HOME/RUMAH

Jumat, 05 Januari 2018

Lagi-lagi Resolusi!



Oleh Rohyati Sofjan


DI jejaring sosial macam Facebook (FB) yang saya ikuti, menjelang pergantian tahun baru, kata resolusi kian marak dihamburkan kawan-kawan sampai kawan dari kawan-kawan saya.
Begitu membingungkan karena arti resolusi sendiri dalam KBBI Edisi Ketiga: nomina/kata benda putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang diucapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal.
Saya sempat geli, dan menulis status di FB, “Gak ada resolusi adanya niatan diri. Mau menuntut siapa? Hasil musyawarah dengan siapa.”  
Ternyata hal itu ditanggapi beberapa kawan. Ada yang berpendapat resolusi bermakna re dan solusi. (Maksudnya, jalan keluar  ulang?)
Ada juga kawan lain yang  bilang, “Kalau mengacu pada morfologi, kata re dan solusi mungkin maknanya jadi lain. Ketika menjadi istilah mengenai kebulatan tekad atas rencana pencapaian sesuatu, padanan kata yang tepat apa, ya? Maklum bahasa kita sendiri masih tambal sulam dan kurang kosakata yang mewakili.”
Saya tidak sependapat, benarkah bahasa Indonesia miskin kosakata dan tambal sulam, atau pelaku kebahasaannyalah yang demikian? Kawan saya menjawab, “Bisa jadi demikian. Penggunaan kata serapan lebih banyak digunakan karena dirasa mewakili makna sebenarnnya dari unsur serapan tersebut. Selain karena unsur lebih umum diucapkan. Ya, sebagai bahasa yang strukturnya menganut bahasa fleksibel, mungkin ada keterkaitan atau apalah.”
Resolusi menjadi bahasa kita yang fleksibel? Apakah berarti kelak lema resolusi akan masuk ke dalam KBBI dengan arti lain, sebagai kata serapan yang ditambahi maknanya? Karena kekerapan penggunaannya dalam masyarakat luas. Terutama menjelang pergantian tahun.
Padahal resolusi sendiri, yang berasal dari resolution, bisa bermakna mengenai ketajaman gambar dalam layar televisi dan komputer atau kamera. Mungkinkah KBBI harus mengalah pada kata musiman itu untuk dimasukkan ke dalam edisi selanjutnya?
Suatu kata yang mulai kerap digunakan oleh masyarakat luas, mau tak mau harus dimasukkan ke dalam kata serapan, padahal masih banyak kata lain yang searti atau lebih patut untuk mewakili resolusi. Namun masyarakat luas yang didominasi kalangan terpelajar dan tinggal di perkotaan (dan bergiat di jejaring sosial), mungkinkah merasa lebih mentereng menyandang resolusi sebagai bagian dari revolusi berbahasanya?
Tidakkah menengok masyarakat di desa yang sebenarnya tak paham apa arti resolusi namun malah ikut-ikutan agar gaul atau gaya. Betapa ironisnya mental berbahasa dan berbangsa kita. Diam-diam menerima penjajahan istilah dengan sukacita. Meminggirkan bahasa Indonesia yang kaya kosakata.
Ivan Lanin dalam diskusinya yang lain berbagi tautan tentang arti resolusi, “Salah satu makna resolution (Ing): a statement of intent, a vow. Sepertinya makna resolusi pada KBBI perlu ditambah.”
Eko Endarmoko menambahi dengan komentar,  dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (edisi revisi): 1 mosi (politik), rekomendasi, usul; 2 determinasi, iktikad, janji, komitmen, sumpah, tekad; 3 rencana, tujuan.
Ahmad Sahidah menanggapi, “Di Malaysia, azam acapkali diucapkan dan dituliskan.”
KBBI juga memuat arti azam dengan dua arti. Pertama, untuk bahasa klasik yang artinya teramat mulia. Kedua, bahasa Minangkabau untuk nomina (kata benda) dari tujuan, cita-cita; maksud.
Jika orang Malaysia cukup ber-azam, mewakili diri tanpa harus merasa terjajahi dalam keminderan berbahasa. Mengapa kita harus repot-repot dengan resolusi? Apakah memang bukti diri diam-diam atau terang-terangan “bahagia” terjajahi?***
Cipeujeuh, 3 Januari 2014  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D