HOME/RUMAH

Kamis, 18 Januari 2018

Berniaga Jujurlah



Oleh Rohyati Sofjan


APA yang paling merisaukan ibu rumah tangga yang suaminya berpenghasilan pas-pasan? Ketiadaan jaminan bahwa produk yang dibelinya aman. Misalnya minyak goreng curah yang lebih murah daripada minyak goreng kemasan.
Minyak semacam ini dari segi tampilan fisik sama sekali tidak menarik, mudah beku atau menggumpal dalam suhu ruang, kerap dipalsukan dengan cara dicampur solar atau oli bekas. Bahkan ada yang dicampur dengan minyak jelantah alias minyak goreng bekas pakai yang disaring dengan proses kimia. Minyak goreng oplosan itu sulit dibedakan bagi mata awam yang kurang waspada dan tidak menyadari bahaya atau halal-haramnya.
Tidak semua masyarakat paham akan “mutu” produk yang dibelinya. Pemberitahuan media sangat penting. Sungguh menyedihkan di tengah keterpurukan bangsa ini masih saja banyak oknum bermain kotor dalam perniagaan sampai perbuatan. Lalu untuk apa melimpahnya produksi sawit di Indonesia jika tak bisa dinikmati rakyatnya sendiri?
Dampak negatif dari permainan kotor segelintir oknum distributor sebenarnya bisa melemahkan sekaligus mencemarkan nama baik produsen minyak goreng curah dari kelapa sawit yang jujur dalam perniagaan. Pangsa pasar minyak goreng di Indonesia sangat besar. Merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat.
Namun sekarang, seiring waktu, pelan namun pasti lalu melesat cepat bermunculan dan semakin kuatlah produsen minyak goreng kemasan, dari yang mahal sampai sedang (namun toh harga sedang-sedang saja ini dirasa cukup mahal bagi kantung masyarakat rata-rata berpenghasilan menengah ke bawah).
Sistem pasar Indonesia mau tak mau cenderung menumbuhkan konglomerasi yang mencendawan dalam kapitalisme global. Kita mulai bergantung pada keberadaan minyak goreng aman. Mulai termakan iklan sebagai semacam ketiadaan pilihan. Sebab di mana-mana bahaya mengintai. Alangkah menyedihkannya jika pemerintah abai soal perlindungan dan hak-hak konsumen. Maka dari itu selalu dibutuhkan kerja keras dan investigasi dari pihak berwenang untuk mengamankan jalur perniagaan agar rakyat Indonesia merasa nyaman. Menumpas penjahat niaga sampai ke akar-akarnya.
Terlalu banyak kecurangan yang dilakukan segelintir insan korup. Terjebak dalam perspektif picik akan arti niaga dan mencari rezeki. Adakah manfaat untuk sang pelaku? Harta atau materialisme yang diberhalainya akan musnah tak terkira. Dan yang menungguinya kelak adalah azab pedih dari Allah Sang Hakim Adil. Sebab ia tak mampu memberi manfaat bagi diri sendiri apalagi orang lain. Sebuah bentuk penzaliman diri yang malah dianggap lumrah.
Ada hal yang harus kita renungkan tentang perniagaan jujur. Janganlah sampai pelaku merasa tidak berdosa dengan perbuatannya yang telah merusak dan meracuni massal.
Solar, minyak tanah, oli bekas, sampai minyak jelantah  sangatlah berbahaya bagi tubuh manusia. Kita ingin memakan makanan baik dengan jalan halal bukan dicemari insan-insan tak bertanggung jawab yang dibutakan nuraninya.
Sebagai penutup, mari renungkanlah sabda Rasulullah Muhammad S.A.W., “Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas dan memberi rezeki. Dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi jiwa atau harga.” (Diriwayatkan oleh lima imam kecuali Imam Nasa’i)***
#Cipeujeuh, 12 Desember 2013     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D