Minggu, 03 Juni 2018

Fungsi Algoritma dalam Interaksi Sosial



ALGORITMA atau bakunya algoritme menurut KBBI 3 semacam kata benda,  prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas; sedang dalam istilah manajemen  adalah urutan logis pengambilan keputusan untuk pemecahan masalah.
Prosedur sistematis atau urutan logis bagi pemecahan masalah tersebut masuk dalam ranah interaksi sosial. Menyangkut prinsip
agar diri sendiri nyaman karena wilayah privasi tak diusik pihak tak berkepentingan.
          Wikipedia menerangkan algoritme adalah prosedur langkah-demi langkah untuk penghitungan, pemrosesan data, dan penalaran otomatis dalam ilmu matematika dan komputer. Dengan kata lain, semacam metode efektif yang diekspresikan sebagai rangkaian terbatas dari instruksi-instruksi yang telah didefinisikan untuk menghitung sebuah fungsi. Dari kondisi awal (yang mungkin kosong), instruksi menjelaskan sebuah komputasi yang bila dieksekusi (diproses lewat sejumlah urutan kondisi terbatas dan terdefinisi dengan baik), pada akhirnya menghasilkan “keluaran” dan berhenti di kondisi akhir.
Dalam status seorang teman dumay yang juga tayang di beranda saya, Ruri Ummu Zayyan membahas masalah algoritma yang dilakukan pihak Facebook. Menurutnya, Facebook yang memutuskan status siapa yang tayang di beranda kita, dan status kita tayang di beranda siapa. Konon, itu bergantung pada edge rank atau apalah namanya. Status orang yang sering kita like atau komen bakalan sering muncul di beranda, karena Facebook menganggap mereka teman akrab lalu dimasukkan ke dalam lingkaran kita.
Dan setelah membaca paparan teman dumay itu, intinya ia bilang algoritma berperan dalam memasukkan status kita untuk tayang, namun bergantung pada Facebook juga. Karena tak semua status teman selingkaran tayang di beranda kita. Barangkali berkaitan dengan kesamaan minat atau persamaan lainnya.
Disadari atau tidak, algoritma yang merupakan bagian dari bahasa matematika atau manajemen pun berperan serta dalam menentukan interaksi kita dengan sesiapa. Facebook kian memperkecil lingkaran pertemanan dengan aturan yang dtetapkan agar para penggunanya nyaman karena ada perbaikan dalam pelayanan.
Hal itu diterangkan dalam halaman Standar Komunitas yang dibuat tim Facebook. Bertujuan menemukan keseimbangan antara memberikan orang-orang tempat mengekspresikan diri mereka sekaligus mendukung sebuah lingkungan yang nyaman dan aman bagi setiap orang.  Karena setiap hari orang di seluruh dunia berbagi kiriman di Facebook yang menambah nilai bagi kehidupan kita, namun terkadang orang membagikan kiriman yang dapat mengganggu atau menyakiti anggota komunitas lainnya.
Poin utama standar komunitas: 1) menjaga pengguna tetap aman, 2) mendorong perilaku saling menghormati, 3) mengakui keragaman budaya, dan 4) memberi kita alat-alat untuk mengendalikan apa yang ingin dilihat. Standar tersebut dibuat agar para Facebooker merasa termotivasi dan diberdayakan untuk memperlakukan satu sama lain dengan penuh empati dan rasa hormat.
Maka Facebook membuat opsi/pilihan pengaturan untuk pertemanan dan perpesanan bagi yang menghendakinya. Saya, sih, tidak karena ingin status siapa saja tayang di beranda saya dan status saya pun tayang di beranda siapa saja, yang masuk dalam lingkaran atau bukan. Sebagai seorang penulis lepas, saya butuh perluasan lingkaran agar karya sendiri eksis.
Bagi saya algoritma memberi kemudahan jika kita memang menginginkannya sebagai bagian dari prinsip hidup. Terserah jika jejaring yang saya ikuti untuk memudahkan interaksi sosial dengan siapa saja membuat semacam algoritma demi kenyamanan bersama. Itu juga semacam kontrol sosial agar pelaku jejaring mematuhi pranata yang ada.
Masih banyak pengguna layanan jejaring sosial yang seenaknya sehingga merugikan algoritma orang lain. Kita tentu tak nyaman baca status yang isinya caci-maki, omong-kosong, provokasi, sampai konten pornografi tayang di beranda. Maka, tanpa disadari, kita butuh algoritma.
Dalam drakor (drama Korea) “Because this is My First Life” yang jalan ceritanya bagus banget dan cenderung bertutur dalam gaya sastra, tokoh Nam Se Hee menjadikan algoritma sebagai syarat pertama kala bekerja di perusahaan startup sahabatnya, baginya perusahaan tidak bisa mematahkan prinsip algoritma hidupnya.
Dan apa algoritma Nam Se Hee? Rumah, kucing dan kesendiriannya!
Maksudnya? Ia bekerja di kantor itu dan harus dapat gaji yang sesuai agar bisa membayar cicilan rumah. Ia juga harus mengurus kucing dengan memberi makan jadi menolak lembur jika si kucing akan terbengkalai. Terakhir, ia selalu butuh saat-saat untuk sendirian dan tak ingin diusik sesiapa, tidak juga sahabatnya yang bos dari tempat kerjanya, apalagi perempuan.
Tentu kita punya prinsip algoritma tersendiri. Namun bisa jadi kita tak akan menyebutnya sebagai algoritma karena diksi tersebut seakan kurang populer, kita menyebutnya sebagai apa saja yang sesuai dengan pemahaman.
Karena kita hidup di era digital, bahasa kaum programer bertebaran. Dan algoritma hanya sebagian kecil dari banyaknya tebaran bahasa kekinian.***
Cipeujeuh, 16 Januari 2018

~ Rohyati Sofjan adalah pencinta bahasa Indonesia sejak dahulu kala masih baca majalah Intisari lawas gegara rubrik “Inilah Bahasa Indonesia yang Benar” asuhan J.S. Badudu. Sampai kejeblos di milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa sekadar kepoin apa yang lagi heboh fenomena bahasa masyarakat kita kala masih kerja di Bandung. Sekarang masih melanjutkan kepo-nya di rumah saja dengan cara mengintai Facebook dan sekian situs berita.

~Foto hasil paint sendiri
#Algoritma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D