HOME/RUMAH

Minggu, 24 Desember 2017

Selamat Datang, Antologi Puisi!



 

Oleh ROHYATI SOFJAN

 

DATA BUKU                       : MENULIS PUISI LAGI
PENULIS                  : ACEP ZAMZAM NOOR DAN 49 PENYAIR
PENERBIT               : MAJELIS SASTRA BANDUNG, JEIHAN INSTITUTE, DAN PENERBIT MEDIUM
ISBN                           : 978-602-70626-1-0
CETAKAN               : I, 2015
TEBAL                      : 153 HALAMAN
HARGA                     : RP 35.000,- 

SELALU ada hal menarik yang ditawarkan antologi puisi, apalagi jika ditulis oleh beragam penyair lintas generasi dari berbagai kota. Majelis Sastra Bandung MSB) memiliki tradisi untuk memperingati ulang tahunnya, merayakan dengan penerbitan antologi puisi. Mengundang puluhan penyair terpilih yang produktif  untuk menyumbang 3 puisi pilihan sebagai bahan antologi.
Menurut Matdon, Rois ‘Am MSB, dalam kata pengantarnya, “Tak terasa puisi terus hadir dalam relung batin kita, relung batin yang jujur dan ikhlas. Enam tahun sudah perjalanan Majelis Sastra Bandung menemani dan ditemani, sejak berdiri 25 Januari 2009. Di MSB, lewat Pengajian Sastra dan Tadarus Puisi sebagai program rutin, membuat kami yakin puisi akan tetap hidup dan ‘menghidupi’ manusia.”
50 penyair yang bergabung dalam antologi Menulis Puisi Lagi menawarkan kekhasan yang layak diapresiasi. Dari Acep Zamzam Noor, Acep Iwan Saidi, Agus Nasihin, Aendra H. Medita, Ahda Imran, Ashmansyah Timutiah, Atasi Amin, Budhi Setyawan, Deddy Koral,  Gol A Gong, Heni Hendrayani, Joko Pinurbo, Maman Imanulhaq, Rukmi Wisnu Wardani, Sarabunis Mubarok, Sihar Ramses Simatupang, Soni Farid Maulana, Weni Suryandari, sampai Yusef Muldiyana; sebagai penyair dengan jam terbang dan produktivitas mengagumkan.
Lalu generasi termuda lainnya yang lahir di tahun ’80-an ke atas seperti Adew Habtsa, Arinda Risa Kamal, Arom Hidayat, Anisa Isti Yuslimah, Bode Riswandi, Dian Hartati, Epiest Gee, Faisal Syahreza, Farra Yanuar, Fina Sato, Galah Denawa, Heri Maja Kelana, John Heryanto, Lutfi Mardiansyah, Malkan Junaidi, Meitha KH, Muhammad Budi Pramono, Mohamad Chandra Irfan, Opik Geulang, Peri Sandi Huizche, Ratna Ayu Budhiarti, Ratna M. Rochiman, Rendy Jean Satria, Rezky Darojattus Sholihin, Rudy Aliruda, Sayidah Anis, Tirena Oktaviani, Willy Fahmi Agiska, Wong Agung Utomo, Yopi Setia Umbara, Zay Zabidi Lawanglangit, sampai Zulkifli Songyanan yang tak kalah dalam berkarya.
Menulis Puisi Lagi seakan membawa makna filosofis, mengajak dan mengingatkan para pencinta puisi untuk tetap menafsirkan hidup sebagai puisi. Beberapa penyair bahkan menulis puisi bertemakan tentang puisi.
Yang kau perlukan adalah menyeru mahluk halus/ yang berdiam di balik kata-kata. Tapi kau hanya/ akan mendapati kata-kata jika ia tahu kau mencarinya// Serulah dia tanpa ia mendengar suaramu//. (“Pelajaran Pertama Menulis Puisi”, Ahda Imran) Sebuah tugas mulia yang tampak berat. Dan Ahda tampaknya tahu demikiam.
Sebaliknya Agus Nasihin punya versi lain, “Mari berkebun di kepala/ Tempat paling subur untuk menyemai lupa dan luka lewat kata-kata”/ Sabda Sang Pekebun Syair// Lalu Pekebun Muda/ Mengambil pena dan mencangkulnya di secarik lahan// “Sebelum kalian menanam, pilihlah benih-benih leksem/ Siangi benalu afiks yang tumbuh di pori-pori morfem/ Taburkan pupuk kenangan agar menjadi bunga-bunga metafora/ Siarami diksi dengan rima dan irama”/ Titah Sang Pekebun Puisi//…. (“Belajar Menanam Puisi’)
Joko Pinurbo malah mengejek dengan ironi, Pulang dari sekolah, saya main ke sungai./ Saya torehkan kata-kata asu dan tanda seru/ pada punggung batu besar dan hitam/ dengan pisau pemberian ayah.// Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya/ untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:/ “Hidup ini memang asu, anakku./ Kau harus sekeras dan sedingin batu.”//….
Ekspresi dari ruang renung para penyair yang tercakup dalam antologi bersama sesungguhnya menarik untuk dikaji. MSB dengan upaya hajat tahunannya berupa menerbitkan antologi semoga saja tak berhenti. Kita butuh lebih banyak komunitas yang peduli puisi. Tak bosan-bosannya menghadirkan hal yang dirasa asing bagi masyarakat agar bisa menggugah kesadaran.
Kesadaran semacam itu bagi seorang Dian Hartati cukup ditafsirkan sebagai, doaku untukmu adalah konfeti/ yang terus berhamburan/ tak usai-usai/ bermunculan/ tak mengenal waktu//. (“Buket Doa”)
Menulis Puisi Lagi boleh dikata semacam hadiah yang layak kita miliki dan apresiasi. Kita bisa mengenal beragam daya ungkap persona, dari yang menarik sampai biasa-biasa saja. Namun puisi menjadikan mereka luar biasa. Launching dan bedah buku yang diadakan di Studio Jeihan akhir Januari lalu, adalah semacam ucapan selamat datang bagi kehadiran yang menghadirkan! (*)
Cipeujeuh, 10 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D