HOME/RUMAH

Senin, 25 Juni 2018

Bukber Paguyuban Masyarakat Garut Utara yang Terasa Istimewa bagi Saya




KETIKA nomor dan nama saya mendadak masuk ke dalam group WA Limbangan Ngadaun Ngora (LNN), saya heran namun menerimanya. Rupanya Bu Ani Suhartini (Deudeuh Art) yang sudah saya kenal dari remaja (karena sedesa meski beda kampung) telah memasukkan saya ke dalam group itu. 

 Saya dan Bu Ani mengapit Bu Enok (Elok Salon), foto hasil jepretan Bu Enok Sempil
Saya tidak tahu apa arti Limbangan Ngadaun Ngora dan tentang apa, namun yang dibahas terasa berat bagi saya yang cuma ikut satu group saja, Alumni SMU Al Fatah, Balubur Limbangan, Garut. Butuh waktu untuk memahaminya karena saya sempat kesal ada pembahasan soal politik dan membersihkan semua isi chat.
Dan karena ada nama Pak Usep Romli H.M. yang sudah bertahun saya kenal sebagai sastrawan dan budayawan Sunda sebagai adminnya, maka saya coba bertahan untuk memahami LNN. Menyimak setiap diskusi. Dan syukurnya postingan soal politik sudah dihilangkan admin jadi saya bisa menikmati diskusinya.
Pada dasarnya saya tertarik pada sejarah dari kecil dan beroleh kenikmatan bergabung di LNN, ternyata sebagai orang Limbangan saya tak tahu banyak mengenai sejarahnya. Tak banyak literatur mengenai Limbangan yang saya tahu, dan di LNN semua dipaparkan secara mendetail atau sepenggal-penggal dalam bentuk dialog atau postingan di group.

 Para ibu pun antusias menyimak diskusi
Sejarah Limbangan ternyata sangat panjang dan kalaupun jarang disebut dalam literatur, ada sebabnya. Kekuasaan dan politik yang menyebabkan demikian, itu bermula dari perlawanan bupati dan tokoh masyarakat beserta rakyatnya untuk menentang tanam paksa kopi yang dilakukan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Aksi heroisme mereka diberangus VOC dengan cara licik, sehingga ibukota pemerintahan dipindahkan ke bagian Garut Selatan. Ya, pada mulanya Limbangan adalah ibukota pemerintahan untuk seluruh wilayah Garut (Utara dan Selatan).
Tidak heran, saya pernah bingung karena seakan berada dalam suasana déjà vu, ada banyak jejak sejarah di sekitar yang sudah saya endus kala kecil. Tempat ini seakan strategis bagi sesuatu yang entah apa namanya. Saya merasakan namun tak bisa mendefinisikan.
Ya, berabad-abad silam, Limbangan hidup dengan segala dinamikanya. Dari zaman pemerintahan kerajaan demi kerajaan yang barangkali masih menganut animisme lalu Hindu dan Islam. Sayangnya ada banyak jejak yang hilang. Sang bangsa penjajah lewat tangan VOC telah meniadakan jejak sejarah. Bangunan peradaban pun dimusnahkan. Sehingga tak ada jejak di manakah istana berada, bahkan pendopo kabupaten.
Tidak heran, bahkan dalam buku pelajaran sejarah di sekolah yang pernah saya baca, tak ada kontribusi penguasa dan rakyat Limbangan dalam melawan penjajahan. Jejaknya seakan telah dihapus karena bisa jadi perlawanan tersebut sangat heroik dan merugikan VOC. Sebuah contoh nyata dari perlawanan pada pihak asing yang menjajah kedaulatan suatu bangsa dan negara.
Sebagai orang Limbangan sekarang, meski saya kelahiran Bandung dengan aneka darah suku yang mengalir (Sunda-Jawa-Bali-dan mungkin sedikit Makassar), saya seakan telah kehilangan jejak sejarah, ada akar yang hilang dari Limbangan. Atau benang merah yang menautkan setiap sejarah dengan kebenaran.
Dan di LNN ada banyak insan yang memahami soal itu, mereka punya misi dan visi ke depan. Melanjutkan kembali perjuangan dalam membentuk DOB (daerah otonomi baru) yang sudah dideklarasikan di lapangan Sunan Cipancar 7 tahun silam.

 Diskusi serius
Mengapa membentuk DOB sangat penting?
Mari kita melihat artinya dalam versi Wikipedia: Daerah otonom diartikan sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu, yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jadi, daerah otonomi baru (DOB) berupa pembentukan daerah otonomi yang dikehendaki sebagian besar masyarakat yang berada atau berasal dari daerah tersebut untuk kepentingan pemekaran wilayah dan tata administrasi ruang.
Alasan utamanya berupa aspirasi masyarakat demi pemerataan dalam segala bidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan kemakmuran.
Ternyata tidak mudah mewujudkan DOB meski para tokoh masyarakat yang mewakili Garut Utara sudah mengajukan usulan tersebut sejak 7 tahun silam. Ada birokrasi yang mengadang, selain pihak-pihak yang menentang.
Karena itulah, dalam acara pertemuan PM GATRA (Paguyuban Masyarakat Garut Utara), 12 Juni lalu, para tokoh masyarakat dari berbagai kalangan mendukung kelanjutan perjuangan tersebut. 

 Bu Cucu Rodiah anggota DPRD pun hadir, beliau adalah istri dari guru SMU saya
Itu pertemuan pertama saya dalam kegiatan sosial politik. Saya tak hendak bahas bagaimana acaranya karena terasa berat. Adapun dari pertemuan tersebut para tokoh telah menyampaikan aspirasinya pada puluhan orang hadirin. Tentang mengapa DOB penting diagendakan bagi Balubur Limbangan, juga pemilihan ketua umum dan pengurusnya.
Acara dimulai jam 4 sore, dan diskusi terbuka usai kala azan magrib berkumandang. Saatnya bukber (buka bersama). Nasi kotak pun dibagikan Bu Enok dan Bu Ani pada para undangan. 

 Nasi kotak yang isinya spesial
Bale-bale terbuka di luar pendopo menjadi tempat makan yang akrab dan hangat bagi semuanya. Saya dan Palung menikmati sepiring soto hangat mengepul sebagai pembuka. Jujur, ini pertama kalinya bagi kami untuk ikut acara bukber, gratis lagi, entah siapa donaturnya. Yang penting barangkali kontribusi para undangan karena mereka punya tujuan sama demi membangun Balubur Limbangan.


 Soto yang menghangatkan badan sebagai menu pembuka

Saya tidak tahu kontribusi apa yang akan diberikan, hanya bisa menulis. Berharap sedikit demi sedikit bisa menyingkap sejarah Balubur Limbangan.

                      
Para bapak pun makan bersama
Di Wikipedia saja ternyata hanya beberapa paragraf mengenai sejarah Balubur Limbangan. Seakan ada banyak kabut misteri yang melingkupinya sehingga data tertulis mengenai itu tidak banyak. Hanya berupa cuplikan-cuplikan dan tak lengkap.
Makanya saya iri pada Majapahit karena banyak penulis yang menjadikannya sebagai latar bagi tulisan fiksi sejarah dalam balutan isi cerita dan bahasa menawan. Seperti yang dilakukan Langit Kriesna Hariadi.
Sedang Balubur Limbangan?
Entah, ya. Jejaknya seakan sulit ditelusuri maka tak banyak literatur mengenai itu. Atau bisa jadi literaturnya ada dan banyak namun tidak dipublikasikan ke masyarakat umum. Tidak heran saya merasa sangat awam mengenai Limbangan.
Bahkan beberapa jejak sejarah yang terang-terangan ada di depan mata saya seperti makam Sunan Cipancar, pun sebelumnya saya tak tahu siapa beliau. Saya seakan lebih karib dengan jejak sejarah para sunan penyebar agama Islam yang walisanga daripada wali di lembur sendiri.
Dan Limbangan Ngadaun Ngora membukakan mata saya.
Selesai di #Cipeujeuh, 25 Juni 2018 gegara capek kukurilingan usai lebaran dan mudik ke Bandung sebentar 
~Foto-foto dokumentasi pribadi~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D