HOME/RUMAH

Kamis, 07 Juni 2018

2018 Tahun Nostalgiaan?





BAGAIMANA tidak, dari sejak awal tahun saja saya merasakan semacam aura orang-orang cenderung terkenang-kenang pada masa silam. Tengoklah beranda Facebook, kebanyakan yang jadi teman Facebook saya pada bahas novel dan film “Dilan”.
Pidi Baiq yang menulis dengan gaya nostalgiaan benar-benar sukses menularkan semangat nostalgianya, hingga kebanyakan yang segenerasi dengan Kang Pidi, generasi X, ikut mengenang bagaimana kehidupan mereka yang telah lampau. Nostalgia masa SMA atau SMU.
Termasuk saya!
Saya tak akan bahas novel Dilan karena belum sempat baca. Akhir-akhir ini saya merasa lebih banyak menulis daripada baca. Membaca adalah ritual yang butuh saat tenang ketika segala pekerjaan rumah tangga telah usai. Namun sekarang saya cenderung terlalu aktif internetan sehingga menjadikan membaca sebagai prioritas kesekian.
Apa yang saya lakukan dengan internet?
Saya sibuk urus blog dan blogwalking agar rank blog saya tak anjlok, padahal sudah dapat page rank 3 mestinya jangan khawatir. Stalking pada setiap status di Facebook dengan harapan menemukan info lomba menulis atau giveaway atau kuis hadiah buku gratis. Meski kerap tertimbun status gaje orang keluh-kesah atau marah-marah pakai bahasa kasar yang membuat saya tak nyaman dan rasanya ingin segera berhenti mengikutinya sebagai teman.
Sedang saya cuma berbagi status yang isinya melulu berkaitan dengan dunia menulis dan literatur, maka nyaman dengan yang sedunia dan berbagi hal positif dalam bahasa santun.
Geser bawah kerap disodori pemandangan bahasa yang bikin mumet ala pengguna Facebook yang berprinsip aneh: Susah-senang dibagikan. Tak peduli susah dan senangnya pakai bahasa tak pantas.
Padahal seisi dumay bisa menilai dengan jelas aslinya si itu gimana jika keseringan mengumbar keruhnya perasaan dan pemikiran pakai bahasa sangar.
Dan awal tahun 2018 ini di Facebook, saya bertemu kembali dengan beberapa teman lama, teman masa SMU. Saya, sih, senang saja. Namun ada semacam kecenderungan bahwa mereka, yang lelaki, kebanyakan merasa berjiwa muda dan menggunakan bahasa “yang dulu” kala berinteraksi dengan sesama teman masa remajanya.
Jadi, cuma bisa bengong dan terheran-heran kalau mereka saling ledek dalam bahasa Sunda kasar dan asal njeplak di status Facebook maupun group WA. Yang itu jelas tak bisa saya ikuti.
Mari kita lupakan para bapak alumni sekolah saya. Sebagai bapak dan suami, mereka ingin tetap merasa bocah kala gaul dengan sesamanya agar awet muda. Toh, mereka tak mengganggu saya. J
Saya ingin bahas salah satu elemen penting dalam hidup saya, bacaan masa kecil dan remaja yang membuat saya ingin nostalgiaan!


Itu bermula dari status Teh Tias Tatanka yang dengan izin Allah bisa saya baca; undangan bagi para pembaca BALADA SI ROY!
Undangan itu ditujukan bagi para pembaca novel BALADA SI ROY untuk menulis kisah mereka mengenai seberapa besar pengaruh Roy dalam hidup pembacanya. Karya terpilih akan dibukukan dalam buku khusus yang akan dirilis pada peringatan 30 Tahun Balada Si Roy di Rumah Dunia, Banten.
Saya merasa bergairah dan mengirimkan tulisan nostalgia terhadap sosok Roy yang juga turut andil memengaruhi hidup saya.
Ketika kirim itu saya tak yakin akan terpilih. Keluar lagi, deh, rasa pesimisnya. Soalnya yang ikutan pasti banyak banget dan isi tulisan mereka pasti seru plus bagus.
Namun Allah punya rencana indah.
Alhamdulillah, “Solidarnos dan Menyusuri Bandung Berkatmu, Roy!” disertakan dalam 17 kisah petualangan pembaca Balada Si Roy dalam buku ODE TO ROY.


Bahagia sekaligus terharu rasanya, pokoknya campur aduk. Itu buku antologi pertama saya untuk tahun 2018 ini. Setelah 3 setengah tahun lalu, pada tahun 2014, ada buku antologi bersama hasil lomba menulis “Karena Bahagia Itu Sederhana”.
Justru berkat buku itu akhirnya saya temanan dengan Kang Gol A Gong penulis BALADA SI ROY di Facebook, beliau ternyata ramah. Dan Teh Tias Tatanka, meski sudah jadi teman Facebook sejak tahun 2014 barulah bisa berinteraksi sekarang. Iya, soalnya saya sempat ngilang lama dari dumay, sih. J
Jadi kepingin mengunjungi Rumah Dunia.
Apa arti nostalgia bagi Anda?
30 Tahun Balada Si Roy

Barusan saya baca quote alias kamut bagus dalam novel Pasukan Matahari karya Kang Gol A Gong (Penerbit Indiva, 2014). Saya kutipkan, ya.
Oh, masa kecil yang indah. Kata Imam Ghazali, masa lalu itu jauh dan kita tak akan mungkin bisa kembali. Kecuali, mengenangnya saja. Maka, hargailah waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. (Halaman 81.)
Jika tahun 2018 ini kita banyak diajak nostalgiaan berkat film dan bacaan, apa yang akan kita lakukan di masa sekarang agar bisa menjadi kenangan sarat makna di masa mendatang? Bukan sekadar kenangan biasa melainkan sesuatu yang berfaedah untuk kita lakukan agar menjadi hal manis untuk dikenang.
Saya menulis dengan harapan bisa mengabadi dalam waktu lama, merangkum hal-hal yang terjadi, hal besar dan kecil, agar kelak bisa menjadi jejak untuk dinapaktilasi.
Melakukan hal-hal manis dengan anak dan suami, berikut para sahabat. Lantas menuliskannya dan dibagikan di blog, Facebook, atau media lainnya.
Usia, siapa yang bisa menduganya. Jalan hidup kita apakah akan panjang atau singkat? Kita tidak tahu itu. Sejauh kita berupaya berbuat baik dan menghindari menyakiti sesama dengan ucapan atau perbuatan, niscaya usia kita akan bermanfaat.
Tahun 2018 ini kita boleh mengisinya dengan nostalgiaan pada hal lampau agar merasa muda atau bahagia atau bersyukur dengan tetap tawadhu. Namun tahun ini kita jangan lupa mengisinya dengan hal-hal baik yang kelak di masa mendatang membuat kita mensyukurinya kala ingin bernostalgia.
Hidup hanya sehimpun kenangan, kenangan adalah gerak dari perbuatan. Perbuatan mana yang akan membuat kita tidak menyesali hal silam di masa sekarang atau mendatang? Bahkan di Hari Pembalasan?
Saya bersyukur sebagai generasi X yang dibesarkan dengan limpahan literatur. Literatur semacam itu mengantarkan saya pada masa sekarang demi memperjuangkan hal mendatang. Cita-cita dan impian akan kehidupan yang lebih baik.
Maka, serial Balada Si Roy yang pernah saya baca di majalah Hai berikut novelnya kala usia praremaja, membuat masa remaja saya ditulari semangat bawah sadar untuk berani bertualang kala SMU.
Roy memberi kenangan manis.
Sebagai mamah-mamah generasi X saya bersyukur bacaan masa itu termasuk jenis yang akan membuat generasi milenial akan heran. Majalah remaja macam Hai, Gadis, dan Mode saja kala itu ada nuansa sastranya, sastra Indonesia dan dunia. Tidak heran, para pencinta literatur generasi X cenderung menyukai hal filosofis. Dan Kang Gol A Gong adalah contohnya!
#Cipeujeuh, 25 April 2018
~Foto buku: koleksi pribadi.
~Foto sampul dari https://golagong.wordpress.com/2018/01/11/perayaan-30-tahun-balada-si-roy/






5 komentar:

  1. Karya sastra masa lalu sering menjadi legenda pada masa sekarang. Karena ceritanya jernih dan alurnya natural. Kalau sekarang lebih banyak tema futuristik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita sesama generasi X, ya, Pak? Yah, kala itu alam masih menjadi latar paling dominan bagi penulis di masa saya masih kecil. Aneka imformasi belum tumpah-ruah. Media cetak masih jadi kiblat. :)
      Sekarang, dunia menyemput dan kita terpaksa ikuri pergerakan cepat tanpa kenal batas ruang dan waktu.

      Hapus
  2. Wahhh keren mbak. Selamat ya. Saya dari dulu nulis tapi gak pernah bisa masuk ke buku antologi. Mungkin harus lebih belajar lagi. Duuhh mungkin saya agak mudaan sedikit ya mbak. Soalnya gak tau cerita ROY. Tapi kalau ngomong nostalgia, bersyukur deh zaman saya kecil literatur masih dari alam dan buku. Beda sama anak jaman now ya mbak. Baca berita aja malas. Apalagi baca buku 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima hasih, Teh Iva. :)
      Semangat menulis itu penting agar kita bisa berhasil. :) Jadi, tetap caei peluang dan lakukan apa yang harus dilakukan, insya Allah, proses akan beroleh hasil sebagai jawaban. Pokoknya harus siap berjuang. :)
      Ya,syukur kita masih tetap beroleh bahan literatur kala kecil dan belum ada tekno canggih, bisa menikmati apa yang ada. Sekarang telah berubah jadi tidak ada, ya, suasana silam itu. Dan anak zaman sekarang memang tak bisa lepas dari gawai. :)

      Hapus
  3. Selamat dan sukses atas terpilihnya karya tulisan kak Rohyati diikutsertakan di 17 kisah petualangan Balada Si Roy dalam buku Ode To Roy.
    Terus berprestasi, kak 👍

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D