HOME/RUMAH

Kamis, 18 Januari 2018

Memaksa Kata



Oleh Rohyati Sofjan


DISADARI atau tidak, dinamika berbahasa Indonesia yang dituturkan pemakainya penuh gejolak. Bisa meluap-luap, menyala-nyala, bahkan memberontak!
            Media sosial (medsos) memberi pengaruh besar bagi dinamika di atas. Akan tetapi, kerap pula kita temui semacam pemberontakan berbahasa yang membingungkan. Seperti menyingkat kata lumayan cukup menjadi mayan saja.
Bagi penutur awam yang steril dari riuhnya bahasa gaul kaum medsos, jadi bingung kala dihadapkan pada istilah baru tentang mayan. Sejenis nama makanan atau tanamankah?
Mayan yang membuat kening dipaksa berkerut itu ternyata hanya singkatan dari kata lumayan yang dibuang lu-nya.
Jangan remehkan kekuatan bahasa tutur, baik lisan atau tulisan karena dampaknya sangat besar bagi perkembangan bahasa Indonesia ke depan.
Apa jadinya jika lumayan dipaksa kehilangan lu-nya dengan mayan saja, padahal lu- bukanlah kata depan atau sandang melainkan kesatuan utuh untuk membentuk kata. Lumayan yang bermakna agak banyak, sedang, cukup juga dalam KBBI tidaklah mungkin diubah jadi mayan saja.
Kreativitas berbahasa bukan berarti memaksakan pembentukan kata atau  istilah baru seenaknya. Mayan merupakan gejala pemberontakan yang rancu, membingungkan orang awam. Irornisnya mayan juga seakan memprovokasi orang untuk ikut-ikutan karena dirasa keren, singkat, dan barangkali lucu.
Ragam bahasa cakapan memang ibarat air bah, sulit dibendung. Namun jika menyimpang dari arah semula, apa yang harus dilakukan?
Terima kasih yang cukup disingkat jadi makasih saja, sudah berterima bertahun-tahun sebagai bahasa cakapan gaul di kalangan anak muda pada era ’80-an. Akankah ke depan mayan pun beroleh posisi ‘wajar’ sebagaimana makasih?
Menyingkat kata, ternyata bisa juga menimbulkan dilema. Jika dibiarkan bisa dianggap merusak kaidah berbahasa Indonesia yang baik, benar, dan bertanggung jawab. Seolah bahasa Indonesia itu inkonsisten. Namun jika dilarang, bagi sebagian kalangan bisa dianggap memasung kreativitas berbahasa.
Kreativitas berbahasa macam mana pula yang seolah memaksa kata agar sesuai dengan keinginan penutur tersebut? Mungkin jika hanya menyingkat cuci piring jadi cupir, atau cuci pakaian jadi cupak masih bisa berterima sebagai istilah ala saya yang mengacu pada kaidah cara menyingkat kata.
Mayan hanyalah salah satu contoh dinamika berbahasa masyarakat yang memberontak. Mayan hanyalah kata yang dipenggal kepalanya. Barangkali huruf l dan u dianggap kurang laku.
Namun mayan merupakan  semacam kompleksitas, tak bisa dianggap enteng atau diabaikan. Mayan tengah berjuang dalam bahasa penutur masyarakat kita untuk eksis. Haruskah eksistensi mayan mengancam?
Tidak bijak memang memaksa kata sesuai kehendak penuturnya yang iseng memberontak. Jika ingin membentuk istilah baru, masih ada jalan lain yang tak merusak apalagi menyimpang!***
Cipeujeuh, 27 Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D