HOME/RUMAH

Sabtu, 18 November 2017

“Solomon’s Perjury”: Ketika Kasus Bunuh Diri Mengungkap Kebenaran yang Tersembunyi




APA arti kebenaran dalam perspektif remaja versus orang dewasa? Dan ketika remaja memiliki perspektif yang berbeda dengan [sebagian] orang dewasa, mereka malah dicap sedang melakukan pemberontakan negatif.
Stigma semacam itu bukanlah hal yang mudah untuk diatasi remaja yang terlibat, ada yang pesimis dan putus asa menyikapinya karena beranggapan bahwa dunia bukanlah tempat yang baik untuk ditinggali dalam tatanan ideal mereka. Idealisme yang berbenturan dengan realitas sekitar membingungkan sekaligus menggoyahkan remaja yang rapuh tersebut untuk terbenam dalam kubangan depresi tak berujung.
Berlawanan dengan menyikapi pelabelan “memberontak pada dunia orang dewasa” secara negatif di atas, masih ada yang berusaha untuk optimis melawan stigma negatif tersebut dengan eksis secara positif; menunjukkan kapasitas diri yang tak terbatas dalam kehidupan remaja untuk terus digali dan diekspos.
Film “Solomon’s Perjury” layak kita tonton untuk merenungkan arti kebenaran dan kepalsuan dalam realitas sekitar, berikut pengaruhnya bagi kejiwaan remaja. Kita akan memandang secara penuh dalam objektivitas para remaja yang terlibat dalam menguak kasus bunuh diri yang bias dengan pembunuhan.
Itu merupakan drakor (drama Korea) yang menarik untuk ditonton siapa pun yang peduli pada arti hidup itu sendiri, terutama dalam perspektif remaja menyikapi kehidupan yang sesungguhnya. Apakah dunia remaja itu? Dunia pelajar SMA yang digambarkan para sineas Korea.
Ada 12 episode, setiap episode menggambarkan ketegangan dari aspek permasalahan yang dihadapi. Bagaimana sebagian remaja, siswa SMA Jeong-guk, mensimulasikan persidangan olah perkara untuk menguak kasus, apakah kematian salah seorang teman sekelas mereka di kelas 2-1 murni bunuh diri atau pembunuhan.
Secara subjektif, saya kagum pada kemampuan sineas sana dalam mengolah tema kehidupan yang berkaitan dengan remaja. Sebuah tema film yang berbeda dengan genre kebanyakan. Lebih mengekspos aspek psikologis dalam kehidupan mereka secara wajar, bukan melodrama percintaan ala Cinderella, sebuah kehidupan biasa para remaja dengan masing-masing persoalan yang membelitnya. Bukan sebuah dunia penuh hura-hura melainkan keakraban yang coba dijalin antarsesama mereka ketika melibatkan diri untuk menguak tabir apa yang sebenarnya terjadi pada hidup teman sekelas mereka, Lee So Woo, apakah bunuh diri atau murni pembunuhan gara-gara surat dakwaan anonim yang menuduh Choi Woo Hyuk membunuhSo Woo di atap sekolah SMA Jeong-guk pada tengah malam Natal.
Kekuatan suatu drama ada pada aspek skenario yang didukung para pemain dan kru film. Skenario yang berbeda dengan tema detektif sangat menarik. Kita diajak ikut terlibat dalam teka-teki, sebuah misteri dalam balutan psikologis. Shoot adegan lebih diarahkan untuk membidik reaksi mereka yang terlibat secara emosional, apakah diam atau perubahan mimik muka sampai gestur.
Namun yang lebih menarik lagi, “Solomon’s Perjury” (“Sumpah Palsu Solomon”) benar-benar fokus mensimulasikan adegan persidangan pengadilan dalam auditorium sekolah, mirip dengan persidangan sesungguhnya di pengadilan. Secara emosi, kita diajak terlibat atau melibatkan diri; entah sebagai penonton, jaksa, pengacara, hakim, penyelidik, pelaku, atau pihak lain yang berseberangan maupun mendukung.
Ditilik dari judul saja, “Solomon’s Perjury” merupakan simulasi apakah kebenaran itu bisa dikuak meski lewat pernyataan sumpah (baca: dakwaan) palsu seorang korban perisakan (bullying), Lee Joo Ri dengan motif tertentu untuk menuduh sang pelaku (Choi Woo Hyuk) sebagai pembunuh dan penyebab kematian Lee So Woo -- karena dikenal sebagai biang onar dan kerap merisak siswa lain di sekolah tersebut dengan sikap tirannya.
Ada alasan mengapa secara subjektif saya tetap menontonnya per episode sampai tamat, tak beralih pada koleksi judul drakor lain (hasil sedot dari laptop Ai Ghina), menghabiskan berjam-jam per hari untuk tuntas menyaksikan. Rasa penasaran mampu membuat seorang penonton rela meluangkan waktunya yang berharga jika disuguhi tontonan apik persembahan sepenuh hati sineas dan krunya.
Banyak ketegangan  yang menggantung per episodenya. Ketakterdugaan bisa memuaskan hasrat penonton untuk melebur dalam peristiwa dalam film tersebut. Boleh dikata, meski drakornya tidak bertumpu pada pengadegan canggih action atau thriller yang menitikberatkan efek khusus, ada nilai lebih ketika pemain berupaya menghidupkan peran dan suasana dengan akting mereka. Spontan dan tak berlebihan. Mereka benar-benar serius menghayati peran, entah apakah sebagai pemain “Solomon’s Perjury” atau sekelompok remaja yang sedang memainkan peran pelaku dalam persidangan.
Salut!
Cipeujeuh, 27 Februari 2017


 
https://id.wikipedia.org/wiki/Solomon%27s_Perjury_(serial_TV)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D