HOME/RUMAH

Rabu, 13 Desember 2017

Abu




Oleh Rohyati Sofjan



Sudut malam di sebuah apartemen kawasan Kemang
MALAM keparat! Dari balik kaca jendela yang berembun ia memaki langit gelap di atasnya, dan panorama membosankan di bawah lantai ke delapan belas. Di Timur, selubung panorama lain tiada makna bagi matanya. Ia telah jemu pada semua. Nir adalah dunia yang paling masuk akal, setidaknya ia telah melebur dalam spektrum kehampaan.
Rumah besar di kawasan Kebon Jeruk telah lama ia tinggalkan. Rumah masa silam yang penuh kenangan sentimental tempat ia pernah tumbuh besar lalu dewasa sampai sekarang, ia tinggalkan setelah cukup mapan, setidaknya secara finansial, luput dari terjangan banjir berulang yang mengepung Jakarta. Ia tertawa. Ia tinggal di apartemen menjulang, konon daerah bebas banjir namun jalanannya tak luput dari genangan air, dirinya kering sekaligus dingin.
Ia ingin bersenang-senang sendirian selepas jam kerja panjang yang melelahkan. Sekarang Jumat malam. Saatnya mengulang ritual demi mencapai nirwana. Dunia yang sebenarnya tak lebih dari neraka membosankan. Ia butuh jeda. Lintingan ganja yang diisapnya semacam medium menuju Shangri-La. Ya, meski ini Jakarta bukan Nepal. Ia pernah berkunjung ke Nepal dua tahun lampau dan tidak sendirian. Seorang perempuan dari masa silam yang pernah dekat dengannya selama tiga tahun masa remaja kembali hadir, mengajak melakukan perjalanan sinting.
“Aku ingin merasakan eksotisme, yang kata Seno Gumira Ajidarma kala berkunjung ke sana, mulai memudar.” Begitu jawabnya kala ia bertanya mengapa harus Nepal, bukan Paris kota yang konon paling romantis.
Dan ia tertawa, menyipitkan mata besarnya sehingga kentara masih berdarah Tionghoa dari generasi yang telah berasimilasi sebagai warga dan keturunan Betawi. Lalu mengiyakan meski tidak paham. Melupakan sederet rencana bulan madu lainnya, mengambil cuti panjang demi keliling Nepal bersama seorang perempuan yang seolah dihadirkan Takdir  untuk mengisi kekosongan, memenuhi jiwanya dengan buncah perasaan bahagia tak terkira. Melebihi ganja.
Mereka cuma berbekal peta dan buku panduan wisata. Perempuan itu benar-benar ingin menapaktilasi jejak perjalanan pengarang yang dikaguminya. Maka mereka pun tenggelam dalam dunia fiksi yang direalkan. Dan ia terheran-heran mendapati dirinya begitu lepas, bebas, aman, sekaligus nyaman. Bersama seorang perempuan yang pernah ia percayai sebagai sandaran.
***
Kathmandu, dua tahun sebelumnya
“Inilah Freak Street!” seru Run riang. Kedua lengannya terentang ke udara.
“Ada apa dengan Freak Street?” Abu mencoba memahami keriangan Run. Tadi mereka berdua seolah sepasang turis kehilangan arah. Ia mengikuti ke mana Run melangkah sembari segenap panca indranya coba mencerap apa yang terjadi di sekitar. Selain kidung mantra dan aroma dupa yang membuat telinganya merinding dan hidungnya gatal, sapi-sapi itu gila. Di sepanjang lorong selalu terdapat sapi-sapi bergeletakan sesukanya tanpa diusik sesiapa. Abu tak habis pikir dengan perlakuan orang pada sapi, namun Run hanya tertawa-tawa. Ikut takjub seperti dirinya, lalu menjelaskan begitulah sapi dianggap hewan suci, semacam penjelmaan dewa mereka yang dihormati. Abu sendiri tak begitu suka membaca, apalagi memahami sejarah belahan dunia lainnya.
“Tahun ’70-an tempat ini dianggap surga bagi kaum hippies yang keleleran mengganja demi mencapai Shangri-La atau nirwana.”
“Jadi pengen ngeganja, nih,” Abu menggoda sambil membelalakkan matanya. Run mendelik lalu tertawa, ditinjunya bahu lelaki yang baru dinikahinya dengan mesra.
“Dasar junkie! Lebih baik bercinta demi mencapai nirwana!”
Abu segera merangkul Run dan menariknya ke dalam ciuman panjang di suatu sudut agak tersembunyi, tak memedulikan sekitar. Aroma dupa juga kidung puja menguar. Saat itu senja perlahan temaram.

Masih di apartemen kawasan Kemang, sekarang
Ia terjaga. Separuh sadar, separuh berhalusinasi. “Aku junkie, Run. Hanya bisa bercinta dengan ganja, tidak ada kehangatan tubuh dan jiwamu lagi! Nirwana itu neraka, tiada beda!” Ia terkulai. Ke alam mimpi.
***
Kathmandu, 2 tahun sebelumnya
Apa yang paling membahagiakan selain melakukan perjalanan panjang ke negeri impian demi mencapai eksotisme bersama pasangan tercinta. Itu yang dilakukan Abu dan Run. Nepal hanyalah salah satu tujuan dari sekian tempat lain yang sangat ingin Run kunjungi. Ya, ada tiga tempat utama yang menjadi impian Run untuk dijelajahi: Nepal. Maroko dan Mekah.
Maka, menyusuri lorong-lorong di Kathmandu seolah menyusuri dunia mimpi. Jiwa Run dan Abu terlempar ke dimensi asing yang mengeratkan penyatuan raga mereka. Dari Thamel, Freak Street, Lapangan Durbar, istana lama Hanuman Dhuka, Kuil Swayambhu, Nagarkot, Pokhara, sampai Sarangkot adalah eksotisme bagi mereka.
Namun pada akhirnya, ketika bersiap pulang kembali ke Jakarta sehabis memborong berbagai cendera mata, mata mereka dihempaskan pada pemandangan khas demokrasi dunia ketiga: demonstran Tibet penentang pendudukan Cina atas Tibet yang dilakukan sejak tahun 1959, tengah berbaku hantam dengan polisi anti huru-hara Nepal. Kekerasan adalah hal biasa di mana-mana. Run terpaku dan mengabadikan momen tersebut dengan kamera digital, namun Abu yang mengkhawatirkan keselamatan mereka segera menyeretnya agar gegas meninggalkan lokasi kerusuhan.
“Terlalu berbahaya di sini, Sayang!” serunya gemetar. Ia selalu takut akan kerusuhan. Mengingatkannya pada peristiwa kelabu di bulan Mei 1998, ketika tempat usaha keluarganya ikut dijarah dan dibakar, dan seorang keponakan perempuannya yang baru menginjak usia remaja tewas mengenaskan di sudut jalan lengang. Jiwanya selalu terguncang oleh peristiwa demikian. Apalagi kekasihnya yang sama masih keturunan etnis Tionghoa dan cantik turut menjadi korban, diperkosa secara biadab sampai terganggu jiwanya lalu bunuh diri dengan terjun dari karang terjal ke lautan, mayatnya tidak pernah ditemukan. Rencana masa depan jika lulus kuliah pun buyar.
Tak ada senyum lembut Maryam  (perempuan pengganti sosok Sophie, kawan SMU di Limbangan yang ditaksirnya namun malah menikahi lelaki lain dan kini tinggal di Bandung), yang mewarnai harinya lagi. Maka lelaki bekas pencandu narkoba itu lari pada habitat lamanya: ganja! Meningkatkan dosis pada tingkatan lain: kancing, LSD, sampai serbuk setan.
Ia nyaris menjadi zombi, bertahun-tahun, sampai keluarganya terpaksa bertindak. Mencoba menyelamatkan hidup dan jiwanya. Namun itu tidak berhasil. Dari luar ia tampak normal, dalamnya adalah daging pengonsumsi racun. Dan ia bahagia sekaligus tersiksa dengan racun dalam tubuh -- dan jiwanya. Sampai takdir mempertemukannya dengan Run di Bandung, tiga tahun lampau.
Sophie yang juga sahabat Run semasa SMU, telah mempertemukan mereka kembali; Abu dan Run, sepasang sahabat yang sebenarnya memiliki rasa ketertarikan serupa namun tak berani mengungkapkan demi menjaga persahabatan.
Bicara dari hati ke hati. Mencungkil luka lama keluar dan membasuhnya dengan harapan dan impian baru. Kembali merajut perkawanan dan persahabatan. Sampai Abu melamarnya kala menyadari bahwa ia membutuhkan perempuan itu, dan Run pun membutuhkannya lebih dari sekadar kawan.
Run menerimanya dengan satu syarat: berhenti menjadi junkie man secara total!
Pada hakikatnya syarat itu tidak mudah, ia sungguh tersiksa kala harus putus zat. Terkadang kebiasaan lamanya kumat. Namun Run menyemangatinya tanpa kenal lelah dan putus asa agar bisa terbebas dari candu yang telah mengalir dalam setiap pembuluh darahnya.
“Kamu pasti bisa, Sayang. Jangan menyerah sebab setiap orang dikaruniai kemampuan untuk berubah lebih baik. Aku akan tetap mendampingimu sampai kamu berhasil mencapai pembebasan itu. Lakukan bukan demi dirimu dan diriku semata, melainkan anak-anak kita kelak. Darah yang mengalir dalam tubuhmu harus bersih sebelum menyatu dengan ragaku. Kelak dari darahmu akan tercipta generasi untuk kita bimbing mengenal Maha Cahaya. Dan aku pun ingin kamu menjadi cahaya bagi mereka.”
Dan impian Run pun menjadi impiannya. Maka ia berupaya keras agar bebas. Setelah berbulan-bulan terapi yang kali ini ia jalani dengan kesungguhan karena ada tujuan, dengan iradat-Nya tubuh dan jiwanya pun mengambang menuju pembersihan. Ia merasa segar, sehat, dan berpengharapan.
Keluarganya pun menerima Run, yang secara fisik kedua telinganya tak berfungsi namun secara kejiwaan seolah kaya dengan cinta dan kasih sayang pada putra bungsu mereka yang nyaris dianggap sebagai sampah pecundang-irasional.
Pernikahan mereka berlangsung secara sederhana sebab Run tak suka pesta apalagi kemewahan. Baginya yang terpenting adalah bagaimana mereka membina mahligai rumah tangga agar selamat sampai tepian. Ia telah mencapai fase usia matang, memiliki kecemasan sebagai perempuan. Dan Abu berjanji agar bisa menjadi qowwam sekaligus guru dalam hidup Run, dengan syarat Run pun menjadi guru dan meneguhkan ke-qowwam-annya.
Dan peristiwa demonstrasi yang berbuah kerusuhan di Nepal sempat menghantuinya. Ia sungguh takut kehilangan Run, takut tak ada lagi perempuan yang meneguhkan esensi sejatinya sebagai lelaki. Sudah cukup ia kehilangan Maryam secara tragis. Run menyadari ketakutannya, memeluknya di atas pesawat yang membawa mereka ke Singapura.
“Maut itu hanya awal, Sayang. Jangan takut kehilangan. Kamu atau aku entah siapa yang lebih dulu ‘pulang’, hanya butuh doa. Salah satu di antara kita harus tegar agar bisa mengirim doa untuk meringankan dosa dan menenteramkan roh yang hilang raga.”
“Namun aku tak bisa hidup tanpamu sekarang, Run.”
“Aku tak akan meninggalkanmu sekarang jika Allah berkenan. Maka marilah kita isi hari dengan sesuatu yang lebih berarti. Kamu dan aku, bersama. Aku bahagia bersamamu, Abu.”
“Matamu berbinar, Run. Kamu selalu memandangku dengan cinta dan kekaguman yang membuatku tersanjung sekaligus jengah.”
“Aku mensyukuri hidup, Abu. Aku mencintaimu,” bibir Run bergetar, dan matanya mengambang kristal bening. Namun wajahnya bercahaya. Ia tak tahan dan mencium kedua kelopak mata istrinya dengan sepenuh perasaan.
“Jika pun maut memisahkan kita, semoga salah satu dari kita ikhlas,” harap Run menyentakkan.

Masih di apartemen kawasan Kemang
“Jika pun maut! Jika pun maut…!” Ah, ia kembali terjaga. Lintingan ganja yang kesekian telah terbakar habis ujungnya dan nyaris menyundut jari. Ia mengumpat. Meremukkannya ke asbak.
“Di mana kamu, Run?” gumamnya lemah. Ia merasa letih luar biasa. Memandang ke arah pintu besar. Berharap perempuan itu membuka pintu masuk, dan meloncat ke pangkuannya dengan riang.
Ya, Run masih hidup sekarang. Tidak terbujur kaku bersama bayi mereka di kuburan nun di Limbangan.
Run masih hidup sekarang, sedang memasak ikan mas woku di dapur yang rasanya pedas dan sedap, atau soto tangkar dan sate betawi, atau sup iga dan apa saja; dan ia menanti dengan sabar sembari bergurau tengah kelaparan.
Run masih hidup, sedang berkutat di depan laptop, menulis novel panjang tentang petualangan sepasang kekasih mengarungi samudra luas ala Tristan Jones pelaut legendaris asal Inggris; dan ia setia menyediakan teh, kopi, atau susu, dan makanan kecil lainnya tanpa diminta agar sang istri tetap punya energi untuk menghidupkan lakon imajinernya.
Run masih hidup sedang membaca The Catcher in the Rye J.D. Salinger, dan ia berbaring di pangkuannya sembari mendengarkan Green Day sampai The Doors yang diputar MP3 sampai ketiduran.
Run masih hidup, sedang membaca buku mengenai kehamilan, dan ia sendiri membaca buku panduan menjadi ayah; musik klasik bergema di ruangan, Beethoven dengan Simphony No. 9.
Run masih hidup, sedang menjahit baju mungil bagi calon bayi mereka.
Run masih hidup, sedang berdiri di depan cermin sambil tersenyum mengelus perutnya yang hamil 6 bulan; dan Abu berdiri di belakang sambil mencium lehernya mesra.
Run masih hidup, bercakap dengannya tentang apa saja.
Run masih hidup, akan melahirkan bayi mereka yang sudah lama dinantikan.
Run masih hidup….
Ia bangkit, kepalanya sakit. Juga tubuh dan jiwanya. Telinganya berdenging, ada Chopin sekonyong-konyong memainkan partitur murung, begitu menyayatkan. Kali ini ia benci musik demikian, jiwanya telah berkubang dalam kemuraman. Langkahnya terhuyung menuju sumber bunyi. Membuka pintu kaca. Tempias deras hujan dan dingin menerpa wajah dan tubuhnya. Ia melangkah ke tengah balkon. Berdiri di antara kepungan pot-pot tanaman hias dan herba yang kini ditelantarkan. Membiarkan jarum-jarum hujan menghunjam. Ia telah lama berhenti menggunakan jarum suntik sejak pertemuannya dengan Run. Ia telah berjanji. Namun ia telah melanggar janji dengan kembali mengganja. Ia tidak tahan lagi dan sangat butuh lari.
Langit gelap. Gelegar kilat memecah cakrawala. Ia menyeringai. Sakit itu kian menghebat. Tubuhnya gemetar. Ia membenci kota ini. Kota yang telah merenggut jiwa istrinya. Ketika itu Run hamil 8 bulan dan mereka dalam perjalanan rutin menuju rumah bersalin. Namun siang itu Jakarta tidak ramah, ada demonstrasi. Entah demonstrasi apa, ia tidak peduli. Dan kali ini berbuah kerusuhan seperti yang sering ia saksikan di televisi, sejak peristiwa Mei 1998 lalu di Kathmandu.
Run dan Abu terjebak di tengah kepungan amuk massa. Menjadi bagian dari peristiwa seremonial negeri ajaib bernama Indonesia. Abu mencoba memutar KIA-nya ke tempat aman dengan panik meski Run menenangkan. Ia tak mau mengambil risiko mengingat bakal bayi dalam perut istrinya. Namun entah dari mana muasalnya, suatu kekuatan jahat dengan kejam meledakkan tubuh dan kepala istrinya. Ia histeris begitu menyadari dari beberapa rentetan peluru tajam telah menembus kaca depan dan bersarang tepat di bagian dada dan kening. Ia histeris mencoba menyelamatkan jiwa Run. Darah menggenang sampai bagian kaca samping, ikut mengenai tubuh Abu.
Ia histeris seperti Tristan Ludlow dalam film Legends of the Fall ketika Isabel Two istrinya tertembak para penjahat. Run tewas seketika, hanya sempat bersyahadat lemah. Ia mencoba membawa Run ke rumah sakit terdekat, namun terlambat. Mereka sempat terjebak macet dan huru-hara, meski Abu kali ini ngebut  dan nekat menerobos barikade manusia dan kendaraan. Tim dokter angkat tangan. Pun operasi caesar tak berhasil menyelamatkan bayi mereka. Yang menurut USG sebelumnya seorang lelaki dan akan dinamai Palung Jiwa Yazid. Peluru itu telah ikut melemahkan sistem kehidupan bayi.
Bagi Abu, dunia telah runtuh! Ia lebih dari terguncang. Sendirian. Setelah Maryam, lalu Run sekaligus Palung. Apakah hidup masih ada arti? Siapa pun tak bisa menghibur. Tai kucing! Ia tak butuh hiburan atau ucapan belasungkawa. Ia ada di sana. Tubuh istrinya bersimbah darah, dan darah itu menyimbahi tubuhnya pula. Mengenai rambutnya -- rambut belah tengah yang selalu diacak-acak istrinya, bahkan sejak SMU. Mereka tak semestinya di sana. Persetan takdir! Hidup adalah semacam pilihan! Persetan dengan musibah. Tak ada yang mengaku salah. Tinggallah ia dirajam penyesalan dan rasa bersalah, sendirian.
Kali ini ia melihat langit. Kegelapan menyelubungi semua, juga jiwanya. Ia melihat ke bawah, jiwanya gamang. Ia sungguh ingin terjun menyusul Run dan Palung. Namun bukankah, “Jika pun maut....” Tidak! Adakah tindakan lebih pengecut selain lari dari kenyataan dan mengingkari janji?!
Abu bersimpuh di balkon, ingatannya mengembarai saat-saat paling membahagiakan bersama Run.
Ia melihat dirinya dan Run, begitu jelas. Kala libur akhir pekan atau panjang, duduk di dekat sungai dengan kaki berjuntai di kali kecil sambil memerhatikan Mang Kosim dan Epul mencangkul di sawah seberang. Run dan Abu berjalan-jalan menyusuri lereng gunung kampung Run sampai di kampung terjauh. Run dan Abu ikut Al keponakan Run berikut sepupu-sepupu lainnya, yang Run sebut para kurcaci, ngurik belut di sawah. Run dan Abu menikmati panorama arah Timur di balkon loteng rumah ibu Run. Run dan Abu menata rumah masa depan mereka di kebun dekat jalan. Run dan Abu berkebun. Run dan Abu menebar pupuk ke sawah. Run dan Abu menanam pohon lalu tanaman hias lainnya di halaman rumah masa depan. Rumah panggung tradisional khas bumi Pasundan bertingkat dua dengan balkon menghadap Timur dan Utara. Run dan Abu menyesap kopi atau teh manis di balkon, menikmati panorama pagi kala halimun masih menyelimuti pegunungan. Run dan Abu berkumpul dengan geng menulis Mnemonic di suatu taman Kota Bandung pada Minggu yang cerah sampai mendung.
Ia melihat begitu banyak. Terlalu banyak di kehidupan yang singkat.
“Ia kembali tengadah. Menentang hujan, kedua lengan terentang ke udara, memaki Tuhan.  “Untuk apa hidup  jika semua Kau renggut?!” teriaknya parau.
Namun langit hanya menjawab dengan bulir-bulir air yang membekukan.***
Cipeujeuh, 4 April 2008, 02:55 WIB
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D