HOME/RUMAH

Selasa, 23 Januari 2018

Cerita Renyah yang Bernas



Cerita renyah adalah cerita ringan yang mudah dicerna pembaca, dan disampaikan dalam pilihan bahasa yang segar pula. Dengan demikian pembaca mudah memahami isi cerita tanpa perlu berkerut-kening memikirkannya. Tinggal dinikmati secara mengalir sesuai dengan jalan cerita yang bergulir.

Oleh Rohyati Sofjan

DATA BUKU         : Bukan Pangeran Kodok
PENULIS            : Shabrina Ws, Riawani Elyta, Sari Yulianti, dkk.
PENERBIT           : Sheila (Imprint Penerbit ANDI)
CETAKAN             : I, 2013
TEBAL                    : vi + 226 Halaman
ISBN                        : 978-979-29-2136-6
HARGA                   : Hadiah Kuis Buku di Facebook
BUKAN PANGERAN KODOK masuk ranah cerita yang dipaparkan di atas. Renyah namun memiliki kelebihan karena disampaikan secara bernas pula. Be a Writer (BAW) benar-benar serius menggarap isi sehingga dari kurasi Shabrina Ws terpilihlah 15 cerpen kategori teenlit yang menghibur sekaligus mendidik dari anggota group kepenulisan asuhan Leyla Hana tersebut.
Mereka benar-benar paham bagaimana menulis cerita, memperlakukan bahasa, dan membuat tegangan aneka twist ending yang beragam. Balutan Islami menyertai kumcer yang ditujukan untuk remaja. Ada nuansa riang khas dunia remaja, sekaligus muram karena mereka melakoni hal yang tidak sama di Nusantara ini.
15 cerpenis yang terpilih berikut karyanya benar-benar pilihan yang disaring secara ketat, dan memiliki jam terbang cukup tinggi sehingga pembaca akan benar-benar diajak melanglangi dunia imajinasi mereka seakan nyata. Tanpa melupakan nilai-nilai kehidupan pula.
“Jejaring Romansa” karya Keenan Naura memaparkan adonan dunia remaja, pacaran, antipacaran karena berupaya mengusung nilai Islami, sampai hacker yang membajak akun jejaring sosial tokoh utama sebagai upaya balas dendam salah tempat.
Keenan tahu bagaimana menyusun dialog khas remaja yang segar namun ia membingkainya dalam narasi yang berbobot sehingga pengadegannya menyadarkan kita akan nuansa twist. Ada kejutan yang manis di akhir cerita.
Namun kejutan di akhir cerita tak selalu manis, Nila Kaltia membuat twist ending yang tragis. Tokoh akuan, sang stalker yang membayang tokoh diaan ternyata virus maut HIV yang telah menginfeksi Celeste, remaja Papua 17 tahun yang menjadi korban perkosaan dari penyebar virus HIV. Gadis bermasa depan cemerlang itu seakan harus menyongsong kesuraman hidupnya sendirian sebagai ”Cenderawasih Patah Sayap”, namun  ia berupaya tetap tegar.
Nila meramu cerita dengan balutan bahasa yang indah berikut lokalitas budaya Papua. Mitos mengenai Raja Ampat bukan sekadar pelengkap melainkan penguat.
Konon, dahulu kala, hiduplah seorang wanita yang menemukan tujuh butir telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat orang pangeran yang kemudian berpisah dan memerintah sebagai raja di empat tempat yang berbeda: Waigeo, Salawati, Misool Timur, dan Misool Barat. Itulah konon daerah tersebut dinamakan Raja Ampat. Tiga telur yang lain menjelma seorang putri, sebuah batu, dan hantu.
Rupa hantu ditafsirkan Nila sebagai penyakit masa kini yang senantiasa mengintai: virus HIV yang akan bermetamorfosis sebagai AIDS!
Remaja pun bisa mengalami peristiwa konyol karena mereka labil dalam menafsirkan perasaan dan hubungan berbeda jenis kelamin. Dilambungkan asa karena kebaikan seseorang yang dikagumi, dan semua tak lebih dari “Cinta Salah Tempat”.
Linda Satibi menggambarkan dunia Fe yang riang harus jungkir-balik akibat cinta bertepuk sebelah tangan alias cinta sepihak. Optimismenya bahwa ia akan bisa menggebet sang gebetan mendadak blaaar buyar karena subjek cinta sepihaknya akan menikahi perempuan lain.
Klise? Tidak juga. Itu memang kisah klise yang bisa dialami siapa saja, termasuk saya juga kala remaja, kok, hehe. Yang terpenting, Linda sebagai pencerita mengemas ceritanya dengan renyah namun tak klise. Ada twist Chekov’s gun yang ditembakkan pada saat tak terduga, namun tokoh utama tak terus menggalau. Melampiaskan patah hatinya pada hal positif. Apa itu? Baca saja kumcer Bukan Pangeran Kodok agar tahu bagaimana beragamnya pilihan hidup yang gadis remaja masa sekarang ambil.
Namun Bukan Pangeran Kodok tidak melulu mengajak pembaca melihat dunia remaja dalam satu kacamata, ada banyak ragam kehidupan lain yang dialami remaja. Termasuk salah pilih jalan sehingga nyawa direnggut anorexia nervosa, Riawani Elyta memaparkan tragedi itu dalam “Dia yang Kembali Tersenyum”, sebagai pengingat bagi remaja agar tak dibutakan cinta dan tampilan luar semata sehingga menzalimi tubuh dan jiwa.
Ada banyak remaja yang tidak tahu mengenai bahayanya cara hidup demikian, ambisi mereka mengalahkan rasionalitas. Pengarang tak berpretensi mengubah manusia dengan cara menggurui, tugas pengarang cuma memaparkan cerita yang menggugah relung kesadaran manusia.
Permasalahan utama remaja memang kebanyakan soal cinta, dan rata-rata penulis kumcer ini mengemas tema cinta dengan beragam lakuan. Arul Chandrana memaparkan tumpah-ruahnya kemarahan seorang remaja cowok karena sahabat cewek pacaran dengan cowok lain (“Kita dan Rasa yang Diam-diam”). Lucu sekali cara Arul menarasikannya, berikut twist tak terduga.
Twist ending adalah senjata utama pengarang agar pembaca penasaran sekaligus tak bosan. Elemen kejutan penunjang psikologi cerita untuk menggiring pembaca menyelesaikan bacaannya. Itu dilakukan Vita Sophia Dhini dengan tokoh Abe yang bisa karate dalam mengharap cinta tak mesti terwujud sekarang (“Just Friend”). Binta Almamba mengharuskan “Bukan Arjuna” pergi demi menggapai cita yang lebih baik, meninggalkan seorang gadis angkuh menyesali diri. “Lima Ratus Kilometer” rela ditempuh seorang gadis demi menemui pacar mayanya, dan ternyata, lagi-lagi Chekov’s gun dimainkan Dhewi Bayu Larasati. Sebaliknya Sari Yulianti bermain dengan twist jenis discovery dalam “Little Heartbeat for Little Friend”. Telanjur GR yang berbuah penyesalan karena rambut harus jadi korban.
Teenlit adalah bacaan yang dikhususkan untuk remaja belasan tahun, dan sifat menghibur sekaligus mendidik bisa menuntun remaja untuk mengenal ada banyak ragam kehidupan di luar sana. Membantu remaja untuk menemukan arah dalam pengenalan jati dirinya, sekaligus tak salah langkah.
Terlalu banyak gadis remaja yang alami hamil di luar nikah akibat kebablasan dalam pacaran. “Metamorfosis Cinta” menokohkan pelaku tersebut layak mendapat empati ketimbang hujatan. Nda Syahdu memaparkan itu dengan muram.
Karena itu, banyak ayah yang bertipe over protected terhadap anak gadisnya dengan pertimbangan lebih baik mencegah daripada telanjur berbuat salah. Santi Artanti dalam “Kutunggu Kau di Sini” menjelaskan mengapa Pak Rustam ayah aku-tokoh berprinsip demikian.
“Memiliki anak perempuan itu bagaikan memegang telur di ujung tanduk. Kalau terlalu kuat dipegang, ia bisa tertusuk tanduk. Kalau dilepaskan, ia bisa jatuh, pyaaar… pecah!”
Bagi seorang anak, figur ayah tetap pahlawan tak tergantikan meski telah tiada. Tragisme semacam itu dipaparkan Nyi Penengah Dewanti dalam “Tongkat Bambu Kuning Ayah” dengan getir. Seorang ayah yang ditinggal kabur istrinya tetap bekerja keras demi tiga orang anak-anaknya. Dan anak-anak tetap mencintai kenangan akan ayah, menolak serumah dengan ibu mereka yang mendadak datang dari kota membawa segala kemewahan asing.
Orangtua adalah penopang utama hidup anak, bukan sekadar aksentuasi semata. Bukan Pangeran Kodok selalu menyertakan figur orangtua dalam ceritanya. Entah tunggal atau utuh. Sebagai pengingat bagaimana pentingnya peran orangtua dalam hidup remaja pula. Karena pentingnya, seorang gadis remaja dengan akalnya berupaya membantu ayahnya untuk menemukan siapa pencuri cabai di ladang mereka.
Syila Fatar dengan “Gadis Simpul” secara orisinal bertutur bahwa ikut kepanduan (Pramuka) ternyata banyak gunanya. Selain beroleh pengalaman juga keahlian yang kelak bisa membantunya untuk menangkap maling. Namun, karena teenlit, ada juga romansanya yang dirasa pahit setelah sang maling terungkap.
Potensi diri sebagai gadis remaja harus terus diasah dengan beragam cara. Ade Anita dengan “My Name is Dewi” berupaya mengasah pembaca untuk percaya diri dalam menggali potensi. Meski dalam melakukan hal sederhana yang dianggap mudah -- yang tak semudah perkiraan. Moto Ade layak diterapkan: Never give up. We have choose our dream until it becomes reality.
Ada yang suka dongeng? “Bukan Pangeran Kodok” bukanlah dongeng mengenai sang pangeran yang diubahwujud jadi kodok oleh penyihir jahat entah mana. Shabrina Ws cuma terinspirasi oleh kodok yang masuk ke dapur lantas gila-gilaan mengimajinasikannya secara rada absurd dengan tokoh rekaannya.
Bagaimana seekor kodok yang kesasar bisa mengubah seorang gadis perisau karena tak punya pacar untuk lebih berprestasi dan cinta lingkungan. Jadi pencinta kodok, gitu.
Itu menjadi cerita penutup bagi kumcer Bukan Pangeran Kodok. Sebuah kumcer yang layak dikoleksi karena menyajikan cerita secara renyah sekaligus bernas. Kelebihan kumcer dalam bentuk antologi bersama adalah beragamnya kisahan dan gaya bertutur pengarang yang membawa cetakan dasar masing-masing.(*)
Cipeujeuh, 22 Januari 2018 





9 komentar:

  1. Wah mantap. Mampir ke https://www.hanatfutuh.com juga ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah, kok. :) Makasih sudah mampir juga.

      Hapus
  2. ketika sampa di "just friend", secuil kalimat itupun aku udah ngerti kalo, kayaknya ini aku banget hehe, *senyum getir :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he, yang nulisnya paham banget bahwa pengalaman itu bersifat universal.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Beli, dong. Cerpennya tak recehan. Tak rugi baca itu karena ada yang nulis dengan gaya sastra.

      Hapus
  4. wihihihi, justru virus maut yang jadi twist itu jauh lebih menyenangkan. Biar ceritanya tidak ketebak, biar lebih dinamis di akhir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bahasanya juga apik. Dan kita akan belajar bahwa hidup itu harus dijalani dengan tegar.

      Hapus
  5. Aku pikir tadi ceritanya itu semacam dongeng pangeran kodok yang kaya dulu-dulu, dan pas aku baca ternyata bukan wkwk
    Keren sih, plotnya apalagi akhirnya biar tak bisa ditebak hehe

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D