ikhlas melakoninya demi keluarga tercinta.
Bagi mamah, Bapak adalah suami dan ayah yang baik, tipikal lelaki rumahan yang sayang istri dan anak karena kami hanya bertiga saling menggantungkan diri bersama. Tiada pihak lain dalam hidup kami. Dan Bapak ingin membahagiakan kami meski dengan cara sederhana, membuat anak dan istri bisa jalan-jalan ke kecamatan untuk belanja ke pasar dan makan di Alun-alun Limbangan.
Sayang Bapak tidak mau ikut dengan alasan menghemat uang. Hari Jumat Bapak sedang libur kerja dan Sabtu besok mulai kerja di kebun Pak Wawan untuk memanen kunyit. Ya, kunyitnya dibongkar, dipilah-pilah, lalu diangkut dari kebun ke tempat Pak Wawan yang beda RT. Ada pasutri Pak Mii dan Bi Otin yang ikut membantu agar kerjaan bisa cepat beres. Semoga saja harga kunyit di bandar kulakan bagus, tidak dihargai komoditi murah. Karena, meski nanam kunyit tak butuh modal besar dan paling cuma butuh umbi rimpang utama lantas dibiarkan tumbuh liar, tetap saja pemilik kebun butuh modal untuk memanennya. Ya, seperti membayar upah pekerja untuk proses penanaman, pembersihan dari belukar (ngored), sampai kala panen. Itu jika pemilik kebun tak punya banyak waktu karena ada pekerjaan utama lain.
Eh, ini mau bicarain pertanian atau jalan-jalan? He he.
Balik ke topik semula sebelum melantur alias out of topic, akhirnya Mamah dan Palung berangkat juga ditemani payung kembang-kembang merah-hitam besar. Takut kehujanan karena cuaca mendung. Bawa payung besar untuk jalan-jalan kesannya ribet dan takut ketinggalan di sembarang tempat, namun apa boleh buat kami tidak punya payung lain. Payung kecil abu-abu malah ketinggalan di rumah teteh sepupu kala kami ke rumahnya di Bandung 2 tahun lalu.
Kami naik ojek, motornya punya tetangga dekat rumah. Yang ngendarain keponakannya, anak SMU. Ade paham benar rute jalan desa berbatu-batu itu jadi tahu bagaimana menghindari badan jalan rusak yang bisa menyebabkan motor tergelincir.
Benaran, jalannya rusak parah, aspal terkelupas dan meninggalkan wajah jalan penuh bebatuan tidak rata yang mengguncang. Para pesepeda motor yang kerap lewat adalah offroader tangguh agar tidak jatuh. 


 Mamah dan Palung berkendara dengan berguncang-guncang meski Ade sudah berupaya menghindari titik berbahaya. Guncangan yang ditimbulkan akibat melintasi jalan berbatu-batu tidak mulus. Hal wajar sekaligus mendebarkan demi menempuh sekira 3 km kurang lebih menuju jalan raya kecamatan yang merupakan jalur selatan lintas antarkota-antarprovinsi.
Alhamdulillah, akhirnya kami tiba dengan selamat di depan BRI. Sudah bayar 12 ribu tadi sebelum berangkat, lantas Ade berlalu setelah mamah ucapkan terima kasih dan pesan agar hati-hati.
Kok, BRI? Yah, mamah ada urusan ke ATM dulu untuk transfer pembelian 4 judul buku pada 4 pihak berbeda. Soal pengalaman di ATM, ada ceritanya. Lain kali mamah sambung dalam tulisan panjang.
Habis dari ATM kami langsung menyeberang jalan, tidak mudah menyeberang jalan zaman sekarang. Arus lalulintas senantiasa padat kendaraan membuat kami khawatir. Syukurnya kami bisa menyeberang setelah ada jeda jarak jauh dengan pesepeda motor yang akan melintas.



Mamah sempat ngaco, ajak Palung swafoto di depan Puskesmas Limbangan. Soalnya Mamah suka jalan depan puskesmas sudah dibuat trotoar dari paving block, bikin nyaman pejalan. Terakhir lewat tempat itu, kami harus menghindari genangan air yang besar.



Di pasar, tujuan pertama mamah adalah beli koran di lapak jajanan yang jual koran Pikiran Rakyat dan Tribun Jabar. Cuma ada koran “PR” saja, harganya 3 ribu. Biasanya mamah kalau ke pasar suka borong koran apa saja yang dijual. Mamah butuh referensi bacaan cetak meski bisa baca berita secara daring. Koran cetak lumayan bisa untuk bahan kliping kalau Palung ada tugas dari sekolah.
Lalu kami ke kios langganan yang jual bahan untuk baso. Mamah beli nugget ayam dan lainnya. Untuk bahan masak. Kios itu menjual macam-macam. Nanti saja, deh, diceritain dalam tulisan lain. Lantas kami ke kios buah-buahan beli sebungkus apel hijau kecil. Cuma 4 ribu untuk setengah kg. Apelnya untuk Palung doang. Mamah cuma makan satu saja. Bapak tak ikut makan.


Suasana pasar sudah sepi, maklum Jumat siang. Banyak kios yang tutup lebih awal. Mamah kebingungan mau beli apa, Palung tidak sabaran ingin segera ke kios yang jual kelereng. Jadilah kami mutar-mutar dikit cari kiosnya. Mamah kerap lupa rute di antara lorong-lorong pasar yang panjang berliku karena jarang menyambanginya.
Akhirnya kami tiba juga di kios A Heri. Hanya ada seorang Aa yang di sana. Langsung saja Palung bilang pengen beli kelereng kala mamah suruh ia untuk menyampaikan apa yang hendak dibelinya.
Sebungkus kelereng ditaruh di atas meja etalase. Berikut senter kecil, sandal jepit untuk Bapak, 2 sikat gigi, mancis, seperangkat alat tulis untuk Palung. Itu saja. Dan mamah lupa beli tempat pensil, kertas post it jika ada, plus selusin buku tulis. Mamah tidak bawa catatan belanja, sih.
Habis itu kami beli singlet dan cangcut untuk Palung, lagi-lagi lupa beli kaus kaki untuk Palung dan Bapak. Lorong pasar tempat mangkal PKL yang jualan sandal dan baju obralan sudah bersih dari pedagang. Belinya di kios paling ujung.
Sudahan dulu.
#Cipeujeuh, 9 April 2018
~Foto koleksi pribadi

4 komentar:

  1. Aku juga sering lupa dengan mau belanja apa. Tapi kalau ada daftar belanjaan, jadi mudah ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau belanja dadakan suka lupa meski sudah siapin daftar belanjaan namun suka lupa catet. Ah, ada-ada saja. :D

      Hapus
  2. Laah 😲 ... si Palung kok ... kayak aku,yaa 😅 ?.
    Kalo udah ngobrolin jalan-jalan, langduung deh semangat 45 .. penginnya buru-buru berangkat .. wuakakaka !.

    Mantaap, abis jalan-jalan si Palung dapet hadiah banyak 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, iya. Mungkin nanti gedenya bakal ngebolang kayak Mas Himawan yang doyan menjelajahi alam. Saat ini baru ke pasar dulu belum ke tempat wisata, hi hi. Nanti moga bisa ke sana dan Palung bakal kepingin terus ke tempat wisatanya daripada pasar. :D
      Jadi ngebayangin gimana senangnya anak dapat banyak hadiah dari hasil jalan-jalan sudah bikin ortunya bahagia. :D

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D