HOME/RUMAH

Senin, 25 Juni 2018

Arti LIKE atau SUKA bagi Warganet



SELAMAT mitnait.
Mestinya malam ini saya langsung tidur saja karena sudah lelah dan mengantuk, namun suatu soal dari dua hari kemarin mengusik saya. Membuat saya merasa harus menulis ini sebelum lupa atau hangus di kepala karena mood lagi ngadat.
Seorang teman FB bikin status ajaib yang nyadarin saya, ia tak akan konfirmasi pertemanan karena jengkel “teman” barunya kerap abai ngasih like atau komentar pada setiap statusnya. Bikin bala alias berantakin beranda saja saking penuhnya daftar “teman” yang tak ngejempol atau komen.
Ia termasuk insan rajin berbagi jempol atau komen sebagai tanda, “Hey, I’m here. Know and care about you.” Gitulah dengan polosnya ia bersosialisasi di jejaring paling ramai dan terlama daripada jejaring lainnya. Dan kekecewaanlah yang didapatnya kala sepi tanggapan. Napa gitu, ya?
Baiklah, ada beragam analisis dari saya:
1.   Statusnya dianggap tak penting. Soal itu si teman bisa uring-uringan kalau bagi orang lain dilabeli demikian. Baginya setiap momen yang ia bagi di linimasa merupakan hal penting.
2.   Statusnya berisi keluhan. Ada yang males nanggapin hal demikian karena si males tanggap bisa jadi dah punya segambreng masalah yang harus dikeluhkan juga, hehe.
3.   Statusnya ngumpatin suatu hal atau seseorang pakai bahasa kasar. Wah, kalau gitu mending kita tak nimbrung kecuali kegatelan.
4.   Statusnya bernada menyindir entah siapa. Yang baca merasa tak nyaman kalau dirasa mengena jadi memilih abaikan.
5.   Statusnya memang tak dibaca karena kebetulan di-posting pada waktu berbeda jam daring/ dalam jaringan (online). Yang ini mestinya tidak masuk kategori daftar hitam. Beranda seseorang bisa saja sangat ramai maka status-status yang nongol kerap saling timbun-menimbun, pun notifikasi hanya berisi daftar yang dianggap berkaitan dengan pemilik akun.
6.   Statusnya termasuk yang kena geser bawah secara cepat. Hal demikian karena yang jadi “teman” mepet waktu untuk daring-nya atau sekadar iseng buka beranda tanpa menyimak, hanya akan menyimak yang dirasa sangat akrab.
7.   Si “teman” memang pada dasarnya lebih suka dijempolin karena merasa jempolan daripada berbagi hal serupa karena menganggap orang lain tidak penting. Tinggalin saja dia, masih banyak teman bagi teman saya itu, teman yang bukan dengan tanda kutip.
8.   Si “teman” sudah malas ngejempol malas pula komentar. Bisa jadi layar ponselnya kecil jadi tulisan yang tampil menyulitkan mata, mana harus cari bagian untuk SUKA atau KOMENTAR yang memakan waktu lama karena proses loading-nya mutar-mutar seakan tiada akhir. Yang itu jangan dibuang dulu, silakan dikoleksi jika mau, he he.
9.   Akun teman yang tak menanggapi hal apa pun bisa jadi jarang dibuka pemiliknya karena tak punya kuota serta malas bikin pengumuman sebelumnya bahwa ia untuk sementara waktu dalam jangka entah berapa lama tak bisa internetan. Malu, atuh, bikin pengumuman lagi tongpes atau kesulitan cari penjual kuota data karena tinggal di sudut paling jauh dari keramaian.
10. Silakan Anda tambahi sendiri gimana sesuai imajinasi atau pengalaman.

Saya termasuk orang yang masih polos kerap ngasih jempol atau komentar pada setiap status teman FB (karena Twitter jarang dibuka dan Instagram belum diunduh aplikasinya di komputer Windows 7 -- cuma bisa buka situsnya doang tanpa bisa kirim-kirim). Maka manfaat apa yang saya peroleh dari hal demikian?
Gini, ya, meski saya jarang banget direspons dan cuma beberapa teman yang ngerespons, saya bisa tahu yang mana teman yang menganggap saya sebagai temannya. Dan biasanya teman yang kerap saya jempolin atau ikon reaksi lain, juga komentari, maka akan balik melakukan hal serupa karena merasa berteman benaran dengan saya. Menganggap status saya memberi kesan bagi mereka atau sekadar apresiasi basa-basi.
Saya sadar sekarang Facebook menerapkan standar algoritma yang dirasa sesuai bagi penggunanya. Namun algoritma tersebut bisa membuat para Facebooker saling berjauhan karena telah [saling] menjauhi.
Sekarang saya harus pikir ulang untuk jangan keseringan mengumbar jempol atau komentar sebagai tanda apresiasi plus kehadiran saya, itu seakan mengisi daftar absensi namun diabaikan.
Baca saja jika dirasa penting, kalau tak penting benar tak usah dikepoin apalagi direaksi jempol plus komen. Kalau memang bagus dan penting barulah diberi reaksi sewajarnya sebagai sesama warganet.
Ada hal yang SANGAT PATUT DIACUNGI JEMPOL bagi Pak Akmal Nasery Basral kala promo novel barunya, trilogi yang diterbitkan Gramedia kemarin. Saya memberi jempol sebagai hasil apresiasi saja malah turut disebut nama dengan dibirukan dalam ucapan terima kasih Pak Akmal pada semua teman Facebook-nya yang peduli.
Wah, jadi terharu, nih, padahal saya belum baca novel-novelnya namun tahu bahwa beliau penulis hebat dengan karya bagus dan layak diapresiasi.
Saya baru tahu bahwa masih ada penulis yang balas memberi ucapan terima kasih pada teman yang menanggapi statusnya. Penulis demikian adalah insan rendah hati plus ingin karyanya dibaca banyak orang juga. Bukankah mendapat perhatian berupa beragam respons simbol atau komen sudah merupakan hal keren. Masih ada yang peduli atau memerhatikan.
Jadi, mungkin kita harus merenungkan juga pada yang berbagi status atau tulisan apa saja, di mana saja dan kebetulan kita baca lantas suka; tidakkah sudi meluangkan sedikit waktu untuk mengeklik alias mengetuk tanda ikon yang sesuai perasaan. Setidaknya berbagi hasil apresiasi kita padanya.
Dan bagi yang kerap ditanggapi, sudikah menyadari betapa berharganya waktu yang telah diberikan perespons dengan memberi ikon pilihan atau komentar atau malah keduanya.
Sesungguhnya saya senang bisa berbagi respons atau komentar bahkan keduanya di mana saja. Saya baru sadar itu penting untuk menandakan bahwa kita ada, peduli, sudah baca, sudah lihat, sudah jadi teman, atau sudah-sudah lainnya. Bisa juga kita mengharap respons serupa. Yah, semacam saling, gitu.
Demikianlah. Selamat dini hari, ini sudah pukul satu lewat beberapa menit. Sampai jumpa lagi, saya mengantuk dan harus bobo agar esok lebih segar mengisi hari.
#Cipeujeuh, 4 April 2018
~Foto koleksi pribadi~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D