Selasa, 23 Januari 2018

Enigma




Tanah harapan,  seusai Zuhur menanti Asar. Jumat, 11 November 2005. Seorang perempuan duduk di kebun sendirian dalam naungan pohon-pohon pisang, dengan hamparan tikar koran dan makanan sisa lebaran. Ia menganggapnya semacam piknik yang unik.
KAMU akan mengatakan aku pecundang? Aku berpikir mestinya sejak Mei lalu  memutuskan pindah ke sini, sekeluar dari toko peralatan listrik dan komponen elektronik yang selama tiga tahun kulakoni sebagai buruh kecil. Namun sesuatu yang bernama optimisme bodoh menahanku untuk tetap tinggal di kota kita, Bandung. Dan pada akhirnya aku harus terpuruk di kota ini, Limbangan Garut. Tempat yang statis dan tak cocok bagi jiwa dinamis pencinta mobilitas.
Aku tak punya uang, simpananku di bank terkuras cukup besar dan saldo tabunganku cuma menyisakan batas minimum agar rekeningku tetap ada. Uangku habis untuk hal-hal dungu. Termasuk beberapa gaji terakhir untuk memperpanjang sewa rumah kontrakan. Sempat terselamatkan honor tulisan, namun itu pun habis untuk segala aktivitas kelangsungan hidup. Betapa menyebalkan.
Kini aku terjebak di sini, kamu tetap di sana dan barangkali bertanya aku sedang apa atau malah berdoa agar baik-baik saja. Aku tahu kamu akan mendoakanku ketimbang tertawa. Sesuatu di antara kita mencegahmu mengecam tindakanku, hal yang paling bodoh sekalipun, seolah kamu yakin aku akan bisa belajar dari kesalahan dan menjadikannya sebagai pedoman bagi masa depan. Namun kamu juga tak tinggal diam untuk mengingatkan.
Apa karena itu aku tambah mencintaimu dengan kadar rasa hormat  yang semestinya.
Ah, kamu tawadu, menolak pujian terdalam  yang tulus kusampaikan sebab kamu takut akan jatuh dalam jurang kesombongan. Sesuatu yang sama sekali tak pernah kuperkirakan. Darimu aku bisa belajar akan makna teladan.
Semakin mengenalmu, selama 5 tahun ini, semakin kerdil rasanya aku bagimu. Kematangan yang kamu miliki tak pernah kuperoleh dari lelaki lain. Termasuk lelaki yang sedang atau pernah dekat denganku. Dan aku memilikimu dengan cara tersendiri. Cara ganjil yang kadang tak kupahami.
Namun apakah kamu mengecapku sebagai pecundang karena aku ceroboh menata rencana masa depan?
Aku selalu terbuka padamu, semacam transparansi pribadi dalam menjalin relasi antarinsan berlandaskan persahabatan dan kepercayaan. Jujur bercerita apa saja, termasuk masalah pribadi, pekerjaan, finansial, selain diskusi tentang bahasa dan sastra. Sebab bagiku kamu sahabat sekaligus guru tempat bertanya dan mengadu. Akan tetapi, layakkah aku berbagi kisah ini? Kisah seorang perempuan yang selalu gamang pada banyak hal, termasuk menentukan tempat tinggal.
Kini aku tinggal di sudut kampung suatu lereng gunung, sekira tiga kilometer kurang lebih jauhnya dari kota kecamatan. Sinyal telefon bisa masuk, termasuk telefon selular. Namun tak ada warnet apalagi toko buku. Itu dua hal menyedihkan bagiku, tak bisa berkomunikasi dengan dunia luar, termasuk denganmu. Aku cukup kesepian, entah apakah kamu kehilangan. Ongkos transportasi kian mahal.
Namun kamu tahu, aku selalu sombong, berusaha keras menjadikan hal negatif sebagai energi positif, setidaknya dari segi perspektif. Masih ada hal baik. Setidaknya kamu akan bilang jika tahu aku punya tanah untuk rumah masa depan. Di lokasi agak terpencil dari rumah tetangga namun memiliki sudut panorama yang menakjubkan: arah Utara menghadap bentang pegunungan dan lembah-lembah dan hamparan sawah dan langit luas.
Bukankah kita mencintai alam? Terutama kamu “bukan sekadar Tarzan hutan”, seperti yang pernah kubaca dalam tulisanmu di sebuah situs pencinta alam. Dan sempat tersenyum heran kala tahu kamu juga nongkrong dalam ruang komentar situs pemerintah kotaku; www.garut.go.id.
  Aku memiliki harapan, pijar yang semoga tak padam, setidaknya ada kamu yang melihat dari kejauhan dengan tatapan menguatkan. Namun diam-diam aku takut gagal dan kamu mengecamku pecundang.
Aku mencintai kota ini juga kota kita, namun itu tidak cukup membuahkan keyakinan bahwa aku akan bisa membangun rumah impian dalam waktu sekejap dengan hasil jerih payahku sendiri. Bisa saja aku menyerah, kawin dengan sembarang lelaki yang disodorkan ibuku, lelaki yang tak paham duniaku apalagi dunia menulis yang kita geluti. Lalu belajar melupakan segala mimpi, termasuk pernah mengenalmu, kemudian menjalani kehidupan tak terencanakan yang jauh tak terpahamkan karena tercerabut dari akar.
Semoga tidak demikian sebab perempuan sepertiku termasuk sulit dapat jodoh karena invalid dari segi pendengaran dan terbiasa dengan penolakan dari orang-orang yang mengaku dirinya “normal”.
Perempuan itu diam. Matanya silau menembus bentang pegunungan arah Utara dengan sendu. Sinar matahari masih garang menyiram siang, namun angin yang kadang berembus cukup kencang di sela pepohonan terasa mengusir gerah. Beberapa burung sesekali berhamburan. Tak ada elang hitam terbang berputar-putar seperti yang dilihatnya kemarin.
Tanahku ini, atau tanah ibuku dari hasil warisan, cuma sebelas tombak. Tak terlalu luas untuk standar kehidupan perdesaan. Aku tak bisa membangun kolam ikan semacam balong atau empang luas, tempat di mana suatu saat mungkin kamu bisa mampir, beserta keluarga dan kawan-kawan, untuk memancing sambil menafakuri alam. Memenuhi rongga paru-parumu yang digeber asap nikotin rokok kesukaanmu plus polusi dengan udara segar pegunungan.
Barangkali akan kugunakan separuh dari tanah ini untuk membangun rumah panggung tropis sederhana khas bumi pasundan bertingkat tiga.
Tingkat paling atas semacam loteng untuk ruang kerja dan perpustakaan pribadi. Tingkat dua untuk kamar. Tingkat satu untuk ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan gudang.
Sengaja kugunakan tanah separuh saja agar bisa menyisakan pekarangan cukup luas untuk menjemur padi, kayu bakar, sampai makanan macam rangginang. Bahkan masih ada kandang untuk bebek dan ayam. Juga kolam teratai kecil dengan sedikit ikan mas atau mujair di antara kebun apotek hidup agar aku tak kelimpungan mencari bumbu dapur di warung, dan beberapa pohon buah-buahan.
Oktober kemarin telah kutanam beberapa biji buah mangga dan limus karena tak sanggup beli bibit unggulnya. Semoga dalam jangka 6-8 tahun aku bisa jadi “juragan” buah-buahan. Sudah ada pohon petai, nangka, pisang, rambutan, dan entah apa lagi. Masih ingin kutanam jeruk garut dan buah-buahan lainnya kelak.
Perempuan itu tersenyum. Lalu senyumnya hilang dibilas muram.
Itu mimpiku, ironisnya aku tak punya uang. Berbagai upayaku untuk memperjuangkan tulisan sebagai sumber penghasilan masih gagal, dan ibuku marah-marah hingga kami kerap bertengkar.
Kalau sudah demikian, aku menyesal mengapa tidak dari dulu berpikir akan kembali ke kota ini, mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya demi rumah impian sebelum meninggalkan pekerjaan yang menyesakkan dan mempersetankan sekian orang yang berebut peran.
Namun kamu tahu, kakiku terikat di kota kita dan aku sedang sibuk dengan proyek calon qowwam, juga perkawanan. Kupikir aku akan menikah dengan seorang lelaki yang pernah mengajakku taaruf pada malam milad ke 29-ku.
Lelaki yang tak sekota dengan kita, namun sama-sama mencintai dunia menulis, juga cukup apik dalam berbahasa. Lalu mengepakkan sayap meninggalkan kota kita, kota ini, termasuk ibuku.
Namun semua berantakan dan menyisakan kepingan luka tak semestinya. Barangkali ia tak sungguh-sungguh menginginkanku. Barangkali keraguanmu ada benarnya juga. Ia “pacar” kedua (dan pertama secara maya) sesudah pacar pertamaku secara nyata nun 1 SMU yang cuma jalan 4 bulan saja.
Dan aku tak meyakini dunia maya lagi. Apalagi pacaran!
Perempuan itu mengembuskan nafas. Berat.
Entah kutukan atau apa, aku harus meninggalkan kota kita dan kembali pada kota ini setelah tiga tahun tak pulang, termasuk kembali memperuncing pertengkaran dengan ibuku soal jodoh dan uang.
Barangkali kamu akan menasihatiku agar bersabar, mengambil perumpamaan lain untuk menguatkan. Namun aku malu karena ternyata pecundang.       
Hidup memang penuh pasang surut, terkadang enigmatik; sebagaimana kerut di wajah kita yang melukis jejak usia. Apakah kamu merasa tua?
Ibuku sudah tua, sekira 57 tahun. Abangku cuma satu dan sudah berkeluarga, usianya 7 tahun di atasku. Aku anak perempuan satu-satunya. Usiaku baru kepala tiga, dan kamu sudah kepala empat.
Betapa ironisnya kehidupan. Kulihat anak-anak tumbuh besar, dan orang dewasa yang kukenal mulai beruban. Apakah rambutmu pun beruban?
Sepuluh tahun mendatang aku takut akan tetap melajang dan tak utuh sebagai perempuan. Lalu ibuku menghabiskan sisa hidupnya dengan pertengkaran dan penyesalan. Lalu kamu menganggapku sebagai murid yang gagal, setidaknya dalam urusan percintaan -- itu jika aku masih bertahan dalam dunia menulis sebagai mata pencaharian.
Namun apakah kelak aku akan sebijak dan sematang kamu?
Aku mencintai kota ini, termasuk kota kita juga. Kalau boleh memilih, aku ingin tetap berada di kota yang kamu tapaki. Mengapa aku harus sentimental? Kota cuma ruang untuk kita jelajahi. Namun kota lebih dari sekadar tempat tinggal.
Terus terang aku hanya takut kehilangan peran yang telah kita lakoni. Bagiku kamu guru terbaik yang pernah kukenal, dan aku belum menemu seorang guru ke-4 sebagai takdir bagi rahimku sekaligus qowwam.
Pendar-pendar cahaya matahari perlahan memudar. Hari telah Asar. Perempuan itu merasa alur hidupnya masih jauh dari harapan. Namun ia ingin tegar.***
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D