HOME/RUMAH

Jumat, 05 Januari 2018

Uang Sekarat



Oleh Rohyati Sofjan


UANG sekarat adalah uang yang kondisi fisiknya sudah tidak layak. Terutama uang kertas. Tersebab kucel, lepek, sampai robek. Namun masyarakat banyak masih tetap saja menggunakannya. Entah karena ketiadaan pilihan atau terpaksa menerima uang demikian.
Fungsi uang sebagai alat tukar dan transaksi jual beli sesungguhnya kurang terlindungi. Kekerapan pemakaiannya akan tergerus waktu sehingga penampilannya tidak layak lagi dan bahkan kerap ditolak pelaku transaksi. Rasanya memalukan jika kita membeli sesuatu yang baik dan sangat dibutuhkan dengan uang kertas yang sudah tak laik pakai lagi. Tapi kita sering tak berdaya karena kekerapan peredarannya masih berkesinambungan di masyarakat. Tak ada yang mau bertanggung jawab sebagai pemegang. Pun tak ada informasi berharga bahwa uang demikian bisa ditukar lagi di bank terdekat dengan uang baru yang lebih segar dan gres.
Saya teringat adegan film tentang perjalanan uang 1 Dollar Amerika. Dari saat masih mulus sampai berpindah ke banyak tangan hingga melayang ke udara dan beruntung hinggap di tangan serang nenek tunawisma yang memperebutkannya dengan orang lain, Uang yang robek sebagian itu ternyata masih bisa ditukar di bank. Sang nenek bertanya pada petugas bank wanita yang ramah, akan diapakan uang rusak itu. Katanya akan dihancurkan. (Atau mungkin akan didaur-ulang kertasnya?)
Saya kagum, uang sekarat itu masih bisa dihargai di sana. Bahkan menjadi peran sentral cerita. Bermula dari upah penghibur pesta lajang yang akan menikah, lalu terus-terus bertukar tangan pada setiap lakon cerita. Dan berakhir di tangan nenek gembel itu. Sedang sisa sobekan satunya? Ironisnya menjadi pembatas buku teman perempuan si cowok lajang yang malah batal menikah gara-gara pesta lajang yang ketahuan calon istrinya. Dan mereka kebetulan bertemu di bandara untuk melakukan penerbangan ke kota lain.
Selembar uang, alangkah panjang sejarahnya. Kita tidak pernah tahu bagaimana ia bermula. Mungkin sebagai bagian dari upah karyawan, masih mulus benar dan berbau bank. Lalu seiring asas kebermanfaatannya sebagai alat tukar, ia bisa berakhir menyedihkan. Menjadi uang sekarat yang kucel, robek, atau tercoret-coret. Uang rusak yang masih terpaksa diakui eksistensinya, meski tak jarang yang menerima menggerundel atau menolak.
Kebiasaan masyarakat sendiri dalam memaknai uang mungkin kurang menghargainya untuk menjaga kesinambungan agar tetap utuh. Mencoret uang dengan sederet nomor telefon, atau curhat ngaco atau apa saja seolah hal biasa. Itu uang kertas, nanti juga berpindah tangan, emangnya gue pikirin. Barangkali demikian pemikiran masyarakat kita. Sama sekali tak ada sosialisasi media dari pemerintah pada masyarakat tentang pentingnya menjaga keutuhan uang.
Namun, apa yang terjadi jika kita tidak sengaja merusak uang? Robek karena anak kecil? Terpaksa disambung dengan solasi plastik. Adakah rasa sayang dan bersalah? Atau kita salahkan uang yang kurang kuat? Lalu, bahan kertas apa yang paling kuat?
Di sebuah toserba, saya menyaksikan seorang ibu yang ditolak uangnya oleh kasir, setelah kasir itu berkonsultasi dulu dengan rekannya. Alasannya, uang seratus ribu tersebut sudah rusak penampilannya karena terendam lunturan pakaian. Bukan uang palsu, memang. Namun noda lunturan tersebut jelas sangat mengganggu jika dilihat dari etika bisnis. Baik sebagai alat upah karyawan atau transaksi dengan pemasok barang. Ibu tersebut terpaksa “berutang” dengan jalan menggesek kartu merchant toserba itu. Masih beruntung ia punya kartu gesek, bagaimana jika bagi yang tidak punya? Paling banter mengembalikan barang belanjaannya dengan rasa malu atau dongkol.
Sebaliknya, pada suatu hari yang lampau, di Gramedia Jalan Merdeka, Bandung, saya beroleh uang kembalian seribuan yang masih sangat gres. Tentu saya senang menerimanya. Seperti sengaja dilakukan untuk memanjakan konsumen.
Sekarang, di zaman serba gesek ini, kehadiran uang elektrik atau e-money memudahkan transaksi masyarakat. Selain kartu kredit dan debit atau kartu member toko tertentu. Namun bagi masyarakat pemakai jasa uang kertas, tentu membutuhkan inovasi yang lebih aman dan nyaman bagi rupiah mereka. Juga informasi tentang apa yang harus dilakukan dengan uang sekarat.***
Cipeujeuh, 7 Maret 2013                                                                                  

#Dimuat di harian Tribun Jabar, Maret /April 2013, lupa persisnya kapan
                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D