HOME/RUMAH

Selasa, 05 Juni 2018

Hujan dan Puisi: Momen Puitik Paling Dinanti



HUJAN adalah sumber inspirasi tak bertepi bagi saya untuk meruahkan rasa hingga menjelma puisi. Meski pada akhirnya puisi yang saya tulis dalam suasana hujan gagal merangkai momen puitik
          Hujan pula mengingatkan saya pada peristiwa lampau atau yang barusan terjadi. Hal-hal aktual atau faktual. Singkatnya, hujan seakan membuat saya trance dalam stimung bawah sadar.
Saya bukan orang yang mahir mengolah kata karena kedalaman pikiran kerap tak diimbangi dengan pengetahuan. Pun filosofi hidup saya yang tecermin dalam puisi menggambarkan bagaimana saya ini. seseorang yang terbiasa berpikir secara sederhana tanpa pemahaman intisari falsafah pemikir besar.
Saya selalu merindukan hujan dengan harapan bisa bersua momen puitik untuk mencipta puisi terbaik. Namun apa, sih, acuan terbaik itu? Hanya terbaik dalam versi saya atau mengikuti orang lain?
Seumur hidup ini, berapa banyak puisi yang telah saya baca dari kanak sampai dewasa. Dan kapan saya menganggap puisi adalah hal serius? Makanan bagi jiwa.
Saya selalu tanpa sadar butuh membaca puisi. Maka ketika kanak, remaja, sampai dewasa kebutuhan akan puisi berupaya dipenuhi. Dan pemenuhan itu tak selalu dengan cara disengaja, kadang pula tak disengaja yang seakan memang harus tampak wajar adanya.
Ketika menikah perasaan saya terhadap puisi seakan berbeda, saya kurang merenung dibanding masa lajang. Mungkin saya tak punya waktu untuk sungguh-sungguh melakukan kegiatan perenungan yang menghasilkan puisi. Atau jatuh cinta adalah tema besar yang merangsang saya untuk berpuisi.
Dan sekarang saya tidak sedang jatuh cinta pada seseorang seperti dulu lagi, maka saya tidak punya alasan untuk menulis puisi tentang cinta yang berkesan mengumbar hal gombal. Saya telah melabuhkan hati pada suami sampai sekarang. Hanya saja, saya tak bisa mengekspresikan rasa ke dalam puisi tentang suami. Mungkin karena hubungan kami seakan telah menjadi semacam kewajaran sehingga kurang getar-getar asmara selain ketenangan yang mendalam. Jadi saya merasa sulit mengungkapkan.
Namun saya masih mengingat nama lelaki yang pernah singgah mengisi hati. Lelaki yang telah membuat saya jatuh cinta. Lelaki yang membuat saya menulis sekian banyak puisi. Lelaki demikian adalah lelaki yang istimewa karena tak menyodorkan luka bagi perjamuan rasa saya.
Lelaki yang menjadi subjek cinta platonis jilid lima adalah seseorang yang tanpa disadari sebagai sosok yang membuat saya jatuh cinta secara dewasa. Itu bukan cinta monyet kala remaja. Itu adalah pengantar saya untuk membuka lebih banyak pintu tuju dengan keberanian. Cinta itulah yang mengantarkan saya hingga menjadi seperti sekarang.
Pada hakikatnya puisi memberi saya suasana tersendiri, yang seakan menarik saya ke dalam pusaran dimensi asing lewat kata-kata ajaib nan putik yang bergulir.
Saya suka puisi, dengan membaca atau menulis puisi seakan merupakan jeda dari rutinitas pengap yang memenatkan jiwa.
Dan seorang penyair yang karyanya begitu sangat menggugah saya kala remaja (baru kelas 1 MTs. pada tahun 1992) adalah Acep Zamzam Noor dengan buku kumpulan puisi yang saya lupa judulnya apa. Ada satu puisi yang membuat saya merinding kala itu karena terasa berbeda dengan sekian puisi lain yang sudah dibaca.
Mungkin begini isinya dalam sisa ingatan saya yang sayup: Aku kini doa/ Berbaringlah di sini dan lupakan cakrawala atau (dunia?)….
Kala menulis ini, saya iseng mengetik kata kunci ke dalam mesin pencari dan menemukan video menarik dari Peter Hayat yang melagukan syair “Aku Kini Doa” karya Acep Zamzam Noor. Silakan tonton di sini: https://www.youtube.com/watch?v=BWDp_lAMcMI
Ah, bicara tentang puisi, saya rasa harus akhiri. Palung sudah pulang sekolah. Saatnya bagi kami untuk ke pasar kecamatan, beli baju lebaran untuk Palung.
Palung adalah puisi nyata dalam hidup saya dan suami.
Kaulah puisi itu, bahwa hadirmu
kunci pembuka pintu menuju bahagia.

Saya berharap selalu bisa menulis puisi kapan saja, tak membutuhkan hujan sebagai mediumnya. Meskipun demikian, saya selalu membutuhkan hujan karena suasananya kerap membawa saya pada muram tak terdefinisikan.
Salam puisi.
#Cipeujeuh, 18 Mei 2018
~Foto hasil capture pakai GOM Player dari drakor “Go Back Couple

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D