HOME/RUMAH

Sabtu, 30 Desember 2017

Train to Busan: Berkereta dengan Para Zombie!







APA, sih, asyiknya film zombie?
Um, saya tak tahu karena bukan penggemar film bertema demikian, cuma kebetulan dapat dari hasil sedot koleksi film yang disimpan anak sobat sampai keponakan saya dalam komputer jinjingnya.
Ada file film yang tak saya intip isinya tentang apa, jadi tahu-tahu malah menonton film horor tentang para zombie yang kalap serang orang sana-sini. Atau saya sudah tahu isinya tentang zombie tetapi tetap sedot untuk ditonton dan dikoleksi dalam netbook Acer saya, alasannya suka atau penasaran. Yah, lumayanlah untuk diulas dalam blog.
Apa, sih, arti zombie itu?
Menurut kamus bahasa Inggris yang saya beli untuk Palung di toko kitab dekat Pasar Balubur Limbangan seharga 15 ribu rupiah saja, artinya mayat yang dihidupkan kembali dengan ilmu gaib (kamus Lengkap 900 Milyar [yang sayangnya kurang lengkap], R. Krisdianto, Penerbit Barus, Jakarta). Kalau translate dalam Transtool, sih, artinya mayat hidup tanpa embel-embel lain.
Baiklah, jika mengacu pada arti mayat yang dihidupkan kembali dengan ilmu gaib, berarti istilah zombie -- yang penulisan dalam bahasa Indonesia menjadi zombi tanpa e -- itu merupakan hal yang sudah dikenal sangat lama sekali, barangkali sejak zaman dahulu kala. Kala ilmu klenik masih merajalela.
Dahulu kala saya masih kecil dengan status anak SD, tahun ’80-an, pernah menonton film zombi bertema mayat yang dihidupkan kembali dengan ilmu gaib. Bagi anak kecil itu terasa seram banget, namun anehnya saya tetap menonton sampai tamat. Sampai bagian penutup berupa nama-nama asing awak filmnya. Entah buatan Jerman atau Belanda, namun akibatnya tiap saya baca nama berbau asing demikian di layar televisi jadi merinding ingat film zombi. Yah, namanya anak kecil, hehe, beroleh pengalaman traumatik akibat film horor.
Alkisah, ada seorang lelaki yang membunuh seorang lelaki lainnya, entah pembunuh atau yang dibunuh orang jahat, atau keduanya sama jahat, karena kala mayat tersebut dibakar di perapian seakan menjadi kutukan. Abu yang tersebar dari cerobong asap jatuh di area pemakaman. Dan di makam tersebut ada sekelompok anak muda yang berpesta memutar musik entah rock atau metal, pokoknya kombinasi sebaran abu mayat yang dibunuh pembunuh plus musik berisik sanggup membangkitkan mayat-mayat yang dikubur di pemakaman itu.
Mau ngapain, tuh, mayat orang mati “hidup” lagi? Yah, mau keluyuran jadi zombi, lah. Zombi-zombi dari makam itu bangkit dengan beragam gaya, kayak lengan nyembul duluan dari makam yang mendadak terbongkar, atau kepala duluan, atau semua anggota badan duluan.
Dan mereka berjalan dengan gaya superkaku ala zombi, lamban pula, menyerang sekelompok anak muda tersebut, menggigit lalu memakani otak mereka. Seram banget. Dan anak-anak sial tersebut begitu usai digigit dan otaknya dimakan malah ikut berubah wujud jadi makhluk yang bukan manusia lagi, jadi mahkluk kategori zombi lapar otak. Mereka keluyuran di kota dan menyerang penduduknya hingga menzombi pula. Jeng… jeng… jeng…. SELESAI!
Karena yang akan saya bahas adalah film Train to Busan (Kereta Menuju Busan), tak usahlah membahas film zombi di atas yang saya lupa judulnya apa. Zombi yang ini bangkit bukan karena klenik melainkan kebocoran dari pabrik kimia. Gak jelas kimia apa, tak dijelaskan di film. Lebih pada genre thriller campur drama mengenai upaya sekelompok manusia dalam mempertahankan diri dari serangan zombi, lebih tepatnya bertahan untuk hidup dan tak terinfeksi.
Film ini ditranslasikan secara manual oleh Fathur, selesainya di Makassar, 12 September 2016, pukul 20:59 WITA. Dengan pesan: please visit www.moviedetector.com. Film Korea, sayang tak jelas pemainnya siapa saja karena semua teks pemeran dan awak film, sampai judulnya, pakai huruf bahasa Korea. Harus googling padahal, karena suatu hal, tak bisa ngenet di rumah kala itu. Nontonnya Oktober 2016.
Film ini disedot dari laptop Asus Ai Ghina penggemar film horor sampai thriller, sekaligus pencinta drakor alias drama Korea nan romantis. Barangkali doi bercita-cita bisa mengunjungi Korea juga. Mari kita doakan semoga cita-cita manisnya terkabul. Aamiin…. J
Asal tahu saja, semua film yang pernah dikoleksi saya kebanyakan dapat dari hasil sedot koleksi Ai anak sulung Ipah sobat saya. Enak, ya, main sedot itu, tinggal copy-paste atau send to flashdisk saya. Kalau unduh sendiri langsung dari sumbernya suka bingung, kesasar di situs yang ribet cara unduhnya atau bohongan koleksi film karena kebanyakan memampangkan iklan judi online dan hal porno. Pusing, yeuh!
Alasan lainnya, main sedot film secara langsung dari sumbernya (laptop atau NB) itu lebih cepat, makan hitungan menit, dapat banyak lagi. Tak tahulah Ai dapat dari mana, unduh sendiri atau sedot koleksi teman kuliahnya di Bandung?
Saya pernah unduh film dan berulang gagal. Kerapnya mengunduh di www.narudemi.net, ambil yang mudah diunduh dan lebih cepat dari pilihan format lainnya, meski kualitas gambarnya gak bagus. Bukan .mkv, .flv, atau .mp4. .3gp saja, hehe. Yah, kualitasnya kayak film bajakan, tuh. Yang penting bisa ditonton meski rada gaje, gak jelas.
Kok, malah melantur? Oke, kita bahas film “Train to Busan”. Semoga bermanfaat dan mengundang hasrat untuk menontonnya juga. Di sini ada segi humanisme yang dibidik. Hubungan antarmanusia sebelum dan sesudah menghadapi serangan zombi. Meski kala menontonnya untuk pertama kali bikin merinding campur lemas-tegang, plus main jerit segala sampai Ai mengernyit kaget ada orang teriak di dekat kupingnya. Hehe, maaf, gak sengaja, spontan banget!  
Cerita film dimulai dengan latar jalan masuk pabrik di Jin Yang yang dimasuki oleh mobil pikap biru tua, dikemudikan seorang lelaki. Di gerbang pemeriksaan, mobil dihentikan sebentar oleh petugas jaga untuk disemprot antihama. Sopir mengomel karena bosan dapat perlakuan itu seperti yang sudah-sudah karena sebelumnya tak pernah demikian. Petugas bilang ada kebocoran di pabrik. Mobil dipersilakan jalan. Di perjalanan, sopir meneruskan dumelannya sampai diinterupsi dering ponsel.
Ada benarnya anjuran jangan mengemudi sambil menerima atau menelefon karena akan membawa musibah besar, bagi umat manusia kali ini. Sopir mencoba meraih ponsel sambil menyetir. Kala gagal, ia mengalihkan perhatian dari depan dengan akibat mobil berguncang seperti telah menabrak sesuatu. Dan benar saja, kala menghentikan mobilnya lalu keluar, ia telah menabrak seekor rusa yang menyeberang sembarangan.
Dasar sopir tak tanggung jawab, bukannya ngurus mayat rusa itu agar tak tergeletak sembarangan di jalan yang sepi, malah langsung ngaleos alias ngacir tanpa dosa, toh yang ditabraknya cuma rusa.
Lalu apa yang terjadi pada rusa malang itu? Mati? Iya, tapi ngedadak getar-getar kejang gak jelas lalu bangkit kembali. Hidup? Gak, jadi zombi! Iya, rusa pun bisa menzombi karena dalam film itu lagi ada kebocoran zat kimia. Dan rusa-mati terinfeksi saking kuat dan berbahayanya zat kimia tersebut. Mungkin nama zat kimianya Jelangkung 16.0, hehe.

 

Opening title berakhir. Adegan berpindah pada seorang eksekutif muda perusahaan operasional pabrik zat kimia tersebut. Sibuk meyakinkan klien pemegang saham yang hendak menarik asetnya dari perusahaan terkait masalah dalam pabrik yang turut mengguncang pasar saham. Ia sendiri pusing melihat berita di internet yang mengabarkan jutaan ikan mengambang mati akibat keracunan zat kimia yang bocor dari pabriknya.


Berkeputusan menjual seluruh saham ke bursa efek karena harus mengantisipasi hal tak terduga, memerintahkan hal itu pada manajernya yang ragu. Ia yang workaholic (gila kerja) tak kenal ragu dalam mengambil suatu keputusan penting. Perkawinannya berantakan akibat sifatnya yang egois alias selfish dalam mengejar ambisinya sampai tak peduli pada hal lain.
Di parkiran apartemennya, ia ditelefon mantan istri di Busan, mengomel karena ia tidak menghadiri pementasan putri mereka di sekolah dasar. Ia beralasan sibuk. Karena kesalahan itulah ia terpaksa mengantarkan Soo-an, putrinya untuk ke Busan.
Subuh gelap mereka bermobil ke Stasiun. Dan melihat kebakaran hebat melanda kota. Di Stasiun Pusat, kala fajar merekah, mereka berangkat dengan kereta menuju Busan, tanpa menyadari ada seorang korban yang digigit zombi menyusup ke dalam kereta yang bergerak. Saat itu stasiun pusat ternyata sudah diserang zombi.
 Di gerbong kosong, gadis muda itu mendadak kejang-jejang hebat. Seorang awak kereta yang memergokinya berniat menolong namun malah digigit gadis itu.
Perempuan muda tersebut tentu panik, berusaha melepaskan diri dari terkaman gadis yang tak diketahuinya adalah zombi. Ia masuk gerbong lain yang penuh penumpang dan mendadak jatuh kejang-kejang. Dan gadis zombi yang menggigitnya balik menyerang penumpang malang lainnya. Berdua mereka meneror penghuni kereta, menjadi penyebar virus berbahaya yang telah mematikan sisi manusiawi hingga menjelma zombi.
Alhasil, kepanikan menyebar, dari satu gerbong ke gerbong lain. Dan tokoh kita. eksekutif muda itu, dengan anaknya terjebak dalam huru-hara kereta.
Bisakah mereka menyelamatkan diri?
Saya ingin mengupas sisi menarik dari film “Train to Busan”. Sisi manusiawi yang ditampilkan. Tolong menolong antarsesama seakan menjadi barang langka di kota, dikalahkan egoisme diri yang berlebihan. Dan eksekutif muda itu pun termasuk salah satu pelaku egosentris, berkebalikan dengan anak perempuannya yang berhati hangat dan peduli pada sesama.
Namun masih ada beberapa persona yang memiliki kepedulian tinggi untuk tolong-menolong. Pasutri yang istrinya hamil besar, anak-anak SMU yang hendak tanding bisbol, dua bersaudara perempuan paruh baya, gembel yang lolos dari huru-hara kota dengan menyusup di toilet gerbong kereta. Berikut masinis yang tak tahu apa-apa.
Mereka yang selamat adalah peran sentral dalam cerita, baik sebagai tokoh utama atau pendukung. Jangan abaikan beberapa tokoh antagonis lainnya. Seorang eksekutif sombong yang super-duper selfish sampai memprovokasi penghuni gerbong untuk mengabaikan penyelamatan karena takut terinfeksi.
Tokoh yang nyebelin itu pada akhirnya malah kualat jadi zombi yang terinfeksi setelah beberapa upaya menyelamatkan diri dengan cara licik telah dilakukannya, mengorbankan orang lain untuk digigit duluan.
Ada banyak adegan menegangkan sekaligus menyadarkan kita akan watak dasar manusia yang berperilaku tak manusiawi. Filmnya bagus banget! Adegannya juga suspens abis. Spektakuler, malah!
Bikin kita deg-deg plas melihat upaya penyelamatan diri kala dikepung zombi. Zombinya juga tak peduli pada diri sendiri, badan yang ancur abis demi mengejar target hidup untuk digigit.
Kaget lihat zombi melompat dari ketinggian gedung atau kereta, bahkan helikopter yang lewat di jalan raya, mereka tak peduli tulang patah atau berdarah-darah, toh masih “hidup” meski ubah-wujud. Jadi kejar terus yang hidup agar sama!
Adegan spektakuler lainnya adalah saat kereta bertabrakan di stasiun lain, ada lokomotif yang terbakar, terus para zombi yang terjebak di dalam kereta memecahkan kaca, serempak keluar padahal beberapa tokoh protagonis yang selamat berupaya saling menolong agar bisa menuju lokomotif di jalur rel lain yang hendak berangkat ke Busan.
Banyak sekali pengorbanan yang bisa menohok dan mempermalukan kita yang selfish. Tokoh suami perempuan hamil, demi sang istri rela menjadi tameng untuk menahan para zombi di pintu antarlorong kereta. Ketika digigit, ia menyuriuh istrinya untuk menyelamatkan diri bersama tokoh lain. Duh, sedihnya.
Sepasang remaja putra dan putri, setelah sekian adegan menegangkan telah dilakoni, yang perempuan digigit zombi gegara didorong eksekutif jahat ke arah zombi yang mengejarnya di pintu masuk kereta. Padahal eksekutif tersebut tak perlu melakukannya, ia hanya tinggal kerja sama dengan mereka untuk menutup pintu luar agar sama terlindungi.
Egoisme diri yang brutal tersebut berdampak merugikan pihak lain yang lebih lemah dan tak berdosa. Pelaku egoisme-brutal tersebut barangkali lebih buruk daripada zombi sendiri karena jiwanya telah lama menzombi sebelum ia menjelma dalam wujud zombi beneran. Jadi ingat lagu “Zombie” yang dibawakan group The Cranberries di tahun ’90-an.
Dan lelaki gembel dengan kaki pincang akibat terluka dalam upaya pelolosan diri sebelumnya di kota, jiwanya tidaklah segembel penampilannya. Rela mengorbankan diri agar Soo-an dan perempuan hamil bisa meloloskan diri dari dua rangkaian kereta di jalur bersisian yang mengepung mereka. 


Ada banyak zombi kalap yang hendak lolos dengan memecahkan kaca jendela kereta, dan pada saat bersamaan kedua rangkaian gerbong tersebut sama-sama hendak ambruk menimpa mereka yang terjebak di tengah-tengahnya. Menciptakan gemuruh besar, berikut ledakan kebakaran yang berbahaya.
Dalam film “The World War Z” yang dibintangi Brad Pitt, para zombi bereaksi terhadap bunyi, mereka akan kalap menuju sumber bunyi yang keras sekali. “Train to Busan” pun demikian. Namun yang membedakan adalah zombi dalam “Train to Busan” tak bisa melihat kala gelap waktu kereta lewat terowongan.
Begitu lokomotif bergerak, para zombi serempak kalap mengejar. Wow, mereka semua berlarian sampai mengorbankan badan. Salah seorang berhasil memegang sandaran besi di belakang lokomotif, dan badannya diseret lokomotif seakan kebas sakit. Badannya jadi titik pusat utama para zombi agar zombi lain berpegangan padanya demi menarik lokomotif itu.

 

Lagi-lagi itu adegan spektakuler!
Dari beberapa zombi jadi puluhan sampai hitungan tak terkira, berlarian kalap mengejar lokomotif karena nyaring bunyinya sumber gairah mereka. Lagi-lagi itu mengingatkan adegan dalam film “The World War Z”. Para zombi yang jumlahnya jutaan kalap merayap naik sampai bertumpuk-tumpuk, membentuk “tangga zombi” agar bisa memanjati tembok pemisah antara permukiman penduduk Palestina dengan orang Yahudi sana. Karena terusik lagu “perdamaian” Arab-Israel. Apa semacam propaganda terselubung sineas Hollywood sana?
Seru banget menonton “Train to Busan”. Deg-deg plas dikemas tidak dalam adegan murahan. Efek special sineas Korea yang canggih dipertontonkan pada kita.
Jika kita suka mikir, alias cenderung memandang dengan kacamata filosofis, mari kita umpamakan kereta dengan alat perjalanan hidup kita. Kita berkereta untuk menuju stasiun tujuan tertentu.
Dan dalam satu gerbong perjalanan, kerap bersua dengan orang-orang yang tidak berkesesuaian. Namun percayalah, akan ada pihak yang sehaluan dengan kita, entah dari gerbong yang sama atau berbeda.
Train to Busan” menohok sisi kemanusiaan kita!
Selesai di Cipeujeuh, 30 Desember 2017 setelah naskahnya diantep lama


      

6 komentar:

  1. Ini salah satu film zombie paling keren yang pernah saya tonton. Kerasa banget seremnya, sampe kebawa-bawa mimpi adrenaline rush nya. Endingnya juga mengharukan. Salah satu karya sinematografi terbaiknya Korea.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ini film yang habis-habisan. Ada sisi manusiawi yang ditonjolkan. Makanya menarik untuk ditonton.

      Hapus
  2. Aku belum nonton, bukan karena apa apa sih. Sebenarnya aku penakut, apalagi zombi. Tapi salah satu pemerannya itu Gong Yoo. Trus di commuter line Bogor - Tanah Abang sampe ada promosinya. Segerbong kereta penuh sama wajah Gong Yoo dan kata Train to Busan.

    Btw makaaih review-nya. Aku jadi tau kenapa banyak temanku yang bilang film ini bagus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada mulanya aku juga penakut dan ogah nonton film zombi, namn gegara tak tahu filmnya tentang apa karena ketegangan berada di jelang pertengahan cerita maka seakan terjebak untuk tetap menontonnya. Seru, sih. Akting pemainnya juga bagus dan penghayatan.
      Coba bayangkan jika di Indonesia, kala Mbak lagi naik kereta mendadak diserang zombi bakal gimana? Hihi, kok, malah nakutin. Becanda.
      Filmnya emang bagus makanya berkesan banget dan kuulas. Mbak harus tonton juga. :)

      Hapus
  3. Saya paling gak bisa nonton zombie beginian lah pokoknya yg serem-serem gak bisa banget, dari deskripsi di atas rasanya kok mencekam sekali filmnya yaaa. Jadi tambah gak pengen liat hahaha di luar negeri emang zombie zombie yg nyeramin yaa kalau di Indonesia beda lagi horonya haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang mencekam namun lebih mengedepankan adegan kemanusiaan ketimbang sadisme. Saya juga beberapa kali nonton film zombie dan merasa tak nyaman dengan pengadegan sadis berdarah-darahnya.
      Wah, kalau film Indonesia yang horor, saya malah malas nonton soalnya tak berani da nyeramin, haha....

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D