HOME/RUMAH

Sabtu, 09 Juni 2018

Hujan Februari di Cipeujeuh





SELAMAT siang jelang zuhur. Panas-panas begini ingin berpuisi. Puisi lama yang sudah basi karena tak laik muat di media mana pun. Jadi malas kirim lagi setelah terakhir dilabuhkan ke suatu kotan dan telah lewat tenggat waktu. Maka, selamat tinggal media massa cetak. Saya lebih suka berbagi puisi di sini, berharap ada yang pembaca yang dengan suka cita mengapresiasinya. dan dengan ini saya tergerak untuk terus giat berpuisi. 

Saya ini kerap patah semangat menguntai puisi karena momen puitiknya tidak mudah didapat. Alasan orang yang ditelan rutinitas harian jadi cuma sekadar baca tanpa bikin baru. 

Selamat siang, kepada siang yang bergerak cepat menuju tergelincirnya matahari. Terima kasih telah membuat hari cerah meski saya berharap hujan turun sesekali di pertengahan Mei ini.
Saya rindu hujan, siang.
Salam.
#Cipeujeuh, 22 Mei 2018



Hujan Februari di Cipeujeuh


Hujan Februari kembali berderai renyai.
Halimun menelan batas pandang
panorama lembah dan gunung.
Kehijauan kembali muram disaput mendung.

Hujan, hanyalah hujan sebagai penanda alam.
Bahwa alir air yang tercurah merupakan berkah
atau musibah, bergantung sudut pandang.

Kala hujan, panorama di luar rumah begitu syahdu
untuk menjamu Efroina barangkali sudi singgah
menabur momen puitik untuk kutuang dalam
puisi-puisi panjang, sebagaimana hujan
yang tercurah seakan pembawa kabar.
Cipeujeuh, 5 Februari 2018
 


1 komentar:

  1. Gua mah Waktu patah hati aja baru bisa puitis, misalnya aja moment dimana anak tetangga gua dinikahkan hehe, gua sudah ngincar dari kecil udah gede sama orang lain

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D