HOME/RUMAH

Selasa, 09 Januari 2018

Mengupas Juring



Oleh Rohyati Sofjan

SAYA pernah menulis artikel ringan di blog http://rohyatisofjan.blogspot.ae/2014/03/menulis-biji-buah.html?m=1. Dan seorang kawan tertarik serta ingin saya mengupasnya lebih lanjut.
            Baiklah, mari kita berkenalan dulu dengan juring yang hanya populer sebagai istilah dalam bidang matematika daripada bahasa keseharian. Dalam KBBI IV,  juring bermakna nomina (kata benda) untuk ulas; pangsa. Namun tidak ada kelanjutan lain seakan lema juring kurang populer. Jadi terpaksalah kita beralih ke lema ulas dan pangsa. Membolak balik kamus setebal 1.386 halaman yang menuntut ketekunan.
            Ulas adalah bagian buah-buahan (jeruk, durian, dsb) yang berbentuk ruang atau berpetak-petak (mudah dilepas atau dibuka dari bulatan buahnya).
            Pangsa adalah: 1 .petak-petak dalam buah-buahan (seperti dalam buah durian); 2. bagian; jatah; jumlah banyaknya sesuatu; 3. garis-garis pada tapak tangan; 4. urat pada batu pualam. Jika dalam KBBI, tiap kita mencari arti dari lema juring dan harus merujuk pada lema lain macam ulas dan pangsa, apakah menunjukkan keluasan arti juring karena bisa bermakna dua lema tersebut? Atau sebaliknya ketidakpopuleran dalam pemakaian bahasa keseharian?
            Kita hanya mengenal juring pada bahasa ajar matematika, kita belajar mengenal juring untuk memahami bagian dari matematika. Namun kita dirasa jarang menggunakan juring dalam bahasa di luar konteks buku ajar matematika saja. Entah apakah kita tidak mampu menggali timbunan kata dari semesta ilmu?
            Pada akhirnya ada orang awam yang bingung, bagaimana cara menyebut  potongan buah jeruk, manggis, pizza atau sekadar kue bolu yang semuanya bundar itu? Sepotong? Seiris? Sekupas?
            Saya mengunyah sepotong jeruk. Membuat kita mampu membayangkan jeruk yang dipotong-potong atau sudah dalam bentuk potongan. Namun, bagaimana jika saya mengunyah sejuring jeruk? Bisa jadi kita bingung, seberapa banyak sejuring itu?
            Pada dasarnya bahasa matematika ditujukan sebagai bahasa keseharian pula. Kalau kemudian juring dirasa kurang populer sehingga orang memilih padanan lain yang sebenarnya kurang akurat, apakah menunjukkan betapa kurang populernya matematika itu?
            Mari kita membelah buah manggis dan membuka isinya. Kita ingin memakan sepotong dulu. Namun sebelumnya mari kita berpikir tentang makna, dari bulat dibagi beberapa bagian yang sama besar menjadi apa? Pun bulat-bulatan lainnya?
            Potong atau iris? Kita biasa memotong atau mengiris benda persegi dan bentuk lainnya.Lagi pula, mengiris biasa mengacu pada memotong tipis.
            Kupas atau mengupas? Kadang kita gunakan kata kerja itu untuk membuka kulit bagian luar dulu seperti mengupas jeruk, kentang atau batang kulit kayu.
            Sedang juring? Meski kalah populer justru sangat merujuk secara jelas maknanya.
Bulatan adalah bentuk unik. Kita bisa mengupas kulit kentang yang agak bulat lonjong. Mengiris-iris untuk dibikin keripik. Atau memotong-motong untuk bahan peramai sop. Namun yang jelas berbeda maknanya jika kita memotong kentang menjadi beberapa bagian yang sama besar secara memanjang, entah empat, enam, atau delapan untuk pelengkap steak. Potongan tersebut bisa menjadi bentuk juring atau juringan.
            Jadi, apa salahnya jika kita membiasakan diri menggunakan juring sebagai bahasa keseharian?
453 Kata
Cipeujeuh, 18 Februari 2016
#Sudah dimuat di harian Pikiran Rakyat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D