HOME/RUMAH

Minggu, 04 Februari 2018

Bab II Skripsi Pendekatan Kontekstual bagi Pembelajaran Matematika



BAB II

KERANGKA TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN  DAN HIPOTESIS TINDAKAN


A. Kerangka Teori


a. Pembelajaran Matematika

Minat belajar merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan proses pembelajaran matematika. Minat yang timbul dari kebutuhan anak merupakan faktor penting bagi anak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya. karena itu minat belajar harus diperhatikan dengan cermat agar anak tidak perlu lagi mendapat dorongan dari luar jika belajar yang dilakukannya cukup menarik minat.
Anak yang mencapai suatu prestasi belajar matematika sebenarnya merupakan hasil kecerdasan dan minat terhadap matematika. Minat dapat timbul pada seseorang jika menarik perhatian terhadap suatu objek. Perhatian ini akan terjadi dengan sendirinya atau mungkin timbul disebabkan adanya pengaruh dari luar.
Beberapa hal yang harus dilakukan guru dalam menumbuhkan minat anak dalam belajar matematika.
  1. Menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan dengan dunia anak, semisal memanfaatkan lingkungan.
  2. Pembelajaran dapat dilakukan dengan cara dari mudah ke yang sukar atau dari konkret ke abstrak.
  3. Penggunaan alat peraga.
  4. Pembelajaran hendaknya membangkitkan aktivitas anak.
  5. Semua kegiatan belajar harus kontras.
Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anak didik secara aktif dan sadar. Hal ini berarti bahwa aktivitas berpusat pada anak didik sedangkan guru lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator (pembimbing) terjadinya proses belajar.
Sifat-sifat proses belajar matematika adalah:
1.      merupakan suatu interaksi anak dengan lingkungan,
2.      berbuat,
3.      mengalami,
4.      memerlukan motivasi,
5.      memerlukan kesiapan anak didik,
6.      harus menggunakan daya pikir,
7.      melalui latihan (drill).

Sebagaimana yang telah penulis bahas di bab sebelumnya tentang geometri; cabang matematika yang menerangkan sifat-sifat garis, sudut, bidang, dan ruang. Atau yang dalam masyarakat umum disederhanakan sebagai ilmu ukur. Pada tingkat sekolah dasar, anak diajar untuk mengenali beberapa tipe bentuk geometri seperti segitiga, persegi, persegi panjang, jajaran genjang, belah ketupat, layang-layang, trapesium, dan lingkaran.
Seringkali anak hanya melihat kasus khusus dari bentuk geometri dan tidak memiliki ide lengkap dari sifat penting yang harus dimiliki dari sebuah bentuk untuk menampilkan bentuk umum. Mengacu pada teori Van Hiele, anak memiliki kemampuan pengamatan tetapi belum pemahaman analitis.
Kemampuan memanipulasi bentuk adalah kemampuan visual yang penting bagi anak agar mereka dapat membayangkan suatu susunan atau bentuk geometri tanpa harus melihat bentuk atau wujud aslinya. Misalnya kubus, guru membimbing murid untuk melihat gambar kubus dalam bentuk dua dimensi agar dapat membayangkan dan tahu bentuk aslinya tidak sama seperti di gambar (bahwa semua rusuknya sama panjang dan rusuk-rusuknya berpotongan selalu tegak lurus satu dengan lainnya, atau gambar putus-putus pada gambar berarti di bagian belakang dan sebagainya), di mana sisinya tidak sama panjang, ada sisi yang berpotongan tidak membuat sudut siku-siku, atau ada rusuk yang terputus-putus atau terpotong-potong (Noornia dan Yurniwati, 2008: 57).

b. Menganalisis Bentuk Geometri Bangun Datar

Matematika merupakan bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran yang bersifat deduktif. Dengan kata lain, suatu kebenaran harus senantiasa didasari, dibangun, dan didukung oleh kebenaran-kebenaran sebelumnya yang telah disepakati. Di samping itu, keterkaitan antara satu konsep dengan konsep yang lainnya sangat kuat, akurat, dan jelas.
Menurut Bell (1978: 27), secara umum matematika dapat dibagi ke dalam empat cabang utama, yaitu aritmetika, aljabar, analisis, dan geometri. Keempat cabang utama matematika tersebut tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterlibatan cabang-cabang yang lainnya. Pada saat kita membahas sebuah materi, misalnya materi dalam geometri, kita mau tidak mau memerlukan kaidah dan prinsip-prinsip aritmetika dan aljabar, bahkan tidak jarang kita menggunakan analisis untuk membahas berbagai permasalahan di dalamnya.
Di antara keempat cabang utama di atas, geometri adalah salah satu kajian yang unik dan memiliki berbagai kekhasan. Untuk memahami geometri kita perlu mempertimbangkan berbagai aspek di dalamnya karena kita tidak sekadar membahas sejarahnya semata-mata, karena geometri adalah sebuah sistem matematika.
Ornamentasi (barang-barang perhiasan) geometri muncul pada zaman neolitik di Lembah Nil sekitar 6.000 tahun yang lalu. Sementara desain dan bentuk geometri lainnya sudah ditemukan sejak zaman prasejarah hingga zaman batu, seperti halnya ditemukan pada budaya suku-suku Indian di Amerika Selatan. Secara etimologis, istilah “geometri” berarti hal-hal yang berkaitan dengan pengukuran tanah. 
Sebagaimana dimaklumi bahwa matematika adalah sebuah sistem yang bersifat deduktif aksiomatik. Artinya pola pendekatannya harus memenuhi kaidah dan prinsip-prinsip deduksi (juga induksi) disertai dukungan aksioma-aksioma di dalamnya. Demikian pula dengan geometri, khususnya Geometri Euclid, yang menjadi dasar pengembangan matematika yang lainnya.
Pada dasarnya geometri adalah kajian matematika yang abstrak sehingga dalam mempelajari dan menyajikannya tidaklah mudah. Di dalam geometri dikenal konsep-konsep pangkal yang kedudukannya strategis karena menjadi dasar atau landasan pemahaman konsep-konsep geometri: titik, ruas garis, garis, sinar garis, dan sudut (Suhendra dkk., 2009: 146).
Bangun datar adalah bangun yang rata, yang mempunyai dua sisi/dimensi, yaitu panjang dan lebar tetapi tidak mempunyai tinggi dan tebal. Satuan yang digunakan dalam panjang: km, m, cm, dan lain-lain; luas: km2, hm2, m2, dan lain-lain. Ditinjau dari segi sisinya digolongkan menjadi dua jenis yaitu bersisi lurus (segitiga, segiempat, segilima, dan seterusnya) dan lengkung (lingkaran, elips, dan lain-lain).
            .
v  Sifat-sifat Bangun Datar
1.   Persegi
·         Adalah bangun datar yang dibatasi 4 sisi yang sama panjang.
·         Mempunyai 4 titik sudut.
·         Mempunyai 4 sudut siku-siku 90.
·         Mempunyai 2 diagonal yang sama panjang.
·         Mempunyai 4 simetri lipat.
·         Mempunyai 4 simetri putar.

Keliling  =    4   x   sisi
 
Rumus Keliling Persegi





Rumus Luas Persegi


Luas  =    sisi   x   sisi
 
 




2    Persegi Panjang
·         Merupakan bangun datar yang mempunyai 4 sisi.
·         Sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar.
·         Sisi-sisi persegi panjang saling tegak lurus.
·         Mempunyai 4 sudut siku-siku 90.
·         Mempunyai 2 diagonal sama panjang.
·         Mempunyai 2 simetri lipat.
·         Mempunyai 2 simetri putar.

Rumus Keliling Persegi Panjang


Keliling  =       2   x   ( panjang   +   lebar )
 
 





Rumus Luas Persegi Panjang


Luas  =       panjang   x   lebar
 
 




3.    Segitiga
·        Merupakan bangun datar yang dibentuk oleh 3 buah garis saling bertemu dan membentuk 3 buah titik sudut.
·         Bangun segitiga dilambangkan dengan ∆.
·         Jumlah sudut pada segitiga besarnya 180.

Jenis-jenis segitiga :

a.       Segitiga Sama Sisi
·         Mempunyai 3 sisi sama panjang.
·         Mempunyai 3 sudut sama besar yaitu 60.
·         Mempunyai 3 simetri lipat.
·         Mempunyai 3 simetri putar.

b.      Segitiga Sama Kaki
·         Mempunyai 2 sisi yang berhadapan sama panjang.
·         Mempunyai 1 simetri lipat.
·         Mempunyai 1 simetri putar.

c.    Segitiga Sembarang

·         Ketiga sisinya tidak sama panjang.
·         Ketiga sudutnya tidak sama besar.


d.    Segitiga Siku-Siku
·         Mempunyai 2 sisi yang saling tegak lurus.
·         Mempunyai 1 sisi miring.
·         Salah satu sudutnya adalah sudut siku-siku yaitu 90.
·         Tidak mempunyai simetri lipat dan putar.
·         untuk mencari panjang sisi miring digunakan rumus phytagoras :


a2   +   b2   =   c2
a  :  sisi datar
b  :  sisi tegak
c  :  sisi miring
 
 









Keliling  =  panjang sisi 1  +  panjang sisi 2 +  panjang sisi 3
 
Rumus Keliling segitiga


Rumus Luas Segitiga


Luas =  alas x tinggi
          2
 
 





4.    Trapesium
·         Adalah bangun segiempat dengan sepasang sisi berhadapan sejajar.
·         Tiap pasang sudut yang sisinya sejajar adalah 180.
Jenis-jenis trapesium :
a.       Trapesium Sembarang  à  mempunyai sisi-sisi yang berbeda.
b.      Trapesium Siku-siku      à  mempunyai sudut siku-siku.
c.       Trapesium Sama Kaki   à  mempunyai sepasang kaki sama panjang

Rumus Keliling Trapesium






Luas  =   jumlah sisi sejajar   x   tinggi
          2
 
Keliling =  jumlah keempat sisinya
 
Rumus Luas Trapesium



5.   Jajaran Genjang
·         Merupakan bangun datar yang mempunyai 4 buah sisi.
·         Sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang.
·         Dua sisi lainnya tidak saling tegak lurus.
·         Mempunyai 4 sudut, 2 sudut berpasangan dan berhadapan.
·         Sudut yang saling berdekatan besarnya 180.
·         Mempunyai 2 diagonal yang tidak sama panjang.
·         Tidak mempunyai simetri lipat dan simetri putar.
Rumus Keliling Jajaran Genjang


Keliling  =       2   x   ( panjang   +   lebar )
 
 






Rumus Luas Jajaran Genjang

Luas  =       panjang   x   tinggi
 
 




6.   Belah Ketupat
·         Merupakan bangun geometri yang dibatasi 4 sisi sama panjang.
·         Mempunyai 4 titik sudut.
·         Sudut yang berhadapan besarnya sama.
·         Sisinya tidak tegak lurus.
·         Mempunyai 2 diagonal yang berbeda panjangnya.
·         Mempunyai 2 simetri lipat.
·         Mempunyai 2 simetri putar.


Rumus Keliling Belah Ketupat


Keliling  =    4   x   sisi
 
 





Rumus Luas Belah Ketupat


Luas =  ½ x diagonal 1 x diagonal 2
 
 





7.   Layang-layang
·         Adalah bangun geometri berbentuk segiempat yang terbentuk dari dua segitiga sama kaki yang alasnya berhimpitan.
·         Mempunyai 4 sisi sepasang-sepasang yang sama panjang.
·         Mempunyai 4 buah sudut.
·         Sepasang sudut yang berhadapan sama besar.
·         Mempunyai 2 diagonal berbeda dan tegak lurus.
·         Mempunyai 1 simetri lipat.
·         Tidak mempunyai simetri putar.

Rumus Keliling Layang-Layang



Keliling  =    2  x  ( sisi panjang  +  sisi pendek )
 
 




Rumus Luas Layang-Layang


Luas  =     diagonal 1    x   diagonal 2
                 2
 
 




          c. Teori Belajar Matematika

Penguasaan teori belajar merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan pengajaran matematika. Teori belajar ialah teori yang bercerita tentang kesiapan siswa untuk belajar sesuatu.
Van Hiele adalah seorang guru matematika berkebangsaan Belanda yang mengadakan penelitian dalam pengajaran geometri. Menurut Van Hiele ada tiga unsur utama dalam pengajaran geometri, yaitu; waktu, materi pengajaran, dan metode pengajaran yang ditetapkan. Jika ketiga unsur ditata secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak kepada tahapan yang lebih tinggi.
Van Hiele menyatakan terdapat 5 tahap belajar geometri:
1. Tahap Pengenalan (Visualisasi)
Anak mulai belajar mengenal suatu bentuk geometri secara keseluruhan, namun belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya. Sebagai contoh, jika diperlihatkan sebuah kubus maka ia belum mengetahui sifat-sifat atau keteraturan yang dimiliki oleh kubus tersebut. Ia belum tahu bahwa kubus mempunyai sisi-sisi yang merupakan bujursangkar, anak pun belum mengetahui bahwa bujursangkar (persegi) keempat sisinya sama dan keempat sudutnya siku-siku.
2. Tahap Analisis
            Anak sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki bangun geometri yang diamatinya. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada bangun geometri itu. Misalnya pada saat ia mengamati persegi panjang, telah mengetahui terdapat 2 pasang sisi yang berhadapan, dan kedua pasang sisi tersebut saling sejajar. Pada tahap ini anak belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu benda geometri dengan benda geometri lainnya. Misalnya belum mengetahui bahwa persegi adalah persegi panjang atau persegi itu adalah belah ketupat, dan sebagainya.
3. Tahap Pengurutan (Deduksi Informal)
            Pada tahap ini anak sudah mulai mampu melaksanakan penarikan kesimpulan yang kita kenal dengan sebutan berpikir deduktif. Namun kemampuan ini belum berkembang secara penuh. Satu hal yang perlu diketahui adalah anak pada tahap ini sudah mulai mampu mengurutkan. Misalnya, sudah mengenali bahwa persegi adalah jajaran genjang, bahwa belah ketupat adalah layang-layang. Demikian pula dalam pengenalan benda-benda ruang, anak memahami bahwa kubus adalah balok juga, dengan keistimewaannya yaitu bahwa semua sisinya berbentuk persegi. Pola pikir anak pada tahap ini masih belum mampu menerangkan mengapa diagonal suatu persegi panjang itu sama panjangnya. Anak mungkin belum memahami bahwa belah ketupat dapat dibentuk dari dua segitiga yang kongruen.
4. Tahap Deduksi
            Dalam tahap ini anak sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus. Demikian pula ia telah mengerti betapa pentingnya peranan unsur-unsur yang didefinisikan. Misalnya anak sudah mulai memahami dalil. Selain itu, pada tahap ini anak sudah mulai mampu menggunakan aksioma atau postulat yang digunakan dalam pembuktian, tetapi belum mengerti mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil.
5. Tahap Akurasi
            Dalam tahap ini anak sudah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Misalnya, ia mengetahui pentingnya aksioma-aksioma atau postulat-postulat dari geometri Euclid. Tahap akurasi merupakan tahap berpikir yang tinggi, rumit, dan kompleks. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tidak semua anak, meskipun sudah duduk di bangku sekolah lanjutan atas, masih belum sampai pada tahap berpikir ini (Suwangsih dan Tiurlina, 2010: 92-93).

d. Pendekatan Pembelajaran Matematika


            Belajar menurut pandangan kontemporer adalah proses interaksi individu dengan lingkungannya yang melibatkan fisik, mental, emosional sehingga siswa memperoleh sejumlah pengalaman bermakna (konstruktivisme). Pengetahuan yang diperoleh siswa bukan proses pemindahan dari guru ke siswa, melainkan dibentuk atau disusun sendiri oleh siswa melalui interaksinya dengan lingkungan. Sesuatu yang diketahui siswa itu sendiri dari pengalamannya.
Pengetahuan yang dimiliki siswa menurut pandangan konstruktivisme merupakan susunan yang diperoleh dari proses panjang hasil interaksinya dengan lingkungan (Suwangsih dan Tiurlina, 2010: 119). Pendekatan yang sesuai dengan dengan pandangan ini adalah Contexual Teaching and Learning (CTL).
Prinsip-prinsip yang mendasari CTL adalah:
1. Konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
1. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
2. Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
3. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2. Bertanya, dalam pembelajaran yang produktif berguna untuk:
1. Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis.
2. Mengecek pemahaman siswa.
3. Membangkitkan respons pada siswa.
4. Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
5. Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
6. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.
7. Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
8. Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Pada semua aktivitas belajar, bertanya dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, dan antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya.
3. Menemukan, pengetahuan dan keterampilan siswa diharapkan tidak hanya mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus ini terbagi dalam:
1. Observasi.
2. Bertanya.
3. Mengajukan dugaan.
4. Pengumpulan data.
5. Penyimpulan.
Sedangkan kata kunci dari strategi menemukan adalah:
1. Merumuskan masalah.
2. Mengamati atau melakukan observasi.
3. Menganalisis dan menyajikan hasil, baik dalam bentuk tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.
4. Mengomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiens lainnya.
4. Masyarakat Belajar, terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.
5. Pemodelan, proses ini tidak harus dilakukan guru saja, tetapi bisa juga guru menunjuk siswa yang dianggap mempunyai kemampuan lebih jika dibandingkan dengan siswa lainnya. Dengan begitu semua siswa mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara belajar atau mengerjakan sesuatu dengan baik dan benar.
6. Refleksi, adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dalam belajar di masa lalu. Pengetahuan yang diperoleh siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit sehingga semakin berkembang. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan baru. 
7. Penilaian Sebenarnya.
1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
2. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif.
3. Yang diukur keterampilan dan penampilan, bukan hanya mengingat fakta.
4. Berkesinambungan.
5. Terintegrasi.
6. Dapat digunakan sebagai umpan balik.
     

B. Penelitian yang Relevan

Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan komponen utama pembelajaran efektif. Untuk melaksanakan hal itu dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimana pun keadaannya. Penerapan pendekatan kontekstual secara garis besar langkah-langkahnya adalah: (1) kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya; (2) laksanakan sejauh mungkin kegiatan menemukan untuk semua pokok bahasan; (3) mengembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya; (4) menciptakan masyarakat belajar; (5) menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran; (6) melakukan refleksi di akhir pertemuan; dan (7) melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara (Suwangsih dan Tiurlina, 2010: 123).
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan konstruktivisme baru dalam pembelajaran matematika, yang pertama-tama dikembangkan di negara Amerika, yaitu dengan dibentuknya Washington State Consortium for Contextual oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat. Menurut Owens (2001) bahwa pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2001 diselenggarakan tujuh proyek besar yang bertujuan untuk mengembangkan, menguji, serta melihat efektivitas penyelenggaraan pengajaran matematika secara kontekstual. Proyek tersebut melibatkan 11 perguruan tinggi, 18 sekolah, 85 orang guru dan profesor serta 75 orang guru yang sebelumnya sudah diberikan pembekalan pembelajaran kontekstual. Selanjutnya penyelenggaraan program ini berhasil dengan sangat baik untuk level perguruan tinggi dan hasilnya direkomendasikan untuk segera disebarluaskan pelaksanaannya. Hasil penelitian untuk tingkat sekolah, yakni secara signifikan terdapat peningkatan ketertarikan siswa untuk belajar, dan meningkatkan secara utuh partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya Northwest Regional Education Laboratories dengan proyek yang sama, melaporkan bahwa pengajaran kontekstual dapat menciptakan kebermaknaan pengalaman belajar dan meningkatkan prestasi akademik siswa. Demikian pula Owens (2001) menyatakan bahwa pengajaran konteksual secara praktis menjanjikan peningkatan minat, ketertarikan belajar siswa dari berbagai latar belakang serta meningkatkan partisipasi siswa dengan mendorong secara aktif dalam memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengkoneksikan dan mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka peroleh.
Pendapat lain mengenai komponen-komponen utama dari pengajaran kontekstual yaitu menurut Johnson (2002), yang menyatakan bahwa pengajaran kontekstual berarti membuat koneksi untuk menemukan makna, melakukan pekerjaan yang signifikan, mendorong siswa untuk aktif, pengaturan belajar sendiri, bekerja sama dalam kelompok, menekankan berpikir kreatif dan kritis, pengelolaan secara individual, menggapai standar tinggi, dan menggunakan asesmen otentik.
Menurut Zahorik (Nurhadi, 2002: 7) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu:
  1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).
  2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.
  3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (a) Konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validisasi) dan atas dasar tanggapan itu (c) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
  5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
Agar lebih jelas lagi mengenai pembelajaran kontekstual, marilah kita lihat beberapa perbedaan antara pendekatan kontekstual dan pendekatan tradisional versi Depdiknas (2002: 7-9), yaitu sebagai berikut:
No.
Pendekatan CTL
Pendekatan Tradisional
1
Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran.
Siswa adalah penerima informasi secara pasif.
2
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan.
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.
3
Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.
4
Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa.
Rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan.
5
Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan lainnya, sesuai dengan skemata siswa (on going process of development).
Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang). Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pemahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar.
6
Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam pembelajaran.

Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal), tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran.
7
Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan.
Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa.


           

C. Hipotesis Tindakan


Dari uraian di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai:
“Jika pembelajaran matematika untuk mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar (persegi, persegi panjang, segitiga, trapesium, jajaran genjang, belah ketupat, dan layang-layang) dengan menggunakan pendekatan kontekstual, maka aktivitas dan hasil belajar siswa akan meningkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D