HOME/RUMAH

Kamis, 18 Januari 2018

Blogger dan Bahasa



Oleh Rohyati Sofjan

BLOGGER atau pelaku blog adalah insan kreatif. Kreatif menggali dan membedah ide dari kehidupan sampai keseharian mereka.
        Tentu menyenangkan berbagi pengalaman, isi kepala, sampai curahan hati pada media khusus milik pribadi, gratisan atau berbayar. Bisa dibaca banyak orang pula.
        Kemampuan menulis kita pun semakin terasah. Makin sering diasah, makin tajam pula nuansa tulisan kita.
        Hanya saja, ada beberapa blogger yang tampak abai membingkai gagasannya dalam struktur tata bahasa yang baik. EBI atau ejaan bahasa Indonesia merupakan acuan baku yang harus dipatuhi masyarakat berbahasa Indonesia. Ini bukan menyangkut keseragaman melainkan berkaitan dengan kesepakatan bersama antara pakar bahasa dan pengguna.
        Sebagai penulis, kita harus punya dasar yang kuat. Tak ada salahnya mempelajari buku EBI dulu (di internet sudah ada versi e-book gratis), menulis kata depan dan imbuhan tentu berbeda.
Kata depan biasanya merujuk pada tempat atau lokasi (seperti di rumah, di Garut). Imbuhan merupakan kesatuan dari kata pembentuk kata sifat atau kerja, seperti diburu yang berarti sedang dikejar. Dan diburu jika dipisahkan di-nya, menjadi di Buru berarti berada di (pulau) Buru.
        Akan janggal jika kita menuliskan: Buronan itu di buru polisi. Kalimat yang janggal EBI-nya bisa menyesatkan orang awam untuk ikut-ikutan salah kaprah karena berpikir "sudah benar".
        Pertukaran dalam imbuhan dengan kata depan yang dilakukan blogger karena tidak tahu itu, sayangnya kerap saya jumpai dalam beberapa blog. Ada yang pemula, ada yang sudah senior dan profesional berkecimpung sebagai blogger.
        Mengenai imbuhan sendiri, dalam KBBI bermakna bubuhan (yang berupa awalan, sisipan, akhiran) pada kata dasar untuk membentuk kata baru atau afiks.
        Imbuhan atau afiks tersebut adalah bentuk terikat yang apabila ditambahkan pada kata dasar atau bentuk dasar akan mengubah makna gramatikal.4
        Afiks terbagi dalam prefiks (awalan), contoh: berbahasa, melipat, mendengar, dsb; infiks (sisipan), contoh: gemetar; sufiks (akhiran), contoh: dengarkan; konfiks (awalan dan akhiran), contoh: kelahiran.
        Teori mengenai kebahasaan di atas bagi orang awam mungkin dirasa ribet untuk diingat. Pre-, in-, su-, dan kon-, adalah bagian dari ranah teori linguistik.
        Anda boleh tak peduli hal-ihwal kebahasaan jika tuntutan profesi tak mengharuskan. Namun jika Anda, pelajar, penulis, kaum akademikus, pekerja media atau periklanan; atau profesi lain yang menuntut kemampuan dan kefasihan dalam berbicara dan menulis seperti pekerja hukum, perancangan desain produk, atau konsultan, mau tak mau harus menguasai teori dasar bahasa Indonesia yang berkaitan dengan bidang garapan.
        Sebenarnya, mempelajari EBI dan tata bahasa Indonesia tidaklah sulit. Nalar dilatih agar mampu mengingat dan membedakan berdasar teori yang diajarkan.
        Menulis adalah kegiatan mempraktikkan gagasan ke dalam medium bahasa. Tentu ada banyak gagasan yang tersebar dari sekitar. Dan sebagai blogger, penting untuk memahami teori dasar dalam berbahasa. Mana yang baku dan nonbaku. Bagaimana cara menulis suatu kata agar tidak salah dicerna pembaca.
        Pembaca yang salah cerna ibarat berada dalam kumparan ketidaktahuan tanpa menyadari ada jalan keluar, sampai ada bimbingan.(*)
#Cipeujeuh, 24 Juli 2016     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D