Kamis, 18 Januari 2018

Kamu Harus Mati, Zan!




Ia melihat dirinya di televisi: Ryan Sang Penjagal! Namun ia bukan Ryan, hanya seorang penonton yang menikmati acara demikian ibarat hiburan. Ia sama sekali tak merasa jijik, benci, marah, heran, dendam, maupun simpati. Biasa saja. Toh, itu “dirinya”, untuk apa berperasaan macam orang awam: para pemirsa kasus Ryan?!

Cerpen Rohyati Sofjan


KADANG ia riang membayangkan dirinyalah yang ada di sana menggantikan Ryan. Ia bisa lebih cerdas menghadapi interogasi pihak kepolisian sampai psikiater sok analitis. Ia bisa mempermainkan mereka. Termasuk mempermainkan media dan pemirsa.
Ia bisa licin berkelit dari tekanan sampai aneka taktik kepolisian yang menjebakkan. Sebaliknya, ia akan memecundangi dan memutusasakan mereka sehingga tak tahu lagi siapa yang gila sungguhan. Juga tak perlu sok sentimental mengucurkan air mata bahkan ciuman (diam-diam) kala dipertemukan dengan sang kekasih silam. Ia juga tak akan berterus terang soal berapa mayat yang telah ditimbunnya di berbagai penjuru. Dan terakhir, ia tak akan mengaku bersalah apalagi mencoba bunuh diri: itu dungu!
Ia Hannibal Lecter versi baru, Hannibal yang tak kanibal. Namun yang jelas ia suka membunuh orang dengan alasan masuk akal. Jika Hannibal membunuh para penjahat tak berguna, penjahat tak tersentuh hukum dan menjadikan daging mereka sebagai bahan masakan sesuai kitab kuliner “larangan” kaum kanibal. Lalu ikut menyajikannya pada para tamu “kehormatan” dalam suatu jamuan makan malam yang sangat sopan, sampai mereka tak sadar telah menikmati daging kawan sendiri yang secara misterius menghilang. Namun untuk mengolah daging korban hasil pembunuhan biasa maupun mutilasinya, ia enggan. Ia tak menghormati daging mereka. Lagi pula, ia vegetarian yang hanya makan daging putih macam ikan dan ayam.
Ia justru kagum pada Hannibal, begitu bersih dan rapi menghilangkan jejak: meniadakan mayat dengan cara disantap. Karena itulah ia berguru soal teori dan praktik pembunuhan; dari buku-buku, film, sampai internet. Membunuh adalah semacam ritual, sebagaimana orang beribadah pada Tuhan.
Sedang Ryan, ha, lelaki itu cuma bikin repot saja. Merepotkan diri sendiri, keluarganya, keluarga korban, pihak kepolisian, psikiater, media, sampai penyimak berita dadakan. Tak lihai menyembunyikan jejak. Bukan penjahat sejati, sekadar penjahat selebritas. Baginya penjahat sejati, siapa pun dia, mestinya bisa lihai memainkan peran kejahatannya bukan sebagai kejahatan, kejahatan itu harus invisible.
Maka ia membaur dalam kehidupan sebagai seseorang yang tak tampak. Tak mencolok perhatian namun ahli menjerat korban. Ia tak menganggap tindakannya sebagai semacam kriminal, tetapi pembersihan kaum bajingan. Lagi pula, ia tak berorientasi pada materi kala membunuhi korbannya, bajingannya.
Ia sudah sangat mapan. Seorang MBA universitas ternama di Amerika. Pernah menyambi kuliah sastra, sejarah, filsafat, dan psikologi. Sampai memutuskan meraih gelar doktoralnya di bidang psikologi komunikasi pada universitas berbeda, masih di Amerika. Lalu menerima tawaran di perusahaan retail ternama setelah entah berapa kali berpindah tempat kerja dengan alasan bosan dan cari pengalaman, selain mengincar peluang lebih menjanjikan secara finansial dan kedudukan.
Ia seorang yuppie, young urban proffesional. Muda, lajang, tampan, sekaligus sopan. Berpenampilan khas kaum metroseksual. Digilai banyak perempuan meski sebenarnya lebih tergetar pada kaum adam. Keluarganya memiliki status sosial cukup terpandang dengan latar belakang mirip Ryan.
Waktu kecil ia pernah belajar di pesantren. Mengaji kitab kuning salafi sampai belajar bahasa Arab dan Inggris. Ia cerdas dan cepat menyerap. Menjadi apa yang diinginkan orang dalam kehidupan; sukses sekaligus mapan. Ya, ialah Mizan, timbangan atau kesetimbangan. Abdul Khaliq Mizan. Sayang ia telah lama kehilangan iman cara norma-normal.
Sebagaimana Hannibal yang ternyata gay. Mizan kecil mengenal pengalaman seksnya dengan kawan sepesantren. Terbiasa  melihat mereka telanjang kala mandi bareng membuat orientasinya kacau. Dari balik tembok pesantren yang tampak megah dan agung, diam-diam ia telah melakukan pelanggaran berat dengan seorang kawan dekat: liwath!
Pelanggaran  ala kaum Nabi Luth yang pelakunya layak dihukum rajam.
Mereka tidak ketahuan. Ia telah belajar lihai sejak dini sebab risikonya besar. Apalagi kedua orang tuanya luar biasa otoriter, terutama ayahnya, sosok tak terbantahkan yang bisa garang. Dan kala dewasa, di perpustakaan kota, ia tertawa membaca artikel suatu majalah bulanan lawas yang mengupas fenomena gay di kalangan remaja. Ia melihat dirinya, pergaulan yang kebablasan. Ya, ia telah menyalahgunakan bentuk persaudaraan tanpa batasan: aneka rambu yang ia langgar. Dan ia tak menyesal. Bagaimanapun, secara defensif ia butuh penyaluran. Namun ia tak bercita-cita menjadi perempuan, apalagi berperilaku kebanci-bancian. Ia Mizan, gagah dan jantan. Persetan perkawinan!
Kapan pertama kali ia membunuh orang? Dalam kenangannya hanya semacam pembelaan diri. Ia remaja nyaris dibunuh lawan mainnya, sesama gay yang lebih dewasa dan ternyata psikopat sadis. Pembunuhan itu pun hanya kecelakaan, ia tak sengaja, dalam suatu usaha pembelaan diri yang luar biasa gigih dari siksaan, menghantam kepala sang psikopat yang cemburu berat dengan pajangan perunggu. Untuk pertama kali, darah orang lain menciprati wajah dan tubuh telanjangnya. Untuk pertama kali, ia mengenal hampa tak berujung dan iman yang hilang ujung.
Keputusan pun diambil. Ia harus melenyapkan mayat dan tak berjejak, dengan mutilasi. Juga melenyapkan bukti bahwa mereka pernah menjadi substansi.
Lalu ia tiba pada episode demi episode ganjil. Keinginan untuk membunuh bajingan sama besarnya dengan hasrat untuk bersetubuh. Tiada keindahan dari suatu percintaan jika kau berhasil menghabisi lawanmu yang ternyata bajingan besar, lalu mencincangnya agar menjadi nutrisi bagi hewan pengurai tanah yang menyuburkan.
Kadang juga ia melakukan pembunuhan terencana, mengajak korbannya ke suatu tempat jauh dari keramaian dunia untuk dibantai hingga tak berjejak. Ia bisa membuang mereka ke rawa penuh buaya, hutan rimba, jurang curam, sungai deras, hingga laut dalam, atau cukup dipendam di lokasi terpencil. Jika tak memungkinkan, cukup bunuh mereka tanpa memutilasinya dan tinggalkan di lokasi atau lokasi lain.
Ajaibnya ia tak pernah ketahuan. Bukan berarti benar-benar tak pernah sebab ada suatu masa ia nyaris jadi tersangka. Kemampuan bersandiwara dan memanipulasi psikologi manusialah yang membuatnya lolos tanpa cela. Dan ia tetap dianggap bagian dari strata sosial terhormat. Lelaki yang tak suka pesta atau gaya hidup hura-hura. Mengaku enggan segera menikah karena trauma pernah dikhianati kekasihnya yang tak setia.
Kekasih? Hanya semacam metafora tersembunyi. Sesungguhnya ia tak pernah mencintai perempuan meski sesekali pergi kencan sebagai penyamaran. Lalu merekayasa agar mereka bubar dengan sendirinya karena ketidakcocokan. Namun ia tak pernah sekalipun berlaku tak terhormat apalagi berperan sebagai pengkhianat. Ia sengaja kencan dengan perempuan-perempuan dari jenis yang tak suka komitmen. Jumlah mereka saja sudah cukup banyak bertebaran.
Secantik dan semolek apa pun perempuan, ia tetap merasa hambar. Hanya lelakilah yang sanggup menggetarkan, sekaligus menggentarkan. Terutama jika seusai bersetubuh ia melakukan pembunuhan! Ada kekuasaan mutlak tak terbantahkan. Kekuasaan lewat tangan yang digerakkan akal. Barangkali ia Tuhan? Tuhan dalam versi lain. Toh, dunia sudah dipenuhi banyak tuhan kecil. Lagi pula, ia benci jika menghamba pada orang lain.
Keluarga, ia menghindar dari mereka, terutama kedua orang tuanya yang sudah sangat tua. Ia bersyukur orang tuanya telah tua, ia tak peduli jika itu dianggap durhaka. Ia memberi mereka cukup banyak uang agar sejahtera dan mapan, namun ia selalu beralasan agar tak usah menghadiri pertemuan keluarga besar.
Kadang-kadang ia datang di acara perkawinan atau selamatan apa saja dari salah seorang keluarga sampai kerabatnya, itu jika mereka mendesak dan ia tak bisa menghindar. Namun lebih sering memberi kesan terlalu ditelan ritme pekerjaan, dan dengan sopan menampik undangan, kalau bisa diwakilkan. Ia anak bungsu, kakaknya 3 lelaki, 4 perempuan.
Sesibuk apakah ia?
Pada umumnya kaum yuppie amat sibuk namun bukan berarti tak punya waktu luang untuk melakukan hal menyenangkan. Kencan, menonton, atau pergi makan adalah sekian kecil kesenangan yang disajikan dunia. Terlalu banyak pilihan kesenangan bagi pengisi saat senggang. Dari belanja sampai membaca. Dari bepergian ke berbagai tempat atau cukup diam di tempat.
Dan ia tahu puncak kesenangan apa yang merupakan pilihan utama: bunuh (kata sifat), membunuh (kata kerja aktif), pembunuhan (kata kerja proses), atau malah di-bu-nuh (kata kerja pasif, selaku korban bukan pemeran). Dan ia benci opsi terakhir!
Ia mematikan televisi seolah mematikan kehidupan. Sesungguhnya ia tak tahu lagi apakah akan terus melakukan pembunuhan. Di dunia ini terlalu banyak kaum bajingan, begitu melelahkan dan memakan waktu untuk membersihkan mereka.
Seandainya Hannibal Lecter ada, ia sungguh ingin berbincang dengannya. Berguru lebih banyak secara nyata. Namun apa, sih, arti nyata jika ia merasa hidup yang dijalaninya hanya mimpi. Mimpi dalam jaga. Sedang mimpi dalan tidurnya penuh peristiwa ngeri, para korban gentayangan untuk menghantui. Apakah itu merupakan perwujudan rasa bersalah dari alam bawah sadar?
Persetan! Ia membatin gusar. Apakah para korbannya pun memiliki rasa bersalah jika mereka tak lebih dari bajingan? Bajingan dalam banyak hal yang tak bisa dibenarkan.
Ada suami yang menipu istri dalam perkawinan semu. Ada kriminal biasa sampai berdasi yang tak tersentuh hukum. Ada penipu ulung. Ada pedofil yang lihai mengincar anak kecil dan merusakkan masa depan mereka. Ada brondong yang pemalas dan mau enaknya saja. Dan masih ada banyak lagi tingkatan yang lebih parah dari itu. Tingkatan yang lebih menggairahkan untuk menjadi Hannibal.
Hannibal yang sadis dan tak kenal takut kala mewujudkan niatnya, niat untuk bertahan hidup sekaligus mencabut hidup. Hannibal adalah MAUT!
Ia  letih luar biasa. Tiba-tiba merasa muak pada dirinya. Sebenarnya untuk apa ia ada? Sebagai pembersih atau cuma seseorang yang harus dibersihkan? Ia menunggu seseorang ganti membunuhnya, namun ia lebih kuat dan lihai dari para korbannya. Ada gairah untuk bertahan hidup. Hanya pecundang yang menyerah pada rasa takut.
Ia ingin bertanya pada Hannibal, apakah memiliki rasa cinta? Pernahkah Hannibal jatuh cinta dan sungguh-sungguh mencintai seseorang, korbannya atau bukan? Namun di sini tak ada Hannibal yang bisa ia ajak bercakap banyak hal. Ia hanya bisa bercakap dengan dirinya sendiri. Dan ia kesepian di dunia yang ingar ini.
Cinta? Apa, sih, artinya? Ia pernah begitu mencintai kawan masa kecilnya di pesantren dulu, kawan yang sama-sama untuk pertama kali melakukan liwath dengan sukarela. Namun kawan itu telah mengkhianatinya. Setelah remaja, sekeluar dari pesantren tak pernah menghubunginya lagi. Dan kala dewasa terungkap bahwa kawannya telah memilih hidup normal dengan menikahi perempuan.
Ia tak bisa mengusik hidupnya. Sebab begitu bertemu, sang kawan hanya berkata tak bisa hidup dengan jalan macam itu lagi, ingin kembali pada fitrahnya sebagai lelaki. Mengajak bertobat selaku “orang suci”. Dan ia muak sekali. Merasa tersingkir dan harus menyingkir. Jadi ia pergi dan bertualang mencari cinta sejati. Namun para korbannya terlalu kotor untuk dicintai.
Ia ingin bisa mencintai. Lelaki. Lelaki yang bisa memberinya cinta murni pula. Ia hanya tak beruntung. Ada yang memanipulasi sampai mengekangnya. Ia tak ingin kedua hal itu.
Cinta baginya adalah kebebasan untuk melakukan banyak hal tanpa kungkungan. Dan manipulatif bukanlah sifat yang ia cari dari subjek cintanya. Manipulatif adalah dirinya selaku pemeran. Tak boleh ada yang memanfaatkannya! Kalau bisa, dalam mencintai ia tetap melaksanakan “tugasnya” sebagai Sang Pembersih yang rapi menyembunyikan jejak kejahatan.
Di luar sana, adakah lelaki idaman? Tempat berbagi hidup sampai ajal memisahkan? Seseorang yang tak perlu ia jadikan korban? Terlalu menyakitkan jika kau harus membunuh orang yang kau cintai karena telah membuat kesalahan. Dan ia pernah lakukan itu. Melakukannya pada seseorang yang ia sangka pilihan.
Ia limbung. Lelaki itu tak dimutilasinya. Ia terlalu mencintainya. Akan tetapi, lelaki itu telah memergoki kejahatannya dan tak ada pilihan baginya selain dimatikan. Mereka berkelahi habis-habisan, dengan ledakan amarah, cinta, benci, dan penyesalan. Ialah yang menang sebab lebih kuat dan berpengalaman dalam perkelahian. Lelaki itu tumbang. Namun sebelum sakaratul sempat melontarkan kutukan, “Kamu harus mati, Zan!”
Dan sampai sekarang kutukan itu terus membayang. Ia ingin mati namun tak kunjung mati juga. Barangkali belum saatnya. Barangkali ia masih harus bertualang mencari korbannya, juga cinta yang hilang entah ke mana.***
Cipeujeuh, 3 September 2009, sehari setelah gempa yang berpusat di Tasikmalaya; saya dan bayi dalam perut baik-baik saja, sebab mengapa di rumah panggung hanya terasa seperti ada truk besar lewat menderu saat orang lain merasakan guncangan dahsyat?
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D