Kamis, 31 Mei 2018

Ucapkan



 ”MARI ucapkan suatu kata atau rangkaian kalimat, lalu rasakan bagaimana gemanya!”
Saya ingin sekali katakan itu pada siapa saja yang berpendengaran normal, setidaknya mereka yang merasa bersyukur telah diberi kesempurnaan panca indra. Sebab mengucapkan suatu kata apalagi rangkaian kalimat bagi yang memiliki keterbatasan fungsi pendengaran ternyata tidaklah mudah.
Waktu kecil, sebelum berusia sekira 6 tahunan, ketika telinga saya masih berfungsi, bicara adalah hal yang mudah, bisa belajar bahasa dari apa yang didengar berikut cara pengucapannya, juga dari belajar membaca.
Dan sebagai seorang anak, saya sangat menikmati masa-masa tersebut. Sering takjub, heran, kagum, sekaligus ngeri pada apa yang didengar. Cerita, nasihat, ancaman, sampai omong kosong mewarnai hidup saya. 
Sampai kemudian suatu musibah yang tak begitu saya ingat apa persisnya (seolah ingatan kolektif menolaknya masuk dalam memori), mengubah dunia saya yang kaya warna dan suara menjadi sunyi, ya, secara pelan namun pasti.
Dan aneka pengobatan, serius sampai konyol, tak mampu mengubah hidup saya agar kembali ingar. Seolah sunya menjadi bagian dari takdir yang harus diterima seikhlas-ikhlasnya.
Sunya itu pula yang sebetulnya mempertemukan saya dengan dunia baru; perkawanan dengan orang-orang yang memiliki empati pada keterbatasan karena cukup tawadu untuk menerima perbedaan, sebab mereka sendiri sadar tak ada yang sempurna dalam banyak hal.
Jadi, apa yang harus dilakukan selain mengurut dada pada seseorang yang membuat perbedaan dengan sudut pandangnya yang sempit dan picik? Hal itu sering saya alami. Karena bicara adalah hal yang sulit bagi saya (dan yang senasib).
Contoh sederhana namun tak mengenakkan ketika harus berinteraksi dan bahasalah sebagai alat komunikasi; saya sering tak paham ucapan lawan bicara, begitu pun sebaliknya lawan bicara terhadap saya. Bahasa isyarat adalah jalan keluarnya selain membaca gerakan mulut secara keseluruhan (reading lip).
Oke, ini contoh kasus yang pernah saya alami. Seorang tetangga entah mengapa ngomong, cara bicara saya yang parah tidak separah saudara iparnya (yang masih merupakan kerabat jauh saya juga).
Percayalah itu bukan pujian bagi saya, karena ia terbiasa menyinisi sesuatu agar membuatnya (merasa) lebih baik dibanding orang lain.
Saya diam saja. Iparnya toh tak akan peduli karena sudah terbiasa dengan dunia sunyinya dan bisa menerima diri sendiri apa adanya. Sesuatu yang kadang sulit saya lakukan karena sering alami perlakuan tak mengenakkan sebab terbiasa berinteraksi dengan “yang normal”. Dari semasa sekolah (selalu umum), bekerja, dan berumah-tangga.
Kerabat saya lain lagi ruang lingkup pergaulannya, ia sekolah di SLB, pernah bekerja di restoran cepat saji, menikah dengan sesama tunarungu, dikaruniai dua orang anak yang lucu dan, alhamdulillah, berpendengaran normal.
Saya percaya setiap kekurangan, cacat fisik sekalipun, pasti oleh Allah diberi kelebihan. Kerabat saya cantik, ramah, supel, santun, rajin, dan tidak sombong. Ia sendiri cukup sukses dalam standar hidupnya padahal sejak bayi sunyinya. Dan saya mengaguminya karena ia mampu menjaga lisan agar ucapannya yang “parah” itu tak sampai melukai orang lain dengan cara mengecilkan.
Akan tetapi, aneh tapi nyata, saat menonton berita macam Redaksi Siang atau Petang atau Liputan 6 dan yang semacamnya, ada cuplikan teks dari narasumber atau subjek berita yang pengucapannya seperti tak mematuhi kaidah gramatika bahasa Indonesia. Bercampur dengan bahasa daerah atau slank. Yang terasa parah jika itu merupakan cuplikan dari percakapan telefon antara dua orang kriminal berstatus pejabat.
Apakah jabatan sama sekali tak mencerminkan pemahaman akan gema dari apa yang telah/sedang/akan diucapkannya? Bahwa bahasa tak punya makna apa-apa selain sebagai ucapan yang merupakan citra diri, dan citra itu sebetulnya sarat noda, betapa belepotannya sang pejabat dengan status kekuasaan semu. Ia tak lebih dari produk ucap yang sesungguhnya sunya untuk memahami apa yang diucapkannya. Ia pekak pada gema. Tak peduli bahwa rakyat sudah lelah menggaungkan “gema-nya di mana-mana dan ke mana-mana.
Tidakkah ucapan semestinya dibarengi tanggung jawab? Bahwa bicara jelas dan bernalar merupakan bagian dari kode etik jabatan. Ataukah hanya utopia di republik ngoceh ini? Ketika orang berbicara dan hanya ingin didengar namun tak pernah memahami gema dari apa yang diucapkannya.
Alhasil, saya sering tak mengerti dan terheran-heran dengan segala omong kosong tentang ucapan “ajaib” yang tak terstruktur ketika membacanya dari medium mana saja.***
Rohyati Sofjan, blogger dan peminat bahasa Indonesia. Mukim di Balubur Limbangan, Garut.

#bahasa #bahasa indonesia #mamah palung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D