HOME/RUMAH

Rabu, 21 Maret 2018

Usia 42 Tahun, Maka Saya …


ADA pepatah populer yang layak kita kritisi, “Life begins at 40.”. Benarkah hidup kita [akan/telah] bermula pada usia 40-an? Baiklah, karena penulis telah menginjak usia demikian dan ingin berbagi sedikit asam-garam kehidupan kala menjalani usia yang dimitoskan sebagai beginning alias permulaan. Permulaan yang dilakoni bergantung bagaimana sudut pandang.
Persoalan usia menyangkut siklus waktu perjalanan hidup yang telah kita tempuh. Ada yang hepi-hepi saja dan tak alami banyak riak, ada yang sebaliknya harus “berselancar” di pasang-surut ombak hidup. Dan penulis termasuk yang berselancar demikian.
Jadi, permulaan macam mana pula yang telah penulis alami?
1. Rambut menipis dan perubahan warna pigmen
Entah karena faktor kurang gizi atau stres, tanpa disadari ketebalan rambut berkurang selain pigmen warna rambut yang memudar dari hitam di beberapa bagian helainya berubah memutih alias menjelma uban. Kita tak bisa menghindar dari silkus perubahan fisik demikian.
Upaya terbaik pun coba dilakukan, ada yang minum vitamin atau obat dan kosmetika perawatan rambut agar kembali sehat dan tebal, ada pula yang mengecat rambut pakai pewarna (baiknya jangan hitam bagi muslim). Apa pun itu, yang penting perubahan fisik tak memengaruhi aspek psikis dengan cara menyiasatinya (agar tetap merasa muda).
2. Tulang rapuh dan mendadak gout  dan beragam masalah kesehatan lainnya
Jalan nanjak bikin punggung dan kaki mendadak berasa pegal berat. Telapak kaki di bagian jempol mendadak tertekuk  kaku mendekati jari lain berikut rasa nyeri menjalar di bagian telapak kaki sampai, yang parah, ke betis.
Kedua hal tersebut JANGAN dianggap remeh. Itu alarm dari tubuh sendiri bahwa ada penurunan fungsi anggota atau organ dalam tubuh karena aktivitas fisik sampai pengaruh zat luar (dari makanan, misalnya) yang menggangu.
Bagi perempuan, jangan abaikan minum susu dan makanan mengandung kalsium lainnya. Tulang rapuh yang patah bisa fatal akibatnya, selain itu sulit diperbaiki karena faktor usia bisa mengakibatkan tiadanya regenerasi sel yang rusak. Dan gout yang saya alami karena salah posisi duduk kala mencuci. Terlalu lama duduk di dingklik dengan kaki berselonjor tanpa disadari akan membebani bagian telapak kaki yang “tegang” karena aktivitas tersebut.
Teman saya yang alami gout juga bilang itu akibat asam urat. Hem, jadi, asam urat bisa mengakibatkan salah urat? Tampaknya saya harus banyak googling artikel kesehatan agar lebih paham mana yang mitos dan kebenaran. Saya bukan penyantap sembarang makan atau junk food, juga bukan insan rakus yang leluasa makan makanan “mewah”, namun bisa jadi bertambahnya usia memaksa saya untuk cek medis menyeluruh.
Dari pengukuran kadar asam urat, kolesterol, kadar gula darah, dll. Di laboratorium puskesmas kecamatan juga bisa, kok, dan lebih murah bagi yang tak punya KIS (kartu Indonesia sehat) atau BPJS.
3. Mata mulai lamur
Pengaruh pekerjaan (penulis lepas) yang kerap berhadapan dengan komputer membuat kinerja mata menurun akibat paparan radiasi layar komputer. Cahaya terus-menerus dari layar membuat mata terbiasa dengan cahaya tersebut sehingga melamurkan objek (tulisan) lain yang tidak bercahaya -- seperti di kemasan produk dengan tulisan kecil bahkan tulisan anak saya yang pakai potlot.
Selain itu otot mata mudah lelah akibat kontraksi terus-menerus untuk menyesuaikan kejelasan objek dengan cahaya yang jatuh, Kalau sudah demikian, saya sadar harus memeriksakan mata ke dokter dan mulai pakai kacamata.
Lelah rasanya jika baca tulisan dengan ukuran huruf kecil. Bahkan saya tak bisa baca tulisan yang dulunya terbaca sekarang ukuran hurufnya sangat menyiksa saking tak bisa dibaca. Kayak di bungkus kemasan produk makanan, bumbu, obat, dll.
Jadi ingat tulisan Steve Teo, fotografer Singapura di majalah Intisari kala ia menginjak usia 40-an, mulai alami penurunan daya penglihatan padahal pekerjaannya mengharuskan ia tajam memindai objek dengan matanya untuk dibidik kamera.
4. Elastisitas kulit yang perlahan namun pasti mengendur
Saya tidak menyadarinya, namun kala becermin sadar ada perubahan besar pada wajah saya. Dimulai dengan adanya lipatan dagu padahal saya bukan orang gemuk. Tinggi 150 cm dan berat 45 kg. Cukup seimbang,  bukan? Kurus mungil.
Namun tinggi dan berat ideal sekalipun harus takluk pada siklus waktu yang telah memamah elastisitas (kekenyalan) kulit. Dan wajahlah yang menarik perhatian untuk kita sadari dibanding anggota badan lainnya.
Dan untuk itu, saya menyerah karena bukan pemakai botox atau alat bantu perawatan kulit lainnya. Pergi ke salon atau dokter ahli kulit (dermatologis) agar kulit kinclong pun tidak mungkin. Mahal, cing.
Sebenarnya jika kita mau repot dikit, ada perawatan alami cara rumahan yang bisa kita lakukan demi mempertahankan kehalusan dan kekenyalan kulit wajah atau anggota badan lainnya. Kita bisa googling di internet soal masker wajah dan luluran. Itu lebih aman, murah, dan praktis daripada harus pakai produk pabrikan atau ke salon.
Namun soal mengatasi lipatan di dagu?
5. Siklus haid yang tidak teratur
Berhubung saya masih rutin minum pil sebagai pilihan cara KB (setelah 5 tahun IUD dan 1 kali suntik KB untuk 3 bulan saja), saya sempat waswas kala telat dapat haid padahal telah minum pil bagian putih sampai habis (sebagai penanda akan adanya siklus haid setelah yang kuning habis) dan lanjut ke strip baru.
Saya putuskan berhenti sementara sambil menunggu beberapa waktu sampai ternyata dapat lagi padahal saya telah telanjur beli test pack. Pernah juga saya segera beli test pack dan uji hamil di rumah karena telat dapat selama sebulan, hasilnya negatif. Itu terjadi dalam jangka waktu 2 bulan berturut-turut.
Artinya apa?
Hem, penjelasan logisnya adalah saya telah menjadi bagian dari perempuan yang sedang menjalani siklus jelang-jelang menopause. Lalu pada usia berapa menopausenya terjadi? Entah kapan, ya, saya juga tidak tahu. Bisa pada usia 45, bisa lebih. Dan perubahan siklus haid itu cuma sekadar alarm dari tubuh.
Tubuh tahu banget bagaimana cara memperingatkan kita agar siap.
Tiada pilihan lagi, saya pun harus siap dengan googling lebih banyak tentang menopause dan cara menjalani hidup secara enjoy meski usia dah meno, hehe.
6. Emosi naik-turun
Jika mood sebenarnya biasa-biasa saja namun mendadak kita mudah sewot pada suatu hal yang terasa super-duper nyebelin alias mudah sensi karena tensi tinggi; itu harus diwaspadai sebagai adanya hipertensi alias tekanan darah tinggi.
Bisa jadi pengaruh makanan yang biasa dikonsumsi (makanya harus diet garam dan gugurihan lainnya), atau juga penumpukan zat-zat sisa makanan yang telah diserap dan mengendap.
Tekanan darah saya kala diukur terakhir kali mencapai 120. Itu masih batas aman daripada angka selanjutnya.*  

4 komentar:

  1. Semoga Teh Rohyati sehat dan bahagia selalu ya. Kata orang, umur itu tidak ditentukan oleh usia, tetapi oleh pola pikiran. Kalau baca dari tulisan-tulisannya, Teteh kayak masih umur 30an lho, hehehe. Bijaksana dan memotivasi. Semangat terus ya, Teh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, nuhun, Kang Keven. Kalau baca postingan Akang juga kadang ngikutin cara penulis menyebut diri. Kalau yang nulis ber-gue, maka dalam komen ikutan gue, hihi

      Hapus
  2. Semua yg muda akan tua pada waktunya mbak. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan kemudahan dalam beribadah. Walaupun tubuh sudah mengalami perubahan semoga semangat mbak tidak ikut mengendur hehe. Ternyata begitu ya mbak kalau udah mau menopause saya baru tau. Btw sama kayak kevin saya masih ngirain mbak umur 30-an karena tulisan tulisan mbak tu masih bergaya anak muda mbak. Keren loh mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mala disemangatin lagi. :)Ini juga bisa sebagai jejak pengingat kelak jika dah nginjak usia kepala lima, hehe....

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D