HOME/RUMAH

Sabtu, 06 Januari 2018

Nyanyian Sang Pendatang Hujan




Oleh Rohyati Sofjan


DATA KOMIK                   : ASTERIX DAN PUTERI RAHAZADE
TEKS DAN GAMBAR           : UDERZO
PENERBIT                       : PUSTAKA SINAR HARAPAN
CETAKAN                       : KEDELAPAN, 2005
TEBAL                           : 48 HALAMAN
ISBN                            : 979-416-045-8

ASSURANCETOURIX, boleh dikata selama ini bernasib malang karena bakat menyanyinya tak dihargai para penghuni Desa Galia. Tiap menyanyi, orang-orang akan menutup kuping mereka, saking paraunya suara Assurancetourix dalam anggapan mereka.
Bahkan, dalam setiap pesta makan, jika Assurancetourix akan berkicau dengan nyanyiannya, seorang pandai besi di desa mereka akan mengikatnya di sebatang pohon besar. Jadilah Assurancetourix yang malang tak bisa ikut pesta apalagi menyanyi karena mulutnya disumpal. Hanya bisa menyaksikan pesta dari kejauhan dengan perasaan kacau-balau.
Dan ketika penduduk desa berpesta makan lagi untuk merayakan kemenangan mereka dalam pertempuran melawan serdadu Romawi sekaligus rumah baru yang dibangun para serdadu, mereka terganggu gegara hujan mendadak turun dengan lebatnya. Padahal hari cerah.
Hujan datang berbarengan dengan nyanyian parau Assurancetourix  yang berisik. Abraracourcix sampai naik pitam karena pidatonya diinterupsi hujan buatan, meski saat ia berpidato orang-orang di meja makan kerap tak menghiraukan karena bosan dengan cuapannya yang panjang lebar.
Abraracourcix segera menghantamkan kapaknya ke bagian bawah pohon tempat rumah pohon Assurancetourix bertengger. Menyuruh Assurancetourix berhenti menyanyi, tak peduli Assurancetourix protes, “Memangnya aku tak berhak mencoba akustik rumahku yang baru?”
“Toutatis pun tak suka suaramu. Ayo! Hentikan!” murkanya. Dan sehabis itu mendadak seorang kakek tua jatuh dari langit.
Kakek itu ternyata seorang fakir yang datang dari negeri timur jauh dengan permadani terbangnya. Khusus datang ke Desa Galia untuk mencari orang yang dengan suaranya bisa mendatangkan hujan. Ia beroleh informasi itu dari seorang mantan legiuner Romawi yang jadi pedagang.
Ia datang membawa misi agar bisa menyelamatkan Putri Rahazade, anak Raja Tajmurahaca, yang hendak dikorbankan oleh Patih Lichiki agar hujan segera turun karena negeri mereka sudah lama dilanda kemarau panjang hingga rakyatnya kelaparan.  
Maka diutuslah Asterix dan Obelix untuk menemani Assurancetourix yang akan “konser” mendatangkan hujan di negeri asal Fakir Raykapurit. Mereka “berkendara” dengan permadani terbang yang dikendalikan Raykapurit. Idefix anjing Obelix turut serta.
Keren, ya, bisa terbang pakai alat bantu berupa permadani karena kala itu yang namanya pesawat terbang atau helikopter belum ada, hehe.
Maka terbanglah mereka, siang dan malam, kepanasan dan kedinginan, dipanggang terik matahari dan hujan. Dibekukan salju. Melewati berbagai negara. Singgah di beberapa tempat untuk terlibat dalam berbagai kegiatan petualangan.
Obelix yang tukang makan selalu saja merasa kelaparan. Ia menggerutu karena pengen makan celeng panggang. Sampai semua yang mendengar pada sebal.
Sebaliknya Assurancetourix mewek ingin menyanyi, akibatnya Raykapurit yang kaget dengan nyanyian Assurancetourix sampai kelenger, jatuh ke laut hingga mereka semua berikut permadani terbang tanpa pengemudi, ikut jatuh. Diiringi hujan deras.
Hehehe, lucu sekali. Assurancetourix sampai kapok, apalagi dimarahi kawan-kawannya. Di adegan lain, ia membela diri kala mendadak hujan deras menimpa mereka, dan semua pada memelototinya. “Bukan salahku jika hujan!”
Yang khas dari petualangan Asterix adalah hadirnya kawanan bajak laut yang itu-itu saja, dan kali ini kapalnya karam gegara dikampak awak mereka yang bloon. Mereka juga lewat Kota Roma, menyapa Julius Caesar yang sakit flu Asia sedang  jalan-jalan  ditemani tabibnya.
Julius Caesar dalam versi nyata tentu jauh berbeda dalam komiknya. Ia dibuat konyol dan senewen karena kekuasaannya selalu beroleh perlawanan dari penduduk Desa Galia yang tak terkalahkan berkat ramuan ajaib Dukun Panoramix.
Cara bertempur orang Galia dari desa Asterix sama sekali tak berdarah-darah. Paling para serdadu Romawi dibuat babak-belur dihajar mereka.  Asterix dan Obelix adalah prajurit Galia yang gagah berani. Mereka membak-bik-buk dan plak-keplak-keplok para serdadu Romawi hingga kocar-kacir ketakutan.
Pun dalam komik Asterix dan Puteri Rahazade, mereka menghajar perampok dari Scythe yang menyerang penduduk desa pembuat permadani Persia. Dan dihujani panah kala lewat di atas Kota Tyr yang sedang berperang. Dan setelah beragam pengalaman dari perjalanan panjang itu, mereka tiba di kerajaan yang dituju. Tempat Sungai Gangga membelah kota.
Lalu bagaimanakah kelanjutan ceritanya karena Assurancetourix malah kehilangan suara dan tak bisa menyanyi? Yah, pada zaman Asterix rupanya kasus psikosomatis sudah ada.
Assurancetourix yang selama ini selalu ditolak orang-orang untuk menyanyi mendadak mendapat kehormatan untuk mengumandangkan nyanyiannya demi mendatangkan hujan.
Seru banget komik Asterix ini. Bikin ngakak lagi. Gambar ilustrasinya bagus dan kaya warna, detail ceritanya juga melanglang buana dengan sentuhan sejarah yang memikat. Bahkan tokoh jahat pun mendapat tempat terhormat: sebagai pecundang kalah-total yang harus menyingkir dari cerita untuk tamat.
Ada yang hilang, nih. Karena R. Goscinny sudah meninggal, maka teks dan gambar dibuat oleh A. Uderzo saja. Bagi penggemar Asterix di edisi yang sudah-sudah kala Goscinny masih ada, barangkali berasa rada beda.
Mungkin Uderzo lebih leluasa dalam menyampaikan cerita dan gambar, namun apakah ada semacam rasa sepi dan kehilangan karena tak ada rekan seperjuangan dalam pengembaraan Asterix dan kawan-kawan?***
Cipeujeuh, 8 Januari 2018
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D