HOME/RUMAH

Jumat, 05 Januari 2018

Membedah Unsur Intrinsik Tokoh dan Penokohan dalam Novel From Bandung with Love





Pengantar

SEBELUM kita membahas novel From Bandung with Love karya Dina Mardiana yang diterbitkan oleh Penerbit GagasMedia pada tahun 2008, marilah mengenal definisi novel dan unsur-unsur yang menyertainya. Apakah novel itu?
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memuat lema novel sebagai karangan prosa yang panjang dan mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya secara menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
 Seberapa panjang halaman novel? Tidak ada batasan mengenai panjang-pendeknya novel, ada yang di bawah 100 halaman, di atas 100 halaman, di atas 500 halaman, ada juga yang di atas seribu halaman.
Novel From Bandung with Love sendiri hanya setebal  94 halaman, lumayan tipis untuk ukuran sebuah novel. Namun tahukah Anda, novel ini merupakan hasil adaptasi dari skenario film dengan judul yang sama. Skenario karya Titien Wattimena, dan yang namanya skenario film tentu sangat panjang, naskah asli/skripnya bisa ratusan halaman. Lebih tebal dibandingkan ukuran novel ini. Karena itulah, novel  karya Dina Mardiana tersebut bisa dibilang sebagai novel adaptasi.
Apakah novel adaptasi?
Adaptasi berasal dari kata serapan untuk istilah asing ‘adaptation’, dan kata dasar adaptation adalah adapt bermakna menyesuaikan. Dengan kata lain, novel adaptasi adalah novel hasil penyesuaian atau gubahan dari karya lain seperti naskah drama atau film yang telah/sedang beredar.
Sebagai novel adaptasi, tentu ada banyak hal yang harus diubah atau disesuaikan dari naskah aslinya yang berupa skenario film. Butuh kerja keras bagi Dina Mardiana sebagai penulisnya untuk merangkum semua agar naskah novelnya bisa ringkas namun padat sebagai cerita dan tak kehilangan makna. Mengikuti alur skenario film.
Apakah skenario itu?
KBBI mengartikan skenario sebagai rencana lakon sandiwara atau film berupa adegan demi adegan yang tertulis secara terperinci. Dengan kata turunan menskenariokan yang berarti menyusun (menulis) dalam bentuk skenario.
Jadi, apa yang dilakukan Dina Mardiana sebagai penulis adalah menovelkan alias menyusun (menulis) ulang dalam bentuk novel dari skenario film From Bandung with Love karya Titien Wattimena.
Lakon sandiwara atau film sendiri mengandung banyak perbedaan. Sandiwara atau drama lebih menekankan pada dialog atau percakapan yang dilakonkan, dan latarnya bisa statis (tidak aktif) karena biasanya berada di atas panggung sandiwara -- yang langsung ditonton banyak orang di dalam gedung pertunjukan.
Lakon sandiwara lebih menekankan pada kualitas akting pemain (aktor dan aktrisnya), properti panggung, musik latar, kostum/busana pemain, tata cahaya, pengadegan, skenario, efek khusus, dan hal-hal lainnya.
Untuk lebih jelasnya, dalam buku ajar Bahasaku Bahasa Indonesia (Erlangga, 1993), dijelaskan arti cerita sandiwara atau drama.
Cerita drama atau sandiwara ialah cerita dalam bentuk dialog-dialog atau percakapan yang dilakonkan. Antara satu percakapan dengan percakapan berikutnya disertai keterangan gerakan-gerakan yang ditampilkan. Misalnya, seseorang yang mengucapkan dialog itu sambil berjalan, sambil menepuk bahu, bernada keras, bersikap marah, dan sebagainya. Gerakan-gerakan yang ditampilkan ini bentuk penulisannya selalu terletak di dalam kurung. Fungsinya adalah agar ada perbedaan cerita dialog dengan keterangan  gerak yang perlu dipercakapkan (h. 41-42).
Karena kita membahas soal skenario, makna cerita dalam skenario film sama seperti di atas dengan beberapa perbedaan tambahan sesuai dengan sifat film sendiri yang fleksibel/lentur dan dinamis.
Pengadegan dalam film (sesuai rancangan skenario), biasa berada di dalam ruangan (indoor) dan di luar ruangan (outdoor). Penonton jadi tak bosan meski bukan hasil tontonan secara langsung (live) sebagaimana drama di dalam gedung pertunjukan.
Penonton juga bisa dimanjakan dengan kualitas akting pemain dari segi mimik (ekspresi) wajah), gestur (gerak tubuh) pemain; busana pendukung berikut tata riasnya; efek khusus; musik pengiring dalam latar pengadegan; latar berikut penyertaan orang-orang atau pemandangan di sekitarnya; teknologi visual kamera yang membuat gambar melambat atau melesat cepat, berikut kelembutan pencahayaan dari dalam atau luar ruangan yang membuat film jadi lebih menarik ditonton; dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan sinematografi (teknik perfilman, teknik pembuatan film).
Setelah mengenal pembahasan mengenai novel, novel adaptasi, dan skenario di atas, marilah kita beralih pada bahasan lain: mengenai unsur intrinsik  novel From Bandung with Love dalam tokoh dan penokohan. Dua hal tersebut yang dibahas mengingat betapa panjangnya pembahasan dan data-data yang harus dituangkan secara mendetail jika harus membahas hal lain dalam unsur intrinsik.

1 Unsur Intrinsik
Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya sastra itu sendiri (dalam hal ini novel).
Sedangkan yang dimaksud analisis intrinsik adalah mencoba memahami suatu karya sastra berdasarkan informasi-informasi yang dapat ditemukan di dalam karya sastra itu, atau secara eksplisit terdapat dalam karya sastra.
Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa suatu karya sastra menciptakan dunianya sendiri yang berbeda dari dunia nyata. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia karya sastra merupakan fiksi yang tidak berhubungan dengan dunia nyata. Karena menciptakan dunianya sendiri, karya sastra tentu dapat dipahami berdasarkan apa yang ada atau secara eksplisit tertulis dalam teks tersebut.
Pada umumnya para ahli sepakat bahwa unsur intrinsik terdiri dari:
a.    Tokoh dan penokohan/perwatakan tokoh
b.    Tema dan amanat
c.    Latar
d.    Alur
e.    Sudut pandang/gaya penceritaaan
Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas unsur-unsur tersebut:
1.1 Tokoh
Yang dimaksud dengan tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakuan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.
Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita.
Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Tokoh sentral protagonis, adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif.
b. Tokoh sentral antagonis, adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
 Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Tokoh andalan, adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
2. Tokoh tambahan, adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
3. Tokoh lataran, adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.

Berdasarkan cara menampikan perwatakannya, tokoh dalam cerita dapat dibedakan menjadi dua:
1.Tokoh datar/sederhana/pipih. Yaitu tokoh yang diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja. Tokoh ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali (misalnya tokoh kartun, kancil, film animasi).
2. Tokoh bulat/komplek/bundar. Yaitu tokoh yang seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh ini sangat dinamis, banyak mengalami perubahan watak.

1.2 Penokohan
Yang dimaksud penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Ada beberapa metode penyajian watak tokoh, yaitu:
a. Metode analitis/langsung/diskursif. Yaitu penyajian watak tokoh dengan cara memaparkan watak tokoh secara langsung.
b. Metode dramatik/taklangsung/ragaan. Yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.
c. Metode kontekstual. Yaitu penyajian watak tokoh melalui gaya bahasa yang dipakai pengarang.

Menurut Jakob Sumardjo dan Saini K.M., ada lima cara menyajikan watak tokoh, yaitu:
a. Melalui apa yang dibuatnya, tindakan-tindakannya, terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis.
b. Melalui ucapan-ucapannya. Dari ucapan kita dapat mengetahui apakah tokoh tersebut orang tua, orang berpendidikan, wanita atau pria, kasar atau halus.
c. Melalui penggambaran fisik tokoh.
d. Melalui pikiran-pikirannya
e. Melalui penerangan langsung.
(Dari makalah Unsur-unsur Intrinsik Prosa Cerita, disusun oleh Agustinus Suyoto, S.Pd)

Berdasarkan uraian makalah di atas, saya hendak memandu tokoh dan penokohan dalam novel From Bandung with Love saja. Dua hal yang unik dan saling berkaitan.
2 Tokoh
From Bandung with Love memuat beberapa tokoh yang bisa kita bedakan dalam beberapa kategori sesuai uraian dalam makalah Agustinus Suyoto, S.Pd.
1. Vega, cewek cantik berusia 23 tahun yang bekerja sebagai penyiar di stasiun radio Fortune FM, Bandung, memandu acara mingguan From Bandung with Love yang banyak diminati pendengarnya karena menampung kisah curhatan pendengar yang terlibat masalah cinta dan perselingkuhan.
Selain bekerja sampingan sebagai penyiar di radio, Vega yang masih kuliah merangkap copy writer freelance di kantor periklanan Dolphin Advertising, Jalan Riau, Bandung. Dua pekerjaan sampingan (karena ia masih kuliah), membuat Vega terlibat dalam jalinan cerita yang membuat hidupnya harus nengenal sesal karena telah salah langkah. Sebagai tokoh sentral, Vega pada mulanya mengambil peran protagonis, lalu terjerumus sebagai antagonis. Dua peran yang menarik, karena kita tak selamanya bisa baik dan tanpa cela. Hanya kesadaran untuk berubah baik yang membuat kita bisa kembali melakonkan protagonis.
2. Dion, pacar Vega. Adalah tokoh sentral protagonis yang teguh memegang kesetiaan pada pacarnya. Sampai pada akhirnya Vega telah melukainya dengan pengkhianatan. Hubungan asmara mereka pun retak.
3. Ryan, tokoh sentral antagonis, rekan kerja Vega di Dolphin Advertising, playboy ganteng dan membuat Vega kepincut untuk menjadikan Ryan objek penelitiannya tentang setia karena sifat Ryan sendiri yang mudah memikat lawan jenisnya. Sayangnya Vega terjerumus untuk selingkuh dengan Ryan.
Cipeujeuh, 2016
#Maaf, sampai di sini saja. Sebenarnya ini bagian kerjaan ghost writer saya untuk bantu anak teman ngerjain tugas makalah dari sekolahnya di Madrasah Aliyah. Sengaja di bagian sulit dulu, dan lanjutannya terserah ia. Ia yang pilih bahas novel ini karena tipis.
Jadi segini. Tak bisa saya lanjutkan bahas PENOKOHAN karena novelnya belum dikembalikan sampai sekarang. Lagi-lagi tiap dipinjam buku sama anak-anak sekolahan, mereka suka “lupa” mengembalikan. Sampai saya juga lupa siapa yang pinjam dan buku apa, atau kelimpungan kala butuh bukunya untuk keperluan kerjaan nulis. Koleksi buku saya berkurang, haha.










.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D