HOME/RUMAH

Jumat, 05 Januari 2018

Makalah untuk Skripsi: Pendekatan Kontekstual dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V Sekolah Dasar



 

A. Judul Penelitian

            PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA  KELAS V SEKOLAH DASAR

B. Latar Belakang Masalah


Belajar menurut pandangan kontemporer adalah proses interaksi individu dengan lingkungannya yang melibatkan fisik, mental dan emosional sehingga siswa memperoleh sejumlah pengalaman bermakna (konstruktivisme). Menurut pandangan ini pengetahuan yang diperoleh siswa bukan proses pemindahan dari guru ke siswa, melainkan dibentuk atau disusun sendiri oleh siswa melalui interaksinya dengan lingkungan. Sesuatu yang diketahui siswa itu sendiri dari pengalamannya (Suwaningsih dan Tiurlina, 2010: 119).
Pendekatan yang sesuai dengan pandangan ini adalah Contexual Teaching and Learning (CTL). Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. 
CTL diharapkan bisa menjadi solusi bagi masalah utama saya sebagai pengajar matematika di kelas V SD Negeri. Ada kesulitan mendasar bagi siswa sehingga mereka sulit memahami pengajaran matematika yang berkaitan dengan geometri bangun datar berupa mengindentifikasi sifat-sifat. Geometri sendiri berarti cabang matematika yang menerangkan sifat-sifat garis, sudut, bidang dan ruang. 
Kesulitan mereka dalam memahami materi adalah susah dimengerti dan harus diterangkan secara berulang-ulang karena faktor internal dan eksternal.
Selain alat peraga, disiplin juga perlu diterapkan dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Sebab anak-anak yang disiplin dalam belajar mempunyai tingkat kompetensi lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak disiplin. (www.anneahira.com).   
Dalam mengajarkan matematika perlu diperhatikan beberapa faktor, yaitu tingkat perkembangan mental anak, pengalaman anak, lingkungan anak, dan kecerdasan anak. Hal itu sejalan dengan pendapat Piaget (Russeffendi, 2005: 21) yang mengemukakan bahwa:
Usia 7-12 tahun berada pada periode operasi kongkrit, yaitu tahapan usia pada siswa SD tidak akan memahami operasi (logis) dalam konsep matematika tanpa dibantu oleh benda-benda kongkrit. Ada empat taraf berpikir pada usia SD, yaitu kongkrit, semi kongkrit, semi abstrak, dan abstrak.
Temuan di lapangan, dalam pembelajaran di kelas V SD Negeri adalah rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran Geometri Bangun Datar; materi pembahasan yang berkaitan dengan sifat-sifat bangun datar. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata dari 22 orang siswa hanya mencapai 5,60 dan masih berada di bawah KKM. Peneliti mencoba mewawancarai siswa kelas V tersebut untuk mengetahui mengapa mereka kurang berminat dengan pembelajaran tersebut. Mereka mengatakan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit apalagi jika terkait dengan konsep mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar. Kurangnya motivasi siswa dalam pembelajaran matematika diduga disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ada kemungkinan strategi/metode pembelajaran yang digunakan guru belum tepat, dan pendekatan yang dilakukan masih berpusat pada guru. Kedua, dari faktor siswa, bahwa mereka merasa pembelajaran matematika kurang menyenangkan dan menakutkan.
Untuk mengatasi kesulitan siswa dalam mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar, diperlukan adanya upaya guru dalam menggunakan metode mengajar dan media pembelajaran yang dapat memenuhi tuntutan kebutuhan siswa dalam belajar sesuai dengan tahap perkembangan kejiwaannya. Guru dituntut untuk menggunakan metode yang bervariasi tidak hanya ceramah saja, tetapi juga metode-metode lainnya seperti metode pembelajaran yang lebih menekankan pada pendekatan kontekstual.

C. Rumusan Masalah


            Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan penelitian ini dijabarkan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut:  
  1. Bagaimana aktivitas belajar siswa kelas V SD Negeri dalam mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual?
  2. Bagaimana hasil belajar siswa kelas V SD Negeri dalam mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengindentifikasi hal-hal yang berkaitan dalam pelaksanaan pembelajaran identifikasi sifat-sifat bangun datar di kelas V SD dengan menggunakan metode pendekatan kontekstual terhadap pemahaman konsep dan sikap siswa selama pembelajaran berlangsung.
Adapun perincian tujuan secara khususnya adalah sebagai berikut:
  1. meningkatkan aktivitas siswa kelas V SD dalam mengembangkan konsep sifat-sifat bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual;
  2. meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD terhadap konsep sifat-sifat bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
2. Manfaat Penelitian
            Dengan adanya penelitian itu diharapkan dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekolah, khususnya bagi guru dan siswa kelas V SD Negeri Desa ===, Kecamatan Bl. Limbangan Kabupaten Garut.
  1. Bagi Siswa
Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri dalam mengindentifikasi sifat-sifat segitiga dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
b.   Bagi Guru
      1. Memberi gambaran tentang upaya guru dalam meningkatkan kemampuan siswa menggunakan konsep bangun datar dengan pendekatan kontekstual.
      2. Memberi gambaran tentang upaya guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa untuk mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar dengan pendekatan kontekstual.
c.   Bagi Lembaga
      1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi kerangka pola pikir yang berkaitan dengan suatu usaha ke arah perbaikan mutu pendidikan.  Meningkatkan prestasi siswa dalam pelajaran matematika secara umum dan memberi pengetahuan dasar  mengenai konsep sifat-sifat bangun datar secara khusus.
      2. Dapat dijadikan tolok ukur untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

E. Kerangka Teori


a. Pembelajaran Matematika

Anak yang mencapai suatu prestasi belajar matematika sebenarnya merupakan hasil kecerdasan dan minat terhadap matematika. Minat dapat timbul pada seseorang jika menarik perhatian terhadap suatu objek. Perhatian ini akan terjadi dengan sendirinya atau mungkin timbul disebabkan adanya pengaruh dari luar.
Beberapa hal yang harus dilakukan guru dalam menumbuhkan minat anak dalam belajar matematika.
  1. Menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan dengan dunia anak, semisal memanfaatkan lingkungan.
  2. Pembelajaran dapat dilakukan dengan cara dari mudah ke yang sukar atau dari konkret ke abstrak.
  3. Penggunaan alat peraga.
  4. Pembelajaran hendaknya membangkitkan aktivitas anak.
  5. Semua kegiatan belajar harus kontras.
Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anak didik secara aktif dan sadar. Hal ini berarti bahwa aktivitas berpusat pada anak didik sedangkan guru lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator (pembimbing) terjadinya proses belajar.
Sifat-sifat proses belajar matematika adalah:
1.      merupakan suatu interaksi anak dengan lingkungan,
2.      berbuat,
3.      mengalami,
4.      memerlukan motivasi,
5.      memerlukan kesiapan anak didik,
6.      harus menggunakan daya pikir,
7.      melalui latihan (drill).

Seringkali anak hanya melihat kasus khusus dari bentuk geometri dan tidak memiliki ide lengkap dari sifat penting yang harus dimiliki dari sebuah bentuk untuk menampilkan bentuk umum. Mengacu pada teori Van Hiele, anak memiliki kemampuan pengamatan tetapi belum pemahaman analitis.
Kemampuan memanipulasi bentuk adalah kemampuan visual yang penting bagi anak agar mereka dapat membayangkan suatu susunan atau bentuk geometri tanpa harus melihat bentuk atau wujud aslinya. Misalnya kubus, guru membimbing murid untuk melihat gambar kubus dalam bentuk dua dimensi agar dapat membayangkan dan tahu bentuk aslinya tidak sama seperti di gambar (bahwa semua rusuknya sama panjang dan rusuk-rusuknya berpotongan selalu tegak lurus satu dengan lainnya, atau gambar putus-putus pada gambar berarti di bagian belakang dan sebagainya), di mana sisinya tidak sama panjang, ada sisi yang berpotongan tidak membuat sudut siku-siku, atau ada rusuk yang terputus-putus atau terpotong-potong (Noornia dan Yurniwati, 2008: 57).

b. Menganalisis Bentuk Geometri Bangun Datar

Sebagaimana dimaklumi bahwa matematika adalah sebuah sistem yang bersifat deduktif aksiomatik. Artinya pola pendekatannya harus memenuhi kaidah dan prinsip-prinsip deduksi (juga induksi) disertai dukungan aksioma-aksioma di dalamnya. Demikian pula dengan geometri, khususnya Geometri Euclid, yang menjadi dasar pengembangan matematika yang lainnya.
Pada dasarnya geometri adalah kajian matematika yang abstrak sehingga dalam mempelajari dan menyajikannya tidaklah mudah. Di dalam geometri dikenal konsep-konsep pangkal yang kedudukannya strategis karena menjadi dasar atau landasan pemahaman konsep-konsep geometri: titik, ruas garis, garis, sinar garis, dan sudut (Suhendra dkk., 2009: 146).
            .
v  Sifat-sifat Bangun Datar
1.   Persegi
·         Adalah bangun datar yang dibatasi 4 sisi yang sama panjang.
·         Mempunyai 4 titik sudut.
·         Mempunyai 4 sudut siku-siku 90.
·         Mempunyai 2 diagonal yang sama panjang.
·         Mempunyai 4 simetri lipat.
·         Mempunyai 4 simetri putar.

Keliling  =    4   x   sisi
 
Rumus Keliling Persegi





Rumus Luas Persegi


Luas  =    sisi   x   sisi
 
 




2    Persegi Panjang
·         Merupakan bangun datar yang mempunyai 4 sisi.
·         Sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar.
·         Sisi-sisi persegi panjang saling tegak lurus.
·         Mempunyai 4 sudut siku-siku 90.
·         Mempunyai 2 diagonal sama panjang.
·         Mempunyai 2 simetri lipat.
·         Mempunyai 2 simetri putar.

Rumus Keliling Persegi Panjang


Keliling  =       2   x   ( panjang   +   lebar )
 
 





Rumus Luas Persegi Panjang


Luas  =       panjang   x   lebar
 
 




3.    Segitiga
·        Merupakan bangun datar yang dibentuk oleh 3 buah garis saling bertemu dan membentuk 3 buah titik sudut.
·         Bangun segitiga dilambangkan dengan ∆.
·         Jumlah sudut pada segitiga besarnya 180.

Jenis-jenis segitiga :

a.       Segitiga Sama Sisi
·         Mempunyai 3 sisi sama panjang.
·         Mempunyai 3 sudut sama besar yaitu 60.
·         Mempunyai 3 simetri lipat.
·         Mempunyai 3 simetri putar.

b.      Segitiga Sama Kaki
·         Mempunyai 2 sisi yang berhadapan sama panjang.
·         Mempunyai 1 simetri lipat.
·         Mempunyai 1 simetri putar.

c.    Segitiga Sembarang

·         Ketiga sisinya tidak sama panjang.
·         Ketiga sudutnya tidak sama besar.


d.    Segitiga Siku-Siku
·         Mempunyai 2 sisi yang saling tegak lurus.
·         Mempunyai 1 sisi miring.
·         Salah satu sudutnya adalah sudut siku-siku yaitu 90.
·         Tidak mempunyai simetri lipat dan putar.
·         untuk mencari panjang sisi miring digunakan rumus phytagoras :


a2   +   b2   =   c2
a  :  sisi datar
b  :  sisi tegak
c  :  sisi miring
 
 









Keliling  =  panjang sisi 1  +  panjang sisi 2 +  panjang sisi 3
 
Rumus Keliling segitiga


Rumus Luas Segitiga


Luas =  alas x tinggi
          2
 
 





4.    Trapesium
·         Adalah bangun segiempat dengan sepasang sisi berhadapan sejajar.
·         Tiap pasang sudut yang sisinya sejajar adalah 180.
Jenis-jenis trapesium :
a.       Trapesium Sembarang  à  mempunyai sisi-sisi yang berbeda.
b.      Trapesium Siku-siku      à  mempunyai sudut siku-siku.
c.       Trapesium Sama Kaki   à  mempunyai sepasang kaki sama panjang

Rumus Keliling Trapesium






Luas  =   jumlah sisi sejajar   x   tinggi
          2
 
Keliling =  jumlah keempat sisinya
 
Rumus Luas Trapesium







5.   Jajargenjang
·         Merupakan bangun datar yang mempunyai 4 buah sisi.
·         Sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang.
·         Dua sisi lainnya tidak saling tegak lurus.
·         Mempunyai 4 sudut, 2 sudut berpasangan dan berhadapan.
·         Sudut yang saling berdekatan besarnya 180.
·         Mempunyai 2 diagonal yang tidak sama panjang.
·         Tidak mempunyai simetri lipat dan simetri putar.
Rumus Keliling Jajaran Genjang


Keliling  =       2   x   ( panjang   +   lebar )
 
 






Rumus Luas Jajaran Genjang

Luas  =       panjang   x   tinggi
 
 




6.   Belah Ketupat
·         Merupakan bangun geometri yang dibatasi 4 sisi sama panjang.
·         Mempunyai 4 titik sudut.
·         Sudut yang berhadapan besarnya sama.
·         Sisinya tidak tegak lurus.
·         Mempunyai 2 diagonal yang berbeda panjangnya.
·         Mempunyai 2 simetri lipat.
·         Mempunyai 2 simetri putar.


Rumus Keliling Belah Ketupat


Keliling  =    4   x   sisi
 
 





Rumus Luas Belah Ketupat


Luas =  ½ x diagonal 1 x diagonal 2
 
 





7.   Layang-layang
·         Adalah bangun geometri berbentuk segiempat yang terbentuk dari dua segitiga sama kaki yang alasnya berhimpitan.
·         Mempunyai 4 sisi sepasang-sepasang yang sama panjang.
·         Mempunyai 4 buah sudut.
·         Sepasang sudut yang berhadapan sama besar.
·         Mempunyai 2 diagonal berbeda dan tegak lurus.
·         Mempunyai 1 simetri lipat.
·         Tidak mempunyai simetri putar.

Rumus Keliling Layang-Layang



Keliling  =    2  x  ( sisi panjang  +  sisi pendek )
 
 




Rumus Luas Layang-Layang


Luas  =     diagonal 1    x   diagonal 2
                 2
 
 




          c. Teori Belajar Matematika

Van Hiele adalah seorang guru matematika berkebangsaan Belanda yang mengadakan penelitian dalam pengajaran geometri. Menurut Van Hiele ada tiga unsur utama dalam pengajaran geometri, yaitu; waktu, materi pengajaran, dan metode pengajaran yang ditetapkan. Jika ketiga unsur ditata secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak kepada tahapan yang lebih tinggi.

Van Hiele menyatakan terdapat 5 tahap belajar geometri:
1. Tahap Pengenalan (Visualisasi)
Anak mulai belajar mengenal suatu bentuk geometri secara keseluruhan, namun belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya. Sebagai contoh, jika diperlihatkan sebuah kubus maka ia belum mengetahui sifat-sifat atau keteraturan yang dimiliki oleh kubus tersebut. Ia belum tahu bahwa kubus mempunyai sisi-sisi yang merupakan bujursangkar, anak pun belum mengetahui bahwa bujursangkar (persegi) keempat sisinya sama dan keempat sudutnya siku-siku.
2. Tahap Analisis
            Anak sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki bangun geometri yang diamatinya. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada bangun geometri itu. Misalnya pada saat ia mengamati persegi panjang, telah mengetahui terdapat 2 pasang sisi yang berhadapan, dan kedua pasang sisi tersebut saling sejajar. Pada tahap ini anak belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu benda geometri dengan benda geometri lainnya. Misalnya belum mengetahui bahwa persegi adalah persegi panjang atau persegi itu adalah belah ketupat, dan sebagainya.
3. Tahap Pengurutan (Deduksi Informal)
            Pada tahap ini anak sudah mulai mampu melaksanakan penarikan kesimpulan yang kita kenal dengan sebutan berpikir deduktif. Namun kemampuan ini belum berkembang secara penuh. Satu hal yang perlu diketahui adalah anak pada tahap ini sudah mulai mampu mengurutkan. Misalnya, sudah mengenali bahwa persegi adalah jajaran genjang, bahwa belah ketupat adalah layang-layang. Demikian pula dalam pengenalan benda-benda ruang, anak memahami bahwa kubus adalah balok juga, dengan keistimewaannya yaitu bahwa semua sisinya berbentuk persegi. Pola pikir anak pada tahap ini masih belum mampu menerangkan mengapa diagonal suatu persegi panjang itu sama panjangnya. Anak mungkin belum memahami bahwa belah ketupat dapat dibentuk dari dua segitiga yang kongruen.
4. Tahap Deduksi
            Dalam tahap ini anak sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus. Demikian pula ia telah mengerti betapa pentingnya peranan unsur-unsur yang didefinisikan. Misalnya anak sudah mulai memahami dalil. Selain itu, pada tahap ini anak sudah mulai mampu menggunakan aksioma atau postulat yang digunakan dalam pembuktian, tetapi belum mengerti mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil.
5. Tahap Akurasi
            Dalam tahap ini anak sudah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Misalnya, ia mengetahui pentingnya aksioma-aksioma atau postulat-postulat dari geometri Euclid. Tahap akurasi merupakan tahap berpikir yang tinggi, rumit, dan kompleks. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tidak semua anak, meskipun sudah duduk di bangku sekolah lanjutan atas, masih belum sampai pada tahap berpikir ini (Suwangsih dan Tiurlina, 2010: 92-93).

d. Pendekatan Pembelajaran Matematika


            Belajar menurut pandangan kontemporer adalah proses interaksi individu dengan lingkungannya yang melibatkan fisik, mental, emosional sehingga siswa memperoleh sejumlah pengalaman bermakna (konstruktivisme). Pengetahuan yang diperoleh siswa bukan proses pemindahan dari guru ke siswa, melainkan dibentuk atau disusun sendiri oleh siswa melalui interaksinya dengan lingkungan. Sesuatu yang diketahui siswa itu sendiri dari pengalamannya.
Pengetahuan yang dimiliki siswa menurut pandangan konstruktivisme merupakan susunan yang diperoleh dari proses panjang hasil interaksinya dengan lingkungan (Suwangsih dan Tiurlina, 2010: 119). Pendekatan yang sesuai dengan dengan pandangan ini adalah Contexual Teaching and Learning (CTL).
Prinsip-prinsip yang mendasari CTL adalah:
1. Konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
1. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
2. Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
3. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2. Bertanya, dalam pembelajaran yang produktif berguna untuk:
1. Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis.
2. Mengecek pemahaman siswa.
3. Membangkitkan respons pada siswa.
4. Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
5. Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
6. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.
7. Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
8. Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Pada semua aktivitas belajar, bertanya dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, dan antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya.
3. Menemukan, pengetahuan dan keterampilan siswa diharapkan tidak hanya mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus ini terbagi dalam:
1. Observasi.
2. Bertanya.
3. Mengajukan dugaan.
4. Pengumpulan data.
5. Penyimpulan.
Sedangkan kata kunci dari strategi menemukan adalah:
1. Merumuskan masalah.
2. Mengamati atau melakukan observasi.
3. Menganalisis dan menyajikan hasil, baik dalam bentuk tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.
4. Mengomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiens lainnya.
4. Masyarakat Belajar, terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.
5. Pemodelan, proses ini tidak harus dilakukan guru saja, tetapi bisa juga guru menunjuk siswa yang dianggap mempunyai kemampuan lebih jika dibandingkan dengan siswa lainnya. Dengan begitu semua siswa mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara belajar atau mengerjakan sesuatu dengan baik dan benar.
6. Refleksi, adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dalam belajar di masa lalu. Pengetahuan yang diperoleh siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit sehingga semakin berkembang. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan baru. 
7. Penilaian Sebenarnya.
1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
2. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif.
3. Yang diukur keterampilan dan penampilan, bukan hanya mengingat fakta.
4. Berkesinambungan.
5. Terintegrasi.
6. Dapat digunakan sebagai umpan balik.           

F. Hipotesis Tindakan


Jika pembelajaran matematika untuk mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual, maka aktivitas dan hasil belajar siswa akan meningkat.

G.  Metodologi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Negeri, Kp.==, Ds.==, Kec.Limbangan, Kab.Garut. Dengan subjek penelitian adalah siswa SD sebanyak 22; 7 lelaki, dan 15 perempuan. Fokus dalam penelitian berupa proses mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar di kelas V SD semester 2.

1. Metode dan Desain Penelitian.

Persiapan yang dilakukan adalah meminta izin kepada pihak kepala sekolah tempat peneliti bekerja sebagai guru kelas V, mengadakan observasi dan wawancara, mengidentifikasi permasalahan pembelajaran matematika di kelas V, merumuskan metode terbaik yang akan digunakan, dan menyusun teknik pemantauan pada setiap tahap penelitian.
2. Subjek Penelitian
Penelitian dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri, Kecamatan Limbangan Kabupaten Garut.

3. Definisi Operasional

Ada 3 siklus  sebagai pemantau pemberian tindakan dan mengevaluasinya.
Siklus I                                  
Tindakan 1:
Setelah diperoleh gambaran kelas, perhatian, aktivitas siswa, dan prestasi pelajaran matematika, maka siswa dibentuk ke dalam empat kelompok kemudian dilakukan tindakan. Tujuannya untuk menanamkan pemahaman terhadap materi bangun datar, yang terdiri dari tujuh sub konsep, yaitu:
a) pengertian persegi;
b) pengertian persegi panjang
c) pengertian segitiga
d) pengertian trapesium
e) pengertian jajargenjang
f) pengertian belah ketupat
g) pengertian layang-layang
Tindakan 2:
Melakukan pemantauan terhadap proses belajar dan aktivitas siswa dengan menggunakan format yang telah disediakan. Sasarannya kepada keterlibatan siswa dalam diskusi, pemahaman konseptual, dan pemahaman prosedural siswa.
Tindakan 3:
Melakukan analisis data berdasarkan hasil observasi dan pekerjaan siswa. Ditindaklanjuti dengan wawancara kepada beberapa siswa untuk mengetahui pemahaman siswa secara konseptual. Dan sebagai refleksi, peneliti merencanakan untuk melakukan siklus I bila ditemukan siswa yang belum memahami konsep yang diberikan.
Siklus II
Tindakan 1:
Siklus II dilakukan untuk menanamkan pemahaman siswa terhadap pembelajaran bangun datar yang terdiri dari dua sub konsep, yaitu:
a) mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar;
b) mengindentifikasi cara menghitung luas dan keliling bangun datar;
Tindakan 2:
Melakukan pemantauan terhadap proses pembelajaran dan aktivitas siswa dengan menggunakan format yang telah disediakan. Sasarannya kepada keterlibatan siswa dalam diskusi, pemahaman konseptual, dan pemahaman prosedural siswa pada masalah mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar.
Tindakan 3:
Melakukan analisis data berdasarkan hasil observasi dan pekerjaan siswa. Ditindaklanjuti dengan wawancara kepada beberapa siswa untuk mengetahui pemahaman siswa secara konseptual. Dan sebagai refleksi, peneliti merencanakan untuk melakukan siklus II bila ditemukan siswa yang belum memahami konsep yang diberikan.

Siklus III
Tindakan 1:
Siklus III dilakukan menanamkan pemahaman siswa terhadap pembelajaran bangun datar yang terdiri dari empat sub konsep, yaitu:
        a) menggambar bangun datar dengan media kertas berpetak;
        b) menggambar bangun datar dengan===;
        c) ;
        .
     Tindakan 2:
            Melakukan pemantauan terhadap proses pembelajaran dan aktivitas siswa dengan menggunakan format observasi yang telah disediakan. Sasarannya kepada keterlibatan siswa dalam diskusi, pemahaman konseptual, dan pemahaman prosedural siswa pada masalah geometri bangun datar.
      Tindakan 3:
Melakukan analisis data berdasarkan hasil observasi dan pekerjaan siswa.             Ditindaklanjuti dengan wawancara kepada beberapa siswa untuk mengetahui pemahaman siswa secara konseptual. Dan sebagai refleksi, peneliti merencanakan untuk melakukan siklus III bila ditemukan siswa yang belum memahami konsep yang diberikan.
           

4. Instrumen Penelitian


Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pengumpulan data diperoleh dari:
a.      Tes Tertulis
Berupa LKS dan tes akhir pembelajaran untuk memperoleh gambaran penguasaan siswa pada materi pelajaran berupa mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar.
b.      Format Observasi
Digunakan untuk mengetahui gambaran tentang keterlibatan siswa dalam diskusi. Pemahaman siswa secara konseptual dan prosedural, dan sikap guru pada saat pembelajaran yang dilakukan oleh pengamat khusus yang membantu peneliti dan guru sebagai peneliti.
c.       Catatan Lapangan
Digunakan untuk menuliskan kejadian-kejadian yang dianggap penting dan perlu untuk didiskusikan.
d.      Panduan Wawancara
Kegiatan ini dilakukan kepada beberapa siswa yang dapat mewakili kelas setelah pembelajaran berakhir. Bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa secara konseptual dan prosedural pada konsep geometri bangun datar berupa mengindentifikasi sifat-sifatnya, tanggapan siswa selama proses pembelajaran, dan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan siswa selama pembelajaran.
e.       Dokumentasi
Diperoleh dari hasil pekerjaan siswa selama pembelajaran.

5. Teknik Pengumpulan Data


            Untuk mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan ditentukan oleh analisis hasil tes tertulis, analisis hasil observasi, analisis hasil wawancara, dan ditindaklanjuti dengan triangulasi.
a)      Tes Tertulis: berupa permasalahan/petunjuk yang mengarahkan siswa untuk menemukan sendiri konsep yang dipelajarinya. Terfokus pada materi  mengindentifikasi sifat-sifat bangun datar.
b)      Observasi: bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai proses pembelajaran matematika dalam hal minat dan aktivitas siswa serta kegiatan guru.  Peneliti dibantu seorang observer, yang merupakan rekan peneliti sendiri, dan bertugas mengamati proses tersebut.
c)      Wawancara: dilaksanakan antara guru dan siswa pada setiap akhir tindakan penelitian. Siswa yang diwawancarai adalah 3 orang yang masing-masing mewakili kelompok pandai, sedang dan kurang. Hasil wawancara dicatat pada lembar wawancara sebagai data untuk diolah pada langkah selanjutnya.
d)     Triangulasi: merupakan proses memastikan sesuatu dari berbagai sudut pandang, dapat dilakukan melalui pengambilan data dari berbagai narasumber, sampai diskusi antara guru sebagai peneliti dan observer, kemudian dicocokkan dengan literatur yang diambil.

6. Analisis Data untuk Pengujian Hipotesis

            Untuk melakukan pengujian hipotesis, maka data yang dikumpulkan dianalisis terlebih dahulu. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif dengan menggunakan prosentase dan analisis data  kuantitatif dengan mencari x (rata-rata hitung) untuk mengetahui sampai sejauh mana ketercapaian/keberhasilan siswa (n: banyak sampel) setelah tindakan dilakukan dan variansi (s2), serta simpangan baku (S) dimaksudkan untuk memperoleh gambaran peningkatan keberhasilan proses pembelajaran dari satu tindakan ke tindakan berikutnya.

x = Σ ( fi . xi )
n
s2 =  nΣ  x -  ( Σ x2 )
n ( n - 1)
S = √S2
Keterangan:
x     = rata-rata hitung
n     = banyak sampel
fi.xi = hasil perkalian skor dengan frekuensi skor yang bersangkutan
s2      = variansi
S    = simpangan baku
∑x  = jumlah skor secara keseluruhan
∑x2 = jumlah kuadrat setiap skor





 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

H. Jadwal Kegiatan


No.
JENIS KEGIATAN
WAKTU PELAKSANAAN


Januari
Februari
Maret
April


1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

A. Persiapan
















1
Penyusunan
x















2
Seminar Proposal

x














3
Perizinan


x













4
Penyusunan Teknik Penelitian



x













B. Pelaksanaan
















1
Siklus I

















Tindakan 1




x












Tindakan 2





x











Tindakan 3






x









2
Siklus II

















Tindakan 1







x









Tindakan 2








x








Tindakan 3









x






3
Siklus III

















Tindakan 1










x






Tindakan 2











x





Tindakan 3












x




C. Pelaporan
















1
Pengumpulan Data
















2
Pengolahan Data
















3
Analisis Data
















4
Penulisan laporan
















5
Penggandaan Laporan
















6
Penyerahan Laporan
















 

 








I. Daftar Pustaka


Ahmad, D. (1995). Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Hatimah, I. Dkk. (2010). Penelitian Pendidikan. Bandung: UPI PRESS.
Mulya, Z. (2006). Belajar Matematika untuk SD Kelas V. Bandung:  Sarana Panca Karya Nusa.

Noornia, A. dan Yurniwati. (2008). Metode Pembelajaran Matematika 1 dan 2. Jakarta: Azka Press.

Prabawanto, S dan Mujono. (2010). Statistika dan Peluang. Bandung: UPI PRESS.
Purwanto, M. N. (2007). Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung:  Remaja Rosdakarya.

Miptah (2009). Pendekatan Problem Solving dalam Pembelajaran Keliling dan Luas Bangun Datar di Kelas IV Sekolah Dasar. Proposal PGSD UPI Bandung. Tidak dipublikasikan.
.
Saud, Udin S dan Sutarsih, C. (2010). Pengembangan Profesi Guru. Bandung: UPI PRESS.
.
Sudjana, N. (2009). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Suhendra dan Suwarma, Dina M. (2009). Kapita Selekta Matematika. Bandung: UPI PRESS.

Supiadi, Dedi (2010). Pendekatan Konstruktivisme dalam Meningkatkan Pemahaman Siswa pada Pembelajaran  Bangun Ruang di Kelas V Sekolah Dasar. Proposal PGSD UPI Bandung. Tidak dipublikasikan.

Suwaningsih, E dan Tiurlina. (2010). Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI PRESS.

Tim penyusun Kamus Pusat Bahasa. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim Yayasan Pendidikan Haster. (2004). Ikhtisar rumus-rumus Lengkap Matematika untuk SD. Bandung: Pionir Jaya.

Undang, G. (2008). Teknik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Sayagatama.
www.anneahira.com/pengaruh-disiplin-terhadap-prestasi-belajar, ditelusuri pada tanggal 31 Januari 2012.
www.gambar.mitrasites.com/bangun-datar, ditelusuri pada tanggal 31 januari 2012.
www.id.wikibooks.org/wiki/subjek/matematika, ditelusuri pada tanggal 31 Januari 2012.
www.rumusterbaru.blogspot.com/2011/10, ditelusuri pada tanggal 31 Januari 2012.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D