HOME/RUMAH

Selasa, 23 Januari 2018

BAB I PENDAHULUAN



 

A.      Latar Belakang Masalah

Dalam dunia pendidikan kita mengenal begitu banyak konsep dan teori agar bisa memudahkan guru untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengajar yang profesional. Profesionalisme sendiri mengacu kepada sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya.
Penyandangan dan penampilan “profesional” ini telah mendapat pengakuan, baik secara formal maupun informal. Pengakuan secara formal diberikan oleh suatu badan atau lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah maupun organisasi profesi. Sedang secara informal pengakuan itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa suatu profesi. Sebagai contoh misalnya sebutan “guru profesional” adalah guru yang telah mendapat pengakuan secara formal berdasarkan ketentuan yang berlaku, berkaitan dengan jabatan ataupun latar belakang pendidikan formalnya.
Perkembangan zaman selalu menuntut kita untuk bisa mengikutinya sebab permasalahan anak didik kian kompleks. Ilmu sendiri sangatlah luas cakupannya, tantangannya bagaimana cara kita bisa menarik minat siswa agar mampu mencerap ilmu dengan baik? Dunia pendidikan merupakan aspek utama dalam pembentukan karakter bangsa.
Ada banyak definisi mengenai  pendidikan. Salah satu yang menarik untuk kita perhatikan adalah definisi,Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan” (Purwanto, 2007: 11).
Menurut pandangan psikologi anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari dirinya sendiri, guru hanya sebagai pembimbing dan pengarah.
Thorndike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “law of exercise”-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Hubungan stimulus dan respons akan bertambah erat jika sering dipakai dan berkurang bahkan lenyap jika tidak pernah digunakan. Artinya dalam kegiatan belajar diperlukan adanya latihan-latihan dan pembiasaan. Semakin sering berlatih maka akan semakin paham.
Matematika adalah suatu cabang ilmu yang abstrak. Matematika sendiri berarti ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan (KBBI 3, 2002: 723).
Dalam matematika diperlukan latihan terus menerus agar siswa bisa menguasainya, mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Selama ini kita mengenal paradigma salah tentang matematika bagi orang kebanyakan yang harus diubah total; bahwa matematika hanya dapat dikuasai oleh orang yang pandai, matematika hanya mempunyai satu jawaban yang benar, matematika hanya berisi angka dan rumus dan lain sebagainya. Matematika hendaknya diperkenalkan kepada anak sebagai suatu pelajaran yang menarik dan berguna dalam kehidupan sehari-hari sebab merupakan aktivitas manusia (Noornia dan Yurniwati, 2008: 1).
Sampai sekarang matematika didefinisikan dari berbagai sudut pandang, yaitu: (1) matematika tidak selalu berhitung; (2) matematika adalah pemecahan masalah; (3) matematika adalah kegiatan menemukan dan mempelajari pola dan hubungan; (4) matematika adalah bahasa; (5) matematika adalah cara dan alat berpikir; (6) matematika adalah berbuat matematika (Noornia dan Yurniwati, 2008: 10).
Guru sebagai pengajar di kelas hendaknya berusaha sedapat mungkin untuk membangkitkan minat belajar pada anak didiknya dengan berbagai cara, misalnya dengan memperkenalkan pada anak berbagai kegiatan belajar, seperti bermain sambil belajar matematika, menggunakan alat peraga yang menarik atau memanipulasi alat peraga, menggunakan bermacam-macam metode pembelajaran pada saat mengajar matematika, mengaitkan pembelajaran matematika dengan dunia anak. Contoh: alat peraga dapat disesuaikan dengan benda-benda permainan anak, misalnya kelereng, bola, balok, dan sebagainya (Suwangsih dan Tiurlina, 2010: 16).
Belajar menurut pandangan kontemporer adalah proses interaksi individu dengan lingkungannya yang melibatkan fisik, mental dan emosional sehingga siswa memperoleh sejumlah pengalaman bermakna (konstruktivisme). Menurut pandangan ini pengetahuan yang diperoleh siswa bukan proses pemindahan dari guru ke siswa, melainkan dibentuk atau disusun sendiri oleh siswa melalui interaksinya dengan lingkungan. Sesuatu yang diketahui siswa itu sendiri dari pengalamannya (Suwangsih dan Tiurlina, 2010: 119).
Pendekatan yang sesuai dengan pandangan ini adalah Contexual Teaching and Learning (CTL). Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. 
CTL diharapkan bisa menjadi solusi bagi masalah utama saya sebagai pengajar matematika di kelas V SD Negeri. Ada kesulitan mendasar bagi siswa sehingga mereka sulit memahami pengajaran matematika yang berkaitan dengan geometri bangun datar. Geometri sendiri berarti cabang matematika yang menerangkan sifat-sifat garis, sudut, bidang dan ruang. 
Kesulitan mereka dalam memahami materi adalah susah dimengerti dan harus diterangkan secara berulang-ulang karena faktor internal dan eksternal.
Faktor internal yaitu faktor yang datang dari diri siswa berkaitan dengan kemampuan yang dimilikinya seperti keterampilan, kematangan berpikir, serta bakat dan minat siswa.
Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar diri siswa seperti perhatian orang tua, situasi sosial ekonomi keluarga, perhatian guru, sarana dan prasarana, kesempatan yang tersedia, lingkungan masyarakat sekitar, dan perhatian dari pemerintah.
Saat ini kasus yang sering dijumpai adalah siswa kurang paham mengenai perkalian dan pembagian; suka ceroboh memasukkan rumus, misalnya yang ditanyakan panjang malah mencari luas; sarana dan prasarananya kurang memadai. Sehingga hal demikian bagi siswa sendiri pelajaran matematika sangat menjenuhkan.
Alat dan sarana yang dibutuhkan dalam pengoperasian matematika di sekolah seyogianya cukup memadai. Perlu kreativitas guru untuk menyiasati hal itu dengan mengayakan apa yang ada di sekitar sebagai contoh penghitungan, misalnya alat peraga sederhana yang diharapkan bisa membantu anak didik untuk memahami konsep materi yang diajarkan.
Selain alat peraga, disiplin juga perlu diterapkan dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Sebab anak-anak yang disiplin dalam belajar mempunyai tingkat kompetensi lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak disiplin.
Menurut Udi Turmuzi (1979), setiap murid harus belajar berdisiplin tanpa adanya sikap emosional, sebab penerapan disiplin dalam dunia pendidikan cukup beralasan. Akan tetapi, pada masyarakat dengan tingkat sosial tertentu, karena kesulitan ekonomi dan tingkat pendidikan orang tua yang relatif masih rendah, hampir seluruh tugas dan tanggung jawab pendidikan anak-anaknya diserahkan pada lembaga pendidikan, yaitu sekolah tempat anak-anaknya menuntut ilmu.
Tugas guru semakin berat dengan beban tugas yang semakin kompleks. Bagi anak yang tidak suka dengan pelajaran matematika, guru melakukan pendekatan pada anak itu agar suka dan paham, dengan cara dibimbing satu per satu. Kendalanya bagi pembimbing adalah waktu yang kurang, harus berpindah ke materi lain.
Itu berkaitan dengan profesi guru SD yang lebih berat dari guru sekolah menengah karena harus menguasai banyak aspek spesifikasi ilmu dalam waktu jam mengajar yang lebih panjang, dan harus menangani begitu banyak problem dalam mematerikan beragam pelajaran pada anak didik sebab kemampuan dan minat mereka berbeda. Jadi bukan matematika saja, pelajaran yang lain pun harus diberikan, misalnya bahasa Indonesia. Ada juga anak yang berbakat  dalam pelajaran matematika sekaligus cerdas dalam mata pelajaran lainnya karena faktor gizi, pengaruh lingkungan, sarana bacaan yang memadai, dukungan yang kuat dari keluarga/orang tua sebagai motivator utama.
Dalam mengajarkan matematika perlu diperhatikan beberapa faktor, yaitu tingkat perkembangan mental anak, pengalaman anak, lingkungan anak, dan kecerdasan anak. Hal itu sejalan dengan pendapat Piaget (Russeffendi, 2005: 21) yang mengemukakan bahwa:
Usia 7-12 tahun berada pada periode operasi kongkrit, yaitu tahapan usia pada siswa SD tidak akan memahami operasi (logis) dalam konsep matematika tanpa dibantu oleh benda-benda kongkrit. Ada empat taraf berpikir pada usia SD, yaitu kongkrit, semi kongkrit, semi abstrak, dan abstrak.
Matematika merupakan ilmu deduktif, formal, hierarki dan menggunakan simbol yang padat arti, sedangkan anak usia SD berada pada tahap operasional konkret sehingga matematika akan sulit dipahami oleh anak jika diajarkan tanpa memperhatikan tahap berpikir anak SD (Suwangsih dan Tiurlina, 2010: 21).
Dalam metode pembelajaran yang baru, siswa diberi kebebasan untuk menyelesaikan soal-soal sesuai pengalamannya. Siswa diberi kebebasan dan dirangsang untuk menggunakan pikirannya tanpa diikat oleh aturan-aturan dan pola-pola yang mengikat.
Temuan di lapangan, dalam pembelajaran di kelas V SD Negeri adalah rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran Geometri, materi pembahasan yang berkaitan dengan bangun datar. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata dari 22 orang siswa hanya mencapai 5,60 dan masih berada di bawah KKM.
Peneliti mencoba mewawancarai siswa kelas V tersebut untuk mengetahui mengapa mereka kurang berminat dengan pembelajaran tersebut. Mereka mengatakan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit apalagi jika terkait dengan konsep bangun datar. Kurangnya motivasi siswa dalam pembelajaran matematika diduga disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, strategi/metode pembelajaran yang digunakan guru belum tepat, dan pendekatan yang dilakukan masih berpusat pada guru. Kedua, faktor siswa, bahwa mereka merasa pembelajaran matematika kurang menyenangkan dan menakutkan.
Untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran bangun datar, diperlukan adanya upaya guru dalam menggunakan metode mengajar dan media pembelajaran yang dapat memenuhi tuntutan kebutuhan siswa dalam belajar sesuai dengan tahap perkembangan kejiwaannya. Guru dituntut untuk menggunakan metode yang bervariasi tidak hanya ceramah saja, tetapi juga metode-metode lainnya seperti metode pembelajaran yang lebih menekankan pada pendekatan kontekstual.
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan tersebut harus ditelusuri dengan menggunakan tindakan-tindakan yang mengacu kepada penelitian. Salah satunya yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas berupaya memperoleh gambaran tentang masalah tersebut, juga berupaya untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas V SD secara konseptual dan prosedural pada pembelajaran bangun datar  dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

B.      Identifikasi dan Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan penelitian ini dijabarkan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut: 
1.     Bagaimana aktivitas belajar siswa kelas V SD Negeri dalam pembelajaran bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual?
2.     Bagaimana hasil belajar siswa kelas V SD Negeri dalam pembelajaran bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual?

C.      Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran tentang pembelajaran bangun datar di kelas V SD dengan menggunakan pendekatan kontekstual. 
Adapun perincian tujuan secara khususnya adalah sebagai berikut:
a.     Meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas V SD dalam pembelajaran  bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
b.     Meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD dalam pembelajaran bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

2. Manfaat Penelitian
          Dengan adanya penelitian itu diharapkan dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekolah, khususnya bagi guru dan siswa kelas V SD Negeri Desa ---, Kecamatan Bl. Limbangan, Kabupaten Garut.
a.     Bagi Siswa
Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri dalam pembelajaran bangun datar dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
b.   Bagi Guru
1.  Memberi gambaran tentang upaya guru dalam meningkatkan kemampuan siswa menggunakan konsep bangun datar dengan pendekatan kontekstual.
2.  Memberi gambaran tentang upaya guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran bangun datar dengan pendekatan kontekstual.
c.            Bagi Sekolah
1.  Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi kerangka pola pikir yang berkaitan dengan suatu usaha ke arah perbaikan mutu pendidikan.  Meningkatkan prestasi siswa dalam pelajaran matematika secara umum dan memberi pengetahuan dasar  mengenai konsep bangun datar secara khusus.
2.  Dapat dijadikan tolok ukur untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D