Kamis, 18 Januari 2018

Because This is My First Life-(Episode 2-1)





EPISODE SEBELUMNYA
Di halte bus, malam kian larut, suasana sekitar lengang, kendaraan yang lewat pun jarang. Lelaki itu  berdiri dari bangku halte. Seakan menunggu bus yang entah kapan datang. Aku pun ikut berdiri.
“Terima kasih untuk cerita neokorteks-nya.”
Lelaki itu memalingkan wajahnya ke arahku.
Lanjutku, “Kukira di hidup ini aku sudah gagal...,” aku mendesah, lalu menatapnya, “tapi aku akan berusaha yang terbaik.” Kuulurkan lenganku, mengajak berjabat-tangan.
Lelaki itu terpaku sebentar memandang tanganku, sampai kemudian menjabatnya. “Semoga berhasil. Lagi pula, melewati hidup ini adalah pertama kalinya bagi kita semua.”
Ucapannya membuatku terpesona, dan lelaki itu tersenyum. Bibirnya seakan mengundangku. Aku bergerak cepat, meski barangkali seperti dalam adegan slow motion gerakanku ini. Kurangkul leher lelaki itu dan kucium bibirnya, terasa lembut dan kenyal, menghanyutkan. Mataku terpejam, tak menyadari bahwa mata lelaki itu terbuka lebar, kaget disergap serangan ciumku yang mendadak. Namun ia tak berontak. Cuma terpaku diam di tempat.


Derum bus yang datang menyadarkan ekstaseku. Aku berhenti mencium. Begitu kubuka mataku, lelaki itu menatapku dengan pandangan syok, matanya mengerjap. Aku merasa malu. Kulepaskan rangkulanku. Tanpa kata aku mengambil tasku dari bangku dan meninggalkannya. Menaiki bus yang menunggu. Itu cuma ciuman perpisahan untuk seorang lelaki sangat menawan yang barangkali dalam hidupku tak pernah akan kujumpai lagi.
Bus berlalu meninggalkan lelaki asing itu yang masih berdiri terpaku. Ia benar-benar belum sepenuhnya sadar, bahwa bus yang tadi adalah bus tujuannya pula. Cuma bisa terpana. Sampai suara dari papan pengumuman keberangkatan menyadarkan. Layanan bus hari ini telah berakhir!
Lelaki itu merengut kesal.

PADA akhinya ia harus pulang dengan naik taksi. Berhenti tepat di depan kompleks apartemennya. Menyusuri jalan yang lengang disiram pendar terang lelampuan.
Cahaya matahari pagi menyiram wajah lelaki itu. Ia terjaga dengan perasaan seakan masih melayang pada peristiwa semalam. Membuka pintu kamar dan keluar. Tepat di seberang, pintu kamar penyewa barunya sedikit terpentang. Tidak ada siapa-siapa.
Ia berjalan ke arah kamar untuk menutup pintunya, namun sebelum ditutup, ia mengintip sebentar untuk melihat ada apa di dalamnya. Ranjang kosong, selimut belum dirapikan, dan sebuah buku berada di atasnya. Di sudut lain, tumpukan buku dan koper teronggok rapi. Tak ada yang mengesankan luar biasa. Lelaki itu menutup pintu.
Ia berjalan dengan gontai, separuh mengantuk akibat pengaruh euforia semalam. Dilihatnya si kucing bermalas-malasan di lantai, mengibas-ngibaskan ekornya yang panjang. Lelaki itu mengusap bulunya lalu mengangkat si kucing ke pangkuan. 
“Ayo makan.”
Di meja makan, lelaki itu menyantap brunch-nya, makanan pesanan dari katering langganan. Sudah lewat jam sarapan. Ia tengah mendengarkan ocehan rekan kerjanya dari ponsel dalam mode speaker­.
“Aku tak mau. Kenapa aku harus menghabiskan akhir pekan sama kau?” Lelaki itu menggerutu tak senang.
Suara di seberang menjawab, “Aku sungguh ingin menjalin hubungan dengan perempuan ini. Kurasa dia malu kalau cuma bertemu berduaan. Bagian terbaiknya, temannya itu benar-benar cantik.”
Lelaki itu menyumpit nasi merah. Kotak makanan dari katering itu isinya beragam. Makanan sehat sesuai seleranya, perpaduan antara sayur dan daging, berikut dadar gulung. Ia menyuap nasi dengan sumpit. Cara makan orang Korea, sebagaimana Jepang dan Cina memang kebanyakan memakai sumpit. Ada acuan nilai filosofis di baliknya. Sebuah tradisi turun-temurun yang tetap dipertahankan karena merupakan suatu kebiasaan dalam budaya makan mereka.  
“Kau sudah lihat foto yang kukirim?”
“Belum.”
 “Ayolah. Aku tahu kau juga nantinya makan siang yang tidak enak. Jadi, kenapa kau tidak mau datang?”
Ucapan itu rupanya menyinggung lelaki yang sedang makan. Dengan kesal meletakkan sumpit di wadahnya, lalu meraih ponsel ke dekat mulutnya dan merepet cepat, “Jangan remehkan bagaimana aku menggunakan waktuku. CEO Ma, kau tak punya belas kasihan. Kau baru punya harga diri kalau melalui hubungan sosialmu. Menurutmu, mungkin sepertinya makan siangku tak enak…, tapi bagiku, makananku seperti oase. Aku saja harus makan sambil mendengarkan orang sepertimu sepanjang minggu. Apa kau tahu, kau buat aku se-stres apa?”
“Hei, aku keceplosan. Maaf.” Lalu ia memakai bahasa para programer komputer, “Aku akan minta maaf. Jadi, ayo kita reset, format, dan reboot. Oke?”
Lelaki itu meletakkan ponselnya ke meja, “Tolong jangan ganggu aku kalau lagi makan sendirian… setelah lima hari.”
“Ya, itu sangat penting.” CEO Ma seperti mengalah. Dan adegan berpindah pada sosok CEO Ma yang sedang duduk di suatu tempat. “Tapi ini genting sekali. Hanya itu saja. Oke? Tapi, siapa orang yang tinggal di rumahmu?” Rupanya ia sedang di tempat manikur. Seorang perempuan tengah mengikir kuku tangannya agar terawat. “Tapi…, siapa orang yang tinggal di rumahmu? Si Jo Ho? Dia tidak seberapa dibandingkan dengan kau…, tapi aku lebih baik menarik dia sebagai teman serumahmu.”
Di ruang makannya lelaki itu bosan menyimak ocehan CEO Ma, yang sampai pada bagian kalimat, “Semua temanku pada sibuk.”
Ia langsung memutuskan sambungan, mengakhiri percakapan panjang. Kembali melanjutkan makan. Dan di bawah meja, si kucing makan di mangkuknya dengan lahap.

Di pasar swalayan besar, aku mendorong troli belanjaan sambil menelefon.
“Yakin tidak mau? Dia pria yang baik.”
“Tak usah,” aku masuk lorong mencari apa yang kubutuhkan dari rak yang berjajar. “Aku payah soal urusan kencan buta.”
“Mana mungkin seorang penulis drama tidak punya pengalaman berkencan?” Suara di seberang memaksa. “Kau menulis adegan ciuman, tapi kau belum pernah berciuman. Kau harusnya diliput dalam acara ‘TV dalam TV’.”
Aku hanya tertawa, “Hei, itu ‘kan acara lama. Selain itu, ciuman bukan hal penting.”
“Apa maksudmu? Bagaimana kau tahu itu?”
Aduh, aku keceplosan, “Aku....” Aku berhenti di depan deretan rak, dan beralasan, “Aku banyak menontonnya di acara seperti ‘TV dalam TV’.”
Rasanya aku tak pandai berbohong. Di seberang sana, Soo Ji yang duduk sendirian di bangku taman cepat menangkap gelagat, “Apa maksudmu? Ji Ho, sebaiknya jangan sampai kau berpacaran tanpa memberitahuku.”
“Tidak, aku tidak pacaran.” Aku menyanggah sambil mengambil sembarang barang dari gantungan rak. “Hei, Soo Ji, ada panggilan masuk. Nanti kutelefon lagi.” Alasan klise agar bisa segera mengakhiri percakapan yang menyudutkanku.
“Ya.”
“Hampir saja.” Aku menarik napas lega. “Apa kau bodoh? Kenapa juga kau bilang begitu?” Aku bicara sendiri. Lalu mengamati benda yang barusan kuambil secara spontan dari rak tadi, “Apa ini?” Ternyata pembersih ubin, 10 ribu won! Harga yang cukup mahal.
“Yah, lagi pula, lumayan juga. Aku akan menganggapnya sebagai hadiah untuk si pemilik apartemen.” Kumasukkan pembersih ubin mahal itu ke dalam troli dengan perasaan riang. “Baguslah.” Lalu lanjut keliling sebelum bayar di kasir.
Pulang belanja, aku berjalan santai menuju apartemen sambil mengemut jus. Melewati taman depan apartemen, dan di seberang kolam ada sepasang sejoli berciuman di bangku taman beratap kanopi.
Menyaksikan itu membuatku tak nyaman karena lagi-lagi mengingatkan pada peristiwa semalam. Kupalingkan muka dan bergumam, “Lagi pula, ciuman ‘kan tak perlu harus berpacaran dulu. Aku juga punya ciuman pertama.”
Dan lagi-lagi adegan semalam berkelebat dalam benak. Bagaimana saat aku nekat mencium bibir seorang lelaki asing. Ciuman yang membuatku ekstase. Aku menggeleng, “Kau gila, ya? Itu sama sekali bukan hal yang perlu dibanggakan. Parah sekali.” Menyadari itu, aku merasa malu. “Untung dia orang asing.”Kusedot jusnya, mencoba mengusir bayangan dengan menggoyangkan kepala lagi.
Tanpa kusadari lelaki asing semalam tengah berjalan ke jalan yang kulalui, namun aku sedang menunduk menyapa tetangga lewat jadi tidak lihat, “Halo.”
Lelaki yang sedang menenteng keranjang bekal balas menunduk.
Dan lelaki asing itu lewat di depanku tanpa menyadari akan ada suatu kejutan menanti. Ia menenteng keresek sampah untuk dibuang di tempat sampah daur-ulang. Sedang aku menaiki tangga batu tempat lelaki tadi lewat untuk menuju apartemenku.
Lelaki itu menaruh keresek sampah, membuka sarung tangan plastik sekali pakai dan memasukkannya ke dalam keresek. Dengan cepat. Lantas meninggalkan tempat.
Aku sedang menanti lift, dan begitu pintu lift terbuka, aku masuk ke dalam. Seseorang bergegas datang, jadi aku segera menekan tombol untuk membuka-ulang pintu lift yang hampir tertutup.
“Terima kasih,” katanya sambil sedikit merundukkan kepala. Aku pun membalasnya dengan merunduk macam tadi dan menekan tombol tujuan. 4.
“Lantai empat.” Lelaki itu bilang, dan suaranya tiba-tiba menyadarkanku seakan familiar.
Aku menoleh dengan mulut berisi jus karena tangan kananku menenteng belanjaan, dan tangan kiri digunakan untuk menekan tombol. Terpana bak orang tolol. Kejutan itu akhirnya menghantam, dan lelaki asing semalam rasakan hal serupa. Wajah kami sama-sama memias kaget.
Lagi-lagi jeda panjang. Kali ini salah tingkah. Kupalingkan wajah. Kucabut jus dari mulut, merasa sangat gugup. Dan jakun lelaki itu pun kudengar berdenyut.
Kami hanya diam, tidak melakukan kontak mata. Perjalanan menuju lantai 4 terasa sangat lama dan menyiksa. Akhirnya lift berbunyi menandakan sampai tujuan. Lantai empat. Pintu terbuka.
Lelaki itu keluar lebih dulu. Aku masih terpaku di dalam lift, tak tahu harus bagaimana. Lantas menekan tombol untuk turun. Menggelesot lemas. Duduk di lantai lift dan bergumam sendiri, “Apa? Dia… si ciuman…. Kenapa Neokorteks…, kenapa?” Aku benar-benar panik. “Tunggu dulu.” Kudongakkan kepala melihat lampu angka bergeser turun. “Sebentar. Kenapa dia turun di sini?” Aku mengaduh, “Jangan bilang. Apa dia tinggal di sini?”
Tepat saat itu pintu lift terbuka. Seorang anak lelaki kecil memandangku heran. Aku berdiri. Ia masuk. Dan aku merasa harus beralasan tanpa ditanya. Hanya agar membuatku merasa nyaman saja. “Dompetku ketinggalan.” Kutekan tombol semula. Pintu lift menutup. Namun benakku tak mau menutup pertanyaan. Bagaimana ini? Bagaimana jika aku bertemu dengannya lagi?
Tidak! Tidak! Ya, aku harus pulang dulu. Itu tempat teraman saat ini.
Bicara dalam hati seperti itu tanpa kusadari malah membuat anak yang selift denganku ketakutan. Ia menggeser jarak berdirinya agar menjauh dariku. Dikiranya aku orang sinting. Namun perilakuku semalam memang sudah masuk kategori sinting.
Aku mengintip terlebih dahulu dari balik pintu begitu lift terbuka di lantai tujuan. Aman. Tidak ada orang. Aku berlari menuju pintu apartemenku. Mencoba membuka sandi kunci rumah. Tahu-tahu ada suara pintu di sebelah apartemenku terbuka, aku spontan duduk. Pura-pura mengusap kaki.
Ternyata seorang ibu muda dengan anak batitanya keluar dari pintu yang terbuka itu.
Cepat, pikirku. Dan aku segera membuka sandi pintu rumah. Bergegas masuk ke dalam. Melemparkan belanjaan sembarangan. Menutup pintu lagi. Memegang dadaku yang rasanya mau copot saking tegang.
Inilah yang harus dilakukan saat ini. Karena aku sudah aman di rumah sekarang…, jadi tak apa. Aku bisa tenang sekarang. Dan pandanganku terpaku pada sepasang sepatu kets hitam di ambang foyer. Apa? Si pemilik rumah?
Aku berbalik ke pintu untuk mengintip di kaca intip begitu mendengar ada suara ketukan dari pintu apartemen tetangga. Seorang lelaki pengantar makanan rupanya. “Paket!” serunya.
Aku lega. Lagi-lagi menggelesot ke bawah dengan tangan masih memegang gagang pintu. Dasar! Bagaimana jika dia tinggal di lantai yang sama denganku? Kugelengkan kepala. Tidak, mana mungkin. Aku boleh saja sial, tapi Seoul sangat besar. Mana bisa lantai kami sama?
Kupandangi lagi sepatu kets hitam yang bersih permukaannya. Aku harus tanya sama si pemilik apartemen. Dia pasti tahu siapa tetangganya. Aku mendekati sepatu itu untuk melihat lebih jelas. Tapi kaki dia besar juga. Kuamati bagian bawah sepatunya. Ukurannya 275 mm. Apa dia ini pemain bola basket? Saat jongkok mengamati sepatu, ada langkah kaki mendekatiku. Kaki dibalut kaos kaki dan beralas sandal rumah.
Aku tersentak dan segera bangkit dari posisi jongkokku. Lalu kubungkukkan punggungku tanpa melihatnya terlebih dahulu. “Halo, kau sudah pulang….” Lantas kuluruskan punggungku. Dan tercengang.
Di depanku, lelaki semalam tengah menggendong kucing di pangkuan dan sama tercengangnya. Ekor si kucing mengibas. Seakan berupaya mengibaskan ketercenganganku.
Lagi-lagi jeda panjang di antara kami….
~ Bersambung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D