HOME/RUMAH

Selasa, 23 Januari 2018

Masih Juga “Menyuci”



Oleh Rohyati Sofjan


Penggunaan kata yang tidak tepat atau salah akan mengaburkan makna sebenarnya. Seperti contoh status yang ada dalam ruang status Facebook seorang kawan, sesama ibu rumah tangga dan bergiat di komunitas menulis, “Sembari menyuci di halaman belakang rumah,  saya suka duduk-duduk di sini. Di bawah pohon salam, berlatar belakang pohon pisang, dan tanaman bumbu lainnya. Melamun, mencari inspirasi, atau sekadar melepas lelah, selepas berkebun yang dilakukan di sela-sela aktivitas menyuci pakaian”
Kalau mencermati kalimat pertama dalam status itu, maka akan menimbulkan tanda tanya, apakah sedang menyuci(-kan diri) atau mencuci (pakaian atau perabot kotor) di halaman belakang rumah? Namun dalam kalimat selanjutnya ada keterangan “menyuci pakaian”.
Penggunaan  awalan (prefiks)  men- atau meny-  bergantung bagaimana kata dasarnya. Jika cuci maka akan jadi mencuci, dan jika suci maka menyuci. Awalan  meny- jika dilekatkan pada kata dasar  suci maka fonem ‘s’ diluluhkan, sedangkan kata dasar yang berfonem ‘c’ seperti cuci tidak ikut diluluhkan jika diberi awalan men-.
Dalam kasus ini, karena tidak ada objek dalam kalimat  “sembari menyuci di halaman belakang”,  maka akan membingungkan pembaca dengan apakah yang dimaksud menyuci itu? Objeknya berupa diri sendiri atau benda? Sedangkan dalam baris kalimat selanjutnya ada keterangan “menyuci” apakah itu (ternyata pakaian).
Memang ada perbedaan mendasar antara cuci dan suci. Cuci menurut KBBI  membersihkan. Bisa apa saja, denotatif atau konotatif.  Baik benda, darah, uang, atau hal lainnya.
Sedang suci dalam KBBI adalah kata sifat [1] bersih  (dalam arti keagamaan, seperti tidak kena najis, selesai mandi janabat); [2] bebas dari dosa; bebas dari cela; bebas dari noda; maksum; [3] keramat; [4] murni (tentang hati, batin).
Adalah  salah jika kita menulis (atau menyebut) menyuci pakaian, meski memang maksudnya pakaian dicuci agar bersih dan suci dari kotoran, namun sifat pakaian sendiri sebagai kata benda yang telah beroleh perlakuan untuk dicuci (dengan air dan sabun) tidaklah pas untuk disuci(kan). Pakaian bukanlah bayi yang murni, bukan pula tempat keramat yang dianggap suci, bukan pula sesuatu yang terbebas dari dosa atau barang mulia.
Yang tepat adalah pakaian dicuci agar bisa dipakai di tempat suci (ibadah) karena bersih. Jika kita seolah ingin menyucikan pakaian, maka cucilah dahulu dengan mencuci pakaian tersebut memakai air dan sabun.
Di sinilah dibutuhkan kemampuan dalam menalar pilihan kata agar cara berbahasa kita tidak membingungkan orang lain. Hal-hal yang kerap kita lakukan jika salah akan berdampak buruk , membuat orang lain salah mengartikan maksud kita atau ikut-ikutan salah dalam berbahasa.
Persoalan berbahasa Indonesia bukan melulu benar-salahnya. Bagaimana sebenarnya tanggung jawab kita sendiri sebagai penutur bahasa agar tak menimbulkan kerancuan pola pikir. Sudah terlalu sering masyarakat membuat kekeliruan macam itu dan abai akan maknanya.
Maka, mencucilah jika yang Anda maksud  memang mencuci, dan menyucikanlah jika yang Anda maksud memang menyuci atau bersuci.

KAIDAH PELULUHAN KATA BERIMBUHAN
Mari kita persempit luasnya cakupan kata berimbuhan dengan  awalan (prefiks) men- dan meny-  dulu. Kedua awalan itu jika dilekatkan pada suatu kata dasar tertentu sering alami kesalahkaprahan, pemakai kata tidak paham benar substansi kaidah yang seharusnya.
Dalam ilmu tata bahasa Indonesia kita mengenal kaidah fonologi, kaidah dalam tata bunyi. Ada empat fonem mengalami perubahan fonologi karena sifat dari huruf awal kata dasar yang menyertainya; seperti k, p, s, dan t.
Aturan KPST sebagai berikut:
1.    Kata dasar yang berfonem K seperti kampak (kata benda) jika diberi imbuhan maka yang pas adalah meng-.  Meng-  dan kampak jika disatukan fonem k-nya akan luluh jadi mengampak (kata kerja aktif).
2.    Kata dasar yang berfonem P seperti pancing (kata benda) jika diberi imbuhan maka yang pas adalah mem-. Mem-  dan pancing jika disatukan fonem p-nya akan luluh jadi memancing (kata kerja aktif).
3.    Kata dasar yang berfonem S seperti samping (kata benda) jika diberi imbuhan maka yang pas adalah meny-. Meny-  dan samping jika disatukan maka fonem s-nya akan luluh jadi menyamping (kata kerja aktif).
4.    Kata dasar yang berfonem T seperti torpedo (kata benda) jika diberi imbuhan maka yang pas adalah men-. Men- dan torpedo jika disatukan  maka fonem t-nya akan luluh jadi menorpedo (kata kerja aktif).

Dengan demikian, pemberian awalan pada kata dasar akan alami perubahan menjadi kata kerja aktif.
Mengapa ‘c’ tidak alami peluluhan? Dari segi penasalan, pengucapan awalan ‘c’ seperti mencuci tidak menghasilkan bunyi bahasa yang dikeluarkan udara melalui hidung. Oleh karena itu,  mencuci diucapkan tegas sebagai men.cu.ci yang berarti membersihkan. Sudah jelas memiliki perbedaan dengan menyuci yang bermakna bersuci.***
Cipeujeuh, 17 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D