Kamis, 28 Desember 2017

Ketika Imlek Tiba



Cernak Rohyati Sofjan


TANTE Yuan adik Mama datang bertandang, kami menyambutnya dengan senang. Tante selalu tak lupa membawa oleh-oleh untuk aku dan Didit.
“Hore, Tante datang!” seru Didit girang, berlari masuk rumah untuk mengabarkan lalu kembali ke area carport,  menyambut Tante Yuan.
Aku melongok ke ambang pintu, Didit adikku yang masih TK menyalami tangan Tante Yuan ke keningnya. Tante mengusap kepala Didit. Menggendongnya. Menciumi pipi Didit yang chubby.
Aku mendekati mereka. Tante Yuan tinggal dan bekerja di Jakarta. Ia belum menikah. Setiap akhir pekan, jika tak sibuk, pasti akan mengunjungi rumah besar kami. Soalnya aku dan Mama tinggal di rumah Kakek dan Nenek. Papa sudah lama meninggalkan kami. Mama bilang Papa kawin lagi. Aku dan Didit sedih. Namun kehadiran Tante Yuan cukup mampu menghibur kami. Ia tidak pelit berbagi.
Assalammualaikum, Tante. Bawa oleh-oleh apa?” candaku sambil menyalami tangan Tante Yuan seperti Didit. Tante Yuan tergelak. Mencubit pipiku. Lalu seperti biasa, sebagai kebiasaan, mengusap kepalaku, lebih tepatnya mengacak-acak. Aku meringis. Rambutku yang cepak dan dikasih jel agar keren pasti terasa kasar bagi tangan Tante.
“Kecil-kecil sudah bergaya keren. Mau ke mana rambut dijelian, Purwana?” bukannya menjawab pertanyaanku Tante malah meledek.
“Nanti mau ke rumah Sansan buat imlekan, siapa tahu kebagian angpau. Di sana ada barongsai.”
“Ikut!” seru Didit, ia menggelesot turun dari pangkuan Tante Yuan. “Didit boleh ikut, ya, Kak Wawa?” rajuknya.
“Gak boleh!” aku jual mahal untuk menggoda Didit. Wah, wajahnya seketika berubah antara gusar dan mau mewek. Mulutnya jebleh. Aku tertawa.
“Tentu boleh asal Didit minta izin dulu pada Mama," lerai Tante Yuan, ia mencium gelagatku yang jail. “Tapi sebelumnya bantu Tante ngeluarin oleh-oleh dari mobil.” Tangannya langsung membuka pintu mobil Daihatsu Terrios merah mengilat. Aku dan Didit bersorak. Banyak sekali oleh-oleh Tante Yuan.
Kami berkumpul di meja makan. Takjub pada apa yang dibawa Tante Yuan. Keranjang buahnya besar dan mewah, aku yang membawanya jelas merasa berat karena isinya  tak biasa. Ada gerangan acara istimewa apa soalnya banyak sekali hidangan yang tersaji di meja, Mama dan Nenek sedari tadi telah mempersiapkannya. Plus tambahan oleh-oleh makanan dari Tante Yuan.
“Namanya Suki,” Tante Yuan sibuk menata penganan unik, ada yang digulung dan dihias isian entah apa namanya. seumur hidup aku belum pernah makan apa yang Tante Yuan sebut sebagai suki.
Oh, lupa, pernah sih coba sukiyaki dari resto Hokben, namun yang ini beda. Kata Tante Yuan buatannya sendiri. Pasti yummi. Didit minta izin mengambil satu, yang berbentuk penguin.
“Enak,” kata Didit, ia meneruskan gigitannya lalu mengunyah. Aku jadi ngiler. Tante Yuan tersenyum. Ambil saja, jangan sungkan, katanya. Maka aku mengambil yang berbentuk burung. Lengan Didit sudah terjulur lagi mengambil yang berbentuk kepala Spongebob.
Kami duduk dengan manis di atas meja, menyantapi aneka suki yang tersaji. Wah, banyak sekali. Ada kacamata, kakap brokoli, ayam gulung udang, sayuran, dan masih banyak lagi. Plus tambahan kuah. Kaldu ayam dan tomyam. Nyam-nyam....
Nenek dan Mama muncul dari ambang pantry, cipika-cipiki dengan Tante Yuan. Mereka girang sekali. Aku curiga sebab tidak seperti biasanya. Wajah Tante Yuan merona.
“Tante mau dilamar, ya?” aku usil lagi, teringat Om Koko yang keturunan Tionghoa tapi sudah muallaf. Wajah Tante Yuan kian merona. Didit bersorak. Om Koko sangat baik pada kami.
“Nanti Om Koko dan keluarganya akan datang kemari,” Mama flirting padaku. Aku tergelak.
“Wah asyik dong! Ya, Nek. Nenek dan Kakek akan mantuan, hehe....”   
“Usil!” Tante Yuan mencubit pipiku dengan gemas. Wadaow! Nenek hanya tersenyum geli. Kakek muncul dari halaman belakang, dari tadi Kakek sibuk mengurus ikan-ikan di kolam. Ada taman berikut gazebo di rumah kami yang asri. Tante Yuan memintaku dan Didit membawa sebagian suki dalam wadah dengan penutup plastik transparan berikut kue keranjang ke gazebo.
Asal tahu saja, kue keranjang itu nama lain dari dodol cina, rasanya manis legit. Berbeda teksturnya dengan dodol garut yang biasa kumakan. Dodol garut sih sepanjang hari pasti ada, kalau dodol cina unik karena cuma setahun sekali ada di pasaran. Biasanya menjelang imlek. Aku tahunya, ya, dari Sansan sobat sebangkuku di sekolah. Kami dua cowok keren beda etnis namun rukun dan akrab sebagai sahabat.
Sekarang di keluargaku akan ada tambahan etnis lagi. Lucu ya membayangkan mata Om Koko yang agak sipit itu jika tertawa. Akan seperti apa tampang anak-anak mereka, sepupu kami kelak? Hehe.
Aku dan Didit kembali bergabung ke ruang tengah, nimbrung dengan keluarga kami yang hangat dan periang, menyantap aneka penganan berikut irisan kue keranjang. Lalu minta izin untuk ke rumah Sansan yang tidak jauh dari rumah kami.
“Hati-hati!” pesan mereka serempak.
“Tunggu sebentar, Wawa. Tante lupa ada oleh-oleh untuk keluarga Sansan. Tante Yuan menyusul kami. Ia berjalan ke arah mobilnya, mengambil kantung kain, ada wadah besar tersembul. “Kue khusus,” Tante Yuan seolah membaca pikiranku.
Aku jadi penasaran dan ingin melongok apa isinya. Namun Tante Yuan mencegah. “Cuma blackforest kok, tapi dengan hiasan. Tante sudah bikin dua. Ada lagi satunya,” Tante Yuan mengambil bungkusan lain yang serupa, menunjukkannya pada kami dengan gaya menggoda. “Ayo, cepat sana, gih!” tawanya berderai.
Didit dan aku sudah ngiler membayangkan kue bolu cokelat yang legit itu. Namun perut kami sudah kenyang menyantap suki plus irisan kue keranjang.
Di rumah Sansan sudah ramai dengan banyak orang. Sansan menyambut kami dengan hangat. Didit bertanya barongsainya mana. Kata Sansan sebentar lagi. Aku memberikan bungkusan dari Tante Yuan. Sansan senang sekali. Hari ini perutku akan sangat kekenyangan, candanya, ketika kuberitahu apa isinya. Ia mengajak kami menemui keluarganya.
Gong xi fa cai. Seruku sambil mengepal-ngepalkan kedua tangan pada keluarga besar Sansan yang disambut mereka dengan cara serupa. Didit ikut meniru gerakan lenganku dengan kaku, maklum ia tak terbiasa.
Sansan menunjukkan bingkisan dari keluargaku pada mamanya. Tante Susan senang sekali menerimanya. Kami sama-sama takjub pada bentuk blackforest buatan Tante Yuan, ada hiasan naganya loh, dari cokelat dan diberi pewarna makanan merah. Oh, Tante Yuan kan chef di hotel bintang lima jadi jago mengolah makanan apa saja. Tak heran Didit lebih gendut dikit daripadaku, hehe. Ia pencinta berat masakan Tante Yuan.
Opa Sansan mendekati kami, ia menyelipkan sesuatu ke tangan kami. “Angpau untuk anak-anak yang baik!” Didit girang sekali. Aku sih masih jaim padahal senangnya bukan main, hehe. Kami sama-sama mengucapkan terima kasih.
Sansan mengajak kami makan yang ditolak kami dengan alasan sudah kenyang. Kami lalu mengobrol banyak tentang imlek yang kata Papa Sansan merupakan tradisi asli dari negeri leluhurnya, nun di Cina sana. Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (zhêng yuè) penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh saat bulan purnama. Malam tahun baru Imlek dikenal sebagai Chŭxĩ yang berarti malam pergantian tahun baru.
Wah, pusing juga karena tak biasa ya? Untung Papa Sansan baik. Katanya bisa dicari di google kalau berminat menelusurinya, hehe.
Di luar terdengar suara ribut-ribut. Didit yang sedari tadi gelisah menunggu barongsai langsung melonjak senang.
“Mari  kita keluar,” ajak Papa Sansan.
Bersama kami beriringan menonton atraksi barongsai yang sebentar lagi akan dimulai. Semua keluarga besar Sansan berkumpul di rumah ini karena Papa Sansan merupakan anak sulung dan Opa-Omanya tinggal serumah. Sesuai tradisi, yang muda mengunjungi yang lebih tua. Sama seperti tradisi lebaran kami, ada bedug namun tak ada barongsai, hehe.
Sungguh, hari begitu cerah bagi kami. Suara tambur bertalu-talu, diiringi rentetan petasan kecil. Wah, ramai sekali! apalagi naga barongsainya mulai meliuk.
Aku menepuk bahu Sansan hangat.***
Cipeujeuh, 30 Januari 2012    

1 komentar:

  1. Iya nih aku kadang juga keliru antara kue keranjang sama dodol cina. Padahal sama ya. Selain manis juga enak rasanya. Biasanya aku pernah makan karena di kasih bapak, yang kebetulan kerja di salah satu tempat di, bosnya orang Cina.

    Kalau imlek itu ya aku suka lihat barongsai, terlebih di tahun kemarin, ada acara khusus gitu kalau di Malioboro, Jogja. Selain suasanya berubah, biasanya mall-mall juga berubah, serba merah. Di sisi lain banyak juga makanan khas gitu. Suka kangen akan suasana seperti itu. Kangen akan keseruannya.

    Ini ternyata tulisan lama ya..he

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D