HOME/RUMAH

Kamis, 31 Mei 2018

Pinjam, Ya?




ALISHA mendesah kesal begitu tangan Abimanyu terulur dari belakang ke mejanya.
“Pinjam, ya?”
Maka penghapus berbentuk pisang warna kuning itu pun beralih ke tangan Abimanyu tanpa bisa Alisha cegah.
“Hem, wangi, jadi bikin lapar dan pengen makan pisang,” begitu komentar tambahan dari Abimanyu diiringi cekakak Rio teman sebangkunya.
Alisha memutar kedua bola matanya yang bulat dan indah sebagai pertanda dongkol, begitu Murni sahabat sebangkunya ikut ngikik. Cekakak Rio dan kikik Murni benar-benar menyebalkan baginya. Dua insan itu seolah terlibat persekongkolan.
Abimanyu malah cuek, menggunakan penghapus hasil pinjam-paksa punya Alisha, menghapus bagian yang salah tulis. Pelajaran matematika menuntut kejelian dalam pemahaman angka. Butuh ekspresimen kala menghitung suatu soal, karena itu Abimanyu lebih suka menggunakan pensil -- dan penghapus pinjaman!
Dan ketika semua tugas telah selesai dikerjakan dengan cepat, Abimanyu menghampiri meja Alisha untuk mengembalikan penghapus tersebut disertai ucapan terima kasih dan senyum manis. Lantas berlalu meninggalkan Alisha tanpa menunggu jawaban, ke depan untuk mengumpulkan soal ulangan.
Bukan kali ini saja Abimanyu caper dengan meminjam barangnya, terlalu sering dan banyak untuk dihitung. Memang barang yang dipinjam itu selalu kembali dengan utuh dan tak kurang suatu apa pun, tapi bagi Alisha cara meminjam Abimanyu yang seolah sudah penyakit akut itu mulai menjengkelkannya.
Apa ia tak punya alat tulis? Tak punya buku-buku penunjang pelajaran? Jawabannya: punya! Lalu untuk apa ia saban kali meminjam mulu? Alisha tak paham itu.
Ia yang cantik dan pendiam bukanlah jenis orang asertif yang bisa mengutarakan pendapatnya. Juga tak bisa bilang tidak, terutama kalau Abimanyu mulai “memaksa” dengan kicauan “pinjam, ya?” itu.
Alisha tidak pelit, ia hanya terganggu dengan sekian gosip santer tentang dirinya dan Abimanyu. Ia malu apa kata Mama nanti kalau dengar itu? Baru kelas IX SMP, kok, sudah mulai digosipin macam-macam dengan cowok. Masih mending kalau cowoknya cakep, tapi Abimanyu yang cerdas itu bukanlah anak yang cakep-cakep amat. Ada bekas luka operasi sumbing di bibirnya.
Alisha membatin, ia merasa jadi orang yang kurang bersyukur kalau memikirkan bekas luka itu. Abimanyu meski bukan berasal dari keluarga yang mampu, baiknya tak ketulungan. Tak pelit berbagi, suka mengajari kawan-kawan lain yang tidak paham akan suatu mata pelajaran tertentu, aktif  berorganisasi, atlet beladiri, malah pernah mewakili sekolah untuk lomba maraton antarsekolah se-Kabupaten dan dapat juara dua untuk kategori SMP dan sederajat.
Sedang Alisha? Prestasi apa yang pernah dicapainya? Ia malu. Ia memang paling cantik di kelasnya, namun masih banyak cewek lain yang lebih cantik daripada dirinya. Alisha sadar itu.
Ia merasa malu dengan perhatian Abimanyu karena cowok itu mestinya janganlah terlalu caper main pinjamnya. Tidak pernah sekalipun Abimanyu mengucapkan kalimat lain seperti sekadar kata sapaan atau bertanya kabar, hanya pinjam ya itu. Hanya pada Alisha saja. Apa arti semua itu? Alisha tidak berani bertanya langsung, hanya sekadar menduga dan menerima saja ledekan dari anak lain tentang “hubungan “ mereka.
Ia lebih suka menenggelamkan dirinya dalam permainan biola, alat musik yang dipelajarinya sejak berusia 5 tahun. Alisha sudah kadung jatuh cinta pada biola dan menganggap alat musik itu bisa mewakili curahan perasaannya. Tentang Abimanyu, tentang desir aneh yang tak semestinya ia pikir dan rasakan, dan tentang dunia secara keseluruhan di matanya yang belia.
Mamilah yang mengajari Alisha. Dulu Alisha suka melihat permainan Mami, indah sekali bunyinya. Mami seorang violis, bergabung di Jakarta Philharmonic Orchestra. Sampai sekarang mami masih sering konser, entah tunggal atau bersama kelompoknya.
Bertahun-tahun melatih diri dalam menggesek biola membuat Alisha memahami bagaimana cara meliukkan nada sehingga mencapai harmoni bunyi yang indah dan serasi. Mami puas melihat pencapaian putri semata wayangnya dalam musikalitas, apalagi ada sponsor yang tertarik pada permainan Alisha dan mengundang Alisha konser duet bareng Mami di pentas musik klasik.
Itu pertama kalinya Alisha konser dengan Mami di pementasan resmi dan diliput banyak media. Ia gugup sekali karena itu berarti dirinya disorot pula. Biola Stradivarius-nya sampai ikut bergetar dalam genggaman. Mereka berada di belakang panggung dan sebentar lagi akan tampil.
“Gugup?” Mami rupanya menyadari situasi yang menimpa Alisha.
Alisha hanya mengangguk lemah.
Mami mengusap punggung Alisha, “Seperti biasa, sebelum tampil, tarik napas dalam-dalam dan embuskan perlahan. Anggap kita hanya melakukan konser di acara biasa.” Alisha hanya mengangguk. Ia mengikuti saran Mami dan berdua masuk panggung begitu giliran tampil.
Alisha tambah gugup begitu melihat ada banyak kameramen aneka stasiun televisi meliput. Namun Mami tersenyum sambil menyentuh bahunya, mau tak mau Alisha ingat pesan Mami untuk tenang. Maka mereka berdua memainkan Symphony No. 9 Beethoven dengan harmoni. Alisha lupa pada segalanya, ia begitu menikmati duet dengan Mami. Musik dari gesekan biola telah membuatnya melayang sesuai irama.
Dan pagi ini, Abimanyu tiba-tiba mencegatnya di koridor sekolah. Sosok tinggi menjulang itu membuat Alisha terpaku beku.
“Alisha,” suara itu begitu riang dan ramah. Mungkin akan biasa jika diucapkan siapa saja, namun baru kali ini Abimanyu memanggil namanya, dan Alisha hanya bisa terpana. “Permainan biolamu bagus, bagaimana jika kamu ikut mengisi acara panggung 17 Agustusan di sekolah nanti?”
Mata Alisha mengerjap. “Ba-bagai-ma-na kamu bisa tahu?” gugup dan gagap menderanya.
Abimanyu hanya tersenyum. “Itu rahasia,” katanya nakal. “Aku mohon ya? Pliiiis deh, tolong ikut ambil bagian dalam acara itu. Aku bingung jadi panitia, butuh lebih banyak sukarelawan untuk mengisi acara. Tapi gak dibayar, gak apa-apa, ya? Cuma kutraktir makan saja, mau?” Abimanyu mengucapkannya dengan pelan dan ragu untuk kalimat terakhir itu.
Alisha merasa panas menjalari wajahnya. Malu.
Ia menunduk dan dengan pelan bilang, “Ya.” Tidak dipedulikannya reaksi Abimanyu.
“Terima kasih, Alisha. Nanti kuhubungi lagi, ya.”
“Abi!” Seru Alisha begitu menyadari sesuatu telah membuatnya panik.
Langkah Abimanyu terhenti, ia berbalik. “Ya, ada apa lagi?” Ada cemas tergurat di wajahnya.
“Kamu tak akan meminjam, eng, biolanya ‘kan?”
Abimanyu terbahak. Alisha merengut kesal. “Ya, tentu tidak, dong, Non. Aku ‘kan tak bisa main biola. Dadah!”
Ada hangat mendesir di dada Alisha. Ia tersenyum manis. Manis sekali.***
Cipeujeuh, 17 Januari 2014



#cerpen #remaja #mamah palung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D