HOME/RUMAH

Kamis, 28 Desember 2017

Because This is My First Life



 

(Episode 1-2)


MALAM ini aku makan ramyeon cup panas-panas di toserba. Berpikir apa yang harus kulakukan, kuarahkan pandangan keluar jendela kaca yang memampangkan panorama lelampuan dari berbagai gedung apartemen di seberang. Indah sekali.
Berapa banyak drama yang harus kutulis agar tinggal di tempat seperti itu?
Tepat saat itulah ponselku berdering, dari Ho Rang. Kuangkat ponselku dengan lesu, “Ya, ini Ji Ho.”
“Kau sudah dapat apartemen?”
“Apartemen? Belum.” Tanganku yang sedang mengaduk ramyeon dengan sumpit langsung terhenti begitu mendengar paparan Ho Rang. “Apa? Tidak perlu deposit?”
“Ya, kau cuma perlu bayar 300 ribu sebulan.”
“300 ribu?” Aku terkejut, kuhentikan makan ramyeon dan membuka gimbab segi, “Di mana itu? Aku bisa ke sana sekarang juga?” habis itu aku menggigit gimbab.
“Tapi ada syaratnya.”
Jadi aku mendatangi tempat kerja Ho Rang di restoran mahal. Ia belum pulang. Ho Rang kerja jadi manajer. Ia langsung menyapaku begitu aku datang, “Ji Ho,” lambainya. “Mau minum apa?”
“Tak usah.” Aku mengikuti Ho Rang menuju kursi, “Siapa dia? Kenalannya Won Seok?”
Ho Rang duduk di kursi, “Ya, dia temannya teman kampusnya, Nam Se Hee.” Ia duduk dengan menyilangkan kaki, aku ikut duduk di kursi seberang. “Apartemen dua kamar, dan ada kamar kecilnya. Dan disewakan. Intinya, dia ingin orang yang bisa bayar sewanya dan jadi teman serumahnya.”
Aku jadi bersemangat. “Apa itu town house?”
“Ya. Tapi banyak sekali maunya dia. Dia ingin kau pindah sekarang.”
“Aku bisa sekarang.” Kulambaikan tanganku ke atas, spontan.
“Dia butuh satu minggu untuk penyesuaian diri.”
“Aku bisa walau dia butuh sebulan.” Tanganku yang semula di atas kugerakkan ke samping bawah. 
“Tapi dia agak gila. Kau tak keberatan?”
“Ho Rang, aku ini… sudah bekerja sama penulis paling sensitif dan gila se-Korea… selama lima tahun terakhir sebagai asistennya.” Yah, kuingat bosku, Madam aneh yang kadang pikun. “Jadi, aku sekarang ahli melayani orang gila mana pun di dunia ini.”
“Baiklah, biar kusuruh Won Seok kasih nomormu ke orang itu sekarang.” Ho Rang mengambil ponselnya dari saku dan SMS pacarnya.
Aku tersenyum menggoda. “Sepertinya kalian sudah berbaikan, ya.”
“Baikan dari mana? Aku cuma kasihan saja.”
“Kali ini kalian bertengkarnya tak lama. Wo Seok pasti tahu bagaimana cara membuatmu merasa lebih baik.”
“Dia memang lebih baik daripada sebelumnya.” Jawab Ho Rang tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. Kemudian, Ho Rang mengerling padaku, “Dia juga ahli sekarang.”
Oh, aku membelalak, dan coba mengalihkan topik. “Aku tahu apa maksudmu. Aku tak mau dengar apa pun darimu lagi.” Aku merasa malu.
Ho Rang tertawa dan bilang, “Semalam Won Seok….”
Kututup kedua telingaku dengan tangan, berulang-ulang  sambil memejamkan mata, memberi isyarat tak mau dengar hal gituan.
Ho Rang tertawa dan kian menggoda, dicondongkan tubuhnya ke depanku dan memegang lenganku, “Dia langsung menghampiriku seperti ini.”
“Tidak, aku tak mau tahu. Bisa tolong ambilkan minum?” Aku melambai pada pramusaji lain, rekan kerja Ho Rang. Ho Rang terus tertawa menggoda.
***
AKU sedang berkemas di kamarku. Kumasukkan beberapa helai pakaian ke dalam koperku. Tahu-tahu Ji Seok dan istrinya masuk, menyanyikan lagu ulang tahun. Ji Seok membawa kue tar dengan tiga batang lilin warna-warni menyala.
S’lamat ulang tahun
S’lamat ulang tahun
S’lamat ulang tahun, Noona
Mereka lantas berjongkok di dekatku yang sedang duduk di lantai sambil mengemas pakaian. Lagu berakhir, istri Ji Seok bertepuk tangan gembira.
“Eun Sol membelikanmu kue ulang tahun. Buatlah permohonan.” Ji Seok menyorongkan kue tersebut ke depanku. Tak ada pilihan. Kupejamkan mataku, membuat permohonan dan segera kutiup habis semua lilinnya. Eun Sol bertepuk tangan lagi. Aku tak peduli. Masih membenahi sisa pakaianku ke dalam koper.
Unni, apa permohonanmu?” tanya Eun Sol, sok akrab.
“Aku ingin jadi siput di kehidupanku selanjutnya,” jawabku cuek.
Kedua orang di depanku saling berpandangan, tak paham.
“Kenapa?” tanya Eun Sol lagi.
“Karena siput takkan pernah diusir.”
“Kau keterlaluan sekali,” Ji Seok tersinggung. “Kau sengaja membuat istriku tertekan? Dia ini lagi hamil.” Ngototnya, “Dia bahkan membelikanmu kue. Inilah sebabnya aku tidak bisa tinggal denganmu.”
Kututup koper dengan sekali bantingan, mereka terlonjak kaget. Aku tak berkata apa-apa lagi. Jadi mereka pun saling diam. Aku sudah sangat marah sekali!
Di tangga pekarangan depan, Eun Sol menyusulku. “Unni, jangan pergi seperti ini.” Ia terus menguntitku yang mengabaikannya. “Kau bisa datang mengunjungi kami kapan saja. Aku sungguh tidak keberatan tinggal bersamamu.”
Aku berbalik sebelum ia mengoceh lagi. “Kau yakin?” Eun Sol diam saja, jadi kulanjutkan ucapanku, “Saat Ji Seok masih sekolah…, hanya dua orang di apartemen itu. Aku tidak bisa membayangkanmu beres-beres rumah. Kau ‘kan sedang hamil.”
Eun Sol tampak bingung.
Lanjutku, “Ji Seok juga pasti… ingin aku mengurus anakmu juga. Jadi, apa kau ingin aku bekerja, beres-beres rumah… dan mengasuh bayi kalian?”
Eun Sol masih diam.
“Aku tahu kau masih muda dan belum mengerti. Jangan membuatku jadi orang jahat.” Kurogoh sakuku dan mengeluarkan amplop pemberian ibu untukku. “Katanya kau suka daging. Belilah daging pakai uang ini.” Kuraih tangan Eun Sol dan kuberikan amplop tersebut yang menerimanya dengan canggung. “Kalau masih ada sisa uangnya…, pakai saja buat tagihan RS ayahmu.” Karena Eun Sol hanya bisa tercengang, jadi kuanggukkan kepalaku dan pergi.
Aku meninggalkan tempat itu sambil menyeret koperku dengan lega. Karena bisa menumpahkan unek-unek tanpa pertumpahan darah apalagi airmata.
Aku melewati taman kompleks apartemen dengan kolam kecil terpelihara baik, seekor siput tampak damai di atas batu. Siput itu punya rumah sendiri, cangkang yang melindungi tubuh lunaknya. Tidak sepertiku.
Apartemennya di kamar 401 Matina Town House. Aku juga sudah mengirim alamatnya ke kau.
Demikianlah, isi SMS yang barusan kuterima. Lingkungan apartemennya menyenangkan. Ada ibu-ibu dengan anak mereka yang sedang bermain di taman.
Aku telah sampai di depan pintu kamar apartemen. Kubaca pesan tadi. Ini nomor sandi masuknya. Jadi kusentuh layar kunci elektrik dan mengetik sandi masuk, heran, cukup mudah juga. Cuma 0101 lalu bintang.
Kubuka pintu, “Permisi.” Lampu foyer menyala otomatis menangkap sensorku yang masuk.
Karena aku lembur belakangan ini, aku takkan pulang lebih cepat. Yah, SMS tadi mengatakan alasan mengapa tak ada orang yang menyambut kedatanganku. Kuletakkan. koper dan berkeliling ruangan.
Ada dua ruangan. Yang pintunya terbuka itu kamarmu.
Kumasuki kamarku. Wow, menyenangkan. Ada jendela besar yang membuat cahaya matahari menerobos masuk. Ranjang tertata apik dengan seprai dan sarung bantal abu-abu metalik. Ada lemari dan rak untuk menaruh sesuatu. Aku keluar kamar dan lanjut berkeliling.
Pintu kamarku selalu tertutup, jadi jangan hiraukan itu.
Kumasuki pantry, dapurnya rapi. Bahkan meja dapur tampak bersih. Ada tiga hal permintaanku. Pertama, aku ingin kau beres-beres rumah. Aku melongok ke ruang sebelah dapur, melihat kardus dan tempat sampah di ruangan itu. Kedua, aku ingin kau buang sampah sekali seminggu. Di ruang duduk aku memeriksa sekitar dan mendengar suara di bawah sofa. Terakhir, aku ingin kau merawat kucingku... sewaktu aku kerja lembur. Seekor kucing siam berbulu putih dengan ekor panjang bersembunyi di bawah sofa.
“Halo,” sapaku.
***
MALAM ini aku dan Soo Ji makan daging panggang di restoran langganan. Aku sedang SMS-an dengan pemilik rumah.
Kau pasti sudah tahu, tapi bagaimana pendapatmu kalau… kau menandatangani kontrak setelah seminggu.
Tentu aku tak keberatan, jawabku. Lantas kirim.
“Tak kusangka ada semacam magang buat penyewa kamar,” komentar Soo Ji. “Negara apaan ini?”
“Katanya, dia kesusahan gara-gara penyewa sebelumnya.”
Soo Ji mengangguk. Kami berbincang sambil makan.
Lanjutku, “Aku harus melakukan yang terbaik. Dan aku tak keberatan.”
“Apa pekerjaan pemilik apartemen itu?”
“Dia seorang desainer atau semacamnya. Pokoknya soal desain komputer. Aku belum sempat bertemu dia karena dia sibuk kerja. Kurasa dia sangat sibuk.” Kuhentikan makanku dan bertepuk, “Aku punya fotonya. Mau lihat?” Kuambil ponselku dan kuperlihatkan fotonya pada Soo Ji. “Ini?”
“Yang pakai baju merah muda itu?” Kami melihat seorang gadis cantik berambut pendek warna kecokelatan berdiri di samping teman Won Seok, bersama beberapa orang lainnya, mungkin rekan kerja. Mereka bersembilan. Satu-satunya perempuan. Masih muda lagi.
“Dia sepertinya baik,” komentar Soo Ji.
“Hei, dia lahir tahun 1980. Dia kelihatan muda sekali, ‘kan?” Takjubku.
Wah,” Soo Ji ikut takjub. “Berarti dia pandai merawat dirinya. Siapa tadi namanya?”
“Se Hee. Nam Se Hee.”


Di kantor start up, perempuan yang kami kira Se Hee berjalan gontai memasuki ruang tempat senior lelakinya sedang bekerja di depan komputer. Kacamatanya bertengger manis di wajah cantiknya yang suntuk, ia menenteng tablet layar 10 inci.  Di dekat mereka ada meja kerja rekan lain yang juga sibuk berkutat dengan komputernya.
“Se Hee-nim,” sapanya pada tokoh kita yang pernah ribut di restoran tempo hari lalu.
“Ya, Bo Mi-nim?”
Yang dipanggil Bo Mi, langsung menunjukkan tabletnya dan presentasi, “Seperti yang bisa dilihat, orang tak mendaftar karena prosesnya yang panjang. Terutama saat mereka memasukan informasi pribadi mereka.” Simpulnya, “Kurasa kita harus mempersingkat prosesnya di versi program baru kita.”
“Ya, baiklah.”
Bo Mi lantas membungkuk dan berlalu, namun Se Hee memanggil, “Tapi, Bo Mi-nim.” Bo Mi menoleh. Lanjut Se Hee, “Bukankah itu tak nyaman?”
Bo Mi cuma diam menunggu, tidak paham.
“Kau sepertinya memakai baju itu tiap kali tenggat waktu mendekat.”
“Paling tidak, aku harus pakai ini agar aku tidak melupakan identitas seksualku.” Ia memberi tekanan pada kata aku yang diulang. Lantas membalikkan badannya dan berlalu menuju ruang kerjanya.
Se Hee cuma diam. Dilihatnya sekeliling, para rekan kerja tampak benar-benar suntuk dan lelah. Beberapa menguap. Ia sebenarnya sama lelah seperti mereka namun berusaha menahannya. Ponselnya berbunyi, ada pesan masuk.
Kurasa hari ini kau lembur. Aku sudah pindah sesuai jadwal.
Lelaki itu segera meletakkan ponselnya dan memeriksa akun media sosial Yoon Ji Ho. Tak ada yang aneh. Ada fotonya dan foto sampulnya berupa suasana kelab malam dengan lampu kebiruan. 
Ia tiba di rumah larut malam. Begitu masuk, dinyalakannya lampu ruang duduk lantas menuju ruang sebelah berupa pantry. Ia membuka kulkas untuk mengambil botol air minum, sampai matanya tertumbuk pada kertas post-it yang tertempel di kulkas. Apa harimu berjalan lancar? Karena ini sudah malam jadi aku taruh memo di sini. Aku sudah buang sampah pagi ini. Aku sudah selesai memeriksa pemakaian listrik jam 11 siang. Aku sudah memeriksa penggunaan gas jam 3 sore.
Sembari membaca memo itu, Tuan Nam menuju meja dapur dan memeriksa catatan mengenai listrik dan gas yang tergeletak di meja. Lantas dibacanya lagi lanjutan memo itu. Terakhir, aku sudah kasih makan kucing dengan setengah kaleng tuna… dan dua cangkir makanan kucing. Ada dada ayam yang sudah kedaluwarsa di kulkas, jadi aku merebusnya dan memberikannya ke si kucing.
Dihampirinya tempat makan kucing, diperiksanya piring. Dada ayamnya tandas dihabiskan kucing. Mendadak Tuan Nam merasa puas. Ditengoknya pintu penyewa yang tertutup. Pintu itu ditempeli poster film The Graduate, seakan memberi aksen akan keberadaan penghuni baru.
Dan saat itu Ji Ho tengah pulas, tidak menyadari bahwa ia serumah dengan seorang lelaki, bukannya perempuan. Sebagaimana Tuan Nam tidak menyadarinya pula. Ia duduk di sofa dan mengelus kucing, “Kau pasti sudah kenyang.”
Si kucing cuma menggerakkan kepalanya manja, keenakan dielus tuannya. Dan Tuan Nam membaca lanjutan memonya. Oh ya, siapa nama kucingnya?
Pagi harinya, mereka bangun pada saat yang berbeda. Tuan Nam subuh jam 5, Ji Ho lebih siangan saat matahari sudah terbit. Tuan Nam langsung menempelkan memo di depan pintu kamar Ji Ho. Mengelus kucingnya sebentar, lantas berangkat kerja.
Pagi harinya saat Ji Ho bangun, dengan langkah mengendap ia mendekati kamar pemilik rumah dan menempelkan telinganya di pintu. Tak terdengar suara apa pun. Jadi dibukanya pintu kamar. Penghuninya sudah pergi. Lantas dilihatnya si kucing, Ji Ho menyapa dengan bahagia, “Selamat pagi juga.”
Ditutupnya pintu dan berbalik, matanya tertumbuk pada pesan yang ditempel di pintu kamarnya sendiri, kertas post-it di samping posternya. Dicabutnya memo itu, pesannya berupa si pemilik rumah ingin menulis kontrak sambil makan siang ini jika bisa. Senyum Ji Ho terkembang.
Di kantornya, Tuan Nam membaca aplikasi pesan ponsel yang masuk ke dalam layar komputer. Baiklah. Nanti aku datang ke kantormu hari ini.
CEO Ma, yang kepoan lagi minum teh botol, dilihatnya Tuan Nam tampak tercenung di depan komputernya. Ia mendekat dan turut intip-baca pesan tersebut. “Kau sudah memutuskan teman sekamarmu?”
Reaksi Tuan Nam cuma diam.
“Aku senang mendengarnya.” Jadi CEO Ma yang terkenal bawel itu malah berkoar bangga pada karyawan lainnya yang seruangan. “Semuanya, pernahkah kalian melihat CEO dan perusahaan semacam ini?”
Enam kepala yang seruangan dengan Tuan Nam serentak menoleh, memerhatikan bos mereka karena ingin tahu. Lanjut CEO Ma, “Aku cukup baik mencarikan dia teman sekamar. Tidak semua CEO seperti ini.”
Enam kepala itu malah memalingkan kepala dari CEO Ma, seakan tak peduli karena mereka kenal watak Tuan Nam yang dirasa aneh, paling juga akan berakhir seperti penyewa terdahulu.
“Bagaimana kau mengenal orang ini?” Tuan Nam menyela CEO Ma karena merasa tidak nyaman dengan koaran tadi.
“Dia teman juniorku dari klub bisnis.”
Karena tanggapan Tuan Nam cuma diam, jadi CEO Ma bertanya dengan khawatir. “Kau tak suka?” Ia berdiri canggung dengan botol minuman yang dipegangnya. “Apa menurutmu ia akan menelefon polisi lagi? Apa kucari orang lain saja?”
“Tidak. Aku sangat menyukinya.” Ia ucapkan itu dengan tampang dan nada kaku seperti biasa, namun kali ini ada yang luar biasa bagi CEO Ma dan rekan lainnya sampai kepala mereka sontak menoleh ke arahnya.
CEO Ma yang tercengang heran, bertanya, “Sangat?”
***
DI atas bus, aku sedang telefonan dengan Soo Ji. “Ya, aku lagi jalan ke kantornya. Dia sibuk.”
”Aigoo, aku senang mendengarnya. Dia teman Ho Rang, jadi dia pasti orang baik.” Soo Ji adalah insan paling optimis yang kukenal.
“Yah,” ujarku sambil membaca memo yang tadi, dan ada tulisan tambahan, namanya Kitty.  “Kurasa dia orangnya asyik.”
“Jangan pergi dengan tangan kosong. Belilah makanan buat teman sekantornya juga.” Saran Soo Ji. Ia selalu tahu apa yang harus dilakukan dalam kehidupan sosial.
“Jangan khawatir. Akan kubelikan buat mereka.”
Di kantor, Tuan Nam bangkit sambil melihat ponselnya. Ia keluar ruangan. CEO Ma yang menyaksikan sambil berdiri di sebelah meja kerja Bo Mi bergumam, “Dia sangat menyukai teman sekamarnya. Aku belum pernah dengar dia pakai kata ‘sangat’ ke orang, seumur hidupku.”
“Kadang, dia pernah.” Bo Mi menanggapi sambil bekerja menekuri komputernya, “CEO Ma ‘sangat’ terlambat hari ini. Candaan CEO Ma sangat garing.”
CEO Ma kesal, “Kau begini buat mencari perhatian orang, ‘kan?”
Bo Mi cuma diam.
“Atau membuatku kesal?”
“CEO, kenapa sandwich kita tidak datang? Padahal sudah dari tadi kita pesan.” Bo Mi malah mengalihkan topik pembicaraan. Mungkin ia sudah lapar.
CEO Ma mengamati jam di ponselnya sebentar, “Aku maklum mereka sibuk mengirim sandwich, tapi mereka selalu saja terlambat.”
“Mungkin lebih cepat kalau kita yang ke sana saja? ‘Kan cuma jalan kaki 5 menit.”
CEO Ma yang penyuka efisiensi waktu tidak setuju, “Kau ini terlalu baik. Apa aku saja yang harus mengambil makanannya?”
“Ya.”
“Baiklah,” ucapnya spontan dengan jari ter-oke lantas jalan menjauh, mendadak balik lagi seakan teringat sesuatu.
Namun Bo Mi malah bangkit dari meja kerjanya dan menundukkan kepala, “Aku akan segera kembali.”
“Hei.” CEO Ma tidak sempat mencegah Bo Mi apalagi mengomelinya soal hierarki.
***


AKU tiba di lobi gedung kantor pemilik kamar sewaan dengan kedua tangan menenteng oleh-oleh. Mataku celingukan mencari, dan aku senang sekali begitu bertemu perempuan dalam foto, pemilik apartemenku.
Perempuan itu mudah kukenali karena ia masih serba pink. “Halo,” sapaku sambil membungkukkan kepala.
Si pink malah terlonjak kaget dengan sapaanku yang tiba-tiba.
Aku tersenyum ramah sekaligus bersemangat, “Aku….” Eh, malah gugup. Jadi aku melantur dengan, “Kucing itu….”
Namun reaksinya malah terlongong bengong. Jadi kusodorkan bawaanku, “Oh, ini.” Sebenarnya aku menyodorkan kantung makanan yang berisi amplop manila besar berisi surat perjanjian kontrak, namun mata perempuan itu malah tertumbuk pada kantung lain yang juga berisi makanan.
Ia berseru aaah, lalu omelnya, “Bisa-bisanya kau terlambat? Jam makan siang sudah hampir selesai.”
Aku kaget. “Maaf. Aku langsung pergi setelah dapat pesannya.”
“Alasannya sudah basi. Kau masih bisa bilang itu alasan?”
“Aku mohon maaf.” Sesalku. “Tapi, kau kelihatan muda sekali.”
“Kita ‘kan belum pernah bertemu.” Ia masih jutek.
“Ya, ini pertama kalinya kita bertemu.” Aku tersipu.
Ia menganggukkan kepala ke bawah leher, “Terima kasih. Cepat sini.”
“Ini.” Kuserahkan kantung makanan tersebut padanya dengan sukacita. “Aku tidak tahu bagaimana aku harus berterima kasih. Ini kesempatan bagus bagiku.”
“Ini bukan kesempatan. Ini transaksi yang adil dari negara kapitalistik ini.” Tegasnya.
Aku terpana sebentar lalu tertawa riang. “Benar juga. Mulai ke depannya mohon bantuannya... Unni.” Kubungkukkan punggungku. Perempuan itu malah heran. “Aku boleh memanggilmu Unni?”
“Tidak.” Ketus sekali jawabannya.
“Ya, maaf.” Aku merasa tak enak.
“Permisi.” Pamitnya sambil sekali lagi menganggukkan kepala ke leher cara tadi. Lalu ia berbalik pergi.
“Maaf,” panggilku hingga perempuan itu menoleh, “Apa nanti malam, kita bisa bertemu lagi?”
“Yah, lihat nanti.” Lantas ia berbalik pergi menuju pintu lift. Aku tidak tahu ia tengah mendesah bingung. “ Apa dia ingin kami pesan sandwich buat makan malam lagi? Dia hebat juga mempromosikan tokonya.”
Saat itu aku malah bingug dan bergumam sendiri, “Kurasa dia tidak suka dipanggil ‘Unni’.” Aku langsung berbalik dan tahu-tahu menubruk seorang lelaki yang sedang jalan menunduk. “Maaf,” kataku
Dan lelaki itu malah bilang secara hampir bersamaan, “Maaf.”
Yang tak kutahu lelaki itu adalah ternyata pemilik kamar apartemenku, aku akan tahu kelak!
Kutinggalkan lobi itu.
Dan lelaki yang tadi kutubruk duduk di kursi lobi. Menunggu kedatangan seseorang sambil mengamati akun medsos milik Yoon Ji Ho di ponselnya.

Lelaki itu kembali ke kantornya, melalui dinding kaca ia melihat rekan-rekannya sedang berkumpul makan siang di ruang pertemuan sebelah sambil saling berkomentar enak.
“Umurku segini, aku masih makan sandwich,” komentar seseorang.
“Memangnya kenapa?” Sahut yang lainya. Mereka semua pada makan dengan lahap.
Sementara itu lelaki di lobi tadi menemukan amplop sampul manila ukuran besar di meja kerjanya, ia membukanya dan menemukan surat perjanjian kontrak.
“Berhenti makan, itu punyaku,” debat seseorang di ruang sebelah.
“Ayo makan siang, ini sandwich.” Ajak seorang rekan pada lelaki yang masih berdiri termangu di meja kerjanya.
“SIapa yang menaruh ini di sini?”
“Aku menemukannya di meja ini.”
Dan tepat saat itu, si pink Bo Mi malah cuek menyantap sandwich bagiannya. Apa ia tidak sadar telah salah kira, bahwa perempuan di lobi tadi bukan pengantar makanan pesanan melainkan tamu yang secara khusus datang mengantarkan surat kontrak berikut buah tangan berupa makan siang?
Cepat, tinggal sisa satu sandwich lagi, pikir Bo Mi.

Aku sedang SMS-an dengan pemilik apartemen, menanyakan apakah sudah baca surat kontraknya. Dan jawabnya, ya.
Kulanjutkan mengetik pesan: Aku tidak bisa memberi tahumu karena kau sepertinya agak sibuk. Kurasa malam ini, aku pulang telat.
Aku agak bingung, apakah kutulis saja namanya Se Hee, namun kurasa itu bukanlah hal baik. Seakan sok akrab.
Dan jawaban dari SMS-ku: Ya, kau tak perlu bilang hal-hal semacam itu padaku.
Pikirku, dia orangnya tak ambil pusing sama sekali, sepertinya. Lalu aku tersenyum pada seorang perempuan yang mendekati kursiku. Aku sedang di salon!
“Kau mau potongan rambut yang biasa?” sapanya ramah.
“Tidak, tolong tata rambutku hari ini.” Kutunjukkan bagian halaman majalah milik salon yang kubuka untk mencari contoh, “Apa menurutmu rambutku bisa seperti ini?” Rambut model cantik itu bergelombang sebahu.
“kau mau ke suatu tempat? Mau kencan buta?” goda penata rambut itu.
“Tidak, bukan kencan buta.” Aku tersipu. “Bu, bisa ditata alisku juga?”
“Ya.”
Jawaban itu membuatku bahagia.

Di kantornya, Nam Se Hee sedang mengamati pesan yang masuk di komputernya, dari Ji Ho tentang pulang telat. Ia mengeklik bagian foto profil yang segera memampangkan layar halaman berupa foto Emirates Stadium, dan tulisan “Hari-H! Semangat, Arsenal!”
“Siapa itu?” Bo Mi tahu-tahu sudah berdiri di samping meja kerjanya.
“Dia teman serumahku.”
“Kurasa dia suka sepak bola.”
“Kebanyakan pria memang begitu.”
“Kurasa ini sudah cukup.” Bo Mi menunjukkan tabletnya, namun perhatian Se Hee teralihkan pada kertas post-it merah muda berbentuk hati yang menempel di surat kontrak. Isinya: Senang bertemu denganmu! Aku Ji Ho!
“Kau suka merah muda, bukan?”
“Ya. Itu ‘kan warna ciri khasku.”
“Apa pria juga suka warna merah muda belakangan ini?”
“Kau itu tidak tahu karena kau kurang punya selera dalam keindahan. Merah muda bukanlah warna yang cocok untuk semua orang.” Dengan kalem Bo Mi menunjuk diri, “Warna itu cocok untukku karena kulitku cocok dengan warna itu. Jadi maksudmu pria seharusnya tidak menyukai warna merah muda?”
“Lelahnya.” Tepat saat itu sebuah suara membuat kepala mereka serempak menoleh ke arah CEO Ma yang seakan menjawab Bo Mi. Bos mereka malah menenteng boneka pink, dengan handuk pink tersampir, berikut ikat kepala pink juga.
Mereka bengong.
Mulut CEO Ma dengan sikat gigi pink masih bisa menyemburkan omelan pada mereka berdua yang terpana menyaksikannya. “Apa? Sana lanjutkan kerjanya.” Lantas ia berlalu, masuk ruang sebelah untuk berbaring di sofa.
“Zaman telah berubah,” komentar Bo Mi, seakan meralat ucapannya tadi. “Tidak ada yang namanya preferensi pria dan wanita.”
“Ya. Kita hidup di dunia yang progresif.” Se Hee mengamati kertas pink tadi seakan beroleh pencerahan.

***

  

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D