HOME/RUMAH

Minggu, 24 Desember 2017

Selamat Ulang Tahun, Majelis Sastra Bandung



Oleh: ROHYATI SOFJAN


BANDUNG sebagai kota seni dan budaya menampung begitu banyak pegiat seni yang aktif dan kreatif berkarya. Wujud nyata dalam karya biasanya disebarkan pada masyarakat luas untuk diapresiasi. Baik dalam pertunjukan atau dibukukan.
Majelis Sastra Bandung (MSB), satu dari sekian banyak komunitas seni sastra di Bandung, adalah komunitas yang berupaya tetap konsisten mewujudkan karya nyata, tidak melulu dalam pertemuan atau pertunjukan seni saja (Pengajian Sastra dan Tadarus Puisi), tetapi juga membukukan antologi puisi sebagai perayaan milad tahunannya.
Sebuah majelis barangkali mengemban amanat yang berat demi mengusung idealisme. Dan idealisme macam apa yang telah diusungnya selama 6 tahun ini? Kurun masa yang tak bisa dibilang singkat.
Berdiri sejak 25  Januari 2009, MSB layak diacungi jempol karena upaya tahunannya yang tidak mudah itu, menerbitkan antologi puisi sebagai perayaan ulang tahunnya. Sepertinya Matdon, selaku Rois ‘Am MSB dan kawan-kawan serius berupaya menghidupkan keberadaan majelis tersebut.
Antologi bersama Menulis Puisi Lagi, seperti semacam perayaan sekaligus syukuran. 50 penyair dengan 125 puisi berupaya menghadirkan stimung khas masing-masing. Tema religiusitas, cinta, persona, kritik sosial, sampai mengenai puisi sendiri didedahkan para penyair dengan daya ungkap masing-masing.
Perbedaan daya ungkap dalam suatu antologi puisi bersama bagaimanapun menarik untuk dikaji dan nikmati. Mereka memiliki beragam jam terbang dan spirit pengalaman yang berbeda namun berupaya memadukannya agar bisa dinikmati pembaca. Dan boleh dikata, Menulis Puisi Lagi seakan merupakan kitab rangkuman ajakan sekaligus kegiatan para pemuisi dalam mendedah kehidupan.
Acep Zamzam Noor masih mengentak dengan kekuatan bahasanya yang liris dan metaforis dalam “Waktu yang Sehitam Dedak Kopi”, “Sepakbola”, dan “Bagian dari Waktu”. Ia bermain kata sekaligus makna secara filosofis. Pesona yang seakan belum pudar dari sosok Acep Zamzam.
Kolam-kolam musim dingin yang jernih/ Habis direguk musim panas yang kehausan/ Sungai masih mengalir pelan dari balik gunung/ Tapi gairahnya memancar jauh di lubuk lautan/ Maka ke balik ombaklah ingin kupersembahkan/ Nanar hatiku. Kesabaran ibarat sungai/ Dan kebijaksanaan tak pernah minum terlalu banyak// (“Bagian dari Waktu”) 
Ada tiga puisi Sunda terselip dari penyair Arom Hidayat. MSB rupanya tetap memberi ruang bagi penyair mana pun untuk bebas berkreasi sekaligus mempertahankan bahasa tradisi. Arom menyapa kita tentang puisi sendiri dengan bahasa yang enak dan terjaga rimanya dalam “Heuheuy Deudeuh”. Asa teu pira, ngabukbak leuweung/ aing jeung maneh/ keur melak sasiki sajak// nyaĆ©ta, ku asa heunteu pirana/ ngaludang jeung ngaruang/ sora urang sorangan//
Kita ternyata secara kejiwaan memiliki rimba, rimba untuk kita tebas dan jelajahi sekaligus taklukkan agar bisa menemu apa yang tersembunyi dalam diri: puisi! Demikianlah Arom berupaya menyuarakan makna yang tersembunyi di balik tabir puisi.
Dian Hartati sebaliknya berupaya menyuarakan diri dalam “Undangan 2” dengan diksi yang meruah dan apa adanya, tanpa balutan rima dan metafora istimewa. Akan tetapi, kekuatan Dian adalah menyuarakan sesuatu dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami sekaligus bicara banyak. yang datang kepadaku lalu membuka dua jalur sungai/ melankolia dibagi-bagikan// aku bukan sesiapa/ hanya tirai yang menyelubungi mata/ dari sinar dan muram kabut pagi hari// aku bukan kitab suci yang dibaca setiap saat/….
Begitu banyak puisi yang disebarkan para penyair dalam Menulis Puisi Lagi. Kita bahkan diajak menggalau bersama dalam melihat wajah kota. Zulkifli Songyanan membalas puisi yang ditulis Ramadhan KH dalam versi sekarang, menghadirkan ironi dari keindahan puisi Ramadhan yang telah dibukukan dalam Priangan Si Jelita.
1/ Seperti baris-baris sajakmu/ Sederet pohon mahoni/ Teduh Jalan Cipaganti/ Masih membuatku takjub, berkali-kali.// Dan terkenang pupuh kinanti/ Lagu sendu yang jadi asing/ Di tengah bising kota ini.// Entah kenapa, aku ingin menangis.// 2/ Berjalan di bawah Jembatan Pasupati/ Aku saksikan monyet dan manusia/ Nasibnya mirip sekali.// Sedang di plaza-plaza yang kudatangi/ Setiap orang yang kuajak bicara/ Mendadak jadi manekin.// (Aduhai, lihatlah/ Di putih dada mereka/ Berkilauan potongan harga!)// 3/ Seruling di Pasir Ipis, katamu, merdu/ Tapi tembang yang menggema/ Antara Burangrang-Tangkubanparahu/ Tak juga sampai padaku.// Kembang Tanjung berserakan, katamu/ Paha perawan di jalan-jalan, sambungku.//….
 Bagaimanapun, pengerjaan antologi puisi semoga tak sia-sia. Kita butuh upaya tiada henti demi mendokumentasikan kehidupan, dan sastra adalah medium yang tak bisa dipinggirkan karena merupakan bagian terpadu dari masyarakat beradab.
Selamat ulang tahun, Majelis Sastra Bandung. Semoga perjalanan selama 6 tahun tak terhenti di satu titik stagnasi.***
Cipeujeuh, 12 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D