HOME/RUMAH

Kamis, 07 Juni 2018

Hari Terakhir Sebelum Saum dan Tradisi Mengutamakan Urusan Dapur






JUDUL  di atas adalah fakta yang kerap saya temui di lapangan. Eh, ini bukan bahas soal olahraga melainkan olah dapur, jadi mestinya di pasar atau warung atau setiap rumah berpenghuni yang hendak menunaikan ibadah saum. Mereka rata-rata menyerbu tempat yang menyediakan bahan pangan untuk sahur pertama di bulan ramadan ini, sekaligus bahan untuk berbuka keesokan harinya. Demi menjaga ketahanan fisik dengan ketersediaan pangan.
Tidak salah, sih. Karena setiap orang berhak mengapresiasi suatu peristiwa penting dengan caranya masing-masing. Yang penting harap dilihat dulu apakah tak akan mubazir atau berlebihan. Jangan sampai jor-joran belanja sampai tekor.
Soal tradisi mengutamakan dapur, bisa dilihat dengan bagaimana riuhnya suasana pasar dengan sekian banyak pembeli tak terjumlahkan dalam penghitungan kasat mata.
Saya pernah berada dalam suasana desak-desakan yang membuat para pengunjung pasar sulit bergerak secara leluasa. Harus senggal-senggolan atau bahkan sikut-sikutan. Kadang jika sial malah injak-injakan. Dan selalu pada saat sehari sebelum saum ramadan; baik itu Pasar Kiaracondong di Bandung maupun Pasar Balubur Limbangan di wilayah Garut Utara.
Suasana demikian terasa lucu, karena arus langkah kaki para pejalan seakan macet dan harus pelan-pelan merangsek. Apalagi jika lewat lorong sempit yang membuat kita harus berpapasan dengan sekian orang dari arah berlawanan.
Lalu, alasan apa yang membuat mereka harus menyerbu pasar sehari sebelum saum ramadan dimulai? Mengapa tidak dua atau tiga hari sebelumnya agar tak terjebak suasana macet demikian?
Saya sendiri tidak paham karena kala itu cuma belanja untuk keperluan warung. Dan setelah tak ngewarung lagi kapok berada dalam situasi demikian. Harus hati-hati karena akan ada yang mengambil kesempatan dengan beragam modus operandi kejahatan; entah apakah jambret, copet, atau hipnotis.
Maka waspadalah!
Dan soal alasan menyerbu pasar sampai warung dengan belanja berlebih. Bisa jadi mereka akan mungggahan dengan kedatangan keluarga besarnya. Biasanya sebelum saum dimulai, para perantau akan mudik ke rumah keluarga atau keluarga besarnya untuk merayakan hari pertama saum dengan makan besar kala sahur.
Balubur Limbangan adalah kecamatan kecil di wilayah Garut Utara dan merupakan wilayah strategis karena berbatasan dengan beberapa kecamatan lain, maka pengunjung pasarnya lebih membludak pada hari munggahan yang biasa disebut musim marema puasa pertama.
Kecamatan kecil itu sebenarnya tergolong memiliki wilayah yang luas dan terdiri dari banyak desa dengan sebaran lebih banyak lagi kampung di setiap desanya. Maka bisa dibayangkan berapa banyak warga yang ditampung kecamatan? Belum lagi ada banyak warganya yang merantau ke tempat lain demi mencari nafkah, menikah, sekolah, atau kuliah.
Jadi, harap maklum pada suasana demikian akan sangat ramai sebab ada tambahan warga perantau berikut anggota keluarganya. Yang sekolah atau kuliah pun memanfaatkan momen libur tersebut untuk kumpul. Kalau yang masih lajang, mah, yah tetap kumpul jika libur kerja.
Bahkan suasana kampung saya pun berubah lebih ramai daripada hari biasa, dengan banyak kendaraan beraneka roda seliweran lewat jalan desa yang baru dicor beton agar kuat. Barangkali sudah banyak perantau sukses asal kampung saya, sih. He he.
Kalaupun ada yang tidak ada belum sukses, tetap mengupayakan pulang dengan beragam alasan. Menjalin silaturahmi agar tetap erat meski dalam keadaan serba kurang. Karena perolehan rezeki bukan tolok ukur derajat seseorang.
Hem, karena saya bertiga saja dengan anak dan suami sebagai pasangan (berasa masih) muda, maka kami tidak kedatangan sesiapa. Paling minggu lalu A Tono anak dari kakak almarhum bapak di Bandung datang bertamu untuk pertama kalinya ke rumah kami. Memberi lungsuran baju bekas dirinya dan Sheila putri tunggalnya yang tak terpakai lagi untuk kami, berikut oleh-oleh lainnya, plus uang 200 ribu rupiah yang sangat berarti bagi kami.
Alhamdulillah, Allah pemberi rezeki. Selalu saja ada perantara-Nya kala kami kecewa pada orang lain karena telah menzalimi soal sisa upah 200 ribu yang belum dibayar sampai sekarang dari bulan puasa tahun kemarin, lalu transaksi jual beli yang kurang dalam pembayaran karena memaksa demikian dengan memutarbalikkan ucapan; malah dapat ganti yang, insya Allah, berkah dan berpahala bagi yang memberi dan menerimanya.
Setidaknya saya dan suami tak perlu beli baju lebaran. Paling fokus untuk Palung. Hatur nuhun pisan, A Tono dan Neng Sheila jika suatu saat kalian baca ini di internet.
Menu utama untuk acara munggahan biasanya berupa daging ayam, sapi, domba, atau kambing. Ada juga yang bebek entok atau meri. Yang penting daging halal. Ikan juga ada.
Mungkin karena munggahan dianggap istimewa maka hidangan pun diupayakan istimewa pula. Maka, warung Ceu Mala dekat sekolah Palung kerap menjual daging ayam kiloan atau setengah kilo. Potongannya utuh. Dari kepala sampai kaki per ekornya. Itu berbeda pada hari biasa yang selalu dalam bentuk sudah dipotong-potong dengan dibedakan jenisnya.
Sepupu Annisa semalam bilang bahwa harga daging ayam naik kala ia ke pasar. Biasanya per kg 32 atau 34 ribu, sekarang 40 ribu dan harus utuh potongannya, habis semua stok daging ayam demikian di pasar. Pedagangnya lagi ingin merayakan munggahan dengan cara marema. He he.
Mungkin untuk praktisnya saja, karena permintaan akan lebih banyak daripada ketersediaan maka penyuplai tak mau repot, begitu pun pedagang. Jual utuh dan bisa istirahat tak usah potong-potong jenis. Cepat laku pula karena pembeli tak bisa pilah-pilah sebagaimana hari biasa. Biasanya pembeli memaklumi hal demikian karena pasar pun punya tradisi untuk mengimbangi tradisi pembeli.
Soal harga, yah, inilah hal yang bikin pembeli menggerutu namun pasrah. Ha ha.
Sepupu Annisa saja meski kesal dengan harga yang mendadak naik (cuma) beberapa ribu, tetap beli karena ingin bikin hidangan istimewa bagi sahur pertama keluarganya meski yang makan cuma tiga orang karena Puzi dan Puza sudah berkeluarga.
Gule ayam adalah pilihan bijak sekaligus hemat bagi yang isi dompetnya pas-pasan. Bisa dihangatkan kala sahur dan memberi suplai kalori yang dibutuhkan dari protein hewani. Gule panas dengan nasi saja sudah mengenyangkan.

             

Dan cara memasak gule tak perlu selama rendang daging. Alhamdulillah, semalam Sepupu Annisa sedekah semangkuk gule berikut gepuk daging domba sisa aqiqah bayi kembar Orin adiknya. Jadi saya tak perlu masak untuk sahur. Cukup nasi dan panaskan gulenya.


Habis, suami payah juga kalau belanja di warung Bi Ai untuk urusan dapur. Masa cuma beli seperempat gram telur berikut pais peujit (pepes usus ayam) padahal Palung tak doyan pais. Kasihan jika menu sahurnya cuma telur. Syukurnya ada yang berbagi menu sahur. Sudah kemalaman untuk belanja di warung lain.
Kok, mamah Palung tak masak munggahan?
Cuma cengengesan sebagai jawaban. Uangnya telat datang!
#Cipeujeuh, 17 Mei 2018

~Foto di bawah hasil jepret ponsel Andromax Prime lagi (habis punyanya cuma satu, ha ha). Itu gule pemberian Sepupu Annisa.
~Foto di atas hasil kreasi sahabat dari Batusangkar dengan menggunakan Canva, hadiah untuk saya yang tak mahir main edit~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D