HOME/RUMAH

Minggu, 24 Desember 2017

Berpusing-pusing dengan Akronim

Oleh ROHYATI SOFJAN


SIAPA yang tidak kenal akronim dalam keseharian? Bisa jadi kita kadang atau kerap menggunakan akronim dalam percakapan lisan sampai tulisan, bahkan isyarat tangan bagi yang disabilitas pendengaran macam saya.
Akronim adalah kata benda untuk istilah linguistik. Bermakna kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata, atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memuat halaman khusus untuk singkatan atau akronim untuk memandu. Namun rasanya kita akan terkaget-kaget lantas berpusing-pusing disedot labirin akronim dalam kekinian.
Betapa tidak, akronim terkini merupakan gabungan suku kata dari bahasa campur-aduk, entah bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa asing (biasanya Inggris), bahasa Indonesia campur bahasa gaul/alay, atau bahasa alay doang.
Dua tahun lalu, saya benar-benar tak paham arti kudet kala mulai aktif mengisi blog dan menyimak Facebook. Kata ajaib itu benar-benar bertebaran dan membuat saya dilanda sesak kata karena berada dalam kumparan ketidaktahuan yang menyesakkan. Yah, kalau kita kesulitan bernapas jadi sesak napas, dan jika kesulitan memahami makna kata serasa sesak kata.
Kudet itu apa? Semacam nama makanan? Yah, bukanlah! Juga bukan nama benda untuk peralatan masak karena mirip sodet. Dicari di KBBI 3 punya saya pun tak bakal ketemu, apalagi di halaman bagian akronim.
Saya sempat coba menyamakan suku kata ku- sebagai kurang sebagaimana kuper yang berarti kurang pergaulan. Namun mencari arti suku kata terakhir terasa mencarinya di tumpukan jerami, benar-benar membuat senewen karena ­­-det seakan mengajak saya bermain tebak-tebak buah manggis. Berapa jumlah bijinya tidak akan pernah saya ketahui kecuali jika mengupas buahnya.
Yang tersulit dari akronim adalah jika tiada penjelasan, baik dalam kalimat lanjutan yang menyertai penggunaan kata itu. Dan saya merasa buram yang teramat sangat karena akronim (terkini) lebih sulit ditebak.
Kudet itu ternyata akronim dari ‘kurang up to date’ atau  kurang update; yah, semacam out of date ‘ketinggalan zaman’. Kudet benar-benar telah membuat saya kecele bermain tebak katanya, karena, ternyata, percampuran bahasa nasional dengan internasional. Benar-benar menghasilkan “rasa” yang luar biasa!
Tidak heran, saya tak akan sanggup menebaknya karena sebelumnya tidak berpedoman bahwa akronim bisa saja memakai bahasa percampuran selain bahasa Indonesia sendiri.
Bayangkan, bagaimana mungkin saya akan sanggup menebak bahwa ­-det adalah suku kata untuk cara baca date. Mungkin saya akan berpedoman bahwa penulisan akronim dalam bahasa Inggris mengikuti kaidah baku berupa tulisan bukan berdasarkan cara pengucapan.
Beginilah bahasa gaul, bahasa yang kerap digunakan dalam pergaulan (anak muda), benar-benar informal. Apakah kudet merupakan singkatan [k]urang [u]p[date],  alhasil jadilah kudet? Apakah alasan mengakronimkan kudet karena dirasa keren, enak diucapkan dan didengar; jadilah bahasa keseharian yang dianggap wajar?
Mungkin akan terasa lucu dan tidak efektif, bagi kalangan muda (atau yang berjiwa muda), jika membuat akronim searti kudet dengan kupem ‘kurang pembaruan’ atau kumem ‘kurang memperbarui’.
Meskipun demikian, jika kudet yang semula ditujukan sebagai bahasa khas di kalangan tertentu, lantas karena telah populer bukan berarti orang awam terutama disabilitas pendengaran atau lisan akan paham. Mungkin pada mulanya mereka akan terjebak dalam kumparan ketidaktahuan dulu sampai bisa mengartikannya, atau terus terjebak dalam kumparan itu lantas tidak peduli untuk mencari arti karena enggan berpusing-pusing.
Bagi saya, kudet hanyalah salah satu dari sekian akronim terkini yang akan terus menuntut perhatian, untuk ditelaah dan diartikan. Bukan karena saya ingin menjadi pakar linguistik melainkan rasa frustrasi kala dihantam ketidaktahuan, lantas harus mencari pedoman sendirian.
Felicia N. Utorodewo menulis artikel bagus, “Kaidah Pembentukan Akronim” (Dari Katabelece sampai Kakus, Penerbit Buku Kompas, 2003). Baginya, sepanjang akronim itu digunakan untuk pergaulan dan permainan bahasa, kita tidak perlu terlalu khawatir. Nyatanya, banyak di antara akronim itu yang tidak berumur panjang. Sebaliknya, ada akronim yang dibakukan dan digunakan dalam berbagai kegiatan berbahasa. Dalam hal ini, jika akronim berkaitan dengan penggunaan yang bersifat informatif dan penyiaran berita, sebaiknya kita merujuk kembali kepada kaidah pembentukan kata.
Jika kudet berfungsi sebagai akronim untuk pergaulan dan permainan bahasa, tentu ada banyak insan “kurang gaul” yang akan kebingungan mengartikan permainan bahasa tersebut sebagaimana halnya saya. Kaidah kudet bikin mumet. Entah apakah masih layak disebut akromin atau tak lebih dari bahasa slank anak muda terkini?
Mengartikan akronim sekarang ini ternyata bukan perkara mudah, ada kaidah suka-suka yang diterapkan pelopor kata baru tersebut. Boleh dikata, karena kita hidup di era digital, istilah asing yang berkaitan dengan penggunaan perangkat teknologi digital jadi terbawa dalam komunikasi keseharian sehingga menjadi ragam bahasa baru. Alhasil, pelisanan pun dibahasakan menjadi bentuk tidak baku kala dituliskan.
Entah apakah kudet akan berumur panjang.***
#Cipeujeuh, 20 Desember 2016

~Gambar hasil paint sendiri~
#Akronim #Kudet #BahasaMilenial
    
  

6 komentar:

  1. Sekarang kelihatannya arti kata akronim itu semakin meluas ya mbak, sampai kata-kata alay pun jadi. Mungkin awalnya ikut-ikutan aja mbak, jadi semakin menyebar dan diikuti yang lain supaya bisa mengikuti cara anak gaul sekarang.

    Kadang saya juga tanpa sadar suka ngomong begitu juga, hehehe... Tapi kalau untuk kata kudet sendiri udah jarang aku denger sih. Dulu penasaran juga, apaan sih kudet kudet... Oalah ternyata kurang update. Sekarang udah enggak kehitung udah berapa banyak akronim yang digaulkan... Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saking kreatifnya pembikin akronim demikian, bikin bingung orang lain. Hebatnya, pelopor aklronim itu bisa dapat banyak pengikut meski pada mulanya bingungin orang. Ngajak main tebak-tebakan itu terasa ekslusif, hi hi. Makanya, banyak yang merasa ingin terlibat dengan penggunaaan akronim tersebut agar bisa menjadi bagian suatu komunitas. Bahasa berperan besar dalam pembentukan psikologi masyarakat pemakainya.
      Saya masih berkudet, kadang-kadang. Terbawa arus karena merasa kudet itu mewakili kekinian. Ringkas lagi.
      Sepertinya akronim sampai bahasa alay akan ada masanya. :)Inilah dinamika bahasa, mengikuti pola masyarakat sesuai arus zaman

      Hapus
  2. Ya sekreatif itu anak Indonesia atau aneh kak ya. Akronim bilingual, pake bahasa Indonesia juga bahasa inggris biar keren.

    Lalu, pelopor dari akronim tsb siapa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he he, inilah uniknya Indonesia, bahkan soal pelopor akronim pun bisa anonim karena penyebarannya kerap tak terduga.

      Hapus
  3. Akronim emang unik ya...
    kayak terus berkembang sesuai perkembangan zaman, ga terlalu terikat peraturan juga. makin kesini makin macam-macam aja modelnya,
    .
    yang penting maksud dari akronim tsb. masih nyampe ke yg dituju, ga salah tafsir hh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke depan juga akronim akan tetap ada dan berkembang sesuai masa. Semuanya bergantung pada masyarakat pengguna bahasanya sendiri. :)
      Sayangnya soal akronim, masih ada yang seakan sandi maharahasia bagi yang tak paham, he he....

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D