HOME/RUMAH

Kamis, 18 Januari 2018

Bintang untuk Bintang



Oleh Rohyati Sofjan


BINTANG ingin menanam bintang di langit-langit kamar. Setiap malam ia suka membuka jendela kamarnya hanya untuk menyaksikan kerlap-kerlip gemintang di angkasa yang berpendaran.
Ia selalu terpesona pada panorama malam yang dihamparkan Tuhan. Bagi Bintang, bintang itu keajaiban yang menerangi kelam, sayang hanya pada malam saja ia bisa menyaksikan gemintang.
Namun malam tak selalu membolehkan bintang bersinar. Ada kabut awan hitam yang pada saat tertentu menyelubungi kilau bintang hingga tak terlihat dari bumi, seolah malam adalah kanvas hitam semata. Kalau sudah demikian, Bintang suka merasa kesepian.
Suatu malam, ketika bintang menghilang, Bintang yang habis membuka jendela kamar menghampiri Ibu yang sedang menyulam di ruang tengah. “Bu, bisakah kita menanam bintang di langit-langit kamar Bintang agar Bintang bisa selalu menyaksikan bintang kala rebahan?”
Ibu tertegun, ia menghentikan pekerjaannya, dipandanginya anak semata wayang yang baru masuk TK. Ibu ingin tertawa, namun demi melihat keseriusan Bintang, Ibu tidak tega.
Seisi rumah sudah tahu kesukaan Bintang pada bintang. Ibu, Bapak, termasuk Kang Aris dan Teh Rima sopir dan pembantu di rumah mereka. Ibu tersenyum dan membelai rambut Bintang, “Akan kita usahakan.”
“Benar, Bu?”
Ibu mengangguk, “Nanti Ibu akan bicara dulu dengan Bapak soal bintang. Pergilah tidur, jangan lupa sikat gigi dan berdoa.” Ibu mencium lembut pipi Bintang yang ranum. Dan berdiri untuk mengantar anaknya ke kamar tdur.
Bintang memeluk Ibu, “Terima kasih, Bu. Tadi Bintang sudah sikat gigi.” Ia melompat ke atas ranjang. Dan Ibu menyelimuti Bintang.

BAGI  Ibu, memenuhi keinginan anaknya bukanlah hal yang sulit, sesuatu yang mustahil bisa mungkin. Malam itu Ibu menghentikan kegiatan menyulamnya, dan menggantinya dengan menyulam manik-manik buat bintang Bintang.
Ibu ingin Bintang senang. Ibu akan bilang pada Bapak nantinya agar membuat kerajinan berbentuk bintang lalu dikasih lampu kecil untuk dipasang di atas langit-langit kamar. Malam kian larut, Ibu masih asyik menyulam bintang....

SETELAH berhari-hari, akhirnya tugas menyulam selesai. Prakarya Bapak yang sederhana dan memanfaatkan barang bekas yang ada plus rangkaian elektronik untuk menyalakan bintang pun telah diujicoba. Bapak.
Ibu, dengan dibantu Kang Aris dan Teh Rima, sibuk memasang bintang ketika Bintang sedang mengaji di masjid bareng anak-anak tetangga.
Dan setelah makan malam, ketika Bintang masuk kamar karena kelelahan, lampu kamar padam, namun Bintang terpesona karena tepat di atas langit-langit kamarnya ia melihat rangkaian bintang menyala terang didampingi manik-manik cantik berbentuk bintang.
Ibu dan Bapak masuk kamar, tersenyum melihat putra mereka melongo takjub. “Bintang suka?” tanya ibu lembut.
Bintang menoleh dan mengangguk. Ia menghambur ke arah kedua orang tuanya dan memeluk mereka. “Terima kasih, Ibu dan Bapak. Bintang suka.”

MAKA setiap malam, jika bintang tak bersinar di luar, Bintang tak perlu merasa khawatir atau kecewa. Ia akan menyalakan lampu bintang-bintang kecilnya, agar kerlipnya menyala terang di antara manik-manik bintang buatan Ibu tersayang.***
#Sudah dimuat di Majalah Imut



  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D