HOME/RUMAH

Rabu, 10 Januari 2018

Kemarau Tama



Cerpen Rohyati Sofjan

“ISTRIMU cantik?”
Tama tertegun Kang Hendar mendadak ajukan pertanyaan tak terduga begitu memergokinya senyam-senyum sendiri kala membaca SMS kiriman Kana sang istri. Malam itu mereka mengaso seusai kerja, melepas lelah sehabis makan diselingi kopi dan rokok murahan.
Udara Kota Tangerang terasa menggerahkan meski malam sebab mereka harus tinggal di bedeng sempit berdesakan dengan dua bohlam 5 watt yang berpendar suram. Empat puluh lelaki perantauan, mengerjakan dua proyek bangunan, asal kampung yang mengadu nasib agar lebih baik di kota besar, meski yang didapat dan dibisa hanya buruh kasar proyek bangunan perumahan dengan gaji pas-pasan.
“Tentu saja cantik,” Mang Alam tetangga Tama menyahut, “dari keluarga baik-baik. Pintar tuh cari istri. Sudah pintar, cantik lagi.” Mang Alam terbahak diiringi derai tawa tak percaya sekian kepala lainnya yang memerhatikan. Membuat Tama hanya bisa tersenyum lebar. Sebagian asyik tiduran atau tidur sungguhan, main HP, mendengarkan musik, menonton TV melamun, sampai bikin diskusi kelompok tersendiri.
Hade lamun kitu,” sambung Kang Hendar dengan nada muram. “Jangan seperti bekas istriku, merasa cantik tapi malah serong dengan lelaki lain.” Kang Hendar duda tiga anak yang masih kecil-kecil. Ditinggal kabur istrinya yang kawin lagi dengan lelaki lain, lelaki yang lebih mapan dan tebal kantungnya.
Istri Kang Hendar sendiri masih berusia 25-an. Tiga anak mereka diasuh ibu Kang Hendar yang sudah tua, padahal si bungsu baru dua tahun. Sudah setahun lamanya, dan Kang Hendar masih skeptis tentang perkawinan sebab boro-boro kawin lagi, ia sendiri pontang-panting cari uang. Hidupnya sudah cukup susah di Pandeglang. Ia hanya petani kecil seperti Tama dan rekan lainnya yang merantau ke kota besar setelah lelah didera susahnya cari nafkah di perdesaan, apalagi kemarau seperti sekarang, ketika sawah dan kebun mendadak gersang karena merupakan tanah tadah hujan.
Tama hanya bisa mengamini. Ia sendiri cukup percaya diri Kana tak akan selingkuh, bukankah mereka saling mencintai? Justru Kanalah yang khawatir kalau Tama tak setia sehingga membuatnya uring-uringan ingin ikut ke Tangerang. Ah, perempuan hamil memang macam-macam.
“Ia sedang hamil, 6 bulan,” cetus Tama begitu saja. Ada nada bahagia, mereka baru menikah 7 bulan lalu dan sebentar lagi ia akan jadi ayah. Melengkapi diri sebagai seorang lelaki.
“Hebat, selamat!” ada derai tawa lagi dari rekan-rekannya.
“Akan tambah enam?” goda Mang Alam, anaknya memang enam. Ia sendiri repot menghidupi keluarga hingga harus minta bantuan Tama agar diajak kerja.
“Repot Mang, KB-lah!” Tama tak bisa membayangkan bahwa ia dan Kana akan beranak banyak, meski Kana ingin punya tiga. Tidak pada saat sekarang, mereka saja masih hidup pas-pasan dan tinggal menumpang di rumah ibu Kana yang menyebalkan sebab suka ikut campur. Ia risau akan sarang bagi mereka. Ia tahu Kana sangat ingin punya rumah, dan jalan untuk itu terasa panjang. Enam anak bagi Tama sama sekali tak terpikirkan.
“Cari istri itu susah,” cetus Kang Hendar. “Apalagi yang mau diajak hidup susah.” Matanya menerawang sambil mengisap bako murahan. Kang Hendar, seperti Tama dan Mang Alam lebih memilih ngabako agar bisa irit. “Perempuan zaman sekarang lebih matre!” simpulnya geram. “Sudah kerja banting tulang masih saja dia tak puas dan main serong.”
Tama diam, tiba-tiba terharu teringat Kana yang mau diajak hidup susah dan pas-pasan.
“Jangan sampai istrimu seperti bekas istriku!” saran Kang Hendar. Menyentakkan pemerhati yang ada, para lelaki yang terpaksa meninggalkan rumah agar bisa menghidupi keluarga dengan pekerjaan halal. Namun mereka memilih tak berkomentar meski memendam banyak pikiran. Ada rasa segan pada Kang Hendar. Lelaki berkepribadian, rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga begitu besar meski usianya masih 35-an.
Ia lelaki lurus dan saleh yang dikenal Tama. Menghabiskan malam untuk tahajud dan tadarus Quran. Dan tadi dalam SMS-nya Kana bilang ia selalu mendoakannya dalam tahajud, menyarankannya pinjam Quran punya Mang Nanang, paman Tama yang jadi mandor proyek, agar tenang. Kana sendiri selalu mengaji Quran. Sesuatu yang membuat Tama sejuk karena tahu bayi mereka akan tenang jika bundanya sedang mengaji.
Bukankah vitamin Q itu baik bagi wanita hamil agar anaknya saleh dan kelahiran berjalan lancar? Itu yang Tama inginkan.
“Ia tak akan selingkuh, kami saling mencintai. Lagi pula, Akang benar soal susahnya cari istri yang mau diajak susah.” Tama melinting tembakau. “Ada banyak perempuan, tapi istri yang salehah dan setia lebih berharga daripada sekadar cantik dan seksi saja.”
“Beruntung kamu!” seru Kang hendar dengan gaya bicara dan gesturnya yang selalu tegas.
“Istri Tama penulis.” Mang Alam memberi tahu tanpa maksud apa-apa. “Penulis apa, Jang?”
“Yah, untuk koranlah. Nulis cerpen dan puisi,” Tama malu dengan pemberitahuan Mang Alam sebab semua pada tertawa.
“Kalau macam-macam bisa ditulis istri untuk dipajang di koran. Gawat!” canda Mas Sutris asal Cilacap.
Ah, bisa saja!” Tama mengibaskan tangan dan mulai merokok. Ia ikut tertawa. Tawa yang selalu membuat Kana selalu terpesona, katanya Tama punya cara tertawa yang menarik, dan dia baru sadar pada malam pertama pernikahan mereka ketika Tama tertawa mendengar para pemuda yang sering nongkrong di warung bakso sebelah gitaran sambil menyanyikan lagu “Malam Pertama” dengan nada sumbang.
“Istrimu punya banyak teman?” seseorang bertanya sekadar menimpali suasana.
“Ya, banyaklah.” Meski Tama tak tahu seberapa banyak teman istrinya. Kana terbuka padanya tentang teman atau siapa saja, tetapi Tama tak bisa membayangkan seberapa banyak teman istrinya. Ia sendiri, karena alasan ekonomi, tak bisa menemani istrinya ke warnet. Ongkos untuk ke kota kecamatan yang berjarak 3 km kurang lebih pulang-perginya 8 ribu sampai 10 ribuan jika ke pasar. Padahal Tama ingin sekali belajar komputer, benda itu sangat asing baginya.
Ia petani biasa yang gagap teknologi. dan HP yang dipegangnya adalah milik Kana, pemberian abang iparnya yang tinggal di Ciamis agar memudahkan komunikasi antarkeluarga. Padahal Kana membutuhkannya juga. Ia telah berjanji  akan membelikan HP agar mereka nudah berkomunikasi. Kana terpaksa nebeng HP tetangga sebelah.
Ia sedih dan kesepian sebab ada saat mana ingin curhat lebih mendalam dengan istrinya, pun istrinya yang bilang selalu tidur dengan baju koko cokelat bekas sekali pakai kala salat Jumat, masih ada aromanya yang lembut. Baju itu masih bersih dan Kana lupa memasukkannya ke dalam tas kala berkemas.
“Hati-hati, loh, jangan sampai ia selingkuh dengan temannya. Apalagi yang lebih kaya dan terpelajar. Itu pengalaman Akang.” Kang Hendar entah mengapa suka sekali membuka topik perselingkuhan, seperti ada ketidakpuasan dalam hidupnya. Harga dirinya sebagai lelaki yang dilukai seolah tak terobati. Kang Hendar sangat mencintai istrinya, namun sang istri berpaling karena masalah ekonomi. Perempuan itu tidak puas dengan apa yang ada sebab dianggap seadanya sementara orang lain lebih makmur dan senang hidupnya. Padahal menurut Tama kehidupan Kang Hendar lebih lumayan darinya. Ia sama sekali tak punya rumah apalagi tanah kebun dan sawah pribadi. Ia hanya punya dirinya sendiri dan cinta pada sang istri.
“Kalaupun terjadi, ya sudah, kamu kawin lagi saja!” seseorang tak bisa menahan diri. Sebagian tertawa karena dianggap guyonan khas kaum lelaki.
“Kawin asal kawin itu gampang,” Kang Hendar agak kesal, di antara gema tawa, “tapi anak selalu jadi korban. Jangan sampai anakmu jadi korban, Jang.”
Tama tak ikut tertawa, ia justru mengkhawatirkan bayi dalam kandungan istrinya. Terakhir ke bidan, ia selalu menemani Kana, bidan memeriksa denyut jantung bayi dengan alat pengukur khusus yang membuat Tama takjub melihat keajaiban yang telah diperbuatnya pada sang istri. Proses alamiah dari menyatunya dua insan dalam lembaga pernikahan. Namun bidan bilang denyut bayi lemah meski sehat. Kana disarankan banyak makan dan jangan membebani diri dengan pikiran.
Itu membuat Tama risau sebab mereka dihantam banyak masalah yang berkaitan dengan orang lain dalam keluarga sampai keuangan. Kana sendiri lebih labil dan emosional sejak hamil. Ia perempuan dinamis dan harus pasif demi keselamatan bayi. Tidak mungkin lagi baginya untuk membantu suami cari nafkah dengan jalan menulis sebab jalan desa rusak parah dan guncangannya tak baik  bagi wanita hamil.
Sepelan apa pun ojek yang ditumpanginya, selalu akan ada guncangan. Kandungan Kana sempat turun sampai harus diurut paraji. Dan kala bercinta, Tama harus ekstra hati-hati jangan sampai melukai serviks. Ia tak ingin bayi celaka atau istrinya mengalami pendarahan hebat dalam persalinan kelak.
Karena itu ia mengkhawatirkan istri dan bayi. Sudah terlalu sering istrinya menelan kesedihan dan menumpahkan tangis di pelukannya, ditambah lagi kini mereka harus berpisah agar ia bisa cari nafkah.
Mereka akan membutuhkan banyak bekal untuk persalinan dan peralatan bayi. Anak pertama yang dinantikan dengan harap-harap cemas. Dan di Tangerang sini ia optimis  bisa cari nafkah demi menghidupi keluarga kecilnya. Mang Nanang menjanjikan 5 proyek yang harus diurusnya. Kemarau ini adalah kemaraunya. Tak ada pekerjaan untuk jadi buruh tani yang upahnya hanya 12.500 sudah termasuk makan, atau 15.000 tanpa makan. Itu upah standar.
Kana tidak menuntut macam-macam, tetapi ia tahu sejak hamil pengeluaran mereka lebih besar untuk ke bidan dan beli susu khusus ibu hamil.
Ia merasa bersalah tak bisa membelikan sesuatu yang sangat dibutuhkan istrinya demi mobilitas kerja: komputer. Ia pernah menjanjikan jika uang dari Lampung hasil penjualan tanah Nenek dan tanahnya sudah dikirim Muslihat yang diamanati untuk mengurusnya, cair, maka ia akan dapat bagian dan membelikan komputer bekas agar Kana tak perlu repot jauh-jauh ke rental dan warnet.
Akan tetapi, Muslihat berkhianat. Uang itu malah dipakai beli motor, foya-foya, dan hal lainnya. Ia kenal karakter abang tirinya. Namun Nenek tak bisa berbuat banyak lagi. Padahal mereka membutuhkannya untuk memasang listrik, membuat sumur dan kamar mandi, sampai membeli sawah atau kebun lagi. Rumah Nenek yang sekampung dengan istri tak dilengkapi sarana memadai.
Ia tak peduli. Sudah lelah dan kecewa pada Nenek yang tak mau mendengarkan sarannya agar jangan memercayakan soal uang penjualan tanah pada Muslihat, sang cucu kesayangan.
Ia enggan berurusan lagi dengan Muslihat. Pada Kana ia pernah mengadu, semua uang 300 ribu hasil kerja kerasnya pernah diminta Nenek untuk bayar utang.
“Utang apa?” Tanya Kana heran.
“Utang makan dan keperluan sehari-hari.”
“Itu besar sekali, memangnya buat siapa saja?”
“Buat ibuku dan Muslihat.” Ia selalu menyebut neneknya dengan ibu pada Kana.
“Apa Muslihat kerja?”
“Tidak,” gelengnya geram. Mengingat masa silam di Lampung ketika ia kerja banting tulang dari pagi sampai petang, dan upah yang diterimanya harus diserahkan semua sebab kalau tidak akan dianggap durhaka. Sampai sekarang ia lebih kurus daripada Muslihat yang gempal. Nenek muriang dan menyuruh Muslihat datang.    
Ia mengisap tembakau dalam diam. Percakapan sekitar tak menariknya lagi. Ia hanya asal mendengarkan dan tak berkomentar.
Sekarang ia kerja demi sesuatu, tujuan yang lebih berarti daripada di masa lalu. Apa makna menjadi lelaki sejati? Bukan semata ditentukan oleh ukuran fisik maupun materi. Ada tanggung jawab besar di baliknya. Ialah Qowwam itu, sang pemimpin, yang harus tetap tegar dihantam badai. Dan melindungi keluarga agar bisa mengatasi badai bersama.
Ya, meski ia hanya seorang buruh bangunan berpendidikan sampai SMP saja karena ketiadaan biaya dan situasi. Ya, meski upahnya hanya 50 ribu per hari. Namun pada Kana ia terpaksa bilang cuma 40 ribu sebab diam-diam ingin memberi juga pada Nenek yang telah 29 tahun mengurusnya sebagai anak yatim-piatu sejak bayi. Ia hanya khawatir istrinya akan marah. Istrinya pernah terlibat konflik serius dengan Nenek. Istrinya tak suka diperlakukan buruk sebagai menantu yang masih dianggap orang lain, sehingga memilih menyingkir dari rumah itu untuk tinggal di rumah ibunya.
Ia sedih, begitu banyak kenangan bersama istrinya. Mereka pernah bahagia di sana. Selalu bersama. Berdagang kecil-kecilan di warung yang pada akhirnya diambil alih Nenek.
Ia melihat Kang Hendar yang sibuk mengorek kenangan tentang perkawinan gagal, membaginya pada sekian orang yang terpaksa tinggal berdesakan. Lelaki itu tampak seperti lemah dan penuh penyesalan.
Ia tak menyesali kehidupan. Ia kasihan pada Kang Hendar dan anak-anaknya yang masih kecil yang sering menanyakan ibu mereka yang tak peduli lagi. Namun ia takut suatu saat Kana akan menyesal jika kehidupan mereka tak diubahnya agar lebih baik. Ia hanya bisa minta istrinya bersabar. Ia selalu sabar pada istrinya yang mulai tak sabaran, barangkali karena pengaruh kehamilan. Barangkali saja badai itu akan usai. Barangkali dengan waktu dan kesabaran ia bisa membangun sarang agar mereka tenteram.
Tanpa kata ia keluar. Mengisap tembakau dan melihat bintang-bintang. Malam begitu tenang. Sedang apa istrinya sekarang? Ia merindukannya. Tubuh dan jiwanya. Tahi lalat kecil di atas payudara kirinya begitu menggemaskan, sampai perutnya yang membuncit itu terasa lucu. Merindukan saat-saat tidur telanjang berdekapan dan berbagi kehangatan.
Malam-malam terasa dingin dan hampa tanpanya. Namun ia tak ingin cengeng lagi. Nun di sana, di langit malam yang sama meski entah kilometer jaraknya, seseorang merindukan dan mengkhawatirkannya juga. Seseorang yang ingin menghabiskan sisa usia bersama.
Besok jika gajian ia akan transfer uang ke rekening istrinya. Hasil jerih payahnya setelah 3 minggu berpisah demi cari nafkah. Istrinya membutuhkan untuk ke bidan dan makan. Ada kebanggaan menyeruak, ia bisa berbuat sesuatu untuk seseorang yang telah membuat hidupnya lebih kaya warna. Mengisi harapan dan impiannya agar tak berputus asa. Meski ada getir menusuk sebab ia harus absen menemani istrinya ke bidan. Mengetahui setiap momen yang terjadi pada bakal kehidupan mereka: keturunan yang dinantikan.***
Cipeujeuh, 21 Juni 2009      




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D