HOME/RUMAH

Minggu, 04 Februari 2018

Panas-Dingin Bareng Drink beng-beng



Cokelat adalah produk makanan olahan yang lezat disantap. Rasa cokelat yang rada pahit kerap tak terdefinisikan jika dicampur dengan bahan lain seperti gula atau krimer untuk minuman. Slurp….

Oleh Rohyati Sofjan

BENG-BENG selama ini terkenal sebagai pelopor makanan cokelat batang dengan perpaduan lapisan bahan wafer, karamel, rice crispy,  dan cokelat. Dengan kemasan warna merah mengilat yang cerah, beng-beng sukses menjadi jajanan populer dari saya masih ABG di tahun ’90-an.
Kala SMP, produk camilan cokelat yang ada kebanyakan berupa cokelat batang kayak Jago atau cokelat dengan lapisan wafer doang kayak yang bergambar Superman sebagai jajanan mur-mer, murah-meriah.
Perpaduan beng-beng dirasa unik. Wafer renyah dibalut karamel kenyal dari gula pasir, di atasnya rice crispy alias buliran beras garing, dan semuanya disiram cokelat yang bikin ketagihan. Harga beng-beng juga murah bagi uang jajan yang terbatas. Sekarang cuma 1.500 rupiah untuk ukuran kecil (22 gram) di warung dekat rumah.
Dan beng-beng sekarang mengeluarkan produk barunya dalam bentuk minuman cokelat: Drink beng-beng!
PT Torabika Eka Semesta sebagai anak perusahaan PT Mayora Indah Tbk., tidak melulu memproduksi kopi. Sukses dengan produk Torabika Coffee Series, kali ini menyasar minuman cokelat.
Tentu ada alasan mengapa produknya dinamai beng-beng, tidak Torabika minuman cokelat, misalnya. Selama ini item yang dikeluarkan Torabika tergolong banyak dan cukup lengkap menyasar pasar dengan beragam latar konsumen. Dengan kata lain, Torabika dikenal sebagai kopi instan aneka rasa. Dengan atau tanpa ampas yang enak disesap sampai tandas.
Drink beng-beng barangkali bisa menjadi semacam pembeda sekaligus pendamping. Pembeda karena bukan kopi, pendamping bagi cokelat batang agar produknya mudah dikenal masyarakat luas. Di sini psikologi pasar berperan kala meluncurkan produk baru. Haruslah sesuatu yang terasa familiar.
Saat menyesap minuman cokelat beng-beng, saya merasakan sensasi berbeda dari minuman cokelat lainnya. Perpaduan antara cokelat, malt, krimer, dan susu. Terasa pas. Tidak pahit sekaligus tidak terlalu manis. Meski komposisi krimernya lebih banyak daripada bahan lain, sekira 26,4%.
Krimer yang cukup banyak berpadu dengan susu bubuk full cream 3,2% plus ekstrak malt bubuk 1,3%m membuat minuman cokelat dengan komposisi kakao bubuk hanya 16,3% terasa kental dan sarat krim. Manisnya gula (entah berapa takarannya), penstabil nabati, garam, dan perisa sintetik merupakan bahan tambahan bagi rasa sedap kala kita menyesap minuman cokelat beng-beng.
Bisa diminum dalam keadaan panas atau dingin. Cukup tambahkan satu sachet Drink beng-beng ke dalam gelas berisi air panas 150 mil. Kalau ingin dingin, air dingin 150 mil ditambah es batu. Bisa juga dikocok pakai shaker kalau ingin lebih berbusa.
Praktis sebagai minuman siap saji terkini.
Cokelat yang berkualitas menentukan rasa sekaligus ukuran keberhasilan produk. Saya suka beng-beng karena rasa cokelatnya berpadu dengan bahan lain macam krimer dan susu, plus malt. Itu memberi tambahan energi kala saya sibuk bekerja. Tulisan yang saya hasilkan butuh fokus agar tak salah ketik (typo), runtut agar enak dibaca, sekaligus bermain dengan logika tanpa mengabaikan bangunan estetika.
Cokelat adalah produk aman bagi lambung saya, cukup mengenyangkan sekaligus menenangkan. Namun terkadang saya merasa cokelat batang tidak cukup, butuh minuman cokelat sebagai doping kala udara dingin. Yah, lokasi rumah saya dingin, apalagi jika malam. Padahal saya kerap kerja sampai malam, terkadang begadang demi mengejar tenggat.
Saya senang menemukan beng-beng versi minuman cokelat di Toko Sinar Terang yang dikelola A Ivan, minggu lalu. Harganya cuma 2 ribu rupiah. Sachet ukuran 30 gram. Jadi, kalau saya butuh minuman cokelat penenang agar tetap produktif, cukup jalan kaki ke toko A Ivan yang beda RT di kampung saya. Di toko A Ivan lebih murah, sih, harga pasar. Di warung lain dibanderol 2.500 rupiah, hehe.
Yuk, nge-drink bareng beng-beng.(*)
Cipeujeuh, 29 Januari 2018

 

16 komentar:

  1. oke.siapa takut....tapi mbak yg bayarin yach...hehehe.....

    ini artikel job review yach mbak....?

    ohy tulisanya oke bngtz mbak... soalnya hurufnya cukup besar dan membuat mata nyaman saat membacanya apalagi sambil maem beng - beng, makyuzzzz dechh..... :)

    BalasHapus
  2. Hohoho, mau saja traktir beng-beng tapi kita jauuuh. Gak bisa jalan kaki anterin serenceng beng-beng sachetan.
    Ini bukan job review, cuma latihan, siapa tahu ada yang nawarin job review, hehe.
    Syukurlah tulisannya bisa dibaca. Posting lain malah salah font dan ukuran.
    Lagian mata saya dah lamur, jadi gak tega pada yang senasib, terpaksa baca tulisan berhuruf kecil.
    Hem, beng-beng cokelat batang emang enak, kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iYA mbak ,,,,ukuran hurufnya via dekstop dan mobile sdh oke, itu artinya pembaca dalam zona nyaman maem beng - beng,,,,eeee mkasd saya dalam zona nyaman membaca. :)

      Hapus
    2. Alhamdulillah, bisa ngasi zona naman pada pembaca. Saya juga kerap merasa gak nyaman kala baca tulisan di blog yang ber-font kecil, paragraf panjang, ada typo, sampai abai EBI (ejaan bahasa Indonesia).
      Semoga saja dunia per-blog-an Indonesia tambah maju dan kian canggih isinya. Hehe.

      Hapus
  3. Bikin ngiler ih -_- itu udah dijual di semua tempat? aku jadi pengen beli -_-

    good job mbak, saran saya ditambahin foto drink beng-beng yang menggiurkan biar bikin banyak orang istighfar, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya udah, Ulfah. Ternyata produknya masih baru, launching bulan Januari ini. Terus, mungkin awal bulan atau tanggal belasan sudah ada di toko dan warung kampung saya. Segera diulas karena pengen belajar ulas produk berikut ulas-ulasan lain.
      Iya, bagusnya pakai foto, namun saya harus bawa beng-beng ke rumah teman untuk pinjam ponselnya, haha. Ponsel saya tak bisa motret.
      Met istigfar karena beng-beng, hehe....

      Hapus
  4. Aduh, kok bikin ngiler aja, ya? Pas sekali, sekarang juga leher saya lagi pahit banget. Entah, mungkin karena sudah lama belum makan yang manis, gatau deh.

    Seperti biasa, tuisannya enak banget dibaca. Pertama kali saya ke blog ini buat baca postingan di blog ini, kayaknya yang cerpen perantau orang yg mau masuk islam, ya? Saya masih ingat, soalnya membekas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, leher paling tahu apa yang harus dilakukan Dika. Met nge-drink beng-beng. Mungkin tambah enak jika cokelatnya dicelup-celup cokelat batang beng-beng.
      Makasih apresiasinya, Dika. Saya usahain agar pengunjung pun betah bertandang meski tampilan blog masih alakadar.
      Iya, "Pelayaran Tristan" alhamdulillah bisa ngesanin banyak orang. Di Google ada kok pdf bukunya. Tapi lom coba unduh karena komputer kehilangan aplikasi IDM setelah servis.

      Hapus
  5. Wuahhhh baru tahu nih kalo ada Beng Beng yang bisa diminum hahaha, dari dulu saya suka banget sama yang namanya Beng Beng. Dari jaman harga seribu perak udah demen banget pokoknya.

    Ini udah ada di Alfamart/Indomaret, mba? Kok saya belum pernah liat ya, apa jangan-jangan karena saya nyarinya di rak bahan-bahan kebersihan -__-
    Bacanya aja udah ngiler kebayang coklat dan malt yang kental haha, okeh fix mau nyari ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. beng-beng emang legit jadi banyak peminat. Soal kebeadaan beng-beng di dua minimarket yang Tyar sebut, gak tahu karena saya lom turun gunung ke kecamatan. :D
      Coba tengok di warung dekat rumah, biasanya Mayora kirim sales ke tiap warung besar untuk nawarin produknya, yang terbaru sekalipun.
      Met nyesap #Drinkbeng-beng. :)

      Hapus
  6. Serius baru tahu aku kalau sekarang ada minumannya. Penasaran akan sensari rasanya, seperti apa ya. Mungkin kalau aku mau nyobain lebih pake yang dingin, es gitu. Murah juga ternyata ya sasetannya. Besok otw beli lah di warung.

    Btw, coba di kasih fotonya, Teh. Penasaran pengen lihat seperti apa..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, promoku lewat bblog dapat banyak sambutan amtusias dari teman-teman yang bertandang. Tentu serius senang. Haha, gak nyambung jawab dengan tanya Andi.
      Met berdingin-dingin bareng #Drinkbeng-beng.
      Nanti jika dah ada rezeki, insya Allah akan beli ponsel yang bisa motret. Biar setiap postingan gak usah comot gambar dari mana saja. :)

      Hapus
  7. ini gue agak kesel sih, karena belom nyobain coklat dari produk beng-beng. emang makanan gaib banget sih, dulu selalu dibeli ketika masih kecil.
    dan kayaknya sih, ga bakalan cukup minum sekali doang buat sehari. bisa dua kali, siang dan malem. siangnya di seduh pake air panas, malamnya pake es. duh ngebayanginnya aja udah ngiler

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar, Mas. Nanti juga akan ada saatnya bisa puas-puasin ngemil beng-beng lagi, yang cokelat batang dan minumannnya. Fokus kuliah dulu di negeri orang. Moga juga di Mesir beng-beng sudah go international alias melanglang ke sana.
      Kok, malam hari pakai es? Apa di sana dingin atau panas? Hehe.

      Hapus
  8. Saya jadi pengin nyoba juga :D

    BalasHapus
  9. eh emang ada ya drink beng-beng aku ko baru denger wqwq.
    Tapi kalo emang beneran ada, mau banget lah nyoba secangkir-dua cangkirmah.
    Sebagai pecinta coklat ini sih wajib di coba.

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D