HOME/RUMAH

Sabtu, 18 November 2017

Keragaman Pasar



Oleh Rohyati Sofjan


PENYAIR Beni R. Budiman, almarhum, pernah menulis soal ketakjubannya pada Pasar Malangbong, Garut, di suatu kolom koran. Malangbong adalah kampung halaman Nenden Lilis Aisyah, istrinya. Aktivitas perdagangan, sampai politik rencana penggusuran pasar yang berujung pada kebakaran, menyebabkan mertuanya kehilangan kios/jongko yang strategis dalam menjaring pembeli. 
Nenden Lilis menuangkan kenangan masa kecilnya tentang kecintaan pada Pasar Malangbong dalam cerpen “Hari Pasar” (kumcer Ruang Belakang, Penerbit Kompas). Ketika itu Pasar Malangbong belum seperti sekarang. Aktivitas dan ragam penghuninya yang unik, menjadi tempat berkumpul orang-orang gunung sekaligus pusat hiburan bagi siapa saja dengan hadirnya atraksi tukang obat.
Mengingatkan saya pada suasana Pasar Limbangan kala masih kecil pada tahun ‘80-an dan ibu mengajak pulang kampung, tidak ada kios tertutup; semua jongko serba terbuka dan berupa bangunan panggung dengan lantai papan atau jalinan bambu; kalau usai berdagang, biasanya Zuhur, pedagang akan mengemas kembali barangnya; isinya pun tak selengkap Pasar Kiaracondong di dekat rumah. Betapa membosankannya pasar demikian dalam pandangan seorang anak kecil yang terbiasa dengan suasana pasar-pasar kota besar. Betapa pasar sangat besar pengaruhnya pada kita.
            Pasar Cigombong lebih ramai dan besar daripada Pasar Limbangan yang cuma separuh ukurannya atau Pasar Kiaracondong yang masa keemasannya tersaingi pasar swalayan dan mini market di sekitar. Selama 2 bulan lebih ini sejak hijrah ke Kampung Loji, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong; saya belum menjelajahi keseluruhannya.
Suami yang selalu menyertai sambil menggendong anak kami jenis lelaki yang tak suka keluyuran mutar-mutar untuk belanja, apalagi sambil menenteng barang yang dirasa angkaribung.Toh, saya menikmati keragaman isinya yang berbeda dengan Pasar Limbangan.
Brokoli, aneka jamur, paprika, seafood segar, sampai bawang lokio yang biasa untuk campuran sayur atau asinan melimpah. Keanekaragaman isinya memang luar biasa, namun saya belum menemu dage dan cabe gendot. Itu membingungkan.
Pasar besar, meski isinya lengkap, bagi perantau ada rasa tidak nyaman jika belum cukup waktu adaptasi. Pun pertama diajak ke sana oleh Bu Yanie dengan mobilnya, ada rasa khawatir karena jaraknya dari rumah sangat jauh. Itu rasanya sama seperti jarak dari rumah di Kampung Cipeujeuh, Limbangan sampai ke Pasar Leuwigoong.
Jalan sempit berkelak-kelok mendaki dan menurun seperti Ciwidey. Angkot yang ada untuk jurusan Pasar Cigombong-Pasar Cijeruk sejenis carry dan ongkosnya melegakan karena cuma 3 ribu, namun sore jarang ada (dan sebaiknya jangan kesorean jika tak ingin kehujanan sebab cuaca Bogor susah ditebak, kami pernah terpaksa pulang naik ojek dan berbasah-basah, ongkosnya kala itu 20 ribu  untuk bertiga). Berbeda dengan di kampung, naik ojek 5 ribu per orang dan disambung sado 2 ribu per orang.
Setiap wilayah punya karakter pasar yang berbeda, seolah standardisasi ditentukan oleh selera setempat. Di Cigombong tidak perlu khawatir pada kuliner, ada banyak tempat makan di sekitar pasar yang unik dan enak. Namun perut suami pernah tersesat pada soto campur isi ayam, usus, babat, bihun, dan irisan kol  yang sebenarnya sedap.
Ia tak suka makanan terlalu berempah, pun Palung yang masih batita. Barangkali inilah citarasa soto khas Bogor, kuning harum dengan santan dan campuran daun jeruk purut, enak disantap panas-panas. Rasa mantap yang tidak cocok bagi suami dan anak, sebaiknya makan soto khas Bandung yang bening dan tak berat. Isinya daging ayam/sapi, bihun, kol, kacang kedelai, dan lobak. Namun kami belum menemukan tempatnya.
Sejauh-jauhnya merantau, ada rasa kehilangan pada Pasar Limbangan. Pasar kecil namun setiap sudutnya sudah saya jelajahi sampai detail. Keramahan Teh Alis pemilik kios kelontong yang kecil namun sabar melayani.
Barangkali yang paling kehilangan adalah Palung karena ia biasa merasakan keriuhan pasar sebagai hiburan dengan banyaknya sado di Limbangan. Ia tergila-gila pada kuda. Dan di sini selalu memaksa saya menghidupkan notebook agar bisa menonton kuda-kuda berseliweran di film Legends of The Fall.***
Loji, 30 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D