HOME/RUMAH

Minggu, 04 Februari 2018

A Moment to Remember: Ada Penghapus di Kepalaku!



Oleh Rohyati Sofjan


BAGAIMANA rasanya jika kau tak bisa mengingat apa pun, bagaimanapun, tempat mana pun, siapa pun, bahkan dirimu sendiri? Itu bukan demensia (pikun) melainkan sesuatu yang lebih parah: ALZHEIMER!
A Moment to Remember” (Saat untuk Dikenang) memaparkan segi lain dari alzheimer, penyakit yang paling ditakuti manusia mana pun karena berkaitan dengan menghapusnya memori otak hingga blank (kosong-melompong), tak menyisakan ruang untuk apa pun, tidak juga kenangan. atau ingatan akan orang. Menyisakan kepedihan bagi orang-orang yang mengasihinya karena mereka tersingkir sebagai sesuatu yang  asing.
Cerita bermula di stasiun kereta, seorang gelandangan yang baru bangun di bangku peron menyapa lelaki di dekatnya yang sedang duduk menunggu. “Hei, boleh minta apinya?”
Lelaki tampan itu malah menjawab dengan menyodorkan selembar kertas bertulisan huruf Haneul, barangkali surat.
Si gelandangan menjawab, “Tidak, bukan itu. Api?”
Ada jeda cukup panjang di antara mereka sampai lelaki tampan itu seakan bermonolog, “Ketika kenangan hilang, itu adalah jiwa, kata mereka.”
Itu hanya permulaan, lelaki tampan berbagi kisahan dan gelandangan menanggapi dengan, “Hei, Bung. biar kuceritakan kepadamu cerita mengenai kenangan. Ketika kau berjalan menghampiriku, aku lihat kau merokok. Itulah kenangan. Kau tahu, apa yang aku tunggu di sini? Bukan api rokok, aku hanya menunggu apinya. Berbagi api rokok artinya berbagi apinya.”
Itu adegan pembuka untuk menjelaskan makna cerita. Karena adegan bergulir pada hal lain. Kita akan diperkenalkan pada tokoh utama dalam film “A Moment to Remember”, seorang perempuan dewasa rupawan yang hidupnya pelan namun pasti alami degradasi berkaitan dengan ingatan.
Ada banyak adegan bagus dalam film itu, akting pemainnya pun penuh penghayatan total. Membawa kita hanyut dalam melodrama lakon kehidupan. Kisah cinta yang memikat, masalah pribadi masing-masing yang enggan disingkap. Dan kenyataan getir yang terungkap.
Bagaimana Kim Su Jin yang desainer pakaian di perusahaan besar menjalin hubungan dengan mandor bangunan yang kasar namun profesional dalam hal pekerjaan, lelaki tampan di awal adegan, Choi Chul Soo.
Awal pertemuan mereka pun unik, gegara insiden lupa Su Jin di toserba, merebut kaleng cola yang dipegang seorang lelaki di ambang pintu toserba, lantas meminumnya karena dikira itu miliknya yang tertinggal di meja kasir padahal bukan. Su Jin merasa malu dan bersalah begitu menyadarinya, kala balik lagi untuk mengambil dompetnya yang ketinggalan di meja kasir. Kasir mengembalikan dompet berikut kaleng cola miliknya.
Jadi, ia telah meminum cola orang lain hingga tandas isinya karena terlalu berprasangka! 
Dan musim semi akhirnya ia bertemu lagi dengan lelaki itu yang ternyata anak buah ayahnya.  Ia jatuh cinta. Chul Soo tidak cuma jantan dalam perawakan, ia memberi rasa aman dan nyaman. Pun pengertian kala kenyataan pahit menghantam mereka yang baru menikah dan menikmati masa-masa sebagai pengantin baru: Su Jin didiagnosis alzheimer!
Itu vonis yang menakutkan dalam hidup mereka yang penuh cinta. Pun keluarga, kedua orangtua Su Jin berikut adik perempuannya, terpukul. Chul Soo limbung. Su Jin ingin menyingkir agar dilupakan karena ia berada di stadium yang bisa lebih parah: jiwa tanpa memori.
Itu yang dimaksud dengan klimaks cerita, hal-hal manis di awal film perlahan berubah penuh kesedihan. Meskipun demikian, dalam tiap adegan banyak dialog filosofis antara para pemain.
Bagaimana Su Jin memotivasi Chul Soo agar ikut ujian arsitek. Chul Soo berupaya keras dengan giat belajar hingga lulus dan mengantungi ijazah arsitek. Ia muak diremehkan seniornya yang berengsek karena merasa lebih tinggi dalam strata pendidikan. Ia ingin naik tingkat dari tukang berbakat menjadi arsitek bermartabat.
Chul Soo juga menyerap ilmu dari mertuanya, mengajarkan bahwa tukang kayu yang sebenarnya melihat tekstur. Tekstur adalah kemungkinan yang memberimu sesuatu. Seorang tukang kayu sejati bisa merasakannya.

Apakah Kau Bisa Merasakan yang Ini Juga?
A Moment to Remember memberi tahu kita apa itu alzheimer dan gejalanya. Lewat dialog Su Jin dengan seorang dokter ahli neurology yang istrinya meninggal karena alzheimer juga.
1.    Sering pingsan akhir-akhir ini dikarenakan tekanan yang tak tertahankan atau emosi yang tidak stabil.
2.   Dalam kasus yang berhubungan dengan tekanan emosional, reaksi seseorang berbeda-beda. Gejala yang dialami mungkin timbul dari beberapa tekanan.
3.   Harus dipastikan dengan MRI dan CT scan.
4.   Dan jika hasil kesimpulan dari semua pemeriksaan berupa ini: ternyata ada protein tak wajar telah menyumbat pembuluh batang otak yang membawa pengaruh pada sel otak.
5.   Penyebabnya sebagian besar karena keturunan. Suatu kasus yang sangat langka, itulah alzheimer.
6.   Kelumpuhan mental akan terjadi sebelum kelumpuhan fisik, obat-obatan hanya bisa memperlambat, dan suatu saat harus bersiap karena tak bisa melakukan apa pun. Akan lupa teman, keluarga, bahkan diri sendiri.
7.   Semua kenangan akan terhapus.

Chul Soo merasakan ada yang tidak wajar dalam perilaku istrinya, menemui dokter itu dan dihantam fakta tak terduga. Istri sang dokter meninggal akibat alzheimer. Dan sang dokter memberi nasihat bijak bagi lelaki yang frustrasi itu. Harus bersiap untuk alami hal tak terduga pula.
Alur cerita berjalan dalam rangkaian perubahan adegan secara dramatis untuk memaparkan tekanan psikologis yang dialami pasutri itu, berikut keluarga Su Jin.
Sampai Su Jin mengajak berpisah, “Kita lupakan saja segalanya di saat kita bahagia. Aku akan segera lupa segalanya. Aku tak akan tahu kenapa kau bersamaku. Kau akan menghilang dari ingatanku. Dan juga diriku. Kau mengerti itu? Seiring kenanganku terhapus, jiwaku akan terhapus juga. Aku takut.” Lalu ia bersimpuh, merasa lunglai di hadapan Chul Soo yang berduka. Tangis mereka pecah bersama.
Chul Soo adalah lelaki jantan dan optimis, ia sepenuh jiwa mencintai istrinya. Berupaya keras untuk tak menyerah. Merasa yakin akan bisa menangani. Ternyata tak semudah itu. Ada peristiwa tak terduga yang membuat ia harus menghajar mantan pacar istrinya. Tepat saat itu seluruh keluarga berkumpul di pekarangan rumahnya, menyaksikan perkelahian mereka dan Su Jin yang mendadak pingsan dengan pisau jatuh dari genggaman.
Menonton film itu akan menyadarkan kita akan pentingnya membuat momen bersama pasangan. Momen untuk dikenang, karena kenangan akan membawa kita untuk menghargai kehidupan. Sebelum penghapus di kepala me-reset ulang hingga blank!***
#Cipeujeuh, 12 Januari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D