HOME/RUMAH

Senin, 25 Desember 2017

Untuk Ujianto Sadewa





DAN sekarang Desember, jika itu membuatmu senang, hari-hari yang basah dan berhujan. Di pegunungan kabut kental menghampar, menyelubung segala benda-benda dan rupa: ada batas pandang yang barangkali membuatmu tak berdaya!
Kehijauan berselimut kelabu yang suram, seolah perdesaan lenyap ditelan kemuraman. Terkadang angin menjelma badai, dan diselang-seling petir. Dunia terasa gemuruh sekaligus dingin. Ada yang ketakutan, gemetar merutuk musim. Ada juga yang tersenyum, mensyukuri berkah tetesan air.
Sur-el dari Facebook yang kau kirim di bulan November menghantuiku sampai sekarang. Hadiah untuk miladku yang jatuh di bulan Dzulhijjah. Aku menemukannya terselip sebagai timeline di inbox Yahoo!-ku. Berbulan-bulan aku tidak ke warnet. Ponselku terkadang kugunakan untuk nge-net. Hanya kadang jika ingin. Aku sempat mengerutkan kening. Lintasan pikiran membuatku takjub: betapa kau masih mengingat eksistensi rival!
Dan aku tertawa. Senang karena bahagia.
Ya, setelah sekian lama. Setelah anakmu dua dan anakku baru satu. Ke mana saja waktu berpacu? Kita raib ditelan kemasing-masingan. Tetap berkarya agar apa? Agar ada, mungkin saja.
Aku ada di sini. Masih terpencil di sudut kampung. Tak bisa ke mana-mana sepertimu, Sang Pengembara. Berusaha menyebarkan karya ke media. Beberapa dimuat. Lebih sering ditolak. Lucu dan membosankan. Seperti tidak ada kemajuan, setelah bertahun-tahun ikrar diucapkan.
Kau masih mengingat dojo?
Apa yang kuingat tentang dojo? Dunia remaja yang menyenangkan kala aku berusaha mengubah hal mustahil menjadi mungkin. Bahwa hidup adalah gerak, maka aku bergerak mengikuti tekad: untuk tak menyerah!
Namun aku tak berpikir bahwa dalam arena itu hanya ada satu pemenang, lainnya pecundang. Kalah atau menang bagiku tak masalah. Mengingat dojo adalah tempat agar jangan menyerah; sebab berkali-kali aku ingin menyerah. Untuk berhenti latihan karate lagi!
Bagaimana aku berhenti dari kesenangan kecil yang bagiku sangat mewah, sama seperti halnya bisa sekolah?
Memerhatikan arahan Simpai atau  Sensei agar aku bisa seirama dengan mereka. Meski sehabis latihan, terkadang otot lengan dan kakiku lebam ditinju dan ditendang udara yang memusar.
Pengembaraanku tak berhenti, aku mencari Simpai dan Sensei lain untuk berguru ilmu baru pada dunia pilihan yang kuyakini. Namun kau bukan Simpai itu bagiku. Kau adalah rival. Kawan bertarung abadi untuk hidup dan mati di kedalaman hakikat kata-kata. Aku tak punya kalimat paling baik atau bijaksana.
Menjadi samurai?
Ya, aku tahu Musashi, Miyamoto Musashi atau Shimmen Takezo. Aku suka film tentang samurai. Bagiku keren sekali. Ilmu bermain pedang dan baju jubah kebesaran mereka yang berlapis-lapis menjuntai.
Film samurai yang paling lekat di benak adalah “Watchout Crimson Bat”. Tentang seorang gadis samurai buta yang bertarung dengan pedangnya ibarat kelelewar di kegelapan melawan para bandit dan bajingan. Ia hebat. Cantik dan pemberani. Aku mengaguminya. Sendiri menghadapi kegelapan dunia.
Bisakah kaubayangkan? Aku tidak tahu apakah kau bisa. Kepekaan yang kumiliki akan film itu hanya karena telingaku tak berfungsi. Berkebalikan dengannya, yang telinganya setajam kelelewar.
Aku tidak cukup peka untuk meraba-raba di kegelapan. Dan jika aku adalah samurai, aku samurai murtad yang telah lama kehilangan pedangnya. Pedang untuk puisi.
Kau lelaki skizof pencinta puisi. Apakah juga penjelmaan dari Takuan Soho? Dengan hormat kuakui kekalahanku ini. Segala tabik untuk upaya tanpa henti demi menggali momen puitik: Kau Sebagai Ronin atau Shugyosa!
Terimalah tabikku ini. Aku sedang menjelajah semesta prosa. Hal yang kuupayakan demi menyambung kehidupan, membantu suami (yang cuma buruh tani) dari segi ma’isyah agar beroleh honor menulis dari mana saja. Esai atau cerpen. Dari sastra sampai pop. Aku tak mau munafik. Aku menyukai keduanya. Dan hal yang populer itu terpaksa kulakoni sebab dunia real tak selalu dalam tatanan ideal.
Jalan kita mungkin berseberangan. Namun pertempuran belum usai. Setelah buku puisimu terbit, kuharap ada karya-karya lain yang menyusul kemudian. Dari tanganmu. Mungkin juga dari tanganku. Aku belum bisa menerbitkan buku secara tunggal atas namaku, kumcer yang sudah lama kupersiapkan kala hamil Palung, sejak tahun 2008. Kendala penerbitan di negeri ini macam-macam. Dan aku belum bisa mengikuti selera pasar, haha.
Berbahagialah, wahai Sang Ronin....
Di bulan Muharam, semoga segala berkah bersinar. Seumpama guyuran air yang menciumi bumi, tiada henti. Salam untuk karibmu, Sang Puisi!
Cipeujeuh, 8 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D