HOME/RUMAH

Jumat, 16 Maret 2018

Angga Wijaya, Puisi, dan Skizofrenia


Oleh Rohyati Sofjan


DATA BUKU        : CATATAN PULANG
PENULIS               : ANGGA WIJAYA
PENERBIT            : PUSTAKA EKSPRESI
CETAKAN              : PERTAMA, JANUARI 2018
TEBAL                     : iv + 89 HALAMAN
ISBN                         : 978-602-5408-17-5

SKIZOFRENIA adalah suatu penyakit jiwa yang ditandai oleh ketidakacuhan, halusinasi, waham untuk menghukum, dan merasa berkuasa, tetapi daya pikir tidak berkurang. Tak ada yang ingin beroleh stigma hanya karena diri harus menanggung beban skizofrenia. Hidup sudah terasa berat karena ada yang salah dalam sel-sel otak, dan itu bukan hal yang diinginkannya. Ditambah perlakuan buruk dari sekitar berupa penghakiman atau pengucilan.
Angga Wijaya seorang pengidap skizofrenia memilih puisi sebagai medium penyembuhan. Catatan Pulang yang terbit Januari 2018 merentang jejak perjuangan Angga Wijaya bergulat dengan skizofrenia.
Membaca Catatan Pulang akan membawa kita pada dimensi arus kesadaran dan ketidaksadaran penyairnya. Angga cenderung muram, dan sebagaian besar sajaknya memaparkan kegelisahan berikut luka yang dialaminya. Ia berbagi luka itu dengan kita pembacanya agar bisa memahami dan berempati pada lakon hidup yang dijalaninya.
. Dalam “Skizofrenia 4”, Angga bercerita tentang upaya suicide. Anda yang merasa normal mungkin tak akan paham, lantas melakukan penghakiman, namun adakah sedikit saja kesadaran dan empati bahwa perilaku tersebut merupakan akumulasi dari rasa sakit tak tertanggungkan yang tak dikehendaki?
Suara-suara itu berbisik di telingaku. Aku tak kuat lagi,/ kegilaan ini menyiksaku. Tokoh dalam bukuku seakan/ hidup dan aku ada di dalamnya. Kau dengar, aku mulai/ berbicara sendiri, meracau tentang sesuatu yang tak/ kumengerti. Aku berpikir untuk bunuh diri. Maafkan/ aku. Mungkin ini jalan terbaik untuk mengakhiri semua.// Jalan menuju desa sepi pagi itu. Daun-daun gugur,/ burung berkicau dengan riang. Sungai di dekat rumah/ kita mengalir deras. Air berwarna kecokelatan, hujan/ semalam membawa lumpur dan keruh. Aku bergegas/ memakai jaketku dan membuka pintu menuju ke sana./ Bisikan di telingaku makin keras dan menyuruhku/ mengakhiri hidup. Aku tak tahan lagi. Menuju sungai,/ aku mengambil batu dan kumasukkan ke kantong/ jaketku lalu masuk ke dalam air. Sesaat aku tercenung,/ sebelum tenggelam ke dasar sungai. Kesunyian yang/ amat sangat.// (2017)
Puisi di atas ditujukan untuk Virginia Woolf, sastrawan  yang suicide dengan cara menenggelamkan diri. Apakah itu merupakan semacam penggambaran keinginan bawah sadar Angga untuk melakukan hal serupa? Atau sekadar memaparkan bagaimana saat-saat terakhir Woolf sendiri sebelum meniadakan diri?
67 puisi yang Angga torehkan selama 16 tahun dalam Catatan Pulang adalah riwayat hidupnya untuk bangkit dari kelam. Ia kerap menulis baris yang pendek dalam baitnya. Baris-baris pendek semacam itu adalah esensi dari sunya yang ia rasai.
Jika kita ingin membuat perbandingan tentang gaya berpuisi Angga, mengapa seakan kurang memainkan rima atau irama? Puisi Angga bisa jadi semacam saripatinya kala menangkap momen puitik. Ia lebih memandang esensi daripada majas atau permainan bahasa. Momen puitik yang ia tangkap adalah sesuatu di balik peristiwanya.
Namun Angga membuat saya merinding kala pertama kali baca “Euforia”, ada keindahan di balik peristiwa yang dibidiknya. Pilihan kata yang bergema karena merupakan hasil renung dari siklus perulangan tahun.
Penghujung tahun, kita menyalakan kembang api dan/ mercon, menciptakan kegaduhan entah untuk apa./ Jalanan dipenuhi deru kendaraan, mengantar jutaan/ orang pada ketiadaan dan kesia-siaan. Terompet/ dibunyikan, kita bersenang-senang dalam semalam,/ tanpa tahu esok kita masih berada di sini ataukah mati/ dijemput maut.//
Angga memaparkan perilaku euforia semacam itu kerap membuat kita lupa diri. Namun ia yang divonis skizofrenia masih memiliki ruang untuk sadar diri: Di sudut sunyi, seseorang berdoa dan berterima kasih/ atas keberuntungan dan kegagalan. Ia tak banyak/ menuntut, sebab ia percaya bencana dan keberuntungan/ sama saja, seperti sebuah sajak yang ia pernah baca.//
Luka memang kerap membuat kita pesimis menjalani hidup, namun Angga banyak menyiratkan optimismenya dalam beberapa puisi di Catatan Pulang ini. Layakkah insan sepertinya terus beroleh stigma padahal jauh dalam dirinya ia ingin bersikap positif?
Pada saat-saat tertentu, yang ia butuhkan kala “serangan” skizofrenia menghantam adalah pendampingan selain obat-obatan. Kau tak akan memahami sikap halusinatif atau delusional seseorang jika bukan pelaku. Dan Angga berupaya memaparkan hal tersebut dalam puisinya, bukan sekadar terapi diri melainkan mengajak orang awam untuk belajar berempati.
Puisi adalah medium kita untuk mengungkap rasa, atau hal-hal tergelap dalam diri.(*)
*Rohyati Sofjan, Penulis Lepas dan Blogger, Tinggal di Limbangan, Garut.

 


6 komentar:

  1. Tetapi daya pikir tidak berkurang. Mungkin itulah yang membuatnya tetap bisa menuangkan pikirannya dalam puisi walaupun keadaannya demikian. Salam kenal mbak. Kayaknya saya baru pertama kali mampir disini. Semoga kita bisa berteman seterusnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sampai harus riset dengan cara googling untuk memahami apa itu skizofrenia sebetulnya sebelum menulis resensi buku. Tidak semudah itu.
      Terima kasih sudah mampir. Senang bisa punya banyak kawan di mana-mana. Ini memang kunjungan pertama Teh Iva. :)

      Hapus
  2. Temen saya ada yang punya penyakit ini, dan memang susah sembuhnya. DItambah lagi, kondisi psikologis yang tidak baik juga dapat memicu penyakit-penyakit fisiologis lain seperti gangguan pencernaan dan lain-lain. Baguslah kalo sang penulis mampu mencurahkan kekurangannya menjadi sebuah karya yang indah seperti ini.

    Btw beberapa hari ini saya lagi gak bisa ngepost link di grup BE, kalo ada waktu, nanti main-main ke blog saya juga ya =)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang gitu, Keven. Saya dah kenal selama 4 tahun di dumay dan pada mulanya tak tahu.
      Menulis puisi bagi Angga Wijaya semacam terapi juga. Menyalurkan kanal rasa.
      Siap, nanti saya akan jalan-jalan lagi. Kirain gak promo jadi lom mampir ulang setelah promo hari Senin.

      Hapus
  3. Wah jadi penasaran dengan bukunya. Di mana bisa beli ya? Di toko buku ada?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa langsung hubungi penyairnya Angga Wijaya di Facebook dengan nama akun itu. Baru terbit awal Januari jadi masih segar. Di toko buku mungkin sudah ada.

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D